The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Memiliki Ibu Tiri


__ADS_3

Sepulang dari toko buku tempatnya menghabiskan hari sebagai pekerja paruh waktu,ia menapaki jalanan trotoar menuju rumahnya.Tubuh nya terasa lelah,karena toko buku lumayan ramai hari itu.Selepas solat isya di masjid yang tidak jauh dari tempatnya bekerja itu,Yuna memutuskan untuk langsung pulang.Yuna khawatir jika nanti Ayah nya bisa tau tentang pekerjaan patuh waktunya,yang belum sempat ia beri tahu itu.


Sepanjang perjalanan ia terus memijat tengkuknya yang terasa pegal itu.Dari kejauhan Yuna memperhatikan seseorang yang sepertinya membutuhkan bantuan.Terlihat pria yang memakai sweater abu-abu menengok ke kiri dan kanan.Yuna yang kebetulan melintas saat itu mencoba menawarkan bantuan.


"permisi kak,ada yang bisa saya bantu?"tanya Yuna sambil memperhatikan motor pria itu yang seperti mengalami ban bocor.


"oh iya,saya sedang mencari tambal ban sekitar sini,tapi gak ada yang bisa saya tanya,ban saya bocor."jawab pria itu seraya menunjuk kedua ban motornya yang terlihat kempes.Yuna pun mengangguk sambil melihat ban motor tersebut.


"oh begitu,itu di ujung sana setelah tikungan ada tambal ban kak.mungkin masih buka jam segini"Yuna menunjuk ke ujung jalan,dan sekilas melihat jam tangannya.


"oh begitu ya,terima kasih banyak ya dek."Yuna hanya mengiyakan dan melanjutkan langkahnya sebelum pria itu memanggilnya lagi."eh dek tunggu,"


spontan Yuna pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke tempat pria itu yang masih terpaku di samping motornya.


"iya ada apa kak?"tanya nya lalu maju beberapa langkah.


"kamu mau kemana?"tanya nya sambil memegang stang motornya hendak di dorong mendekati tempat Yuna berdiri.


"saya mau pulang kak".


"oh gitu,,emm rumah mu ke arah mana?"menghentikan motornya yang ia dorong tadi.


"ke arah sana"Yuna menunjuk ke arah yang sama dengan tempat tambal ban yang ia tunjuk tadi.


"oh kita bareng aja,kebetulan kita satu arah kan?kalo tambal ban nya cepat,kamu bisa saya antar pulang sekalian"pria muda yang sekitar umur dua puluh lima tahunan itu,mencoba menawarkan bantuan untuk mengantar Yuna pulang.


Tapi Yuna hanya menggelengkan kepalanya dan berterima kasih.Dengan cepat Yuna melangkah meninggalkan pria yang sedang terpaku di sana cukup jauh.Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yuna yang terlihat ketakutan.


Sampai lah Yuna di depan pintu rumahnya yang sudah sedikit terbuka,ia melihat sendal sang Ayah sudah ada di depan teras.Yuna sangat terkejut.


kenapa Ayah sudah pulang?bagaimana ini?aku harus bilang apa?pasti ayah curiga karna aku tidak ada di rumah. Batin Yuna.

__ADS_1


Dengan pelan Yuan membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumahnya,mata nya berkeliling melihat keberadaan sang Ayah.Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur.


"sudah pulang nak?"tanya Ayahnya yang hanya terdengar suaranya itu dari arah dapur.Yuna terperanjat,dia mencoba menarik nafas perlahan menghilangkan kegugupannya.Yuna sangat khawatir Ayahnya akan marah jika tau,dia bekerja tidak meminta izin pada Ayahnya.


"iiya A Ayah"suaranya sedikit gugup.Dia melangkah mendekati dapur,tapi kemudian Ayahnya pun keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh hangat dan memberikannya pada Yuna.Yuna pun menerima cangkir teh yang di sodorkan sang Ayah,sambil memperhatikan mimik wajah Ayahnya yang tidak berubah.


Apa Ayah akan marah ya?tapi kenapa ia tidak bertanya,kenapa aku tidak di rumah?Batin Yuna.


"bagaimana toko buku nya hari ini?ramai?"tanya Ayahnya dengan suara datar,seraya duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.perlahan Yuna mendekati sang Ayah dan duduk di sampingnya,masih belum menjawab pertanyaan sang Ayah.


Apa ???jadi Ayah sudah tau?bagaimana ini?aku takut Ayah akan marah,aku harus bilang apa?Batin Yuna.


Yuna masih terdiam,ia sibuk dengan pertanyaan yang ada si benaknya.


