The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 80 - Kehidupan baru yang sebentar lagi Musnah


__ADS_3

Mayat seorang wanita terbaring di jalanan desa. Orang-orang melihat di sekitar mayat itu, semakin lama semakin banyak yang datang melihat. Pria yang tadi bertemu Izuru dan yang lain di gerbang berlari sekuat tenaga ke arah suara teriakkan, ia lalu menerobos kerumunan.


"Apa yang terjadi!?" Tanya Pria itu.


"Kepala desa!? Lihat ini, seseorang menemukan mayat di sini." Kata salah satu orang di sana.


Mayat wanita itu ditemukan setengah telanjang tanpa kepala dan


"Lagi-lagi monster itu memakan korban!" Kata kepala desa.


"Bagaimana ini pak kepala desa!? Jika memang desa ini sudah tidak aman, lebih baik keluarga saya pergi dari sini!"


"Tenang dulu semuanya! Aku yakin kita akan segera menyelesaikan masalah ini." Kata kepala desa.


"Padahal kita sudah mengeluarkan biaya mahal untuk membuat pagar besi dan dinding di sekitar desa, tapi kenapa masih terjadi penyerangan?" Tanya Kepala desa dalam hati.


...*****...


"Halo...?" Panggil Destra dari luar gerbang. "Apa kita bobol saja?" Sambungnya.


"Kau pikir kita ini pencuri?" Tanya Rin.


"Lalu bagaimana kita bisa masuk dan mencari Crgoshiro?" Tanya Destra.


"Apa kau bisa menggunakan otakmu?" Tanya Meiro.


"Kau anak kecil, tidak sopan bicara begitu." Kata Destra.


"Lebih baik kita mencari di tempat lain dulu." Kata Rin berbalik ke arah kereta kuda.


"Ya sudah, buang-buang waktu saja di sini." Kata Izuru mengikuti Rin. Dan saat semuanya sudah ingin naik ke kereta, tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang dari belakang.


"Tunggu!" Teriak seorang pria.


Semua menoleh kebelakang dan melihat pria tadi sedang berusaha membuka gerbang. Setelah gerbang terbuka, ia langsung berlari menghampiri Izuru dan kawan-kawan.


"Kau pria yang mengusir kita tadi kan?" Tanya Izuru.


"Maafkan aku tadi sudah salah sangka pada kalian! Kalian petualang, 'kan? Tolong bantu desa kami! Monster itu sudah membunuh banyak warga, dan semua usaha kami untuk mencarinya tidak pernah berhasil! Jika terus seperti ini, semua warga akan pergi. Aku juga akan gagal menjalankan tugas sebagai kepala desa." Jelas Pak Kepala Desa itu.


"Bagaimana ya, tapi kita punya masalah yang tidak kalah penting." Kata Destra.


"Aku mohon! Aku akan memberikan apapun yang kalian minta!" Kata Pak Kepala Desa memohon.


Izuru merasa sedikit kasihan melihatnya memohon sampai seperti itu. Izuru melangkah ke depan dan hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba dihentikan oleh Rin.

__ADS_1


"Keputusan itu bisa berdampak besar, tidak semua orang harus di bantu. Kau mengerti?" Kata Rin pelan sambil melirik ke arah Izuru.


Mendengar perkataan Rin, Izuru mengurungkan niatnya dan kembali ke tempat ia berdiri.


"Aku mohon tuan! Kalian harus membantu kami!" Kata Kepala desa masih terus memohon.


"Tidak, ayo kita pergi!" Kata Destra lalu berjalan kembali ke arah kereta kuda diikuti yang lain.


Mereka semua masuk kecuali Rin yang ada di depan untuk mengendarai kereta. Kepala desa itu hanya bisa melihat saat mereka ingin pergi dengan wajah penuh dengan ekspresi yang bercampur aduk.


Destra mengeluarkan kepalanya dari jendela dan berkata. "Ehem... kami akan mengirim orang untuk membantu masalah kalian, tapi mungkin baru datang selama beberapa hari. Apa kalian mau?" Tanya Destra.


"Tentu saja tuan! Kami menantikan bantuan mu!" Kata Kepala desa itu.


Setelah Destra kembali masuk mereka langsung berangkat meninggalkan gerbang desa.


Mereka melintas di tengah padang rumput di tengah malam yang cerah, rumput bergerak tertiup angin malam searah secara bersamaan terlihat seperti sebuah garis panjang yang melintas ke depan.


"Meiro, tolong peluitnya." Kata Destra sambil mengulurkan tangannya. Meiro lalu mengambil sebuah peluit kayu kecil dari tasnya dan memberikannya ke tangan Destra.


