The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Jumpa Ayah


__ADS_3

Malam itu,akhirnya Yuna mendapatkan tempat untuk bermalam.Andrean pun berpamitan setelah mengobrol beberapa lama di teras,karena hari sudah larut dan mereka juga sudah mulai lelah dengan segala aktifitas yang begitu banyak.Andrean pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka malam itu,pertemuan yang pertama setelah sekian lama tak berjumpa.


Andrean tak henti menatap Yuna dari dalam mobil ketika hendak meninggalkan tempat itu.


Aku akan menjadikan mu halal bagi ku wahai wanita ku.Batin Andrean.


*


Pagi sudah menampakan sinar sang surya,yang menerusup di sela kehangatan menjelang indahnya hari ini.Yuna pun bergegas membersihkan diri,dan segera pamit pada si pemilik kontrakan,yang di sewa Yuna semalam.Tak lupa Yuna pun segera membayar uang sewanya,meski si ibu yang baik hati itu menolaknya semenjak semalam,tapi Yuna tetap memaksa memberikan lembaran rupiah itu di genggaman sang ibu kontrakan.


"Terima kasih banyak sekali lagi ya bu".


Setelah drama pemberian rupiah,Yuna pun mencari tempat untuk mengisi perutnya,yang sudah menabuh genderang sejak subuh tadi.Rasa lapar nya kini sudah tidak begitu menyiksa,karena Yuna sudah menghabiskan seporsi roti bakar madu yang berada tidak jauh dari tempat nya menginap semalam.Tempat yang tidak terlalu luas,tapi pengunjungnya lumayan ramai.Hingga mereka duduk hampir berhimpitan.


Sangat sebanding dengan hidangan yang ada.


Setelah perutnya tenang dengan seporsi roti bakar tadi,Yuna pun memesan ojek online untuk menuju rumahnya.Pagi tadi Ayahnya memberi kabar bahwa sudah berada di rumah.


Senyum nya mengembang ketika membayangkan hari yang indah ini,ia akan bertemu dengan Ayah yang sangat di rindukan nya itu.Dengan membawa tiga bungkus roti bakar yang ia pesan tadi,Yuna berharap Ayahnya akan menyukai nya.


Sampai lah ia di halaman rumahnya.Rumah yang ia rindukan.


Dengan berlari kecil ia bergegas masuk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam,"Suara itu terdengar begitu indah,suara orang terkasihnya.Menatap nya penuh kerinduan.


"Yuna"Ayah nya berhambur memeluk putri semata wayang nya itu.


"Ayah"suara sendu Yuna tertahan,butiran bening muncul di sudut matanya.pelukan hangat yang selalu ia rindukan setiap saat.


"Bagai mana kabar mu sayang?"Tanya Heru melepaskan pelukannya.


"Aku baik Ayah,bagaimana dengan Ayah?"Yuna pun menyeka air mata kerinduannya.


"Ayah baik sayang.Ayah merindukan mu"mengusap kepala Yuna lembut.


"Tentu saja,aku juga merindukan Ayah".


"Sudah lah jangan cengeng,bukan kah kau sekarang sudah menjadi Dokter?jangan manja."Ujar Julia sambil tersenyum menghampiri keduanya.


Yuna pun membalas nya dengan senyuman.


"Ibu.."Yuna meraih punggung tangan julia dan menciumnya.Julia pun mengusap rambut Yuna lembut.

__ADS_1


Julia kini sudah banyak berubah,ia sudah menjadi ibu yang sebenarnya.Yang menyayangi keluarga nya dengan sepenuh hati.Setiap orang pasti bisa berubah bukan.Tergantung bagai mana ia harus menentukan sikap.Berubah menjadi lebih baik adalah pilihan yang benar dan begitulah semestinya.


"Bagaimana kabar mu?ibu dengar sebentar lagi kau akan ujian?semoga semuanya berjalan lancar ya"ujar Julia.


"Iya bu.Aamiin...oh iya apa kalian sudah sarapan?"Tanya Yuna.


"Belum,kami baru saja sampai.Pagi sekali kami memutuskan untuk pulang.Tuh Ayah mu itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mu"


"Bagaimana tidak,Ayah memang merindukan putri Ayah"Mereka tergelak.


"Baiklah kalau begitu,Aku susah bawakan roti bakar,tapi aku sudah sarapan tadi.Maaf ya,aku sarapan duluan.hehe"


"Tidak apa-apa sayang.Malah Ayah senang jika pola makan mu teratur sekarang"ujar Heru.


"Jadi Dokter kan memang harus sehat.Maka nya baru bisa menyembuhkan orang sakit"ucap Julia menimpali.


Kebahagiaan yang di rindukan Yuna akhirnya terwujud,seiring dengan impian nya menjadi Dokter.Kini semua nya seperti awan gelap yang berubah menjadi langit yang cerah.Tak ada lagi air mata,tak ada lagi amarah,tak ada lagi saling menyakiti dan tak ada lagi saling melukai.


Semoga akan selalu seperti ini selama nya.


*


Di kediaman Wirawan.


Pagi itu semua sudah berkumpul di meja makan,sarapan sudah di sajikan lengkap.Dan semua sudah siap dengan pakaian rutinitas nya sehari-hari.


Seila dengan pakaian modis ala sang bintang model juga riasan wajah yang cetar membahana,menambah kesempurnaan di setiap inci wajah cantiknya.Kini Seila sudah menjadi seorang Desainer,sesuai dengan mimpinya sejak dulu.Bahkan ia sendiri pun kerap menjadi modelnya di beberapa acara peragaan busana.Banyak pria yang megidola kan nya,tapi karena sikap angkuh nya yang belum berubah,membuat beberapa pria sungkan untuk mendekat.