"sayang,apa kamu lelah?makan lah dulu,setelah itu istirahat lah?"Ayahnya pun membelai punggung putrinya dan berkata dengan lembut.


"Apa..Ayah tidak marah padaku?"tanya yuna sambil memperhatikan perubahan pada Ayahnya.


"marah karena aku bekerja tanpa memberi tau Ayah."ia genggam cangkir teh dengan sedikit kuat,terasa hangatnya di tangan gadis itu yang mulai dingin karna gugup.


"kenapa Ayah harus marah?bukan kah kamu sudah lelah bekerja?kenapa Ayah harus marah"memiringkan tubuhnya,seraya menatap putri semata wayangnya itu."apa Ayah pernah marah padamu?"bertanya dengan lembut sambil menggenggam lengan Yuna.Yuna hanya menggeleng.


"Aku tau Ayah tidak pernah marah padaku,tapi setidaknya Ayah bisa marah padaku sekarang,karena aku tidak jujur pada Ayah."menundukkan kepalanya.


"Bagaimana bisa Ayah marah padamu?kau selalu membuat Ayah bangga,selalu mendukung semua keputusan Ayah,selau mengerti keadaan Ayah,tidak pernah menuntut apapun pada Ayahmu ini."seraya menyeka air matanya yang mulai menetes.Yuna pun menatap nanar Ayah tercintanya itu.


"Ayah,,aku tidak pernah melakukan apapun untuk Ayah,tapi Ayahlah yang selalu berkorban untukku dalam segala hal.Terima kasih Ayah."ia pun memeluk Ayahnya,sambil menahan air yang terbendungndi kelopak matanya.


"sebenarnya Ayah sudah tau sejak beberapa hari lalu,kalo kamu bekerja di toko buku"ujarnya membalas pelukan putrinya itu,Yuna terkejut seraya melepaskan pelukannya,menatap Ayahnya,seolah mencari tau apa Ayahnya serius atau tidak.


"Dari mana Ayah tau?"tanyanya masih memperhatikan Ayahnya yang mulai menyerubut teh hangatnya itu.

__ADS_1


"Dari teman mu seli.kemarin dia beli sate ke warung,dia bilang kalo kamu bekerja di toko buku milik kakaknya."


"lalu?"Yuna ragu.


"Ayah yakin dengan keputusan mu,apapun itu,yang penting kamu senang melakukannya,dan jangan lupa jaga kesehatan mu."sambil membelai rambut putrinya yang sedikit berantakan itu."sudah sana makan dulu,ada yang ingin ayah bicarakan nanti".Yuna pun mengangguk lau beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.


Selepas makan malam dan mengganti baju,Yuna pun kembali ke ruang tv,dimana Ayahnya sedang santai sambil menonton tv itu.Ia duduk di samping Ayahnya,mencoba bertanya mengenai pa yang akan di bicarakan Ayahnya.Ia sangat penasaran,karena Ayahnya terlihat sangat serius.


"yah,tadi Ayah mau ngomong apa?"membuka pembicaraan.Ayahnya menoleh dan tersenyum simpul.ia menarik nafas sekilas.


"Begini sayang,Ayah akan bicara intinya saja.Bagaimana jika Ayah mencari ibu sambung untuk mu?apa kamu setuju?"mencoba berusaha tenang,menunggu jawaban putrinya yang terlihat berfikir itu.


Mereka terdiam beberapa saat,berkecamuk dengan fikiran masing-masing.


Sesaat Yuna menatap Ayahnya,lalu memegang tangannya.


"Aku akan menyetujui apapun keputusan Ayah.Asalkan Ayah bahagia,aku tidak masalah jika Ayah mau mencari pengganti ibu."sambil tersenyum tipis.


"Tidak akan ada yang bisa menggantikan ibu mu,di hati ayah atau di keluarga kita.Tapi,Ayah hanya ingin memberimu ibu sambung yang akan melengkapi keluarga kita sayang".membelai lembut pundak Yuna.


Yuna mengangguk kan kepala nya.


"Apa Ayah sudah menemukan calon ibu sambung ku itu?"


"iya sayang,Ayah sudah menemukannya"Wajah Heru berubah memerah.Yuna pun tersenyum melihat rona di wajah ayahnya,yang sudah sekian lama menghilang sejak kepergian ibunya itu.


"Apa Ayah mencintai nya?"


Heru semakin tersipu,dia mengiyakan pertanyaan Yuna.


"kalo begitu,Ayah harus secepatnya menikah"Yuna tersenyum dan Ayahnya pun memeluk putrinya itu erat.

__ADS_1


"Terima kasih sayang".


__ADS_2