
Daniel dan Nyonya Wini pun akhir nya sampai di Xx Hospital.
Dokter Arman dan beberapa perawat,terliah menyambut di depan pintu masuk.Dua orang perawat pria membawa sebuah banker untuk membawa Daniel ke Ruang IGD.
"Apa yang terjadi?kenapa Mami terdengar panik saat di telpon?"Tanya dr.Arman sesaat setelah Nyonya Wini turun dari mobil Ambulance.
"Niel sakit Pap.Badan nya demam,suhu nya tinggi.Mami khawatir."Ujar Nyonya Wini.
Daniel pun turun dari mobil ambulan itu,dan menolak saat dua perawat ingin membantunya.
"Aku bisa sendiri"Ujar Daniel,sambil terus berjalan memasuki Rumah Sakit.
"Niel,baiklah jika kau tidak mau menggunakan banker,setidaknya kau bisa menggunakan kursi roda.Kita ke ruang IGD,bukan ke arah sana".Teriak Nyonya Wini saat Daniel melewati nya menuju ke arah Dokter umum.
Dokter Arman mencegah Nyonya wini yang hendak menyusul Daniel.
"Biarkan dia di periksa di Dokter umum ya"Ujar Dr.Arman.
"Tapi..."Kata-kata Nyonya Wini di hentikan oleh dr.Arman.
"Biarkan saja.Hari ini adalah hari pertama Dokter Yuna menerima pasien."Bisik Dr.Arman.
"Benarkah?"bisik Nyonya Wini membalas dr Arman.
"Iya,biar mereka bertemu,Papi akan meminta perawat untuk mengantar kan Daniel ke raung Dokter Yuna.Daniel bisa jadi pasien pertama nya."Ujar dr.Arman dan di balas anggukkan oleh Nyonya Wini.
Nyonya Wini dan Dokter Arman pun berjalan mengekor pada Daniel.
Seorang perawat menunjukan pada Daniel keman ia harus memeriksakan kesehatan nya,stelah Dokter Arman memberitahu Perawat itu sebelum nya.
"Sayang,Mami dan Papi tunggu di luar ya,"Ujar Nyonya Wini.
Aneh sekali,tidak biasa nya Mami mau menunggu di luar,biasanya Mami akan memaksa masuk dan menginterogasi Dokter nya.Batin Daniel.
"Baiklah Mam"Sahut Daniel,Masih bingung dengan sikap Mami nya.
Daniel pun mengekor di belakang Suster Rena menuju ruangan Dokter Yuna.
"Silahkan Tuan,"Tutur Suster Rena,seraya membuka kan pintu ruangan itu sambil tersenyum ramah.Mata nya berbinar melihat sosok pria di hadapannya.Tampan meski hanya memakai baju seadanya.Karena Nyonya Wini yang memaksa dan terburu-buru,membuat Daniel belum sempat mengganti baju nya.Dia memang selalu tampak perfect,meski menurut nya itu pakaian yang biasa saja.
Ya ampun Rena,ayo dong berkedip,jangan menjatuhkan harga diri mu sendiri.Kau harus tau,dia adalah putra dari Derut Rumah Sakit Xx Hospital.Jangan pertaruhkan pekerjaan mu karena kekonyolan mu ini.Ya Tuhan kenapa aku ingin selalu memandang nya?bagaimana jika dia menyadari nya,dan tidak suka?Batin Suster Rena.
Suster Rena,mencoba untuk memalingkan wajah nya dari Daniel sang pria tampan meski dalam keadaan sakit dan berwajah pucat,rambutnya juga tidak tertata rapi,tapi tak mengurangi nilai ketampanan nya.
"Terima kasih Sus"ujar Daniel lalu memasuki ruangan itu.
"iya sama-sama Tuan"jawab suster Rena sedikit gerogi.
Pasien pertama Dokter Yuna pun memasuki ruangan.
"ya silahkan masuk"Suara seorang Dokter wanita terdengar dari dalam ruangan.
__ADS_1
Daniel pun melangkah masuk dengan langkah yang sedikit lemah.Ia merasakan rasa tak enak di sekujur badan nya.
Ketika Daniel masuk ,Dokter Yuna memperhatikan pasien nya lekat-lekat.keningnya berkerut dalam.Mengingat sesuatu,Tentu saja ia mengingat nya,Yuna memiliki ingatan yang cukup baik.Karena itu lah tingkat kecerdasan nya di atas rata -rata.Bukan hal yang mustahil jika Yuna bisa mendapatkan nilai terbaik dan meraih beasiswa kedokteran.
"Kau?"kata-kata Yuna terhenti,saat Daniel juga menatap nya.
Tenanglah Yuna,kau harus tenang jangan terpancing oleh ke jutekan pria arogan ini.Sekarang dia adalah pasien mu.Bahkan dia merupakan apsien pertama mu di Rumah Sakit ini.Profesional lah.Tenang...Batin Yuna.
Daniel bersikap biasa saja,dia lalu duduk di kursi,sebelum Yuna mempersilahkan.
