
"Astaga Yuna..."Nyonya winibterlihat cemas,ia mengecek suhu tubuh Yuna menggunakan telapak tangan nya.
"Badan nya demam.Pap"ujar Nyonya wini pada Dokter Arman.
Dokter Arman pun segera menghampiri.
"Yuna,apa kau mendengar kami?"Tanya nya lembut.
"Hmm"suara Yuna terdengar lemah.
"Aku baik-baik saja Pap.jangan khawatir.Aku hanya demam."Jawab nya.
"Sebentar Papi ambil perlengkapan medis dulu ya..pindahkan Yuna ke ranjang nya."Ujar Dokter Arman.
"Sayang,kenapa tidur di sofa?ayo pindah ke ranjang mu"Ucap Nyonya wini.
"Tidak Mam,aku lebih nyaman di sini."Jawab Yuna.
Nyonya wini melihat kondisi ranjang yang terlihat memang hanya di tiduri oleh satu orang saja,karena terlihat kasur nya hanya berantakan di sebagian.
Apa-apaan ini?Daniel.batin Nyonya wini.
Ia terlihat murka dengan perlakuan sang putra pada menantunya.
Jadi selama ini Yuna tidur di sofa?Daniel benar-benar keterlaluan.Batin Nyonya wini.
***
Pagi itu,di kantor sedang di adakan meeting.Dan penyambutan kedatangan Andrean.
Tiba-tiba ponsel Daniel berdering.
Tapi Daniel tak memperdulikan nya.
"Niel,angkat telpon nya,memang telfon dari siapa?"Tanya Andrean.
"Mami"Jawab Daniel singkat.
Andrean mengerutkan dahinya.Merasa bingung kenapa sang adik tidak mau menjawab telfon dari Mami nya.
"Mungkin ada sesuatu yang penting.angkat lah,"Tutur Andrean.
Daniel pun menjawab telfon yang susah beberapa kali berdering itu.
"Halo Mam,ada apa.Maaf aku sedang meeting."ujar Daniel.Dengan suara pelan.
Andrean masih mendengarkan perbincangan adik nya di telpon itu.
"Apa,sudah lah Mam,dia kan Dokter.Pasti dia bisa menjaga diri nya.Atau bawa saja kerumah sakit.Maaf Mam aku tidak bisa pulang.Sudah lah.Sudah ya...Assalamualaikum" Klik.Daniel pun mematikan panggilan telpon,dan kembali fokus pada laptop nya.
"Ada apa?"Tanya Andrean.
"Entahlah Mami,Yuna sakit dan memintaku untuk pulang.Aku tidak bisa kak,biarlah lagi pula dia juga Dokter kan"Jawab Daniel berbisik dan terlihat santai.
"Pulang lah.kau kan suami nya.Jadi Yuna merupakan tanggung jawab mu".bisik Andrean kesal dengan sikap sang adik yang terlihat acuh.
"Sudah lah kak.biarkan saja."
__ADS_1
"Ikut kakak keluar"Ucap Andrean dan bangun lalu melangkah menuju pintu keluar.
Daniel terpaksa mengikuti langkah kakak nya.
"Ada apa kak?"Tanya Daniel santai.
"Bagaimana kau bisa sesantai ini?mendengar istri mu sakit?Setidak nya kau merasa cemas sedikit dengan kabar itu."ujar Andrean kesal.
"Aku tidak peduli pada nya kak.Lagi pula sejak kami menikah,aku belum pernah menyentuhnya sedikit pun.Aku tidak mencintai nya.Jadi untuk apa aku peduli?"Jawab Daniel.
Membuat Andrean terpaksa melayangkan tamparan di pipi nya.
Plak..
Daniel melotot dengan perlakuan kakak nya.Bukan sakit yang di rasa tapi bingung dengan perlakuan sang kakak.Pasal nya sejak kecil kakak nya itu belum pernah menyakiti nya sekalipun,bahkan dia rela melakukan apapun untuk sang adik.
"Kenapa?..."Daniel memegang pipinya yang kemerahan karena tamparan sang kakak.
"Apa?kau bertanya kenapa aku menampar mu?itu tidak seberapa dengan yang kau lakukan pada istri mu.Sakit nya mungkin d tidak terlihat.Tapi luka nya begitu dalam.Bersikap lah dewasa,kau sudah memutuskan untuk menikahinya.Jadi bersikap lah seperti seorang suami.Dia adalah tanggung jawab mu lahir dan batin.Meski kau tidak melukai nya secara fisik,tapi kau telah melukai batin nya."Jelas Andrean .
"Dia juga tidak mencintai ku kak.Untuk apa aku mencintai nya."jawab Daniel.
"Bukan seperti itu seharus nya..."Bentak Andrean.Ia mulai merasa gusar,dengan sifat kekanakan Daniel.
"Lalu bagai mana?..."teriak Daniel.
