The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 100 - Perjalanan ke Fhsyle


__ADS_3

"Tidak mungkin! Bagaimana bisa ada di sini!?" Tanya Rin masih tidak percaya dengan yang ia lihat.


"Hey, apa yang ada di atas sana? Ayo beritahu aku!" Sela Izuru.


"Itu... Fhsyle Grand Territory...!" Teriak Rin bersamaan dengan angin kencang yang berhembus.


Angin itu menyingkirkan awan di atas mereka, dan terlihatlah sebuah penampakan yang sangat menakjubkan, yaitu Pulau besar yang melayang di atas mereka. Pulau itu hampir sebesar setengah dari hutan. Terdiri dari satu dataran besar dan beberapa pulau kecil di sekelilingnya yang di hubungkan dengan sebuah rantai, beberapa pulau juga memiliki air terjun yang langsung jatuh


"Iona! Iona! Ayo bangun! Kau harus lihat ini!" Kata Rin sambil membangunkan Iona.


"Ughh... Ada apa? Apa kita sudah mau pulang?" Tanya Iona masih belum membuka matanya.


Rin lalu memaksanya berdiri dan mengarahkan kepalanya melihat ke atas. "Ayo buka matamu!"


Iona sedikit membuka matanya dan seketika langsung membuka seluruh kelopak matanya. Ia kemudian mengusap matanya seakan tidak percaya. "Apa? Apa yang kulihat ini bukan mimpi!?" Tanya Iona.


"Ini nyata! Benar-benar ada di atas kita!" Jawab Rin.


"Kyaaaaa.....! Impian terbesarku ada di depan mata...! Huft...! Huft...! Huft..!" Kata Iona lalu bernafas cepat tak beraturan.


"Aku pernah dengar, katanya benda itu langka?" Tanya Meiro.


"Bukan hanya langka! Fhsyle adalah wilayah yang hanya beberapa orang saja yang sudah pernah melihatnya! Bahkan lebih langka dari pada artefak senjata Legendaris!" Jelas Destra seperti sangat terobsesi.


"Seseorang ada yang bisa menjelaskannya padaku?" Tanya Izuru bicara di tengah semuanya, tapi tidak di dengarkan.


"Hah... Mereka tidak mendengarkan ku." Izuru menghela nafas.


"Aku bisa menjelaskannya." Kata Asura dari belakang.


"Oh bagus, aku akan mendengarkan."


"Jadi kamu ingat dengan Ras Malaikat yang aku ceritakan dulu? Atau Izuru sudah tidur lebih dulu?"


"Iya, sepertinya yang kedua itu benar. Aki tidak ingat apapun di perpustakaan selain tidur di pangkuan mu."


"Tidak apa, akan aku ulangi. Intinya Ras malaikat adalah salah satu dari banyak Ras di negeri ini. Mereka juga lebih unik dari yang lain, karena memiliki umur panjang juga kemampuan sihir yang luar biasa. Wilayah mereka juga unik dan yang tidak pernah tercatat lokasinya selain wilayah Siren. Dan wilayah Ras Malaikat bernama Fhsyle, sebuah dataran terbang yang hampir tidak pernah ada orang yang pernah melihatnya."


"Ouh.... Jadi maksudnya mereka itu bergerak?" Tanya Izuru.


"Tidak ada yang tahu, karena itu mereka sangat senang saat melihat Fhsyle secara langsung."


"Kalau tidak ada orang yang pernah melihatnya, bagaimana mereka tahu kalau dataran Malaikat itu berada di atas?"


"Dulu kala ada seorang penjelajah yang mengelilingi dunia dan kemudian di tulis dalam jurnalnya yang di salin menjadi buku kemudian di jual, sampai sekarang hanya ada 2000 buku dan hanya di miliki oleh bangsawan atau orang kaya. Ngomong-ngomong Nona Reshieka juga punya satu di kamarnya."

__ADS_1


"Jadi orang pertama yang melihat Fhsyle adalah dia?"


"Iya. Banyak juga yang bilang kalau penulisnya adalah Ras Malaikat itu sendiri, tapi masih belum ada info pasti tentang penulisnya."


"Arghhh....! Tidak! Aku tidak membawa perlengkapan melukis ku! Aku pasti bisa terkenal dengan lukisan itu, lalu kerajaan-kerajaan besar akan menyewa ku sebagai pelukis potret keluarga kerajaan!" Kata Destra berbelit-belit.


Iona tampak sangat kegirangan di dekat Rin. Meiro tampak kesal mendengar ocehan Destra. Di hari itu sebuah pengalaman tak tergantikan mereka dapatkan, dan mungkin momen ini tidak akan bertahan lama.


"Lupakan melukis! Akan aku ukir pohon ini dan membawanya pulang!" Kata Destra berada di depan pohon besar sambil membawa batu yang ujungnya runcing.


"Seandainya kakek ada di sini, dia pasti akan langsung pingsan saat melihat ini." Kata Iona sedikit meneteskan air mata.


