
Akhir-akhir ini,kedai sate milik Ayah Yuna memang sedikit sepi,mungkin karna harga bahan pokok yang sedang melonjak,membuat daya beli masyarakat menurun.Tapi bagi pedagang makanan seperti Ayah Yuna,mau tidak mau harus tetap mempertahankan kualitas rasa.
Meski bahan baku sedang mahal,pedagang makanan harus bisa mengimbangi,agar rasa makanan yang di jualnya tidak berkurang.Walaupun jelas berdampak pada pendapatan mereka.
Disana lah seorang pengusaha kecil atau pun besar di uji kepandaiannya,karena segala sesuatu pasti ada ilmunya,buktinya tidak sedikit para pengusaha atau pun pedagang yang gulung tikar dalam menghadapi masa sulit seperti saat ini.
Hal ini juga yang membuat Ayah Yuna sedikit terbebani fikirannnya,belum lagi perihal istri baru nya yang sering menghabiskan uang hanya untuk kebutuhannya sendiri.Tanpa berfikir sulitnya sang suami mencari pundi-pundi rupiah untuk memenuhi keluarga,sehingga acap kali ia mengikuti gaya dan gengsi yang seharusnya tidak perlu bagi kalangan menengah seperti mereka.
Di kedai sate
Heru sedang membuat pesanan,terlihat dua orang pelanggannya sedang menunggu pesanan.Heru mengipas sate nya dengan lemah,wajah yang pucat dan nafas yang sedikit tersengal-sengal.Salah satu pelanggannya memperhatikan keanehan pada Heru.
Seorang pelanggan yang tidak asing lagi itu menghampiri nya.Pria yang mengenakan kemeja panjang dan memakai dasi itu menyentuh bahu Heru.
"pak...ada apa?Bapak terlihat pucat?apa badan tidak enak badan?"tanya pemuda tampan yang ramah itu.
Umurnya sekitar Dua dulu lima tahun,tapi terlihat seperti pengusaha sukses dan berkelas.Mobil mewah berwarna merah yang terparkir di area kedai sate Heru itu adalah miliknya.Setiap makan siang,ia selalu menyempatkan diri untuk mampir mengisi perutnya di kedai langganan sejak ia duduk si bangku kuliah itu.Bahkan ia selalu menyempatkan untuk sekedar mengobrol singkat dengan si empunya kedai.
"oh iya nih den,bapak kurang enak badan"ujar Heru seraya memegang tengkuknya yang terasa pegal.
"Bapak kenapa tidak istirahat?biar saya bantu mengipas satenya"sambil menggulung lengan bajunya.
"eh jangan den,jangan,aduh bapak jadi tidak enak.Bapak tidak apa-apa kok.Aden duduk saja."ujar Heru seraya mempertahankan kipas yang terbuat dari anyaman bambu itu dari tangannya.Tapi pemuda itu memaksa untuk mengambil alih pekerjaan Heru.Heru hanya pasrah saat pemuda itu memasang wajah mengancam.
"tidak apa-apa pak,Bapak duduk saja,kalo hanya seperti ini saya bisa kok.Bapak lupa ya,waktu kuliah dulu saya kan sering bantuin bapak kipasin sate.haha"sambil memasang senyum ramahnya.
"iya tapikan sekarang aden sudah jadi bos besar,masa mau ngipasin sate juga,nanti baju kerja nya bau asap loh "masih berdiri di samping pemuda itu.
"Pak Heru ini,sudah saya bilang jangan panggil saya aden,panggil nama saja.Saya bukan anak sultan pak.haha"ia tergelak masih terus mengipas beberapa tusuk sate pesanannya sendiri.Pelanggan yang sedang duduk menikmati pesanan nya itu juga sedari tadi memperhatikan tingkah pemuda kaya yang rendah hati itu,sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya sesekali.
"iya nak Andrean,maaf..."Heru menyiapkan sepiring nasi dan sepiring bumbu untuk satenya,serta satu mangkok kecil asisan sebagai pelengkap.
__ADS_1
"Ayo pak,duduk saja.."pemuda yang bernama Andrean itu menuntun Heru untuk duduk di kursi di samping gerobak sate.Lalu ia pun kembali menyelesaikan tugas mulianya...
Beberapa berselang,datang lah seorang gadis yang masih berseragam SMA.Dia terlihat heran menyaksikan pemandangan yang tidak biasa di kedai sate milik Ayahnya itu.Matanya berkeliling,hanya ada satu pelanggan yang duduk di sudut,sedang menikmati makanannya.Dan satu lagi pelanggan yang sedang mengipas sate sambil sedikit terbatuk-batuk.Ayah nya terlihat sedang duduk bersandar ke dinding.Ia bertanya dengan isyarat matanya,Pria itu hanya melambaikan tangan dan tersenyum,sambil terus sibuk mengipas pesanan satenya.
"mau pesan dek?mari silahkan duduk,tunggu sebentar ya"ujar Andrean.
