
"akhh...! Sakit, semakin lama luka ini jadi lebih sakit. Tapi, ini tidak akan menghalangiku! Rasa sakit ini akan menjadi awal perjalananku untuk mendapatkan kembali teman-temanku!"
Izuru berjalan ke hutan lain di malam hari dengan membawa lagi kertas-kertas quest. "Aku tidak akan istirahat sampai aku menjadi lebih kuat!" Kata Izuru, lalu di sekelilingnya muncul goblin yang semuanya menggunakan belati.
"Jadi, seberapa banyak yang menyerang desa?" Tanya Shun di dalam mansion bersama teman-temannya.
"Sepertinya sangat banyak, tapi belum semuanya menyerang."
"Bagaimana keadaan penduduk?"
"Hampir semuanya sudah mengungsi, prajurit kerajaan Hyron juga ikut membantu." Jawab seorang laki-laki berkacamata.
"Baguslah kalau begitu."
Matahari mulai muncul dari ufuk timur, menyinari kota. Asura yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya, sepertinya ia ingin pergi ke suatu tempat. Asura dengan sebuah pedang pendek dan tas Selempang nya, ia memakai sepatu di belakang pintu depan, lalu Fiel muncul dari belakang. "Kau mau ke mana lagi?" Tanya Fiel.
"Aku ada urusan penting." Jawab Asura sambil memakai sepatunya. "Aku pergi dulu!" Kata Asura keluar dari rumah. "Izuru, aku yakin saat ini pasti kamu sangat marah. Mungkin saja kamu akan melakukan hal berbahaya, tanpa memikirkan akibatnya." Batin Asura sambil terus berlari di jalanan kota yang masih sepi. Ia lalu sampai di rumah Izuru, "Izuru?" Panggil Asura sambil mengetuk pintu. Tapi pintu itu dengan mudah terbuka, lalu Asura masuk dan mencari Izuru di dalam. "Izuru?" Panggil Asura mencari ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan siapapun di sana.
"Apa Izuru di guild?" Tanya Asura, lalu segera pergi. Saat sampai di guild, hanya ada para petualang lain. Asura kemudian pergi dan terus mencari Izuru sampai di depan gerbang keluar kota. "Izuru, aku harap kamu baik-baik saja." Batin Asura khawatir pada Izuru. Tapi tidak berlangsung lama, Izuru terlihat tengah berjalan dengan pakaian penuh dengan darah dari arah hutan.
Izuru yang tengah berjalan dengan kelelahan itu melihat Asura berada di depan gerbang kota. Izuru langsung melambaikan tangan pada Asura. "Asura, aku berhasil... Menjadi lebih kuat." Kata Izuru terus berjalan sambil tersenyum.
"Jangan terlalu memaksakan diri." Kata Asura mengobati luka Izuru di rumah party Izuru. Asura duduk dengan Izuru di atas tempat tidur, sambil membersihkan luka Izuru dengan kain basah.
"Tidak apa-apa, dengan begini aku sudah menjadi lebih kuat." Kata Izuru.
"Benar! Aku yakin Izuru pasti sudah berusaha lebih keras dari siapapun." Kata Asura membilas kain yang di gunakan untuk membersihkan luka Izuru dengan ember air di lantai, lalu memerasnya dan kembali membersihkan luka yang lain.
__ADS_1
Mereka selesai setelah Asura mengikat perban terakhir untuk luka Izuru. "Terima kasih banyak." Kata Izuru.
"Sama-sama, aku senang bisa membantu." Kata Asura tersenyum, lalu memasukan alat-alat kesehatannya kembali ke dalam tas Selempang nya. "Jadi, apa yang akan Izuru lakukan sekarang?" Tanya Asura.
"Aku akan buktikan pada mereka, kalau aku bisa menjadi lebih kuat. Jadi, aku akan ikut melawan monster yang menyerang desa itu."
"Ehh!? Tunggu, apa kamu yakin? Meningkatkan kemampuan hanya dalam satu malam itu sudah cukup untuk menghadapi monster-monster di sana?" Tanya Asura terkejut.
"Satu malam memang tidak cukup, tapi aku tidak berniat berjuang sendiri. Aku hanya ingin membantu mereka. Dan suatu hari nanti, aku pasti akan mengalahkan Shun."
