
Setelah memindahkan Yuna ke kamarnya,Andrean pun berpamitan.
Heru merasakan sesuatu yang berbeda dengan semua perlakuan Andrean terhadap putrinya itu.Tapi Heru sadar siapa keluarga nya,dan siapa Andrean.Ia tak ingin berharap lebih,lagi pula Yuna tidak menunjukkan sikap apapun.Ia tau,bahwa putrinya itu enggan memikirkan perihal perasaan nya sendiri pada lawan jenis.Karena Yuna Benar-benar sedang fokus pada pendidikannya dan tujuan hidupnya.Entah bagaimana nanti ketika Yuna sudah mewujudkan mimpinya,mungkin saat itu lah putri nya itu akan membuka hatinya.
"kenapa buru-buru sekali,apa nak Andrean tidak mau minum teh dulu?"ujar Heru dengan penuh harap.
"Terima kasih banyak pak,mungkin lain kali saja.Lagi pula sebaiknya pak Heru istirahat,say tidak mau mengganggu"ucap Andrean seraya menyematkan senyum di bibirnya.
"Baiklah,tapi lain kali nak Andrean main kemari lagi ya,terima kasih sudah mengantarkan Yuna"tutur Heru,sambil melangkah menuju mobil Andrean yang terparkir tidak jauh dari halaman rumah Yuna itu.
"iya inshaa Allah pak,kalo begitu sampai kan salam saya pada Yuna ya."seraya membuka pintu mobil."Assalamualaikum"
"waalaikumsalam".
Heru masih terpaku melihat mobil Andrean yang melaju semakin jauh dan hilang di kegelapan malam.
*
Beberapa tahun lalu.
ketika Andrean sedang membuat makanan di dapur,saat itu waktu tengah malam Andrean merasa lapar,ia sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.Karena belum sempat ia kerjakan pada siang hari nya.
Andrean menuju dapur dan membuka lemari penyimpanan makanan.Tapi tidak ada makanan di sana,malam itu ia melewatkan makan malamnya.
Andrean enggan membangun kan asistan rumah tangga nya yang sepertinya sudah lelap dalam malam.Khawatir mengganggu para ART,akhirnya ia memilih untuk membuat makanannya sendiri.ia menyiapkan beberapa bahan makanan dan mulai memasak.
Ketika Andrean sedang menikmati makan tengah malam nya,Daniel tiba-tiba muncul.
"eumm...wangi masakan"ia mendekati kak nya yang sedang melahap makanan.
"hmm"gumam Andrean.
"kakak sedang apa?"melongoh ke piring yang berada di hadapan Andrean.
"kau pikir aku sedang apa?"ujar Andrean sambil mengunyah.
"maksudku,siapa yang masak?aku tidak melihat ART di sekitar sini.kau memasak makanan mu sendiri?"Daniel terus bertanya
"hmm"Andrean tidak memperdulikan ku ingin tahuan adiknya itu.
Diam-diam Daniel mengambil sendok dan mencicipi makanan itu.
"hey tidak sopan...kau kan bisa memintanya dulu"gerutu Andrean.
Daniel hanya nyengir dan melanjutkan aksi icip-icip nya.
ia mencoba untuk merasakan setiap kunyahan di mulutnya.
"mmm...ini benar kakak yang masak?"Tanya Daniel,matanya terbelalak merasakan makanan yang ada di mulutnya.
"hmm"Andrean tidak memperdulikan ekspresi adiknya itu.
__ADS_1
"Mau lagi dong hehe"Daniel mencoba menyendok makanan itu lagi,tapi Andrean menggeser piringnya menjauhi Daniel.Wajah Daniel berubah kecewa.
"pelit".
"jangan mengganggu orang yang sedang makan dong,sudah sana tidur lagi."ketus Andrean.
"lihat ya,aku juga bisa jika hanya membuat makanan seperti itu."Daniel pun tidak mau kalah.Ia mengambil bahan makanan yang tersedia.Dan mulai memasak.
Andrean hanya tersenyum-senyum melihat tingkah adiknya.
"memang nya kau bisa masak?"ledek Andrean.
"jangan meremeh kan aku.lihat saja nanti,pasti masakan ku jauh lebih enak."gerutunya.
Beberapa lama kemudian Daniel masih sibuk berjibaku di dapurnya.Bahkan Andrean di larang untuk membantunya.
Tiba-tiba kedua orang tuanya pun muncul,di susul dengan adik perempuannya.
"Ada apa ini?kok malam -malam ramai sekali"ujar Nyonya wini menghampiri Daniel.
Beberapa ART pun terlihat sudah berada di dapur.Mereka sudah menawarkan bantuan,tapi Daniel menolaknya.
"mami,,lihat nih putra mu yang tampan ini sedang apa?"sahut Daniel.
"memang nya sedang apa?masak?malam-malam begini?bukan nya kau sudah makan tadi.kalau masih lapar,kenapa tidak membangunkan ART"ucap nyonya wini sambil melihat sisa bahan makanan dan dapurnya yang sudah berantakan.
