
Daniel baru saja tiba di kantor.Ia melangkah memasuki ruangannya.
"kapan meeting nya di mulai?"Tanya Daniel pada sekertarisnya Gino yang baru saja memasuki ruangan.
"lima menit lagi bos,semua staf sudah berada di ruangan meeting."jawabnya sambil meletakkan beberapa berkas di meja Daniel.
"Hmm"gumam Daniel,sembari memeriksa beberapa berkas yang diletakkan Gino di mejanya.
"Apa bos mau kopi?"
"Hmm... kopi hitam"jawabnya tanpa menoleh.
"baik bos"Gino pun segera keluar ruangan untuk memesankan kopi pada office boy.
Ponsel Daniel pun berdering,ia pun segera mengangkatnya,setelah melihat siapa yang menghubunginya di layar ponselnya.
"kakak.."Ia menutup berkas yang sedang di periksa nya tadi,dan menyandarkan tubuhnya di kursi."Halo kak,apa kakak sudah sampai di bandara?"
Daniel sejenak mendengarkan suara di sebrang ponselnya.
"Aku sudah berada di kantor,ada meeting pagi ini.Sebelum kekantor aku juga mengantarkan Mami ke mini market.katanya sih setelah itu akan berkunjung ke rumah teman lamanya."ujar Daniel sambil mengangguk.
"oh..kalau begitu hati-hati di jalan,semoga semuanya berjalan lancar.sampai jumpa"Daniel pun menutup panggilannya.
Andrean pagi sekali,sudah berangkat menuju bandara untuk mengurus projek cabang perusahaannya di malaysia.Semua urusan kantor pusat,hampir seluruhnya menjadi tanggung jawab Daniel.Andrean lah yang mengurus beberapa anak cabang perusahaannya yang berada di beberapa kota dan luar negri,hingga ia jarang berada di kantor.
Gino memasuki ruangan dengan membawa secangkir kopi.Tapi Daniel beranjak dari kursinya.
"ini kopinya bos"sambil berdiri dan meletakkan nya di meja.
"Bawa semuanya ke ruang rapat."Berlalu meninggalkan sekretarisnya.
"cih..kenapa tidak sekalian saja tadi. benar-benar Bos yang sering membuat repot.."Gino menghela nafasnya.
Daniel memasuki ruang rapat.Semua staf nya berdiri ketika Daniel muncul.Mereka merapikan pakaian dan beberapa berkas yang berada di hadapan mereka.
Dengan penuh pesona nya Daniel duduk di kursi kebesaran yang kini sering kali di dudukinya.Karena Andrean yang sebelumnya selalu memimpin rapat,sekarang lebih mempercayai semuanya pada Daniel.Adiknya itu di nilai sangat perfect dalam mengurusi semua urusan kantor,bahkan lebih handal di bandingkan Andrean.Meskipun sikap nya sangat dingin dan tegas.
Beberapa menit rapat berlangsung,salah satu staf sedang mempersentase kan suatu projek besar nya yang sedang dalam tahap pembangunan di luar kota.
Tiba-tiba ponsel Daniel berdering.Daniel tak memperdulikannya,ia masih fokus dengan presentasi staf nya itu,karena panggilan masuk yang ada di layar ponselnya adalah nomer yang tidak di kenal.Tapi,ponsel nya terus berdering.
"Bos,Apa tidak sebaliknya diangkat saja,siapa tau hal penting."usul Gino yang duduk di sampingnya.
Daniel mengangkat telapak tangannya.Seketika staf yang sedang menyampaikan presentasi itu berhenti.
" ya halo"Awalnya wajah Daniel yang datar itu berubah.ia terlihat sangat terkejut.Matanya terbelalak,nafasnya terasa berat.Selepas menutup telpon,dia bangun dan beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"urus meeting ini"ucapnya pada Gino.
Gino terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi pada bosnya itu.
"Ada apa bos?"tanya nya bangun dari duduknya.
Tapi Daniel pergi tanpa menjawab pertanyaan dari sekretarisnya itu.Semua staf yang ada pun merasa kebingungan,tapi tak berani untuk bertanya.
*
Daniel melangkah panjang menuju parkiran.Dan memasuki mobilnya dengan tergesa,wajahnya penuh kecemasan.Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Mami...
Sampai lah ia di halaman rumah sakit.Ia memarkirkan mobilnya di sembarang tempat.Daniel hanya memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir.Dengan berlari,ia menyusuri lorong Rumah sakit.
Di depan ruang IGD ia melihat Ayah nya sedang berdiri di sana,berbicara pada seorang suster.Daniel segera menghampiri sang Ayah.
"Bagaimana keadaan Mami?"tanya nya penuh kecemasan.
"Tenang lah dulu.Ayo duduk"tutur dr.Arman sang Ayah.