Level pria yang mendekati Seila,bukan lah dari kalangan biasa,atau jika Seila bilang


"Level pria ku adalah seperti kakak-kakak ku."


Sarapan pagi berjalan seperti biasa,tidak ada berita yang menarik,bahkan untuk obrolan ringan pun saat ini jarang mereka perbincangkan.Hanya nyonya wini yang menanyakan tentang kesibukan anak-anak nya satu persatu.


Seperti biasa Seila menyelesaikan sarapan nya lebih dulu,karena ia memang makan sangat sedikit,untuk menjaga bentuk tubuhnya yang ideal.


Tinggallah Andrean dan Daniel yang juga hampir menyelesaikan makanan di piring nya.


Nyonya Wini menyenggol siku suami nya yanh berada di sampingnya.Ia mengisyaratkan sesuatu dengan lirikan matanya.dr.Arman pun mengerti maksud sang istri,karena memang mereka telah membahasnya hampir setiap waktu.


dr.Arman mengangguk dan mulai menarik nafasnya.


"Ada apa pap?"Tanya Andrean yang ternyata menyadari tingkah kedua orang tua nya saat itu.


Daniel pun menongakkan wajahnya,memperhatikan kedua nya secara bergantian.

__ADS_1


"Ada yang ingin papi bicarakan pada kalian berdua"Ucap dr.Arman ragu.


"Bicaralah pap.Tidak usah sungkan begitu,kita kan putra papi"ujar Andrean.


Daniel hanya ikut mengangguk menyetujui perkataan kakak nya.


"Baiklah"dr.Arman menghela nafas dan melirik ke arah sang istri,yang hanya mengangkat alisnya.


Kedua putra nya itu pun semakin penasaran.


"Bicaralah pap"ucap Daniel yang sudah menyelesaikan sarapannya dan meminum jus jeruk nya hingga setengah gelas.Begitu pun Andrean yang juga sudah menghabiskan sandwich kesukaan nya.


"Begini,Papi dan mami sepakat akan mengangkat seorang menantu di keluarga ini"ucap dr.Arman mengawali pembicaraan.


"Menantu?maksud Ayah?"Tanya Daniel yang terlihat sangat terkejut.Sedangkan Andrean dengan serius menyimak.


"Papi tidak ingin memaksa kalian,tapi ini adalah keinginan terbesar Papi dan Mami.Usia kalian sudah cukup untuk berumah tangga,jadi..."


"Papi mau menjodohkan kami?"Tanya Andrean dengan tenang.Malah Daniel yang terlihat gelisah.


Daniel ingat bahwa kakaknya pernah bercerita bahwa ia sudah menemukan wanita yang di cintainya,dan berniat untuk mempersunting wanita itu.Sedangkan Daniel sendiri masih belum menemukan gadis yang sesuai dengan keinginan nya.Semua gadis yang sempat dekat dengannya,tidak ada niat sedikit pun untuk ia ajak serius.Karena semua wanita yang di kenal nya tak pernah ada yang benar bisa mencuri perhatiannya.Semuanya terlalu membosankan.Materi lah yang menjadi landasan utama kenapa mereka mendekati Daniel,selain ketampanannya yang mempesona.


"Ya Papi harap salah satu di antara kalian tidak menolak keputusan kami ini.Selama ini kami selalu mendukung apa yang kalian lakukan,ya...meski awalnya tidak sesuai keinginan Papi."Melirik ke arah Daniel.Daniel yang menjadi keki itu mencoba menenangkan hati nya,ia menghabiskan jus jeruknya hingga tetes terakhir.


Andrean malah tersenyum-senyum melihat adiknya yang grogi itu.


"Mami berharap kalian tidak mengecewakan kami.Kalian tau kan,Mami tidak pernah meminta apapun pada kalian.Tapi hal ini saja yang ingin Mami pinta pada kalian,tolong jangan buat Mami kecewa."ucap Nyonya wini,melempar pandangan pada kedua putra nya itu.


"Apa tidak ada yang Mami ingin kan lagi Selain perjodohan ini?"Tanya Daniel ragu.


Nyonya Wini menatap putra nya itu penuh harap.Tatapan yang pasti meluluhkan hati Daniel.


"Papi...Mami..aku sudah memilih seorang wanita untuk aku nikahi.Aku akan melamar nya nanti.Apa kalian akan kecewa jika aku menolak perjodohan ini?"ujar Andrean.


Nyonya wini memandangi putranya itu.


"Benarkah?ah Mami malah bahagia mendengarnya"Nyonya wini benar terlihat bahagia,begitu juga dr.Arman.


"Papi akan tunggu saat itu Andrean "ujar dr.Arman sambil menepuk bahu putra sulung nya.


"Jadi...secara otomatis,Mami meminta mu untuk menerima perjodohan ini"Nyonya wini memandangi Daniel yang terlihat salah tingkah.


"Oke ini sudah sangat terlambat.Aku pamit ya"Daniel segera meninggalkan meja makan dengan sikapnya yang membuat keluarga nya menahan tawa.


"Mami belum selesai sayang..."

__ADS_1


"Kita bicarakan nanti ya.."teriaknya.Dan segera melajukan mobilnya menuju kantor.Di susul Andrean yang juga berangkat menuju kantor yang sama.Masih menahan tawa mengingat tingkah adiknya.


__ADS_2