The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Hanya berdua.


__ADS_3

Siang hari,Daniel meminta Gino untuk menyelesaikan pekerjaan nya di kantor.Daniel sudah bulat memutuskan untuk pindah ke apartemen nya.Apartemen yang tidak pernah sekalipun di tempati semenjak ia membelinya.


Kini...karena dengan alasan yang cukup kuat,ia harus tinggal di sana.Meskipun keluarga masih belum tau alasan sebenar nya yang membuat Daniel memutuskan pindah ke apartemen.


"Niel,kau yakin akan pindah.Mami mohon jelaskan ada apa?"Tanya Nonya wini khawatir.


"Tidak apa-apa Mam.Aku hanya ingin lebih mandiri.Karena aku sudah berumah tangga.Aku harap Mami mengerti dan tidak mempertanya kan lagi Ya jawab Daniel.


Nyonya wini mengangguk,dia paham bagaimana jika sudah berumah tangga.Pasti akan ada sesuatu yang harus nya mereka tau hanya berdua saja.Manis dan pahit yang hanya di rasa kan berdua tanpa melibatkan keluarga.


"Rukun-rukun lah dengan Yuna.Mami berharap kau bisa memperlakukan nya dengan baik..Oh ya,barang-barang Yuna dimana?"Tanya Nyonya wini melihat koper yang hanya di bawa Daniel tidak banyak.


"Masih ada di kamar.Biar dia saja yang berkemas.Aku takut ada yang tertinggal."Jawab Daniel singkat.


***


Di ruang pemeriksaan.


dr.Yunanda prisilia.


Masih melayani beberapa pasien lagi,Yuna melirik jam tangan nya.sebentar lagi waktunya istirahat.Ia tersenyum ramah pada pasien nya yang menunduk pamit dan keluar dari ruangan nya,sambil memegang resep obat yang di berikan Yuna.


Yuna menyandarkan tubuhnya,ia menghela nafas panjang.mengingat kejadian tadi pagi.Ia harus telat ke Rumah sakit karena tidak mendapatkan taksi atau pun ojek.Karena ulah Daniel yang meninggalkan nya di tepi jalan


Menyebalkan...


"Apa Daniel serius ya,dengan kepindahan nya?dia bilang,siang ini akan berkemas.Entah lah.Bagaimana jadi nya jika aku hanya tinggal berdua dengan suami yang menyebalkan itu.Apa yang akan dia lakukan.hrrr"Gumam Yuna,ia bergidik ngeri membayangkan apa yang akan di lakukan Daniel nanti.


Padahal Daniel kan suami nya,seharus nya dia merasa nyaman berada di dekat Daniel.Tapi tidak,Yuna merasa bahwa Daniel adalah ancaman yang menakutkan.


Sikap Daniel yang terbilang labil itu,membuat Yuna sulit menebak apa yang di fikirkan nya.


Tapi tidak mungkin,jika Yuna tidak tinggal bersama Daniel,apa yang akan di katakan orang lain nanti.Suami dan istri yang baru saja menikah tinggal di tempat yang berbeda.


Terlebih itu dapat memberi celah bagi wanita lain untuk mendekati suami nya.


Walaupun Yuna belum mencintai dan tidak begitu peduli pada Daniel,tapi sesuatu yang salah jika membiarkan Daniel tinggal seorang diri.


Yuna segera bangun dari duduk nya,ia meraih tasnya.Dan berjalan keluar ruangan.


"Suster,pasien berikutnya pindahkan saja ke ruang pemeriksaan dokter Hara.ya.."Ucap nya,Dan di balas anggukan oleh Suster Rena.


"Maaf karena aku ada urusan penting.Jangan lupa makan siang mu ya".Ujar Yuna lalu melangkah pergi.


"Iya dokter"Suster Rena mengangguk dengan cepat.Suster Rena sangat mengagumi sosok Yuna,yang ramah dan perhatian itu.Tak ia dapati dari dokter sebelum nya,kecuali sifat itu juga di miliki oleh Sang Derut rumah sakit.Dokter Arman yang juga memiliki kepribadian hampir serupa dengan Dokter Yuna.


