
Yuna yang sedang memeriksa beberapa berkas di ruangan nya tiba-tiba mendengar ponselnya berbunyi.Pesan masuk.Lalu ia segera membuka nya.
"tante wini?"Yuna cemberut saat membuka pesan dari ibu angkat nya itu.Dia menghela nafas nya panjang sambil menggaruk pelipis nya.
"Aku harus mengumpul kan semua kekuatan ku untuk menghadapi tuan muda yang arogan ini.Kenapa si dia harus menjadi putra dari tante Wini yang baik hati...hrrr"Ucap nya geram.
"baiklah tante,jangan khawatir."Klik pesan pun terkirim.
Beberapa saat kemudian dia teringat pesan Nyonya wini pada nya.Hampir saja ia melupakan nya.
Yuna pun segera menuju ke ruang rawat Daniel.
"Mau kemana Dok?"Tanya suster Rena sesaat Yuna keluar dari ruangan nya.
"Aku mau ke ruang rawat sus"jawab Yuna singkat.
"Aku kira Dokter mau pulang.Karena jadwal dokter Yuna kan sudah selesai."ujar Nya.
"Mungkin aku akan pulang nanti sore."
"Oh begitu ya dok".
Yuna hanya tersenyum dan melanjutkan langkah nya menuju ruang rawat.
Sesampainya disana Yuna menanyakan pada perawat yang berjaga.
"Maaf Sus,apa pasien atas nama Daniel sedang beristirahat?"Tanya Yuna.
"Oh tidak,baru saja saya memeriksa selang infusan nya dok."
"Oh kalau begitu saya mau menjenguk nya.ya".ujar Yuna seraya tersenyum ramah.
"Oh iya silahkan dok,"Tutur suster itu.
Yuna pun melangkah masuk ke dalam ruangan rawat Daniel.
"Selamat siang Tuan Daniel"ujar Yuna seraya melangkah masuk.
Daniel pun menoleh,dia sedang sibuk dengan gawai nya sambil bersandar di kasur rawat nya.
"Bukan kah kau tadi sudah memeriksa ku?Kenapa kemari lagi?"ujar Daniel ketus.
Memang nya aku mau bertemu kau lagi hah.Batin Yuna.
"Maaf ya,tapi Mami anda yang meminta saya untuk menjaga anda selama beliau pulang,jadi. "kata-kata Yuna pun terpotong dengan ucapan Daniel.
"Kau pikir aku anak kecil harus kau jaga segala.Sudah sana,aku ingin sendiri jangan mengganggu kenyamanan pasien."Ucapan Daniel masih dengan keketusan nya.
"oh maaf jika aku mengganggu anda,tapi saya sudah berjanji untuk menjaga anda jika nanti anda membutuhkan sesuatu ."Jelas Yuna merasa tak terima.
Siapa juga yang mau menemani mu.Dasar pria arogan tidak tau terima kasih.huh Batin Yuna kesal.
Yuna tidak peduli dengan ucapan Daniel,dia langsung duduk di sofa setelah memeriksa infusan di tangan Daniel.
Daniel melirik ke arah Yuna sinis.Dan Yuna hanya memasang senyum terpaksa nya.
__ADS_1
"Sebenarnya kau ini siapa si?"Tanya Daniel.Membuat Yuna mengerutkan dahi nya dalam.
Apa maksud nya?kau pikir aku monster?ishh aneh Batin Yuna.
"Aku adalah Dokter yang bertugas merawat mu.Apa cukup jelas?"jawab Yuna menahan kesalnya.
"Tapi kau tidak terlihat seperti seorang Dokter."ucap Daniel acuh.
Mata Yuna melotot.dia masih mengerutkan keningnya Masih tidak mengerti dengan maksud pasien nya itu.
"Aku tidak memaksa bagaimana kau menilai ku,apa yang kau fikirkan tentang aku, tapi aku memang bertugas untuk mengobati mu.itu saja."ucap Yuna.
"Bagaimana seorang Dokter bisa bekerja di cafe."Ucap Daniel.Bukan pertanyaan tapi asumsi nya sendiri.
"hufh..tuan Daniel,aku bekerja di cafe itu ketika aku masih kuliah dulu.sekarang aku bekerja di rumah sakit ini."
"Kenapa kau bisa di terima di sini.karena Papi ku?".Mata Daniel mulai menatap Yuna.
"Hah?kau benar,Papi mu itu orang yang baik sekali.Tentu dia pasti merekomendasikan aku di Rumah Sakit ini,tapi perlu kau catat.Aku di sini atas usaha ku sendiri."jelas Yuna.Membuat Daniel.merubah posisi nya.
"tidak usah emosi begitu.Aku hanya bertanya."ucap Daniel datar.
Kau yang membuat ku emosi dasar menyebalkan.huh.sabar Yuna kau harus sabar.Batin Yuna.
Sesaat kedua nya terdiam.Yuna memilih untuk membuka sosial media nya.Toh pasien nya bukan anak-anak yang harus ia perhatikan terus,pikir nya.
"Hey,infusan ku habis,kata nya kau Dokter.Dan mau menjaga ku,tapi kenapa kau tidak cekatan sekali,bahkan kau tidak tau cairan infus nya habis."ujar Daniel ,membuat Yuna menarik nafas nya.Ia mencoba untuk tenang.
