The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Aku ingin menjadi Dokter


__ADS_3

Heru dan putri nya masih terduduk di ruang tunggu Rumah sakit,menunggu proses Pemulangan jenazah wanita yang sangat mereka cintai itu.Yuna masih terus menangis,ia sangat terpukul dengan kepergian ibunya,dan kepergian kakeknya beberapa tahun yang lalu itu pun kembali teringat di benaknya,membuat dadanya semakin sesak oleh kepedihan.Ia lirik sang Ayah yang sedari tadi juga penuh dengan duka,wajah nya menyiratkan kepedihan mendalam,hanya dirinya lah yang Ayah nya miliki saat ini.


"Ayah,tlong jangan tinggalkan aku"dengan suara yang parau,Yuna memeluk erat Ayahnya.


"iya sayang"membalas pelukan putrinya,air mata nya pun kian deras,ia pun menyekanya dengan lengan jaket yang ia kenakan.


Tak lama,seorang dokter berjalan mendekati mereka,suara langkah sepatu itu,membuat Heru menoleh.Ia tersenyum sambil terus mengusap wajahnya yang basah.


"Dokter Arman"ujar Heru sekilas.


Dokter Arman hanya tersenyum dan duduk di samping Yuna,Yuna pun ikut menoleh dan melepaskan pelukan nya.


"Dokter,,,kenapa semua orang yang aku cintai pergi meninggalkan kami?,sebelumnya kakek ku.hiks"Tangis Yuna pun kembali pacah.


Dokter Arman pun mendekati Yuna,dan mengusap pungggung Gadis kecil itu,mencoba menenangkan nya.


"Dokter juga dulu hanya punya Ayah"kata Dokter arman kemudian.Yuna menatap Dokter itu lekat.


Benarkah nasib kita sama?.Batin Yuna


"benar kah dok?"tanya nta seraya menyeka air mata nya yang sebagian telah mengering itu.


"tentu saja,dulu ibu nya dokter meninggal karena kecelakaan."Dokter Arman seolah kembali ke masa itu.Mata nya mulai berkaca-kaca."Dokter dan Ayahnya dokter juga dulu duduk persis di tempat ini,penuh dengan duka."

__ADS_1


"Apa yang dokter lakukan saat itu?"tanya Yuna lagi.


"Dokter saat itu seumuran kamu,dokter ingin sekali menjadi dokter,agar bisa menyelamatkan Orang-orang yang dokter cintai."


"benarkah?cita-cita ku juga ingin menjadi seorang dokter."Yuna menampakan senyum tipis.


"oh ya?wah kita sama dong"sambil mengusap kepala gadis kecil itu.Heru hanya memperhatikan sambil terus memegang erat tangan sang putri."tapi,,,kematian itu merupakan takdir.Yang tidak bisa kita hindari."menarik nafas perlahan,mencoba memberi pengertian kepada Yuna."Dokter hanya berusaha menyembuhkan dan menyelamatkan dengan kemampuan yang mereka punya.Tapi,Tuhan lah yang memiliki hak penuh pada takdir seseorang,hidup atau mati."


Yuna mendengar kan,dia menganggukkan kepalanya,mulai memahami perkataan sang dokter.


Mereka diam sesaat,kemudian datang lah salah seorang staf rumah sakit.Ia menunduk memberi hormat,saat melihat Dokter Arman.


"kepada Bapak Heru?"tanya staf itu,sambil memegang beberapa lembar kertas di tangannya.


"ini surat-surat kematian dari Rumah sakit.Jenazah istri bapak bisa di bawa besok pagi pak"memberikan lembaran itu pada Heru,yang kemudian Heru mengambilnya dan sekilas membacanya.


"apa benar,administrasi nya sudah di selesaikan?"menatap salah satu lembaran yang ia pegang.


"benar pak.Rumah sakit sudah membebaskan semua biayanya,berikut biaya ambulan yang akan membawa jenazahnya besok."staf itu membenarkan.Heru melirik ke Dokter Arman sekilas.Dia tau bahwa semua ini adalah atas bantuan Dokter itu.


"baik terima kasih pak"ujar heru.staf itu pun berlalu,setelah kembali menunduk hormat pada dokter Arman.


