The Doctor Love Story

The Doctor Love Story
Melanjutkan


__ADS_3

Daniel menarik lengan Yuna dan melangkah dengan langkah panjang nya menuju pintu keluar.Yuna melambaikan tangan nya pada Doni.Tatapan Doni yang terlihat cemas itu membuat Yuna tersenyum.


Yuna pun melambaikan tangan nya pada Miranda yang tertegun melihat sikap Daniel.


Ia mendengus kesal,Karena Daniel telah mengabaikan nya.


Kau cemburu...


Daniel membuka pintu mobilnya dan menyuruh Yuna masuk.Lalu ia memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.Tanpa berkata apa pun,Daniel langsung menginjak pedas gas dan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Tapi setelah melihat ekspresi Yuna yang ketakutan,Daniel memperlambat laju mobil nya.


"Ada apa?kenapa kau marah?apa salah ku?".


Tanya Yuna polos.


"Aku suami mu...kenapa kau malah mengabaikan aku dengan pria lain?"Daniel malah balik bertanya.Membuat Yuna mengerutkan dahi nya.


"Hah...?seharus nya aku yang marah karena kau juga mengabaikan ku...dengan wanita itu...".Yuna tak kalah marah nya.


"Kenapa? kau cemburu?".


"Apa alasan ku untuk cemburu pada mu?Mungkin saja kau yang cemburu."Ujar Yuna membuat Daniel menepikan mobil nya.


Daniel terlihat serius.Mata nya masih menatap jalanan depan nya.


Hening...hanya ada suara kendaraan di luar.Jalanan sudah lebih lenggang dari sebelum nya,saat Yuna dan Daniel menuju restorant.


Nafas Daniel yang tersengal -sengal karena menahan marah nya pun berangsur mereda.Ia menoleh ke arah Yuna,begitu pun Yuna.ke dua bola mata mereka saling menatap.Dengan cepat Daniel merengkuh tubuh Yuna hingga terhentak.Daniel merapatkan bibir nya pada bibir Yuna yang terasa kaku dengan penuh.Hingga Yuna sulit bernapas.Ciuman yang cukup dalam dan lama,sesaat Yuna menikmati nya,ada sesuatu yang berbeda dengan ciuman yang ia rasakan sebelum nya bersama Andrean.Saat Andrean mencium nya waktu itu,tak ada getaran yang begitu hebat,meski Yuna mencintai nya.Tapi yang di rasakan nya kini dengan Daniel,berbeda.Ada sesuatu yang berdegup cukup kencang di dada nya.Hangat...lembut dan Yuna merasakan kenyamanan.


Yuna mendorong tubuh Daniel,dan memukul -mukul bahunya.Lalu Daniel pun melepaskan ciuman nya.


Yuna tersengal-sengal.Ia menarik nafas panjang.


"Apa yang kau lakukan?aku hampir saja kehabisan nafas.Kau mau membunuh ku?"ketus Yuna,tapi wajah nya terlihat merah padam.


"Ini tempat umum...bagaimana jika ada yang melihat.".Ujar Yuna melihat ke kiri dan kanan.


"Biar saja.kita kan suami istri."Jawab Daniel ringan.Lalu Daniel melajukan mobil nya.lagi menuju Apartemen.


"Kita mau kemana?"Tanya Yuna melihat ke arah jalan yang memang menuju apartemen nya.


"Pulang".


"Kau tidak kembali ke kantor?".


"Tidak".

__ADS_1


"Baiklah,kalau begitu,aku akan kembali ke Rumah Sakit.Aku turun di sini saja."Ucap Yuna.


"Tidak boleh.Kita akan pulang".Uajr Daniel,tanpa menoleh.


"Untuk apa?aku...".kata-kata Yuna terpotong.


"Kita akan lanjutkan di rumah".


"lanjutkan?apa?".Tanya Yuna heran.


"Kau bilang ini tempat umum.Jadi kita akan melanjutkan nya di rumah."jawab Daniel menoleh sekilas,melihat wajah Yuna yang bersemu merah.


Mau apa dia...Batin Yuna.Jantung nya seperti berdisko ria.Mungkin bisa terdengar oleh Daniel.


"Tapi...aku...sedang datang bulan"Ujar Yuna sekena nya.


Membuat Daniel tersenyum menyeringai.


"Kau fikir apa yang akan aku lakukan pada mu?memang nya kau menginginkan nya?sudah siap?baiklah".


"Kau ini bicara apa si..."ucap Yuna,sambil memukul lengan Daniel.Malu..


Sesampai nya di apartemen,Daniel dan Yuna melangkah kan kaki nya menuju apartemen mereka.Yuna bejalan dengan sedikit gemetar,membayangkan apa yang akan di lakukan Daniel.Akan kah saat itu,keperawanan nya berakhir.Mungkin kah Daniel akan merobek selaput dara milik nya,yang telah ia jaga dengan begitu baik.