"Hanya iseng mam..hehe."Daniel pun telah menyelesaikan masakannya.Dia menghidangkan nya di meja.Kedua orang tuanya yang sedari tadi memperhatikan sambil menahan tawanya itu pun mencoba hasil karya putra tampan nya."Ayo silahkan di cicipi"ucap Daniel.Semua Anggota keluarga pun melihat masakan itu bersamaan.Ada yang tersenyum atau menahan tawanya.Seila mengerutkan keningnya.
"masakan apa yang di buat kakak"tanya seila.
Seila menutup mulutnya,dan menggeleng-geleng."Tidak mau...bau nya tidak enak".
"Apa kau bilang?masakan ku ini lebih enak dari masakan ka Andrean tau."ucap Daniel sewot.Tapi adiknya itu tetap menolak tawaran Daniel.Daniel pun melirik kedua orang tuanya bergantian.
"papi tidak mau makan tengah malam begini jadi biar mami saja yang mencicipi"kata Dr Arman,mencoba mencari alasan.
"oke,mami yang cicipi ya"Lalu nyonya wini pun mencicipi sesendok masakan hasil.kerja keras putranya di tengah malam.
Beberapa ART yang ada di sana,hanya memperhatikan sambil mengerutkan keningnya.Mereka pun bingung sebenarnya masakan apa yang telah di buat tuan mudanya itu.
Nyonya wini merasakan sesuatu yang aneh masuk ke dalam mulutnya,masakan itu terasa aneh di lidahnya.Tapi ia mencoba untuk menelannya meski sulit.
"Bagaimana mam?"Tanya Daniel penuh harap.
Andrean yang ikut menyaksikan itupun malah tergelak.Daniel melototi kakaknya itu merasa tidak terima.
"Lu...lumayan lah,tapi mami tidak bisa mkan malam terlalu banyak sayang"nyonya wini mencoba tersenyum.
"ya baiklah,aku yang akan menghabiskannya"Sambung Daniel.ia pun menyendok makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Bhuuurrrrr...."seketika Daniel menyemburkan makanan buatannya itu.
__ADS_1
"kenapa rasanya aneh si"ujarnya mencoba meraih air minum nya.
"sudah ku bilang ,pasti rasanya aneh.Kenoa mami bilang lumayan?."ujar Seila.mata Daniel menatap tajam adiknya itu.
"huh...aku menyerah."ucapnya Daniel lalu menyimpan makanan itu di westafel.
Andrean hanya tersenyum-senyum.
"Apa ada yang mau ku buatkan makanan?"tanyanya.
Semua mengangguk.
"katanya papi tidak suka makan tengah malam"tanya Daniel pada Ayah nya menyinggung.
Ayah nya tidak menghiraukan.Semua tau kenapa ia menolak masakan Daniel.
Andrean pun sibuk memasak.Wktu sudah hampir lewat jam dua belas malam.Tapi semua dengan sabar menunggu hasil masakan Andrean.Sesekali mereka menguap menahan kantuk.
Masakan pun siap di santap.
Semua mengerjapkan matanya, sudah tidak sabar mencicipi nya.
"eummm....enaak"tutur Seila yang lebih dulu mencicipinya.
Akhirnya mereka pun menghabiskan seluruh hasil masakan Andrean dengan lahap.Daniel mengakui kekalahannya.
"Bagaimana kalau kau membuka cafe?"tutur Daniel.
"cafe?" Andrean terlihat berfikir.
"Benar kak,tapi jangan kak Daniel yang masak ya,haha"sambung Seila.
"Benar sayang,mami setuju"
"papi juga setuju.Papi akan menjadi Donatur nya."seraya mengangguk.
"akan aku fikirkan "sahutnya.
*
Singkat cerita,Andrean dan Daniel pun membuka cafe,menu yang tersaji disana sebagian hasil masakan Andrean awalnya.Andrean berperan sebagai chef dan Daniel yang masih duduk di bangku SMA kala itu,menjadi waiter.
Pengunjung pertama mereka adalah sang kakek.
Lama kelamaan cafe pun semakin ramai,Akhirnya mereka mencari beberapa pegawai dan seorang manajer.
Ola adalah teman satu kampus Andrean,dia sedang mencari uang tambahan untuk menambah uang sakunya.
Andrean pun menempatkan Ola sebagai manajer cafe itu,Karena ia piawai dalam urusan Akounting.
Beberapa tahun berjalan,ternyata Ola menyimpan perasaan pada Andrean.Ia mencoba melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian dari Andrean.Tapi semua nya sia-sia.Andrean tidak tertarik pada Ola.
__ADS_1
Ola pun memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Andrean.
Tapi Andrean menolaknya secara baik-baik.Tapi Ola seolah tak pernah lelah,bahkan beberapa kali ia membuat kesalahan,Andrean tetap memaafkan nya.Meski pun Daniel pernah memecat Ola,Andrean selalu memberi kesempatan padanya.Andrean berharap Ola bisa bersikap profesional,Untuk itulah ia mempercayakan cafe nya kepada Ola.