"sudah kalian istirahat saja dulu,lebih baik jika kalian beristirahat di ruang tunggu disana."Dokter Arman menunjuk ke sebuah tempat seperti ruangan,dan ada beberapa orang yang sudah terlelap.Ruangan yang lumayan luas,ruangan yang memang di sediakan untuk para keluarga pasien,dengan beberapa alas dari permadani itu,sudah di tempati sekitar lima sampai enam orang.

__ADS_1


Dokter Arman pun mengantar mereka,juga membantu membawa beberapa bawaan mereka dari ruang rawat tadi.


"terima kasih dokter,atas bantuannya.Saya tau,pasti dokter yang membantu semua proses pemulangan istri saya,harus dengan apa saya membalas kebaikan dokter?"menjabat tangan dokter itu.Dokter Arman mengusap bahu Heru.


"Sama-sama,jangan di fikirkan.Tollong jaga dengan baik putri anda yang pintar ini.Dia pasti akan menjadi orang yang sukses nantinya"


"baik pak,baik.Terima kasih pak sekali terima kasih"Heru hampir menitikan air matanya karena ia menemukan sosok yang begitu tulus itu.Dokter Arman menepuk-nepuk bahu Heru,dan menoleh ke arah Yuna yang terlihat sudah mengantuk itu.Ia menunduk kan badannya mensejajarkan tinggi gadis itu.


"Yuna pintar,sudah istirahat dulu sana.Besok kamu dan Ayah mu bisa pulang.Ingat jangan nangis lagi ya."mengusap kepala anak itu lembut.


"iya dokter.."seraya melukis senyum pada wajahnya yang sendu.Dokter Arman pun berbalik arah dan berjalan meninggalkan mereka.


"Dokteeer...."Yuna memanggil dokter Arman yang sudah beberapa langkah menjauh itu.Dia berlari dan mengambur ke pelukan dokter yang sebaya dengan Ayahnya itu.


"eehh ada apa Yuna?"mengusap kepala Yuna yang masih mendekapnya.


"Dokter...apa bisa aku menjadi dokter seperti dokter Arman?"mendongakkan wajahnya.


"tentu saja"seraya tersenyum ramah."kamu pasti bisa menjadi seorang dokter yang hebat.belajarlah dengan tekun,banggakan Ayah mu ya"Yuna hanya menganggukkan kepalanya.Masih dalam posisinya,ia berdiri melambaikan tangan pada sang dokter ramah itu yang kian berlalu.Heru yang sedari tadi memperhatikan,kemudian menghampiri Yuna dan mengajaknya beristirahat.


Proses pemakaman pun berjalan lancar.Ibunya di makam kan tidak jauh dari tempat tinggalnya.Yuna yang masih terus memandangi pusara ibunya itu,seolah tak ingin meninggalkan ibunya sendiri.Ia masih mematung,seakan waktu bergulir begitu cepat.Orang-orang yang sangat di sayangi nya kian pergi silih berganti.Ia berharap,Ayah nya akan selalu ada menemaninya setiap saat.


Hari beganti hari,Yuna sudah kembali ke sekolahnya.Gadis itu semakin giat belajar,terbukti dengan nilainya yang semakin meningkat.penghargaan demi penghargaan dia raih,bahkan dia mendapatkan bea siswa untuk tingkat SMA.Beberapa tahun berlalu,kini gadis itu sudah duduk di bangku SMA.Ayahnya juga sudah tidak berjualan keliling lagi.Sekarang ia menyewa kios di tepi jalan raya,tempat nya strategis.Meski tidak besar,tapi ruko berukuran tiga kali tiga meter itu cukup nyaman dan bersih.Sudah banyak orang yang menyukai sate buatan Heru,setiap hari pelanggannya kian bertambah.Terkadang Yuna pun ikut membantu Ayahnya.Bahkan tidak sedikit karyawan kantor bahkan bos-bos besar juga ikut menikmati sate buatan Ayah Yuna itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah..hari ini jualan kita laris manis"sambil menghitung lembaran demi lembaran uang hasil jualannya.Senyum nya mengembang,kesibukannya yang kian bertambah membuat nya sedikit demi sedikit melupakan kesedihan akan kepergian istrinya.


__ADS_2