"Iona dan Destra terlihat sangat bahagia melihat ini. Tapi, kenapa sikap kalian seperti biasa saja, Rin, Asura, Meiro?" Tanya Izuru.


"Aku sepertinya bukan penggemar hal seperti ini." Jawab Asura.


"Kalau aku tidak tertarik dengan Malaikat. Mereka kelihatan tidak cocok dengan Necromancer sepertiku." Jawab Meiro.


"Kalau kau, Rin?" Tanya Izuru.


"Aku merasa takjub, tapi berlalu begitu saja, seperti tidak ada yang spesial."


"Sepertinya kalian bertiga memang tidak tertarik dengan ini. Kalau aku ya memang baru tahu sekarang."


"Aku kan memang tidak berasal dari dunia ini."


"Ahahahaha... Hal pribadi seperti itu memang agak sensitif untuk di bahas ya." Kata Asura.


"Hah!? Asura tidak percaya lagi? Padahal aku sudah mengatakannya dua kali. Apa orang-orang di dunia ini tidak pernah memikirkan hal yang mustahil seperti di dunia lamaku yang suka membuat-buat cerita fiksi yang aneh." Kata Izuru dalam hati keheranan.


Meiro mendatangi Destra yang sedang mengukir permukaan batang pohon, sekarang ia masih mengerjakan sketsa kasar. Meiro menunduk sedikit untuk melihat pekerjaan Destra.


"Apa dari bawah sini saja cukup untuk membuatnya?"


Destra yang terkejut dengan perkataan Meiro yang tiba-tiba membuatnya melakukan kesalahan. "Aaaaaapa yang kau lakukan....?!?!" Teriak Destra langsung berdiri dan menatap ukuran yang ia buat dengan wajah terkejut.


"Lihat apa yang kau lakukan! Sekarang aku harus membuatnya dari awal! Bagaimana jika Fhsyle nya tertutup awan lagi?" Teriak Destra memarahi Meiro.


"Kenapa kita tidak ke atas saja?"


Pertanyaan Meiro itu membuat semuanya terdiam. Sementara Iona dan Destra langsung menatap Asura dengan mata yang bersinar.


"Ap... Apa yang kalian pikirkan!?" Tanya Asura terkejut.


"Asura, kau bisa membawa kami terbang ke sana kan!? Pasti bisa kan? Kan? Kan?" Tanya Iona bergerak semakin dekat sebanyak dengan kata 'kan' yang di ucapkan.

__ADS_1


"Iya, bisa. Tapi apa boleh kita masuk ke Fhsyle?"


"Pikirkan itu nanti! Kalau memang tidak boleh, kita bisa masuk diam-diam!" Kata Destra.


"Hanya sebentar saja kok! Kita tidak akan lama di sana, ya!" Bujuk Iona.


"Izuru, bagaimana ini?" Tanya Asura berbalik dengan wajah ketakutan.


"Sepertinya tidak masalah, aku juga ingin ke sana." Jawan Izuru.


"Ahh... Kenapa malah ikut-ikutan mereka!? Bagaimana kalau mereka itu berbahaya, kejam, dan tidak punya ampun!?" Kata Asura sambil menggoyang-goyangkan badan Izuru berkali-kali.


"Itu seperti bukan sifat dari malaikat yang aku tahu." Jawab Izuru saat masih digoyang-goyangkan oleh Asura.


"Huh... Baiklah, tapi jika ada yang sesuatu yang menembaki kita dari atas sana aku akan langsung kembali turun." Kata Asura akhirnya mengijinkan.


Semuanya segera menjauh dan Asura berubah menjadi bentuk naga. Semuanya langsung naik satu per satu, tentu saja yang pertama naik adalah dua orang paling bersemangat.


"Tapi, aku tidak bisa membawa semuanya. Salah satu harus tinggal dulu." Kata Asura.


"Kalau begitu aku saja yang tinggal." Kata Rin sendirian di bawah sementara yang lain sudah naik ke punggung Asura.


"Tapi nanti kau akan turun dan menjemput Rin kan, Asura?" Tanya Izuru.


"Tentu saja."


"Tidak perlu! Aku tidak perlu ikut. Kalian bisa pergi tanpaku." Kata Rin.


"Apa kau yakin?" Tanya Asura.


"Iya. Akhir-akhir ini aku selalu berpergian, jadi aku sedikit lelah." Jawab Rin.


"Baiklah kalau begitu, kami berangkat!" Kata Asura segera mengepakkan sayapnya dan perlahan naik.


"Hati-hati kalian!" Teriak Rin dari bawah sambil melambaikan kedua tangan.


Mereka kemudian melesat ke atas dengan cepat dan meninggalkan Rin di bawah sendirian. Rin kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam hutan.


"Pulang ah." Kata Rin sambil meregangkan tangannya ke atas.


Bersambung...


**Aduh, tidak terasa sudah sampai Chapter ke seratus dan Arc cerita Ke 4!


Dimulailah petualang mereka di atas langit! Apakah mereka akan bertemu dengan Villain baru? ikuti terus perjalanan mereka**!

__ADS_1


__ADS_2