
Ia melangkah memasuki ruangan di antar oleh seorang perawat.Ruangan pemeriksaan yang menjadi tempat nya berjumpa dengan para pasien yang berharap bisa sembuh dengan bantuan nya.
"Silah kan masuk Dokter Yuna."Tutur perawat muda itu.
"Iya terima kasih suster"Ujar Yuna ketika memasuki ruangan itu,setelah sang perawat membuka pintu.
"Saya permisi ya Dokter,jika anda membutuhkan sesuatu,anda bisa memanggil saya.Selamat datang dan semoga sukses"Ucap Suster Rena.
"Terima kasih..."Ucap Yuna seraya tersenyum.
Sebelum nya Yuna telah mendapatkan upacara sambutan dari pihak manajemen dari Rumah Sakit.Termasuk sang Direktur utama Rumah sakit itu,yaitu dr.Arman Wirawan,yang juga merupakan Ayah angkat nya.Yuna tau dr.Arman adalah orang nomer satu di rumah sakit tempatnya bekerja,tapi Yuna tak mau mencatut nama beliau dalam karier nya.Ia akan berdiri sendiri dan menguji seluruh kemampuan nya.Dokter Arman tau bagaimana sikap Yuna yang tidak mau bergantung pada siapa pun.Dan beliau pun sangat menghargai prinsip Yuna.
Mata Yuna berkeliling melihat setiap sudut ruangan itu.Ia pun duduk perlahan di kursi.Kursi yang akan menjadi penopang tubuhnya tatkala bekerja seharian.Menemaninya setiap detik,menit dan jam.Yuna memeriksa laci dan tempat penyimpanan alat-alat medis yang akan ia pergunakan nanti.Ia mengeluarkan Sebuah bingkai foto dan meletakkan nya di meja kerja nya.Sebuah foto kenangannya ketika ia duduk di bangku sekolah dasar.Di sana terdapat Ayah,mendiang ibu nya dan tentu saja mendiang sang kakek yang tengah memeluk nya.Foto kenangan yang selalu ia simpan di tempat yang juga berharga bagi nya.
Beberapa saat kemudian suara pintu pun terdengar di ketuk dari luar.
tok
tok
tok
"silah kan masuk"ucap Yuna.
Masuklah seorang perawat yang tadi mengantar Yuna ke ruangan itu.
"Permisi Dok,ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani."susuter Rena memberikan seberkas file di meja Yuna.Spontan Yuna pun menggeser tas nya yang ia letakkan di meja tadi.
Yuna pun mengambil file itu dan memeriksa nya.
"File itu sebaik nya anda simpan dulu Dok,dr.Arman menyampaikan pada saya,bahwa beliau sendiri yang akan mengambilnya.Beliau juga bilang,Mulai hari ini,anda bisa langsung bekerja."Ujar Suster Rena.
"oh begitu ya,baiklah.Terima kasih banyak".Ujar Yuna.
"Sama-sama dok,saya permisi"ucap nya seraya melangkah keluar ruangan.
"ya".Yuna pun memeriksa kembali berkas yang di berikan oleh suster Rena.
ponsel nya berdering.
"Halo,Assalamualaikum Ayah",Wajah Yuan terlihat sumringah ketika menjawab panggilan dari Ayah nya.
"Iya Ayah,aku sudah mulai bekerja hari ini.Tapi aku belum mendapatkan pasien,aku baru saja memasuki ruangan ku."masih tak memudarkan senyum nya.
__ADS_1
"Baik lah Ayah,terima kasih atas ucapan nya.sampai jumpa di rumah,aku menyayangi Ayah.Assalamualaikum.."Yuna pun menutup panggilan telepon dari pria yang di sayangi nya itu.Dan mata nya kembali fokus pada berkas yang berada di meja nya.Ia pun menandatangani berkas itu,lalu.menyimpannya di laci.
Telepon yang berada di ruangan itu pun berbunyi.
tring
tring
Yuna segera mengangkat nya.
"Halo,Iya sus..oh pasien pertama ya.Baik lah"
Yuna menutup telepon itu dan segera menyiap kan perlengkapan medis yang tersedia.Juga mengambil stetoskop nya yang ia letakkan di laci.
Pintu ruangan nya di ketuk.
tok
tok
tok.
"Ya silahkan masuk"Ujar Yuna,sembari merapikan pakaian nya.
***
Nyonya wini masih terlihat bingung,pasalnya sejak sarapan pagi tadi Daniel belum juga keluar dari kamar nya.Beliau mengetuk. dan memanggil nya berulang kali tapi selalu mendapat jawaban bahwa ia baik-baik saja.
Nyonya wini yang masih khawatir itu mencoba untuk mengetuk pintu kamar putra nya itu dengan penasaran apa yang terjadi pada putra nya.Sejak semalam wajahnya juga terlihat pucat.
"Niel,buka pintu nya Mami mohon,Mami khawatir dengan keadaan mu.Jika kau tetap tidak mau membuka nya,Mami akan menelpon kakak dan juga Papi mu.Apa kau mendengar nya?"Teriak Nyonya Wini yang masih berdiri di depan pintu kamar Daniel.
