The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Bertemu pria arogan


__ADS_3

Brakkk...


Ponsel Daniel terpelanting.


Yuna yang tubuh nya lebih kecil dari Daniel pun hampir terjatuh ketika mereka bertabrakan,tapi ia mencoba untuk menahannya.


Daniel menarik nafasnya,mata terbuka lebar.Seperti hendak menerkam Gadis di hadapannya itu.Dan melirik ponsel nya yang terjatuh.


Kening Yuna berkerut,ia pun memicing kan matanya.Juga melihat ke arah ponsel Daniel yang terjatuh.Yuna tau pria di hadapannya itu meminta nya untuk mengambilkan ponsel yang tergeletak di lantai,tapi Yuna enggan mengambil kan nya.Ia hanya menatap tajam sang pria yang berbadan tegap dan memakai jas itu,penampilan yang sempurna bagi sebagian pandangan wanita.Tapi tidak untuk Yuna.


Yuna sangat tau dari ekspresi pria itu saat menatapnya.Bahwa pria yang ada di hadapannya,bukan lah pria yang ramah dan ia tidak menyukai pria yang arogan,itu menurut penilaian Yuna meski hanya dari sorot matanya.


"kenapa anda hanya diam?cepat ambilkan ponsel nya"ucap Daniel menahan emosinya.


"itu kan ponsel anda,kenapa anda tidak mengambilnya sendiri."jawab Yuna menantang.


Daniel memicingkan matanya,rahangnya mengeras.Dia terus menatap tajam Yuna,seolah tak mau melepaskannya.


"Ambil"pinta nya dengan tegas.


Beberapa orang dan perawat yang melintas pun memperhatikan mereka,tapi tak menghentikan langkah nya.


"Tidak mau"sahut Yuna.


"ku bilang 'ambil'."ujar Daniel,dadanya naik turun menahan kesal di hatinya.


"Sudah ku bilang aku tidak mau"Yuna tetap kekeh berdiri di hadapan pria dingin itu."lagi pula,itu salah mu sendiri.kau pikir ini Rumah sakit milik kakek moyangmu?hingga kau berjalan sesuka hati mu tanpa memikirkan orang lain?"Sambung Yuna.


Yuna benar-benar tidak mengetahui dengan siapa dia bicara,tapi benar dengan semua yang di katakan nya.Tak peduli,seseorang yang mempunyai kekuasaan sekali pun,harus tetap memikirkan keberadaan orang lain,tidak hanya mementingkan dirinya sendiri.Karena kita takkan mampu hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain.Jangan biarkan ke egoisan merajai jiwa dan fikiran.


"sudah bicara mu?"Daniel mengambil ponselnya yang terus berdering di lantai."Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni wanita seperti mu.Waktu ku jauh lebih berharga"ujar Daniel masih menatap tajam mata Yuna.


"Waktu ku juga lebih berharga dari pada berbicara dengan pria arogan seperti mu"Ujar Yuna mengangkat dagu nya.


Amarah Daniel semakin memuncak.Dia menggertakkan giginya.


"wanita menyebalkan,sudah jelas kau yang tidak mempergunakan mata mu dengan baik.ku sarankan kau segera periksakan mata mu ke dokter."ucap Daniel dengan penuh emosi.


"Apa??"Yuna mengerutkan dahinya.


Daniel menggelengkan kepalanya."Baru kali ini aku bertemu wanita seperti mu.Lihat diri mu,"memperhatikan baju Yuna yang memang terlihat kotor karena terkena darah tadi.


"kenapa dengan baju ku?apa peduli mu?"


"mataku sakit melihatnya.penampilan yang sangat menyedihkan"masih menggelengkan kepalanya.


"jadi...kalau begitu,anda saja yang memeriksakan mata anda ke Dokter"ujar Yuna.


Ponsel Daniel kembali berdering.Ia pun segera mengangkat nya.


"ya Gino"sambil memicingkan mata nya ke arah Yuna yang masih terpaku di hadapannya.


"Aku akan segera ke kantor.Ada serangga pengganggu di sini,"


Yuna melotot mendengar kata-kata Daniel.

__ADS_1


"Sampaikan pada klien kita,untuk menungguku"Segera Daniel menutup Telponnya.


"Apa??kau bilang serangga pengganggu?"Nafas Yuna tersengal,ia mencoba menahan emosi nya.


"iya"Daniel mengangkat dagu nya.Kemudian ia pun berlalu tanpa memperdulikan Yuna yang masih di landa kekesalan itu.


"iiih...dasar pria arogaaaan.."teriak Yuna di lorong Rumah sakit.Seketika dia menutup mulutnya.


Astaga,aku lupa,jika aku sadang berada di rumah sakit.


Daniel sama sekali tidak peduli.Dia meneruskan langkahnya.


Yuna membalikan badan nya dan seketika mengingat tujuannya ke sana.Segera ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Direktur Rumah sakit itu.


Sesampainya di sana,Yuna pun duduk di ruang tunggu,karena orang yang hendak ia temui tidak berada di ruangan.Salah satu perawat yang ia temui meminta nya untuk menunggu.


Ingatan nya kembali pada pria yang baru saja di temui nya tadi.Hatinya masih merasa kesal.


Pria macam apa dia?tak ada sopan santun nya pada seorang wanita.iih..menyebalkan!


Beberapa menit kemudian,dr.Arman pun datang.Direktur Rumah sakit yang sedang di tunggu oleh Yuna.


Yuna menoleh karena mendengar suara langkah sepatu Mendekat.


