
Aku berharap bisa lebih dari sahabatmu,Yuna! Batin Doni.
"oh ya,besok kan kita tidak ada kelas,apa kalian mau ku undang makan di rumah ku?kebetulan besok Ayah ku berulang tahun.Kami mengadakan acara makan-makan di rumah ku.Kalian mau kan?"ajak Doni dengan penuh harap bahwa kedua sahabatnya itu mau hadir,terlebih Yuna.
"emm... kalo aku sih,gimana Yuna aja"sahut Stevania.kedua sahabat nya itu melihat Yuna secara bersamaan.Yuna pun melihat mereka secara bergantian.
"Apa?"sahutnya.
stevania mengangkat kedua alisnya.
"oke,kami akan datang"Yuna mengulas senyumnya.
Doni terlihat sangat senang,sampai tak terasa dia mengepal kan tangannya dan mengacungkan nya.
"yes"
"uuuh seneng nyaaa"sindir stevania sambil melirik Yuna.
"tentu saja aku senang,bukan kah kalian akan datang ke rumahku?".ucap Doni sambil duduk tenang kembali di kursi nya.
"kalian apa kalian?"stevania sambil menyenggol siku Doni yang duduk di sampingnya.Sesekali dia melirik ke arah Yuna yang tengah menikmati makanan nya."hahaha... oh iya Don,Ayah mu seorang Dokter kan?"
"hmm.."
"oh.benarkah?jadi hadiah apa yang harus kita berikan?"tanya Yuna.
"eh,tidak usah.Untuk apa?lagi pula kita hanya mengadakan makan-makan,bukan pesta ulang tahun"seru Doni.
"benar begitu?jangan salahkan kita ya,kau yang menolaknya."ujar Stevania
"iya"jawab Doni singkat."eh kalian jangan terlambat ya"
Mereka mengangguk hampir bersamaan.
*
Esokan harinya di kedai sate.
"Ayah,hari ini aku akan mengunjungi rumah teman ku,Ayah nya berulang tahun,kami di undang untuk acara makan bersama.Apa Ayah mengijinkan?"tanya Yuna yang sedang membantu Ayahnya menyiapkan pesanan.
"iya sayang pergilah,"seraya mengulas senyumnya.
"oh iya Ayah,sepertinya sudah lama Aku tidak melihat kak Andrean,kemana dia?"
"oh,setau Ayah dia sedang mengurus pekerjaannya di luar kota.Memang sudah lama sekali.Waktu itu dia pernah menanyakan mu,tapi kau sedang sibuk dengan ospek mu."
Yuna menganggukkan kepalanya.
**
Stevania menjemput Yuna dirumahnya kala itu Yuna sudah bersiap-siap dan menunggu Stevania.
"hay Yuna"Stevania melambaikan tangannya dari jendela taksi online pesanan nya.
Yuna pun bergegas menghampiri dan masuk ke dalam taksi.
"Tidak apa-apa nih kita datang tanpa membawa apapun?"tanya Yuna yang baru saja duduk di kursi mobil sebelah stevania.
"entahlah,Doni melarangnya.Lagi pula kita
harus bawa apa?"
__ADS_1
Yuna hanya mengangkat bahunya.
Setelah beberapa lama mobil taksi yang mereka tumpangi itu pun,memasuki kawasan perumahan elit.Dan sampai lah di depan satu Rumah besar nan mewah.Beberapa mobil terlihat di parkir di halaman rumahnya yang cukup besar.
"wah sepertinya,bukan hanya kita yang di undang."sahut Stevania.
Yuna menanggukan kepalanya.
"kok aku jadi malu ya masuk ke dalam"bisik Yuna yang sudah turun dari taksi.Mereka sudah berdiri di depan pintu gerbang kediaman Doni.
"apa kita masuk?"tanya stevania terlihat keraguan di matanya.
"tentu,kita kan sudah berjanji pada Doni."
"baiklah ayo masuk.kita kan di undang hihi"ujar stevania sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
Mereka pun melangkah masuk.Dengan langkah yang sedikit ragu.Mereka melewati beberapa security rumah Doni.
"Apa kalian teman tuan muda Doni?"tanya salah satu security itu.
"iya,kami bernama Yuna dan stevania"sahut Yuna.
"baiklah mari saya antar,tuan muda sudah menunggu di dalam"tutur nya.
Kemudian salah satu security itu mengantar mereka masuk ke dalam rumah.
Mereka saling lirik setelah tiba di dalam.Mata mereka berkeliling mencari Doni dia antara beberapa orang yang ada.
Terlihat dari lantai atas Doni melambaikan tangannya dan bergegas menuruni anak tangga menghampiri keduanya.
"wah akhirnya kalian datang juga.Ayo masuk,semua pelayan sedang menyiap kan makanannya.Sebentar lagi kan waktunya makan siang."Doni pun mengajak mereka menuju satu ruangan keluarga.Dan mempersilahkan mereka duduk.
"Apa apaan si kalian ini"menggaruk kepalanya yang tidak gatal,mukanya memerah.
Tak selang beberapa lama muncullah seorang pria paruh baya dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
"Ah itu Ayah ku,"ucap Doni.
Kedua sahabatnya itu pun menoleh ke arah yang di maksud.Ayah Doni pun menghampiri mereka.Yuna dan stevania langsung berdiri dan menundukkan kepala mereka.
Yuna terlihat mengamati Ayah Doni,ia mengerutkan alisnya.
