
"Wah...! Jadi ini Kota Spanric?" Kata Seorang gadis di depan Izuru dan kawan-kawan.
Iya, nama kota yang di tempati Izuru adalah Kota Spanric. Sebelumnya author belum pernah menyebutkan nama kota ini, karena memang author baru kepikiran sekarang.
"Ternyata masih sama seperti dulu." Sambung gadis itu.
Gadis itu kira-kira berumur 16 dengan rambut pirang panjang yang di kuncir dua. Ia memakai jubah pendek berbulu, celana pendek tidak sampai lutut, dan juga membawa sebuah tas selempang cukup besar.
"Anu, senang bertemu anda Nona Destra." Sapa Fiel. Tapi tampaknya gadis itu tidak menanggapinya dan terus melihat sekeliling.
"Aduh Meiro, jangan melompat keluar dari kereta." Kata seorang pria turun dari kereta kuda.
"Memang apa masalahnya?" Tanya gadis itu.
"Meiro? Jadi nama anda bukan Destra?" Tanya Fiel.
"Aku adalah Destra! Arsitek sekaligus mekanik terbaik di sekitar sini." Kata pria itu dengan bangga.
"Jadi anda Tuan Destra? Sungguh kehormatan anda mau datang ke sini." Kata Fiel mengangkat roknya dengan kedua tangan, lalu badannya di bungkuknya sedikit.
"Terima kasih sambutannya. Maafkan temanku yang berisik ini ya." Kata Destra lalu menepuk punggung Meiro di sampingnya.
"Siapa yang kau panggil berisik?" Tanya Meiro.
"Shhh....! Ah ya, Ngomong-ngomong di mana Reshieka?" Tanya Destra.
"Nona Reshieka baru saja bekerja." Jawab Asura.
"Begitu... Dia memang selalu bekerja keras." Kata Destra.
"Apa anda kenal Nona Reshieka?" Tanya Asura.
"Tentu saja, lagi pula aku yang mendesign rumah ini! Ternyata maha karyaku ini sudah rusak." Kata Destra sambil berjalan masuk dan berhenti di kawah ledakan tadi.
"Maaf soal kejadian ini ya." Kata Asura mengikutinya masuk bersama yang lain.
"Benda apa yang bisa membuat lubang sebesar ini?" Tanya Destra.
"Sebenarnya itu sebuah ledakan misterius." Jawab Asura.
"Ledakan? Padahal dinding dan atap sudah aku perkuat agar ledakan bom atau bahkan meteor yang jatuh tidak bisa menembusnya. Hadeh-hadeh sepertinya aku butuh membuat beberapa keamanan tambahan." Kata Destra.
"Membosankan! Apa berkeliling sebentar? Aku sudah lama tidak ke sini, tahu!" Kata Meiro sambil melipat tangannya.
"Tentu saja kita akan berkeliling, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku." Jawab Destra.
"Tapi aku mau sekarang!" Kata Meiro menghentak-hentakan kakinya.
"Aduh, bukannya kau sudah janji akan diam saat kuajak?"
"Itu perjanjian tadi, sekarang sudah tidak berlaku lagi!" Jawab Meiro.
__ADS_1
"Seseorang tolong bawa anak ini jalan-jalan. Aku sudah tidak tahan lagi." Kata Destra menutup kedua telinganya.
"Kau! Ayo antar aku berkeliling!" Kata Meiro menunjuk Asura.
"Apa? Aku? Tapi aku sudah ditugaskan berjaga, siapa tahu orang itu kembali." Jawab Asura.
"Baiklah, kalau begitu kau!" Kata Meiro lalu menunjuk Iona.
"Aku?"
"Kau tidak punya kerjaan kan?" Tanya Meiro.
"Iya memang sih, tapi aku belum ada sebulan tinggal di sini." Jawab Iona.
"Itu tdak masalah, ayo cepat kita pergi!" Kata Meiro lalu berlari keluar dari rumah.
"Hey tunggu!" Kata Iona menyusul Meiro.
"Baiklah, kalian yang tersisa! Sekarang bersiaplah untuk menjadi kuli bangunan!" Teriak Destra sambil berdiri di atas meja.
"Tunggu, bukannya tadi ada empat orang?" Tanya Destra menyadari ada seseorang yang hilang.
Izuru berlari keluar dengan cepat. Ia hendak menyusul Iona dan Meiro agar tidak di minta menjadi kuli bangunan.
"Lebih baik aku pergi dari pada harus menjadi kuli!" Kata Izuru sambil berlari. Ia melihat kebelakang sesaat, lalu tiba-tiba Braaakkk....!
