The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
mengutarakan keinginan


__ADS_3

Andrean pun sampai di kantor,ia berjalan tergesa menuju ruang rapat.Sesekali di mengaggukan kepalanya saat beberapa karyawan menyapanya.Sekertaris pribadinya sedang berdiri di depan ruang rapat,melihat siapa yang di tunggu nya telah datang,ia berdiri menundukkan kepalanya dan menyodorkan beberapa lembar file di tangannya.


"Apa mereka sudah menunggu dari tadi?"tanya Andrean singkat,ia membuka pintu ruang rapat itu tanpa menunggu jawaban dari sekretarisnya.


"selamat siang,maaf membuat kalian menunggu lama"Andrean pun duduk di kursi tempat kakeknya dulu memimpin rapat.Rapat pun di mulai.Hampir setengahn jam berlangsung,akhirnya rapat pun berjalan lancar.


Andrean masih berada di ruang rapat,saat semua staf sudah meninggalkan ruangan itu,karena rapat telah usai beberapa menit lalu.Andrean masih sibuk memeriksa beberapa berkas.Ia mendongakkan kepalanya saat seseorang mengetuk dan membuka knop pintu ruangan yang cukup besar itu.


"permisi bos,boleh masuk?"tanya seseorang yang tiba-tiba masuk.


"masuk saja play boy"Andrean tergelak saat seseorang yang dia kenal itu masuk."kapan kamu datang Ren?"tanya Andrean singkat sambil terus sibuk pada lembaran kertas di hadapannya.


"Baru saja,"jawab Reno,yang kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Andrean.Ia meletakkan beberapa dokumen di samping laptop Andrean."Aku tadi mencari ke ruangan mu,kata sekertarismu kau masih di sini."


"hmm.."


"ini dokumen yang kau minta kemarin"menepuk-nepuk tumpukan dokumen yang ia bawa tadi.


"kenapa kau tidak simpan di ruanganku."ujar Andrean,melirik sekilas tumpukan dokumen itu.


"oh iya,haha"Reno tergelak.


Reno adalah anak dari sepupu Ayah nya,yang di percaya oleh kakeknya untuk mengurus anak dari perusahaan yang ada di luar kota.Reno juga merupakan teman Andrean saat sekolah dulu.


Setelah menyelesaikan beberapa berkas di ruang rapat tadi,Andrean dan Reno pun pergi ke ruang kerja Andrean.Terlihat sekertaris Andrean itu menundukkan kepala nya di samping pintu ruang kerja Andrean.


"maaf pak,mengganggu waktunya sebentar,"ujar sekertaris itu.Andrean dan Reno pun seketika menghentikan langkah nya.


"ya ada apa nina?"tanya Andrean singkat.


Kemudian sekertarisnya itu menyodorkan undangan pernikahan pada Andrean sambil.menundukkan kepalanya.


"apa ini?"tanya Andrean seraya mengambil undangan itu,dan membaca nama yang ada di sampul depannya."oh ini undangan pernikahan mu ya?selamat kalo begitu,semoga acara nya sukses ya" Andrean pun menjabat tangan Nina.


"terima kasih pak,saya sangat berharap Bapak bisa hadir"ucap Nina masih menundukkan kepala nya.


"ya,,saya usahakan akan hadir ke pestamu ya,oke sekali lagi selamat ya,"Andrean pun melanjutkan langkahnya,sambil membaca surat undangan itu di tangannya.Reno pun mengekor di belakang Andrean.

__ADS_1


Mereka menjatuhkan diri di sofa ruang kerja Andrean.


"wah sekertaris mu itu mau menikah ya...aku kira dia masih single.huh"ujar Reno.


Andrean melirik nya sekilas.


"mau apa kau buaya darat"Andrean pun tergelak.


"tadi kau menyebutku play boy,dan sekarang buaya darat."gumam Reno."itu tidak benar,aku bahkan masih jomblo."menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"haha..itu karna ulah mu sendiri,jadi akhirnya tidak ada wanita yang mau denganmu,kau terlalu mengumbar cinta.haha".sahut Andrean.keningnya berkerut,Reno menampakan wajah kesalnya.


Di rumah Yuna


Selepas magrib,Yuna dan Ayahnya pun memutuskan untuk menutup kedai lebih awal dari biasanya.Lalu.mereka pun pulang menggunakan sepeda motor sederhana milik Ayahnya.


Setelah menghabiskan makan malam yang di sediakan ibu tirinya,Yuna mengambil obat yang ia simpan si dalam tas sekolahnya,sebelum pulang tadi Yuna menyempatkan diri mampir ke apotek membeli obat untuk Ayahnya.


"Ayah,minum obatnya dulu ya.."menyodorkan obat dan segelas air pada Ayahnya yang masih terduduk di meja makan.


"Ayah,jika nanti aku sudah menjadi Dokter,aku tidak akan membiarkan Ayah sakit.Aku akan selalu menjaga Ayah."manik matanya berkaca-kaca,ia memandang Ayahnya dengan tulus.seraya menggegan jemari Ayahnya.


"kau pikir menjadi seorang Dokter itu mudah?pendidikannya membutuhkan biaya yang banyak.Dari mana kita punya uang?apa lagi sekarang ini Ayah mu sedang masa pailit,kedai sepi..."ocehan wanita itu,membuat Heru menundukkan kepala nya.ia mengurut pelipis matanya.


Yuna yang melihat reaksi Ayahnya itu,merasa bersalah,telah membahas ini pada waktu yang kurang tepat.Meskipun Yuna tidak sengaja mengutarakan keinginan terpendam nya itu.