"Bapak dr.Ridwan?"sapa Yuna dengan nada sedikit ragu.
Ayah Doni pun tersenyum setelah sesaat memperhatikan Yuna.
"oo..kamu Yuna kan?"
Yuna tersenyum,dan segera meraih tangan Dokter yang sangat ramah itu dan mencium punggung tangannya.Doni dan stevania melihat mereka dengan bingung.
"kau mengenal Ayah ku?"tanya Doni,dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Yuna.
"Ayo silahkan duduk"tutur dr.Ridwan."Bagaimana kabar mu nak?"tanya fr.Ridwan kemudian.
"baik pak,Bagaimana juga kabar Anda?"
"seperti yang kau lihat,Tuhan masih memberikan ku kesehatan,hanya aku bertambah tua.haha"ujarnya tergelak.
"Bagaimana Ayah bisa mengenal Yuna"tanya Doni,melepas rasa penasarannya sedari tadi.
"kau ingat?beberapa tahun lalu,Ayah pernah bercerita tentang gadis manis di toko buku?"tanya dr.Ridwan.Doni telihat berfikir.
__ADS_1
"seorang gadis cerdas yang memiliki impian menjadi seorang Dokter.Gadis supel dan menyenangkan"Lanjutnya.
Wajah Yuna terlihat memerah."jangan berlebihan pak,aku hanya gadis biasa yang bekerja di toko buku untuk menambah uang saku ku"membalas senyum dr. Ridwan.
"Benarkah?wah aku tidak menyangka kau seorang pekerja keras sedari dulu"ujar Stevania.
"Ah kalian satu kampus ya?baru kali ini Ayah melihat mu mengundang teman wanita mu ke rumah.Pasti mereka spesial ya"ucap dr.Ridwan dengan nada menggoda."Kau berhasil nak,kau pasti bisa menjadi Dokter yang hebat"seraya menepuk bahu Yuna yang duduk tidak jauh dari dr.Ridwan.
"saya kuliah menggunakan jalur bea siswa pak"jawab yuna.
"Hebat.Tapi,,kau terlihat sedikit lebih kurus.Jangan terlalu keras berfikir,santai saja.Pada dasarnya kau sudah cerdas"ujarnya lagi.
"Dia bekerja dengan sangat keras Ayah.Bahkan pola makannya tidak teratur"ucap Yuna
Mereka pun mengobrol beberapa saat.Setelah kemudian mereka menuju ruang makan.Dan menikmati makan siang mereka.
Yang Hadir disana merupakan kerabat dekat keluarga Doni.
Selepas makan siang berakhir,beberapa orang yang datang memutuskan untuk pulang atau kembali ke urusan mereka masing-masing.Sedangkan Yuna dan Stevania masih berbincang di taman belakang kediaman keluarga Doni.
Doni sedang duduk berdua dengan Yuna,sedangkan stevania sedang mencari kamar kecil.
"Yuna,aku senang ternyata kau akrab dengan Ayahku."
"hehe,begitulah.Ayah mu orang yang sangat baik.Bahkan dia banyak memberikan aku beberapa bukunya mengenai ilmu kesehatan.yang tidak di sukai oleh putranya"sambil melirik ke arah Doni.
Doni mengurut tengkuknya sambil tersenyum,mukanya memerah.
"hehe,ya kan waktu itu aku masih SMA.Belum tau akan melanjutkan kemana."mereka tertawa ringan."emm Yuna,"panggil Doni pelan,dia sedikit terlihat gugup.
"Ada apa?kenapa muka mu terlihat begitu?"ujar Yuna menatap Doni.
"aku...aku emm.."wajahnya semakin memerah"aku..."
Yuna mengangkat alisnya,seolah bertanya pada Doni.
Doni menarik nafas dan menghembuskannya.
"Aku tau kau menganggap ku sebagai sahabat,tapi aku ingin lebih dari itu"masih dalam ketegangan.
"maksudmu"
"Aku mencintai mu,bisa kah kita menjalin hubungan yang serius?aku menyukaimu semenjak kita awal bertemu dulu.Kau selalu ada dalam ingatanku"sambung Doni.
Yuna terlihat terkejut.Dia dalam diam,mencoba merangkai kata agar tidak menyinggung perasaan sahabatnya itu.
"Don,aku menghargai setiap perasaan pria yang menyukaiku.Entah kau atau siapapun,tapi saat ini aku masih belum memikirkan hubungan yang lebih dari sekedar sahabat.Aku akan fokus pada kuliah ku saat ini,tidak mau membagi nya untuk memikirkan yang lain selain keluarga dan kuliahku.jadi,"Yuna menghentikan ucapannya.
"Aku mengerti."Doni tertunduk.
"aku minta maaf ya,kau jangan marah padaku,aku harap tidak menyakiti hatimu.Tetaplah menjadi sahabatku,ku mohon"suaranya sedikit sendu.Doni hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian,Stevania pun datang.Dan mereka memutuskan untuk pamit,karena Yuna harus bekerja sore itu.
"Yun,kenapa raut wajah Doni muram begitu?kalian bertengkar?"tanya stevania yang semenjak tadi memperhatikan raut wajah Doni yang berubah.
Yuna hanya mengangkat bahunya.
"biasanya kan kau yang selalu bertengkar dengan nya".
Stevania hanya menggaruk kepalanya ringan,mencoba berfikir."ah ya sudahlah.".
__ADS_1