***


Sesampai nya di rumah,Yuna melangkah menuju kamar nya.Rumah terlihat sepi,menurut beberapa ART yang di temui nya tadi,Nyonya wini sedang ada pertemuan keluarga secara mendadak.Dan Daniel sudah berkemas,lalu membawa pergi beberapa Koper.


Tlit..


Suara pesan di ponsel yuna masuk


📩"Jika kau ingin tinggal bersama ku,cepat lah berkemas.


Aku menunggu mu di apartemen paling lama setengah jam.


Jika kau tidak datang tepat waktu,aku tidak akan mengijin kan mu tinggal dengan ku".

__ADS_1


Daniel.


"Ah..sial,"Yuna terlihat kesal.Semua barang nya masih belum di kemas.Waktu terus berjalan.


"Apa-apaan ini..mana sempat.".


Yuna segera memasukan barang-barang nya yang memang tidak begitu banyak,karena sebagian masih berada di rumah Ayah nya.Setelah selesai Yuna dengan sedikit berlari sambil menarik koper menuruni tangga.


"Aww.."Kaki Yuna terkilir,saat terburu-buru menuruni anak tangga itu.


Ia melangkah terpincang-pincang.sambil menyeret kopernya.Ia melihat jam tangan nya.


"Ah bagaimana ini tinggal lima belas menit lagi."


Saat Yuna melangkah keluar pintu rumah nya,dia berfikir.


Aku tidak sempat memesan taksi.akh...


Ia berjalan mendekati pos pengaman.


"Iya Nona,ada yang bisa saya bantu"Tanya seorang security.


"Apa kau punya motor?"Tanya Yuna.


"Iya,ada Nona".jawab nya.


"Bisa tolong antarkan aku ke apartemen ini."Yuna memberikan posel nya yang terdapat alamat apartemen Daniel,stelah Daniel mengirimkan lokasi nya tadi.


"Oh...i iya bisa Nona,tapi.."Security itu terlihat ragu.Pasalnya ia akan mengantarkan istri Tuan muda nya,yang di kenal memang tidak begitu ramah.


"Tuan Daniel menunggu ku.tidak sempat jika aku harus memesan taksi atau ojel online dulu"Tutur Yuna.


Security itu pun mengangguk dan segera mengambil sepeda motornya.Ia mengantarkan Yuna menuju apartemen,yang memang sering di lewatinya setiap hari,menuju ke rumah nya.


Yuna dengan tergopoh-gopoh,seraya menyeret kopernya masuk.


"Nona Yuna ya.."Tanya seseorang di depan pintu masuk.


Yuna mengangguk.


"Mari saya antar.Tuan Daniel sudah menunggu."Tutur nya.


Yuna melihat jam tangan nya.


Ah tinggal dua menit lagi.Tapi syukurlah aku sudah sampai.Untung saja pak security tadi melajukan sepeda motor nya dengan kecepatan tinggi,meski aku sedikit mual.uek..batin Yuna.


"Baik lah pak Terima kasih."


Yuna pun melangkah memasuki lift dan menuju lantai kamar Daniel.


Ia berjalan mengekor pria paru baya yang mengantarnya.Ia melihat ke kiri dan ke kanan,sampai lah di kamar apartemen paling mewah di sana,kata nya menurut si bapak itu.


"Ini kamar nya Nona.silahkan masuk."ucap nya.


"Terima kasih pak".Ucap Yuna menundukkan kepala nya.


Bapak itu pun berlalu,meninggalkan Yuna yang masih terpaku di depan pintu apartemen Daniel.


Ia menghela nafasnya,entah apa yang akan di lakukan Daniel pada nya,sikap nya yang menyebalkan mungkin akan menjadi,Yuna harus sabar dan menerima segala konsekuensi nya.