"Cepat berikan obat."Ujar Daniel.
"maaf tuan...emm"Yuna melihat catatan riwayat pasien yang berada di atas meja nya.
"...tuan Daniel,saya harus memeriksa anda terlebih dahulu."
"Saya hanya demam."jawab Daniel.
"ya tapi walau pun begitu,saya harus periksa kondisi anda dulu,sesuai dengan prosedur yang berlaku di rumah sakit ini."ujar Yuna.
"Berikan saya obat penurun demam,hanya itu saja."ucap Daniel,sorot mata nya mulai tidak suka.
"Tapi Demam atau suhu yang meningkat pada tubuh itu,bisa saja menjadi faktor gejala penyakit lain,Jadi saya tidak bisa meresep kan obat sembarang pada anda.Saya harus memeriksa anda terlebih dahulu."Tegas Yuna.
"Saya tidak suka di sentuh oleh orang lain".ucap Daniel membuang pandangannya.Ia melihat pada papan nama yang berada di meja Yuna.
dr.Yunanda prisilia
"Tapi Saya adalah seorang dokter tuan Daniel yang terhormat,Jadi anda jangan khawatir.Saya hanya memeriksa kondisi anda sebentar saja."jelas Yuna dengan menahan kesal nya.
kenapa aku harus mendapat kan pasien pertama model begini si.Batin Yuna.
Daniel hanya terdiam.
"Bagaimana tuan Daniel?Apa anda akan melanjutkan pemeriksaan kondisi anda lalu saya berikan resep pada anda untuk menebus obat.Agar anda bisa kembali sehat.Atau anda akan tetap menolak?"Tanya Yuna mulai kesal.
*Jik*a aku menolak.Mami tidak akan membiarkan aku keluar dari rumah sakit ini.Jadi akan sia-sia saja. Batin Daniel.
"Baiklah,tapi hanya periksa saja ya"pinta Daniel.
Memangnya aku mau apa?.isshh..Batin Yuna.
"Tentu saja".Yuna mendekat pada Daniel dan menempelkan stetoskop nya dibeberapa bagian tubuh Daniel.
Wajah Daniel terlihat memucat,Yuna pun memasang kan termometer untuk mengecek suhu tubuh nya.
"Tuan Daniel,ada mengalami gejala penyakit tipes.Jadi saya saran kan anda untuk menjalani rawat inap.Mulai hari ini."Ujar Yuna sembari mencatat di lembaran berkas yang berada di atas mejanya.
Daniel mengerutkan dahi nya.
"Sudah ku bilang,aku hanya demam"ucap nya,tapi Daniel merasakan dingin di sekujur tubuh nya,dia menggigil.
__ADS_1
"Tuan Daniel,ini demi kesembuhan anda.Anda harus segera mendapat perawatan."Yuna segera menelpon suster Rena.
"Sus,siapkan ruang rawat untuk Tuan Daniel sekarang"ujar Yuna.
"Aku akan pulang dan membeli obat di luar.Aku tidak suka menjalani rawat inap di rumah sakit"Daniel mencoba untuk bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu keluar dengan tergopoh.
Yuna pun merasa khawatir,Daniel hampir terjatuh.
Lalu dengan sigap Yuna membantu nya.Pandangan mereka pun bertemu.
Daniel mencoba untuk melepaskan tangan Yuna yang memegang lengan nya.
"Lepas"Ujar Daniel.
"Saya hanya membantu"ucap Yuna.
"hey,aku bisa sendiri"
"Baiklah"Yuna pun melepaskan tangan nya.
Daniel membuka pintu dan berjalan keluar ruangan.
Nyonya wini dan dr.Arman pun bangun mendekat.
"Niel"panggil kedua nya seraya membantu Daniel untuk duduk di ruang tunggu.
Yuna mengerutkan dahi nya.
Nyonya wini?dr.Arman?siapa sebenarnya pria arogan itu?Batin Yuna.
Yuna masih terpaku di ambang pintu,ia memperhatikan kedua orang tua angkatnya itu,mereka terlihat khawatir dan cemas dengan keadaan pasien pertama Yuna yang menyebalkan.
Nyonya wini melihat ke arah Yuna yang masih termangu penuh tanya.
Tapi Nyonya wini malah tersenyum,begitu pun dokter Arman.
"Yuna"Panggil dr.Arman.
Yuna mngerjapkan mata nya.
"Ah Iya Dokter"jawab nya menghampiri mereka.
"Yuna,ada apa ini?"Tanya Nyonya Wini.
"Dia...??"Mata Yuna penuh tanya tentang keberadaan kedua nya di samping Daniel.
"Mari,kenal kan ini putra kami,Daniel"Ujar Dokter Arman.
Yuna pun meraih tangan kedua nya dan mencium punggung tangan nya.
Apa?putra?Bagaimana mereka bisa memiliki anak seperti dia?pribadi kedua nya yang begitu ramah,kenapa bisa memiliki anak yang...Batin Yuna.
__ADS_1