"Nona Yuna??"sapa dr.Arman.


Yuna yang sedang duduk itu pun langsung bangun dan menunduk hormat.


"iya pak,saya Yunanda"ujar Yuna.ia menatap dr.Arman dalam,seolah sedang mengingat sesuatu.


Wajah Yuna masih terlihat tegang.keningnya berkerut,dia masih berusaha mengingat sesuatu.


Aku pernah mengenal dr.Arman!


Yuna mengekor di belakang dr.Arman ketika memasuki ruangannya.


"Silahkan duduk Nona Yuna"ucap dr.Arman yang juga menjatuhkan kan diri di Kursinya.


Yuna duduk dengan sedikit ragu.Dia menelan Saliva nya yang sudah benar-benar kering.


Seingatnya,dirinya memang belum meminum seteguk air pun,sejak peristiwa kecelakaan itu.Tapi suara nya kenapa begitu nyaring ketika berteriak pada Daniel tadi.Mungkin ia mendapat suplay dari suara hatinya..hehe!


"Silahkan di minum Nona"ujar seorang perawat yang tiba-tiba datang dan meletakkan segelas jus jeruk di meja.


Alhamdulillah


Dengan segera Yuna meminumnya sampai tak bersisa.dr.Arman tersenyum-senyum melihatnya.


"Apa mau minum lagi?"tanyanya.


"Tidak terima kasih Dokter"tersipu malu.


"Baiklah kalau begitu.sebentar ya,saya memeriksa berkas ini dulu,tidak apa-apa kan?"ucap nya seraya menyematkan senyum di bibir nya yang terlukis keramahan.Dan di balas anggukkan oleh Yuna.


Ruangan sesaat di landa keheningan.

__ADS_1


dr.Arman sedang memeriksa secarik berkas yang di berikan perawat yang datang beberapa menit lalu.


Ya Allah...dia adalah Dokter yang dulu..


Yuna mengerjapkan matanya,ia menarik nafas.Tapi entah kata apa yang harus ia ucapkan.


Sesaat terlihat dr.Arman menutup berkasnya.


"Dokter.."panggil Yuna.


"oh iya,maaf jadi membuat nona menunggu."


"Tidak apa-apa Dok"


"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,atas pertolongan nona terhadap istri saya.Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika istri saya terlambat mendapatkan pertolongan"ujarnya tulus.


jadi benar,korban tadi adalah istri beliau,pantas saja pihak Rumah Sakit tidak menanyakan perihal keluarga korban.


"itu kan sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong-menolong.Dan kebetulan,itu merupakan bidang saya.Yaa..walau pun saya masih tahap belajar."


"Tindakan yang nona lakukan merupakan tindakan yang tepat dalam menangani korban emergency.Saya tidak tau bagaimana harus membalas semua yang telah nona lakukan."manik matanya berkaca.dr.Arman sekilas membayangkan entah apa yang akan terjadi pada istrinya,jika terlambat mendapatkan pertolongan.


"Dokter,tidak semua perbuatan baik itu,meminta balasan.Sesuatu yang kita lakukan dengan tulus,tak mengharapkan balasan apapun kan Dokter?"Yuna menghela nafasnya."Suatu saat perbuatan baik yang kita lakukan,akan di balas oleh Allah dengan cara nya sendiri.Seperti yang saya lakukan sekarang,adalah balasan Allah untuk kebaikan Dokter beberapa tahun silam".


"Maksudnya?"Dahinya mengkerut,dr.Arman mencoba mencerna perkataan Yuna.


"Apa Dokter ingat,dulu Dokter pernah menolong pengurusan jenazah ibu dari seorang gadis kecil.waktu itu ibunya meninggal karena kanker rahim.Dokter membelikannya makan,menemaninya, dan mencoba untuk menguatkannya"


Dokter Arman mencoba mengingatnya.Dia terdiam.


"Gadis kecil itu,memeluk Anda.Dan bilang bahwa ia ingin menjadi seorang Dokter.Seperti Dokter Arman."butiran bening mengalir disudut matanya.kenangan beberapa tahun silam itu terbayang di Matanya.


Dokter Arman menatap Yuna lekat.Dia mengingatnya.Dia tersenyum.


"usia ku semakin bertambah,ingatan ku sepertinya semakin buruk.bagaimana aku bisa melupakan mu,anakku.."Dokter Arman terisak.


"Tapi Dokter tidak berubah.Masih tetap Dokter Arman yang ku kenal"


Dokter Arman bangkit dan memeluk Yuna.Mereka terisak.


"Aku sudah yakin,kau pasti akan menjadi Dokter yang hebat kelak.Bagaimana Kabar Ayahmu?"melepaskan pelukannya.Pelukan seorang Ayah pada anaknya.


"Ayah sehat.Aku tidak pernah menyangka,bisa bertemu dua orang yang sangat berbeda hari ini"tersenyum mengingat kejadian dengan pria arogan di lorong tadi.


"maksud mu?"Tanya dr.Arman heran.


"Tidak apa-apa Dokter haha"Yuna tergelak.


"Terima kasih ya,atas semua yang kau lakukan hari ini."


"sudahlah Dokter,aku bahagia bisa berguna untuk orang lain.apa lagi beliau adalah istri Dokter.Sungguh suatu kehormatan bagi saya"


"Ah kamu ini..ayo duduk,kita mengobrol dulu"


"Terima kasih Dokter"

__ADS_1


Mereka pun mengobrol seru,seperti dua orang Ayah dan anak yang tak berjumpa lama.


__ADS_2