__ADS_1


Yuna membunyikan bel,tidak lama Daniel pun membuka pintu.


"Kau terlambat"Ucap nya.


Membuat Yuna menghentikan langkah nya,ia sudah selangkah memasuki ruangan itu.


Yuna menoleh menatap Suami nya yang sama sekali tidak merasa bersalah karena membuat nya begitu kerepotan karena waktu yang di berikan nya tidak masuk akal.


"Kau memberi waktu pada ku setengah jam.Dan untung saja aku sudah berada di rumah.Bagaimana jika aku masih di rumah sakit?"Ujar Yuna mendengus kesal.


"Itu urusan mu.Kau tetap terlambat.Kau harus mendapat hukuman."Ucap Daniel,ia melangkah dan duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya,dengan kedua tangan di rentang kan santai di atas sofa.


"Apa?hukuman?bahkan kau sudah menghukum ku sekarang.Aku bahkan susah payah untuk sampai di sini."Yuna melangkah masuk.


Kaki Yuna yang terkilir tadi pun menarik perhatian Daniel.Daniel mengamati kaki Yuna yang terseok-seok.Tapi ia tidak bertanya.


"Kau jangan berpura-pura sakit,karena takut mendapat hukuman dari ku."ujar nya.


Membuat Yuna yang baru saja meletakkan kopernya itu pun,membuka mata nya lebar,untung tidak copot.


"Pura-pura sakit kata mu?ah hahaha...terserah apa kata mu.Ini justru karena kau,aku hampir jatuh di tangga rumah.Malah kau bilang aku takut mendapat.hukuman.ck."


"Kau mencari perhatian dari ku ya...kau ingin aku perhatikan dengan cara seperti itu?kau jatuh cinta padaku?"Tanya Daniel.


Yuna mengerutkan kening nya.Dia menggeleng-geleng kan kepala nya,merasa suami nya itu aneh.


"Koperku harus simpan di mana?"Tanya nya.


"Di sana"jawab Daniel tanpa menoleh,ia menunjuk ke arah samping kamar nya.Terdapat sebuah lemari di sana.


"Karena kau terlambat,kau harus membuatkan ku makanan"ujar nya.


"Eumm baiklah,aku juga belum makan".


"Itu yang pertama,yang kedua,kau harus membereskan semua barang-barang ku dan yang ketiga,kau tidur di luar.Karena apartemen ini hanya ada satu kamar."


Yuna mendengus kesal.


"Apa?jadi apa beda nya di rumah atau pun di sini,aku tetap tidur di sofa.ck..menyebalkan"Gumam Yuna.


"Tidak usah berbisik,aku mendengar nya."Daniel bangun dari duduk nya dan menghampiri Yuna.Dia berjongkok,karena Yuna sedang memijit-mijit kaki nya,sambil terduduk di lantai.


"Memang nya kau ingin satu kamar dengan ku?kau ingin melihat ku tidur?kau ingin memandangi tubuh ku yang menggemaskan ini hah?"sambung nya.


"Haha...menggemaskan...haha aku akan tidur di luar.Membuktikan bahwa aku tidak seperti yang kau bicara kan"ujar Yuna.


"Bagus,Sudah sana buatkan makan".Daniel berjalan menuju kamar nya.


"Iya.."jawab Yuna kesal.Ia mencari dimana letak dapur nya.


"Oh itu dia..."


"Jangan lama-lama,aku lapar"teriak nya.


Yuna berdengus kesal,ia membuka setiap lemari di dapur itu,semua nya kosong.


"Hah?bahkan lemari es nya pun belum di nyalakan.Dasar,dia fikir aku jin apa?mana bisa membuat makanan tanpa bahan.Ck..apa aku suguh kan ini saja ya..."Yuna tertawa dalam hati.


Yuna membawakan piring ke kamar Daniel.

__ADS_1


"Ini makanan mu"ucap nya menyodorkan piring itu.


Daniel menoleh dan terkejut.Mata nya terbelalak.


__ADS_2