"Tapi pap,aku ingin melihat keadaan mami"tukas nya.Masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Mami mu sudah baik-baik saja,kondisi nya sudah stabil."
"pap sebenarnya apa yang terjadi?"
"Dan lebih beruntungnya,yang menolong mami mu itu adalah seorang mahasiswi dari fakultas kedokteran,hingga mami mu nyawanya bisa tertolong."
"syukurlah...Apa papi mengetahui identitasnya?"
"Sudah.Papi sudah menghubungi pihak kampus.kebetulan ia berkuliah di universitas xx,salah satu kampus Asuhan Kakek mu."sambung dr.Arman.
Daniel menghela nafasnya.Dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka memasuki ruang IGD.
Daniel langsung berhambur memeluk ibunya yang belum sadarkan diri itu.Terdapat selang infus dan kantung darah yang mengalir di kedua pergelangan tangannya.Juga perban di bagian dahi dan di bagian kaki kirinya.
Perasaan di dadanya membuncah,ia meneteskan butiran bening di sudut matanya,yang seketika ia seka.
"Kenapa Mami belum sadar pap?"tanya nya masih memegang erat jemari wanita terkasihnya itu.
"Mami mu mengalami benturan keras di bagian kepalanya,hingga mengeluarkan banyak darah.Dan luka di bagian kaki,yang menyebabkan pendarahannya semakin parah.Jadi mami mu kehilangan kesadarannya.Mungkin Sebentar lagi Mami akan sadar.Beruntung Gadis itu segera menghentikan pendarahannya.Papi yakin dengan semua penanganan darurat yang di lakukan nya,Gadis itu merupakan Mahasiswi yang cerdas.Karena dia melakukannya dengan sangat profesional dan teliti."
Nyonya Wini menggerakkan jarinya dan mulai membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Daniel pun lebih mendekat pada ibunya.
"Mami..."ia menyentuh wajah ibunya,kekhawatirannya sedikit memudar.
"Daniel.."suaranya terdengar lirih.
"Bagaimana dengan keadaan mu sayang?"dr.Arman pun mendekat,berdiri di samping Daniel.
"Masih sedikit pusing pap"ujarnya dengan intonasi yang rendah.
"Sebentar,ya Niel..papi periksa Mami dulu"Ujar dr.Arman mendekat dan mengeluarkan stetoskopnya.Daniel pun melangkah mundur.
"Apa kau memberi tau kakak mu?"Tanya dr.Arman.
"Belum pap"jawabnya singkat.
"Andrean tidak perlu di beri tau sayang,dia kan baru saja berangkat ke malaysia,jadi jangan membuat nya khawatir.Mami sudah baikan kok"Ujar Nyonya Wini menggeser kepala nya,kemudian di bantu oleh suaminya perlahan.
Daniel Hanya mengangguk mengiyakan semua yang di katakan ibunya.
Ponsel Daniel berdering berkali-kali,panggilan masuk dari Gino.Tapi tak ia hiraukan.
"Sayang kenapa kau tidak mengangkat telpon mu?"tanya Nyonya Wini.
"Biarlah mam,hanya Gino."
"Bukan kah kau sedang ada meeting penting?pergilah ke kantor,Mami mu sudah baik-baik saja.Papi akan merawat nya..Jangan khawatir."ujar dr. Arman menepuk bahu Daniel.
"iya sayang,kembali lah ke kantor"sambung nyonya Wini.
Daniel terlihat enggan kembali ke kantor,rasa kekhawatiran terhadap keadaan ibunya itu belum mereda.
"Papi juga sudah menghubungi seila dan kakek mu,sebentar lagi mereka juga datang.jadi jangan khawatir."tutur dr.Arman.kembali menepuk bahu putranya meyakinkan.
"Baik lah pap.Tapi hubungi aku dan kabarkan tentang kondisi Mami.Setelah urusan di kantor selesai,aku akan kemari lagi"tegasnya.
Kedua orang tuanya hanya mengangguk,sambil tersenyum.
Daniel pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu,dan meninggalkan kecupan di pucuk kepala ibunya.
"Hati-hati di jalan sayang"
Daniel bergegas keluar dari ruangan setelah menyambar jas yang ia simpan di atas kursi.
Daniel berjalan dengan langkah panjangnya menyusuri lorong rumah sakit.Beberapa perawat mencoba menyapa dan tersenyum pada Putra dari Direktur dan sekaligus cucu dari pemegang saham terbesar di Rumah sakit itu,tapi bukan Daniel jika tidak bersikap dingin.
Daniel sibuk menghubungi Gino,dan melihat jam tangannya.
__ADS_1
"ya..aku sedang menuju ke kantor.Sampaikan pada Klien kita,untuk menunggu sebentar."Daniel tidak memperhatikan jalannya.Ia berjalan sangat tergesa-gesa.Dan...
Brakkk..