"Kau harus belajar untuk mencintai nya,peduli pada nya,melindunginya,melukiskan senyum di bibirnya,buat dia bahagia.Maka cinta akan tumbuh di hati kalian.Jika sikap mu seperti ini,bukan cinta yang akan tumbuh.Tapi benci."Ucap Andrean menggebu.
Daniel masih terdiam.
"Aku akan kembali ke ruang rapat."Ucap Daniel,kembali melangkah masuk ke ruangan itu.
Yuna...
Andrean segera menuju tempat parkir dan melajukan mobil nya menuju kediaman nya.Perasaan Khawatirnya sudah tidak terbendung lagi.Fikiran nya tertuju pada Yuna.
Dia memasuki rumah dengan tergesa,setelah memarkirkan mobilnya di halaman.
Andrean berjalan menaiki tangga dengan tergesa.Tapi langkahnya tiba-tiba melambat.Dia tidak sadar jika mungkin Maminya bertanya akan kepulangan nya kerumah.
"Rean?"Tiba-tiba Nyonya wini melangkah menghampiri Andrean yang masih terpaku.Ia sedang mencari alasan.
"Eh Mami"sahutnya.
"Ada apa,ada yang tertinggal?"Tanya Mami nya yang kemudian menaiki tangga sembari memegang bubur dan segelas air putih dan beberapa buah di nampan.
"i iiya..itu aku..eum ada yang tertinggal.file penting Mam."jawab Andrean sekena nya.
"Oh begitu"Ujar Nyonya wini.
"Itu untuk apa Mam?"Tanya Andrean mata menunjuk pada nampan yang di bawa sang Mami dan pura-pura tidak tau bahwa itu memang untuk Yuna yang sedang sakit.
"Ini...untuk Yuna,dia sakit badan nya demam"jelas nyonya wini.
"Oh yuna sakit?apa aku boleh menjenguk nya?"Tanya Andrean ragu.
"Tentu saja sayang,kau boleh menjenguk nya kok.Oh iya sekalian ya,tolong bawa kan makanan ini ke kamar nya.Yuna belum sarapan,Mami mau membeli obat untuk Yuna.Stok di rumah habis".Ucap nyonya wini seraya memberikan nampan berisi sarapan Yuna itu.
__ADS_1
"iya Mam.Papi mana?".Seraya mengambil alih nampan yang di pegang Nyonya Wini.
"Papi kerumah sakit.Ada meeting penting katanya.Tapi tadi Papi sudah memberikan resep untuk Yuna.Dan sekarang Mami harus membelinya di apotek"Jawab Nyonya Wini.
"Baiklah Mam.Hati-hati".
Andrean pun melangkah menuju kamar Yuna,dengan perasaan yang tidak keruan.Dia menghela nafas nya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.
"Permisi...Yuna"ujar Nya.
"Hmm"Suara Yuna terdengar lemah.Dia masih tertidur di sofa nya.
"Yuna..."Andrean pun melangkah mendekati Yuna.Ia menyimpan nampan itu dia atas nakas.
"Kak Andrean?"Yuna terkejut dan mencoba untuk duduk.
Tapi Andrean mencegah nya,dan membantu Yuna untuk kembali berbaring.
"Tidur lah.Yuna kenapa kau malah berbaring di sini?"Tanya Andrean.
"Aku nyaman di sini kak"jawab nya lirih.
"Tapi...Yuna kau sebaiknya berbaring di kasur.kau sedang sakit."
Daniel...kau keterlaluan.Batin Andrean.
Andrean memaksa Yuna untuk berbaring di tempat tidur.Andrean pun membopong Yuna dan memindahkan nya.
Mata Andrean tak lepas memandang wajah Yuna yang terlihat pucat dan lemas itu.Air mata nya hampir menetes.Yuna memandang Andrean dengan pandangan sayu nya.Tubuhnya masih terasa sakit,dan kepala nya pun masih pusing.
Andrean menidurkan Yuna perlahan di kasur.Tanpa bisa menahan rasa nya,Andrean pun mengecup bibir Yuna beberapa saat.
Yuna mencoba mendorong tubuh Andrean menjauh.
Sehingga Andrean tersadar.
"Maaf...maaf kan aku.."ujar nya menjauh.
Yuna membuang pandangan nya.ia menelan salivanya berat.
Apa yang kau lakukan kak?.Batin Yuna.
Andrean mengambil nampan yang di bawa nya tadi.Dan menyuapi Yuna,meski awalnya Yuna menolak.
"Makan lah".
"Sudah kak."
"Tapi baru sedikit.kau harus cepat sembuh.harus banyak makan"Ujar Andrean lembut.
"Aku sudah kenyang".
"jika kau menolak,aku akan mencium mu lagi".bisik Andrean mengancam.
"Aku akan makan".Yuna pun segera menghabiskan bubur itu.Membuat Andrean tersenyum-senyum.
Aku tidak mungkin mencium mu lagi,itu hanya ancaman.Meski aku ingin.Batin Andrean.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian nyonya wini pun datang,dan Andrean kembali ke kantornya.