Heru sebenarnya sudah mengetahui sejak dulu,mengenai cita-cita mulia sang putri semata wayangnya itu,tapi keadaan lah yang membuatnya semakin bingung,bagaimana agar semua keinginan putrinya itu dapat tercapai.Heru bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar.


"Ayah istirahat dulu ya,sebaiknya kau juga istirahat sayang"ujar Heru dengan suara sendu nya,matanya menatap Yuna.


"iya,Istirahatlah Ayah,semoga Ayah cepat pulih"semburat senyum ia berikan tulus pada Pria yang sangat ia sayangi itu.


Tak lama Ayahnya memasuki kamar.Pandangan Yuna tertuju pada wanita yang masih terduduk di sebelahnya,mata menatap tajam ke arah Yuna,seolah ingin menerkam gadis lugu itu.


"Katakan bahwa kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu itu?"matanya masih menatap Yuna,ia melipat tangannya di dada.


"Aku...memang ingin menjadi seorang Dokter bu,"suara Yuna terbata,ia menundukkan pandangannya.Seolah enggan menatap sorot mata yang menusuk itu.

__ADS_1


"haha..kau pikir kau itu siapa?bagaimana caranya kau bisa menjadi Dokter.haha"suaranya terdengar melengking.


"berhenti lah bermimpi,jangan pernah membebani Ayahmu.Sadarlah siapa dirimu?cuma gadis miskin yang punya mimpi setinggi langit,kau fikir hanya dengan membaca buku-buku itu kau bisa mewujudkan impian mu?"ibu tirinya itu berdiri dan mencondongkan wajahnya di dekat telinga Yuna."jangan pernah membahas hal ini lagi,kalau kau berani membahasnya dan menghasut Ayahmu,habislah kau"bisiknya,membuat Yuna bergidik.Lalu wanita itu menyusul Ayahnya masuk ke dalam kamar.


Yuna dengan sekuat hati menahan kepedihan.Air mata nya tak dapat ia bendung lagi,ia bangun dan berjalan gontai menuju kamarnya.


Aku tau mimpiku itu tidak mudah,tapi apa salahnya jika aku berharap.


kenapa Ayah tidak bicara apapun.hiks!


Yuna terlelap sambil menahan tangisnya.


**


Keesokan harinya,ia pergi kesekolah masih dengan suasana gundah.Seakan ancaman yang di berikan ibu tiri nya itu menjadi senjata yang suatu waktu akan melepaskan pelurunya pada Yuna.Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang.Sepanjang pelajaran di mulai,Yuna hanya termenung dengan tatapan kosong.Kata-kata ibu tiri nya terus terngiang di kepalanya.


Benarkah aku tidak akan menjadi seorang Dokter?salah jika aku berusaha mewujudkan mimpiku itu?


Fikiran Yuna entah kemana,tanpa ia sadari pelajaran sudah usai,beberapa murid telah meninggalkan ruangan kelas.Bel sekolah Sudah berbunyi,waktunya pulang.


Yuna bergegas meraih tasnya di meja,dan berjalan terburu-buru,entah apa yang membuat hati nya ingin segera pulang,perasaannya tidak enak.


Sesampainya di rumah,ia melihat pintu kamar nya terbuka,dengan segera dia masuk ke kamar.Dia terkejut setelah melihat semua buku-buku koleksinya di rak sudah tidak ada,dia mencari di kolong-kolong ranjang dan meja belajarnya,tapi nihil.Semua buku tentang ilmu kesehatan dan kedokteran yang ia dapat dari Dr.Ridwan dan dari beberapa temannya juga tidak ada.Begitu pula buku yang ia beli dari hasil uang saku dan gaji nya di toko juga,sama sekali tidak ia temukan.Hatinya mulai bergetar,ia panik .keringat sudah membasahi baju sekolah yang masih membalut tubuhnya.


Ibu...


Yuna teringat akan ancaman ibu tiri nya semalam,ia berusaha mencari keberadaan sang ibu di dapur,tapi ia tidak ada.Lalu Yuna bergegas menuju halaman belakang.Nafasnya tersengal-sengal,ia melihat asap tebal.Apinya telah membakar sebagian tumpukan buku.


Tenggorokan Yuna seperti mengering,ia tercekik melihat buku-buku berharga nya telah habis di makan sang jago merah.


"Astagfirullah..buku ku..."Yuna mengambil sepotong kayu yang tergeletak di samping tempat pembakaran sampah itu.Lalu ia berusaha untuk memukul-mukul tumpukan bukunya yang sudah habis terbakar sebagian.


Air mata mulai membanjiri pipi Yuna,ia tak kuasa melihat kejadian itu,ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kehitaman karena terkena arang itu,hingga menodai pipinya yang merah karena menahan tangis.Ia melirik ibu tiri nya yang masih berdiri melipat kedua tangannya,memandangi kejadian itu,dengan senyum menyeringai penuh kemenangan.


Tangis Yuna kian pecah saat,bayangan masa depannya kian hilang di telan api yang membakar buku-buku itu.


"kenapa ibu tega padaku,apa salahku bu?hiks!"ujar Yuna masih bersimpuh.

__ADS_1


"ini hanya peringatan untuk mu,jika kau coba-coba merayu Ayah mu untuk membiayai kuliah mu,aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini"Wanita itu berjongkok dan matanya melototi Yuna,seakan ingin menerkam gadis yang tidak berdaya itu.Lalu ia berlalu meninggalkan Yuna yang masih sesegukkan.


Buku ku...hiks!


__ADS_2