Izuru menabrak seseorang di depannya dengan sangat keras. "Aduh! Maaf aku tidak melihatmu!" Kata Izuru melihat ke depan seseorang jatuh dengan wajah yang menghadap ke tanah.
Itu ternyata Iona yang sedang berjalan bersama Meiro. Iona lalu mengangkat wajahnya yang tertutup pasir. "Bleeehhh...." Iona mengeluarkan pasir dari mulutnya.
Iona menarik rambut Izuru dan langsung menempelkan wajahnya ke tanah.
"Makannya kalau jalan itu lihat-lihat...!" Kata Iona kesal.
"Mmmaapmm kan mmmm... Akmmuu....!" Kata Izuru tidak jelas karena mulutnya kemasukan tanah.
Iona lalu melepaskan kepala Izuru. Izuru lalu mengangkat kepalanya dan kemudian membuka mulutnya, tanah mengalir keluar dari mulut Izuru.
"Ternyata rasanya tidak terlalu buruk." Kata Izuru merasakan sisa tanah di mulutnya.
"Rasanya memang tidak buruk, tapi apa yang mendarat di atas tanah itu yang buruk. Lihat itu!" Kata Meiro menunjuk ke suatu arah.
Izuru lalu menoleh ke arah Meiro menunjuk dan melihat seekor kucing sedang buang air kecil. Seketika Izuru langsung merasa mual.
"Hummm..... Hueeekkk....!"
Beberapa menit kemudian air menyemprot ke tanah, air itu dari Izuru yang tengah berkumur dengan air minum milik Meiro.
"Jadi, sekarang kau mau ke mana?" Tanya Iona sambil mengelap mulutnya dengan lengan baju.
"Ke semua tempat menarik di kota ini!" Kata Meiro memasukan kembali botol minumnya ke dalam tas.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku ikut kalian ya." Kata Izuru.
"Bukannya hanya aku yang di ajak?"
"Tentu saja boleh!" Kata Meiro terlihat senang.
"Lebih banyak orang lebih menyenangkan! Lagi pula menumpuk bata dan mengaduk semen itu tidak menyenangkan." Sambung Meiro.
"Bagus! Neiro, apa kau lapar?" Tanya Izuru.
"Meiro!" Kata Meiro membenarkan typo author.
"Iya benar, Meiro. Apa kau lapar? Karena aku punya tempat makan terbaik dan satu-satunya yang pernah kudatangi!" Kata Izuru.
"Aku tidak lapar, tapi itu ide bagus. Ayo berangkat!" Kata Meiro semangat.
Mereka lalu berjalan bersama ke tempat biasa Izuru makan, ya tempat Gorden.
"Oh ya Meiro, kau berasal dari mana?" Tanya Izuru sambil berjalan.
"Aku dari Kerajaan Hyron." Jawab Meiro.
Iona hanya mendengarkan obrolan Izuru dan Meiro. Ia juga memperhatikan pakaian Meiro dan juga tas selempang besarnya. Tapi, saat Iona melihat ke bagian bawah, ia melihat sesuatu yang aneh.
"Itu bukankah? Hey Meiro, ada sesuatu di pahamu." Kata Iona.
"Apa? Oh ini?" Kata Meiro menghentikan langkahnya dan mengangkat sedikit celananya. Dan terlihat sebuah tato aneh menjalar di paha kecilnya.
"Apa itu?" Tanya Izuru.
"Tanda seperti itu? Apa kau ras necromancer?" Tanya Iona.
"Necromancer!? Seperti yang kulawan waktu itu? Kukira semua necromancer itu jahat, ternyata tidak semua." Kata Izuru.
"Bukankah negeri asalmu sangat jauh, bagaimana kau bisa sampai di sini?" Tanya Iona.
"Aku tidak suka hal membosankan, karena itu aku pergi dari rumah dan bertemu dengan Destra dan juga Reshieka." Jawab Meiro.
"Begitu?"
"Kalau kau benar necromancer, itu artinya kau bisa menghidupkan mayat kan? Coba perlihatkan padaku!" Kata Izuru.
"Tidak mau!" Jawab Meiro menolak.
"Ada apa? Apa itu teknik rahasia?" Tanya Izuru.
"Bukan masalah itu. Memangnya apa untungnya mempermainkan tubuh seseorang yang sudah mati? Lagi pula aku punya sesuatu yang lebih baik dari pada mayat!" Kata Meiro.
"Sesuatu yang lebih baik?" Tanya Izuru dan Iona bingung.
"Yaitu, Alkimia!" Kata Meiro membuka tasnya dan menunjukan semua botol-botol dengan cairan aneh di dalamnya.
__ADS_1
"Saksikanlah keajaiban sihir Alkimia!"
Bersambung...