"Ini tidak sesuai dugaan ku, apa Izuru masih ingin mengambil kembali orang-orang yang sudah mengkhianatinya?" Kata Asura dalam hati. Lalu ia menggulung lengan baju kirinya dan melepas sebuah gelang dengan bandul batu mengkilat berwarna merah. "Kamu sudah tahu bukan, kalau aku adalah ras naga? Elemen dalam diriku adalah api, aku juga ingin Izuru menggunakan api ku." Kata Asura sambil memegang tangan Izuru, lalu memakaikan gelang miliknya pada Izuru.
"Ini?"
"Itu adalah kristal dari negeri asal ku. Ini akan membantumu bertarung dan satu lagi." Kata Asura lalu melepas ikat pinggangnya dan mengambil pedang berserta sarungnya. "Aku ingin kamu menggunakan pedang ini. Walau tidak ada yang spesial, tapi aku berharap ini akan berguna." Kata Asura memberikan pedang itu ke tangan Izuru.
"Aku senang mendengarnya." Kata Asura sambil tersenyum.
"Iona, ayo kita berangkat. Kereta kuda nya sudah sampai!" Kata Shun memberitahu Iona yang tengah melamun di kamarnya.
"Ah, iya! Aku akan bersiap! Oh ya, barang-barang ku masih tertinggal di rumah itu." Kata Iona.
Di malam hari dua kereta kuda berhenti di depan rumah party Izuru. Iona lalu turun dari kereta kuda itu. "Cepat, kita tidak punya banyak waktu lagi!" Kata Shun dari dalam kereta kuda.
"Iya!" Kata Iona lalu masuk ke dalam rumah, kemudian pergi ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya. Iona lalu berjalan perlahan keluar dari rumah, di tengah perjalanan keluar ia melihat pintu kamar Izuru terbuka. Iona melihat ke dalam sesaat, di dalam tidak ada siapapun.
"Aku akan mengambil pedang itu! Aku yang akan menjadi orang yang terpilih! Akulah yang seharusnya menjadi seorang legenda!" Iona mengingat kata-kata Izuru saat hendak menyerang Shun kemarin malam.
__ADS_1
"Iona! Ayo cepat!" Shun datang menghampiri Iona di depan pintu.
"Iya!" Kata Iona berlari keluar bersama Shun. "Maafkan aku Izuru, aku hanya bisa mengatakan terima kasih padamu. Kurasa kita tidak akan bertemu lagi, mungkin ini adalah yang terbaik untukmu. Bertemu denganmu adalah kesalahanku." Batin Iona masuk ke dalam kereta kuda bersama Shun, lalu duduk di dekat jendela yang mengarah ke rumah itu. Ia masih terus melihat ke arah rumah itu dan akhirnya mereka mulai berjalan meninggalkan kota.
Keluarga Zergaken adalah keluarga penjaga seluruh senjata suci yang ada di seluruh Ardresil, namun karena saat ini hanya tersisa satu senjata, yaitu pedang Dersoul milik Shun. Secara turun temurun anak perempuan dalam keluarga itu akan di tugaskan sebagai pendamping orang yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan pedang legendaris seumur hidupnya. Ramalan itu sudah di ketahui keluarga Zergaken 10 tahun yang lalu, jadi mereka sudah mulai melatih Iona selama 10 tahun lamanya. Iona harus memikul tanggung jawab yang sangat besar demi nama baik keluarganya.
Iona terus saja melamun melihat keluar jendela. "Kakek, apa benar ada tempat seperti ini di luar sana?" Tanya Iona waktu masih kecil menunjukkan sebuah gambar dalam buku, itu adalah gambaran tangan sebuah pegunungan salju yang sangat indah.
"Iya, di luar sana ada banyak pemandangan indah, jauh lebih indah di bandingkan dengan permata." Jawab Kakek Iona yang sudah sangat tua duduk di sebuah kursi bersama dengan Iona kecil.
"Wah... benarkah, lebih indah dari permata? Kakek, aku ingin melihatnya! Apa kakek bisa membawaku ke sana?" Tanya Iona kecil, wajahnya sangat imut dengan ekspresi penasaran.
"Maaf, Iona. Kakek belum bisa membawamu ke sana. Tapi, kakek bisa menyewa pelukis untuk melukis pemandangan itu untukmu."
"Benarkah!? Terima kasih kakek!" Kata Iona senang lalu memeluk kakeknya.
Bersambung...
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
"Kira-kira berapa jauh desa itu? Semoga saja tidak terlalu jauh." Kata Izuru duduk di bagian belakang kereta kuda kedua di belakang kereta kuda yang dinaiki Shun, Iona, dan lainnya.