Dengan pergaulan yang cukup bebas di jaman sekarang,Yuna masih mempertahan kan mahkota nya.Itu lah pesan sang Ayah yang selalu terngiang di kepala nya.Dengan begitu hati-hati Yuna berteman.Bukan memilih tapi,pergaulan menjadi turut andil dari tumbuhnya kepribadian seseorang.


Yuna selalu menolak,setiap kali beberapa teman nya mengajak ke tempat-tempat yang menurut Yuna kurang bermanfaat.Dengan dalih hanya untuk senang-senang.Yuna lebih memilih untuk membantu Ayah nya di kedai,yang ia rasa lebih bermanfaat.


Daniel membuka pintu apartemen nya.Dan menjatuhkan diri nya di sofa.


Yuna tertegun melihat semua belanjaan kebutuhan barang pokok yang sudah berada di sana.


Siapa yang belanja?Tanya Yuna dalam hati.


Daniel seolah bisa menebak apa yang di fikirkan Yuna.


"Gino yang menyiapkan semua nya."


Yuna menoleh.


Oh Gino?sekertaris nya itu.Apa si sebenarnya pekerjaan nya,apa mengurus kebutuhan rumah tangga juga?Batin Yuna.


"Kenapa harus merepotkan dia.Aku bisa berbelanja kok."Ujar Yuna sambil memeriksa semua belanjaan dan membawa nya ke dapur.


Yuna membereskan semua nya,ia pun sibuk di dapur.


"Aku akan membuat cemilan"Gumam nya sambil menyiapkan beberpa bahan makanan.Di lihat nya Daniel tertidur di sofa.Ia terlihat begitu lelah.Yuna tersenyum,ia merasa lega,karena Daniel tidak sungguh-sungguh dengan kata-kata nya 'melanjutkan'.

__ADS_1


Beberapa saat tercium aroma dari arah dapur.Daniel terbangun karena menghirup aroma yang lezat menusuk hidung nya yang mancung.


"Aroma apa ini?ia memiringkan kepala nya,menoleh ke arah dapur,terlihat Yuna masih sibuk di sana.Semua nya telah rapi,baju-baju telah di masukan ke lemari.Begitu pun dengan baju-baju Daniel.Lantai dan perabot sudah terlihat kinclong.


Daniel tersenyum melihat penampakan itu.Ada kekaguman di hati nya,sosok Yuna yang merupakan Seorang Dokter tidak melupakan peranan nya sebagai seorang wanita dan seorang istri.


Yuna berjalan mendekati Daniel,sambil membawa dua piring saji yang berbeda.


"Kau sudah bangun?Ini aku punya cemilan dan kue,semoga kau menyukai nya ya.ini kali pertama aku memasak untuk mu.Coba lah"Ujar Yuna memberikan garpu pada Daniel.


Daniel masih tidak merespon,ia menatap Yuna.


"Apa?aku tidak memberi racun di makanan ini kok.Kenapa kau terlihat khawatir?Baiklah aku akan coba duluan."Ucap Yuna.Tapi Dani merebut garpu itu dari tangan Yuna dan mulai mencicipi makanan yang sudah dengan susah payah di buat Yuna.


"Kau biasa membuat nya?"Tanya Daniel sambil menyuap makanan itu ke mulut nya,dan mengunyah penuh kekaguman.


Astaga....ini baru pertama kali nya aku membuat makanan ini.Biasa nya dulu aku hanya membantu ibu membuatnya.itu pun hanya membantu mengudek adonan.hihi.Batin Yuna.


"Bagaimana?enak?masakan ku pasti enak."Ujar nya percaya diri.


Lumayan..Batin Daniel.


"Eumm biasa saja."ujar nya,berhasil membuat Yuna merengut.


"mmm...ini enak kok.Lidah mu yang tidak beres.Makanan di resto tadi itu menurutku rasa nya biasa saja,tapi kau malah makan dengan lahap.ah..selera mu itu.."Kata Yuna sambil mengunyah.


Daniel memicing kan mata nya.


"Itu benar..."Ujar Yuna.


Daniel berjalan menuju kamar nya setelah menghabiskan hampir setengah makanan itu.


"Mau kemana?".


"Mandi.kau mau ikut?".Jawab Daniel.lagi-lagi membuat Yuna malu.


"iishh..."Dengus Yuna kesal.


"Bersiap lah,nanti malam kita lanjutkan acara kita ".Ucap Daniel sambil melangkah ke kamar nya.


Deg..


Apa dia masih ingat?bagaimana ini...


Yuna mencoba untuk tenang,ia mengatur nafas nya.Dia menelan salivanya.Dia tau,tugas dan kewajiban seorang istri salah satunya adalah nafkah batin.Ia bergidik ngeri membayang kan nya,entah apa yang harus ia lakukan nanti.Yuna mengerjapkan mata nya,berusaha mengusir kegelisahan yang menyergap batin nya.


Ya Tuhan....

__ADS_1


__ADS_2