Yuna meringis sambil menggelengkan kepala nya,dia melirik ke arah Ayahnya yang terlihat bersandar sambil memejamkan matanya,Ayahnya tidak menyadari kedatangan sang putri kala itu.Yuna menghampiri Ayahnya dan menyentuh pundaknya.
"Ayah...Ayah kenapa?Ayah sakit."tanya Yuna.Andrean yang sejak tadi mata nya mengekor kedatangan Yuna menampakan wajah polosnya sambil memicingkan matanya.Ayah Yuna yang tiba-tiba membuka matanya itu terkejut tatkala sang putri telah berdiri di sampingnya dengan wajah cemas.
"Yuna?kau sudah pulang?"Tanya Heru sambil menyentuh tangan putrinya.
"iya Ayah,apa Ayah sakit?"tanya nya sambil terus mengecek suhu tubuh Ayahnya itu.Sesekali dia melirik pria yang sedari tadi memperhatikannya.Yuna seolah bertanya dengan matanya.
"Ayah hanya sedikit pusing nak"ujarnya sambil memijit keningnya.
"kenapa Ayah tidak pulang saja lalu istirahat?"
"dia siapa Yah?kenapa dia..."Yuna berbisik pada Ayahnya,dan berhenti ketika pria itu memperhatikannya.
"sudah selesai pak,saya makan dulu ya,oh iya maaf adek ini anak nya pak Heru ya?"tanya Andrean sambil memegang piring makanannya.
"iya,ini putri saya,silahkan makan dulu den"Heru pun berdiri seraya mempersilahkan pelanggan spesialnya itu.
"ah iya,bapak istirahat saja,"Andrean pun berjalan menuju meja dan duduk untuk menghabiskan sate kesukaan nya.
Mata Yuna tidak henti memperhatikan Andrean,Andrean pun melihat Yuna,Yuna terkejut saat pandangan mereka bertemu,ia memalingkan wajahnya karena gugup.Andrean nya nya tersenyum melihat tingkah Yuna.
"maaf ya,tadi aku kira kamu itu mau beli sate juga hehe"Ujar Andrean sekilas iya kembali memakan makanannya.
"iya tidak apa-apa,terima kasih sudah membantu Ayah saya.selamat menikmati makanannya"Yuna menundukkan kepalanya memberi hormat.Andrean membalas dengan senyumnya,mulutnya penuh dengan makanan.Dia sibuk mengunyah makanannya sambil sesekali melihat jam tangannya.
__ADS_1
Setelah makanannya tandas semua Andrean pun menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Alhamdulillah..sudah kenyang..nikmat sekali memang sate buatan pak Heru."
"terima kasih den"ujar Heru sambil duduk di kursinya.Yuna sedang sibuk melayani pelanggan yang datang,masih memakai baju sekolahnya.
"panggil nama saja pak..."kata Andrean lagi.Heru hanya menganggukkan kepala nya."sepertinya saya pernah bertemu dengan putri Bapak,tapi dimana ya"Andrean mencoba mengingat kejadian itu.
Yuna yang sudah selesai membungkus pesanan pelanggannya itu pun kembali duduk di kursi sebelah Ayahnya.
"Yuna,apa kamu pernah bertemu dengan nak Andrean,sebelumnya?"Heru menoleh mencoba bertanya pada Yuna.Yuna menganggukkan kepala nya.
"iya Ayah,Sepertinya pernah"ujar Yuna seraya melirik ke arah Andrean.
"oh iya,waktu itu selepas isya,ban motorku bocor,lalu aku mendorong motorku mencari tambal ban.Untung saja, waktu itu Adek memberi tau dimana tukang tambal ban nya.haha,ya ya aku ingat"seru Andrean sambil memukul meja nya pelan,seolah menemukan apa yang ia cari di kepala nya.Yuna hanya menganggukkan kepala nya,membenarkan apa yang di katakan Andrean.
"oh iya kenalan dulu sana sama Andrean"ujar Ayah Yuna sambil menyenggol siku Yuna.Sekilas Yuna menoleh pada Ayahnya.Lalu melihat Andrean yang berdiri lalu menghampiri ke arahnya.
"iya kita kenalan dulu dong"mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Yuna."Andrean".
"Yuna".
Itulah sekilas perkenalan antara Yuna dan Andrean.Selepas itu,Andrean pergi ke kantor dengan sedikit terburu-buru.
Akhirnya Yuna pun mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja ke toko buku sore itu.Dia memilih menemani Ayahnya di kedai sate,karena kondisi Ayahnya yang saat itu masih lemah.
"kenapa Ayah tidak pulang saja,biar Aku yang menjaga kedai nya."ujar Yuna sambil terus memijit lengan Ayahnya.
"tidak apa,nanti kita pulang sama-sama selepas magrib saja ya,"sahut Heru sambil membelai rambut putrinya.
"iya Ayah,tapi Ayah minum obat dulu ya".
__ADS_1