Yuna pun bangkit dan mengambil cairan infus yang berada di loker,lalu mengganti nya.Tanpa ekspresi,Yuna mencoba untuk tidak membuat pria arogan itu,mencari celah untuk berkata seenak nya.
Yuna enggan menjawab nya.Tapi ia tau pria itu bisa berbicara seenak nya lebih banyak lagi.
"Menurut mu?"ucap Yuna.
"Ya..menurutku kau hanya terpaksa melakukan nya."ujar Daniel.
"Aku tidak merasa terpaksa sama sekali Tuan muda yang terhormat.Aku dengan senang hati membantu mu,itu pun jika kau bersikap baik pada ku."
"Benarkah?"
"Hmm"Yuna mengangguk.
"Haha...kau terlihat terpaksa.Senang apa nya?"Daniel tergelak melihat ekspresi Yuna yang di paksa kan.
"Lantas apa yang kau ingin kan?aku senang atau aku merasa terpaksa.Kau ingin aku di sini,atau ingin aku keluar dari sini?"Tanya Yuna,membuat Daniel semakin tergelak.
"Wah..kau ini seorang Dokter yang emosian ya..".
Yuna mengerutkan kening nya dalam.
Baiklah,setidak nya kau mengakui aku sebagai Dokter.Terserah apa kata mu,aku juga berharap bisa keluar dari sini secepat nya.Batin Yuna.
"Baiklah tuan Daniel,berhenti bicara yang tidak-tidak,waktu nya kau minum obat.Apa kau sudah makan?"ujar Yuna mengakhiri statmen aneh dari Daniel.
"Apa minum obat.?"Tanya Daniel.Dan di balas anggukan oleh Yuna.
__ADS_1
"ya..minum obat.Apa kau takut juga pada obat?"
"Apa maksud mu?"
"Maksud ku...obat yang berukuran kecil dan tidak bergerak,bahkan harus berusaha menyembuhkan orang yang tidak menyukai nya."
"hey,kau kira aku tidak tau obat.Tapi apa kau merasa dirimu seperti obat ya..".
Yuna tidak memperdulikannya,meski jika ada yang bertanya apa yang ingin Yuna lakukan pada Daniel saat itu.
ingin ku tarik hidung nya yang panjang itu...ku sentil keningnya sampai merah..grrr...Batin Yuna.
"Ini minum dulu obat mu."Yuna pun menyodorkan obat yang tersedia di nampan yang berada di atas nakas.
"Aku belum makan".jelas Daniel.
"Apa?Seharus nya kau sudah makan dan dua jam setelahnya baru kau minum obat."jelas Yuna.
Yuna menarik nafas nya.
"Baiklah ayo makan makanan mu."ujar Yuna memberikan makanan yang tersedia dan belum di sentuh Daniel sama sekali.
"Aku tidak suka makanan rumah Sakit."
"Tapi makanan ini sesuai standar kesehatan,semua porsi nya sudah di atur.Lebih sehat dan bisa membantu proses penyembuhan mu."Jelas Yuna.
"Baiklah.Anggap aku ingin segera sembuh dan bisa keluar dari sini.Karena itu,aku mau memakan nya."
"Ya sudah,ayo makan."pinta Yuna dengan sabar.
"Tangan ku sibuk.Tangan mu sedang tidak sibuk kan?"ujar Daniel melirik ke arah tangan Yuna yang memegang piring makan nya.
Hey...maksud mu kau menyuruh ku untuk menyuapi mu?haha kau pikir aku siapa?Batin Yuna.
"Apa ?tangan mu sibuk apa?kau hanya memainkan gawai mu.Kau bisa kan makan sendiri."ujar Yuna.
"Ya sudah simpan lagi piring nya."ucap Daniel,masih fokus pada gawai nya.
Aku berharap kau tidak berlama-lama di rumah sakit ini tuan Daniel.Batin Yuna.
"Baiklah,Buka mulut mu."Yuna pun pasrah dan menyuapi Daniel.Dan Daniel pun merasa bahwa ia telah memenangkan pertandingan.Ia menyeringai,membuat Yuna menyendok makanan nya lebih banyak.
"Hey...kau mau membuatku tersedak?sekalian saja kau suapi aku dengan menggunakan centong.Biar kau puas."ucap Daniel sewot.
Yuna hanya memicingkan mata nya.Dia tak mau beradu argumen dengan pria yang sedang makan.Pasti tingkat emosi nya lebih tinggi.Mungkin seperti itu.
Yuna mengurangi porsi di sendok nya,lalu menyuapi Daniel lagi.
Tiba-tiba Nyonya wini memasuki ruangan dan melihat adegan yang membuat hatinya berbunga.Nyonya wini masih mematung memperhatikan kedua nya yang tidak menyadari kedatangan Nyonya wini.
Nyonya wini masih tersenyum-senyum memperhatikan.
Ah...bahagia nya melihat mereka berdua...ya Tuhan semoga mereka berjodoh.Tak sia-sia aku meminta Yuna menemani Daniel.Semoga hubungan mereka semakin membaik.Awal perkenalan yang bagus.Batin Nyonya Wini.
Yuna pun akhirnya menyadari kedatangan Nyonya wini.Ia tersipu malu sekaligus merasa lega.Harus terbebas dari serigala menyebal kan ini.
__ADS_1
"Eh Tante,"ujar Yuna langsung meletakkan piring nya di atas nakas.