Tak lama kemudian Daniel pun membuka pintu kamar nya.Ancaman sang Mami tak dapat di abaikan nya.Kali ini usaha nya untuk menyembunyikan kondisi nya tidak berhasil.Daniel keluar dari kamar nya dengan kondisi tubuh yang lemah dan wajah nya terlihat pucat.
"Ya ampun Niel...apa kau sakit.Kenapa kau sering sekali.menyembunyikan keadaan mu dari Mami jika sedang sakit begini?"Tanya Nyonya Wini dengan mimik wajah yang begitu cemas.
"Hmm"Daniel tak merespon kata-kata Nyonya Wini.Dia berusaha untuk kembali ke kamar nya.Nyonya Wini pun langsung memapah Putra nya yang bertubuh jauh lebih besar dari nya itu ke kamar nya.Perasaan Khawatir yang terus menyeruak dalam diri Nyonya Wini tak bisa terbendung lagi.Terlebih Nyonya Wini sangat sensitif dengan hal yang berhubungan dengan kesehatan anggota keluarga nya.
"Ayolah Niel,kita ke rumah sakit ya,Kau hanya akan di periksa dan di berikan obat.Hanya itu saja.Mami mohon menurut lah."Bujuk Nyonya Wini.
Daniel yang terbaring di ranjang nya itu menggelengkan kepala nya,menolak bujukan Sang mami.
"Niel,Mami mohon...jangan buat Mami cemas begini.Ayolah"Nyonya Wini semakin khawatir karena suhu badan Daniel sepertinya tinggi.Nyonya Wini menyelipkan termometer pada ketiak putra nya itu,Suhu nya mencapai tiga puluh sembilan derajat.
__ADS_1
"Mam,aku tidak apa-apa,baru saja aku meminum parasetamol.Mungkin akan membaik sebentar lagi.Sudah lah jangan cemas.Aku baik-baik saja.Percaya lah,Jangan sepanik ini.Aku hanya demam."Jawab Daniel lemah,ia terua meyakinkan Mami nya itu yang terlihat begitu cemas dan panik.
Begitu lah Nyonya Wini.Dia akan bersikap posesif setiap kali keluarga nya mengalami masalah kesehatan.Itu pula mungkin yang menjadi alasan bagi nya ketika dulu menikah dengan dr.Arman.Agar suami nya kelak busa menjamin kesehatan anggota keluarga nya.Meski pun alasan jatuh cinta memang faktor utama.
Nyonya Wini tidak menghirau kan penjelasan Daniel.Dia tidak peduli,meski pun anggota keluarga nya hanya terkena batuk akibat tersedak sekalipun,dia akan panik dan cemas.Maka dari itu,semua anggota keluarga yang merasa kan gejala sakit seringan apa pun pasti merahasiakan nya dari san Mami.Begitu pun Daniel hari itu.
Daniel mencoba untuk pergi ke kantor tadi pagi sekali,agar sakit nya tak di ketahui sang Mami.Tapi apa daya,rasa pusing nya membuat Daniel tak bisa pergi ke kantor.Dan ia berusaha mengurung diri di kamar agar sang Mami tidak menyadari nya.Ternyata semua nya gagal,insting seorang ibu tak kan bisa di kecoh dengan apapun.
Daniel yang sangat fobia pada rumah sakit itu pun dengan pasrah menuruti kehendak sang Mami,meski sudah menolak berulang kali dengan bermacam alasan.
"Mami sudah menelpon Ambulance.Dan sebentar lagi datang"Ujar nya seraya menyiapkan pakaian Daniel.
"Mam,kenapa harus menelpon Ambulan segala.Aku masih bisa membawa mobil ku sendiri."Ujar Daniel.
"Tidak mungkin,kau kan sedang sakit.Jangan membantah"Ujar Nyonya Wini sewot.
"Mam..tapi kan masih bisa memesan taksi."Ucap Daniel lagi.
Tiba-tiba seorang ART memasuki kamar Daniel.
"Permisi Nyonya,Ambulan nya sudah datang"tutur Sang ART.
"Oh baik lah,Tolong bantu bawa ini ya,"pinta Nyonya Wini memberikan sebuah tas pada ART itu.Dan ia pun segera meraihnya.
"Mam..."rengek Daniel yang merasa bahwa Mami nya terlalu berlebihan.
"Jangan banyak bicara,ayo kita ke Rumah Sakit sekarang."
Daniel hanya bisa pasrah,lalu bangkit dan berjalan,di bantunsang Mami.
"Tapi Mam,Untuk apa Mami membawa tas segala?"Tanya Daniel melirik tas yang berukuran sedang di jinjing oleh ART nya.
"Ini hanya pakaian ganti.sudah ayo".
Daniel pun menuju ke Rumah sakit menggunakan mobil ambulan.
"Tolong jangan nyalakan sirine nya ya"pinta Daniel pada supir ambulan itu.
"baik tuan".
"kenapa ?Itu kan supaya kita lebih cepat sampai sayang"
"Mam,tapi itu terlalu berlebihan,aku hanya demam.Aku tidak separah itu."Jawab Daniel.
__ADS_1
Ia ingat beberapa tahun lalu,harus menjawab pertanyaan para tetangga nya,karena hal serupa.Daniel menghela nafas nya.
Syukur lah sirine nya di matikan hufh. batin Daniel.