Destra kemudian mengulurkan tangan kirinya keluar jendela lalu meniup peluit itu. Beberapa detik kemudian seekor burung elang datang yang langsung bertengger di tangan Destra.


"Kau memanggil elang tanpa pelindung tangan?" Tanya Izuru.


"Aku sudah terbiasa. Meiro, kau sudah selesai menulis pesannya?" Tanya Destra.


Setelah mengikatnya di kaki elang itu, Destra lalu menerbangkannya keluar. Elang itu terbang dengan cepat di bawah langit malam.


Namun tiba-tiba kereta berhenti di tengah padang rumput luas.


"Ada apa ini?" Tanya Izuru. Semuanya langsung turun dan melihat ke tempat Rin. "Ada apa Rin?" Tanya Izuru.


Rin terlihat sedang berdiri di depan kuda, ia mengelus kepala kuda itu dengan lembut sambil melihat ke matanya.


"Apa terjadi sesuatu dengan kudanya?" Tanya Meiro.


"Tidak, dia hanya lelah." Jawab Rin.


"Lelah? Memangnya dia mengatakan itu padamu?" Tanya Destra.


"Itu yang kudengar."


Jawaban Rin itu membuat semuanya terdiam. "Baiklah, kita akan masuk sebentar." Kata Destra menarik Izuru dan Meiro masuk kedalam kereta kuda.


"Baiklah satu pertanyaan, apa temanmu itu gila?" Tanya Destra di dalam kereta kuda.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apapun tentang Rin, dari mana asalnya atau apapun." Jawab Izuru.


"Teman macam apa kau ini? Tidak tahu apapun tentang temanmu sendiri." Kata Destra.


"Itu wajar, kami baru beberapa minggu bertemu."


"Kalau begitu kita harus bermalam di sini dulu, aku tidak mau dia mengamuk seperti orang gila lainnya." Kata Destra.


"Bisa kau berhenti menyebutnya gila?" Tanya Izuru.


Waktu berlalu, langit yang semulanya berwarna ungu gelap berubah menjadi biru dengan cahaya kuning berada di arah timur. Pagi yang ramai disebuah kota padat penduduk. Semuanya dimulai dengan kegiatan menyiapkan toko di pinggir-pinggir jalan dan bagi warga biasa, para kepala keluarga berangkat dari rumah mereka untuk mencari nafkah.


Di sebuah bar, seseorang masuk dengan terburu-buru sambil membawa keranjang berisi belanjaan.


"Apa aku terlambat?" Tanya Gorden di depan meja bar.


"Tidak, kau tepat waktu. Teruskan kerja bagus mu ini." Kata Pemilik bar itu.


"Iya pak!" Jawab Gorden semangat.


"Aku kembali melakukan pekerjaan yang sama seperti dulu, karena pengalamanku mengelola bar aku jadi mudah mendapatkan pekerjaan ini." Kata Gorden dalam hati. Ia lalu pergi ke dapur dengan membawa semua barang belanjaannya.


"Mungkin ini adalah waktunya aku membuang diriku yang lama dan mulai membuat hidup baru. Tidak ada lagi yang mengejar ku, tidak ada lagi mimpi burik, tidak ada lagi rasa takut, sekarang aku bebas." Kata Gorden dalam hati.


...*****...


"Ayo tuan, nyonya, apel yang segar dan manis!" Teriak Kakek Larden tengah menarik pembeli di kios kecilnya.


Seseorang mendekat ke kios Kakek Larden dan bertanya sesuatu. "Permisi, apa bapak punya buah pir?"


"Maaf aku tidak punya, tapi aku yakin apel ini jauh lebih enak dari pada buah pir." Jawab Kakek Larden.


"Maaf tidak terima kasih." Kata orang itu kemudian ia pergi menjauh.


"Hah... Kalau tidak ada yg beli bisa-bisa semuanya busuk." Kata Kakek Larden.


"Permisi pak, aku beli apelnya!" Kata Seseorang.


"Iya tuan, anda ingin beli berapa?" Tanya Kakek Larden terlihat semangat.


"Sebentar, Rin, Meiro, Destra, dan untukku dua. Jadi aku beli lima ya pak!" Kata Izuru.


Bersambung...


Rasanya lama sekali walaupun hanya sebulan author ninggalin aktifitas menulis. Maaf author pergi tanpa pemberitahuan, tidak ada masalah serius sebenernya. Mungkin ini saat-saat di mana author bosan, karena dulu author terus menulis setiap ada waktu luang mungkin sekitar dua tahun, jadi ini mungkin terasa seperti liburan. Terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu updatean novel ini.

__ADS_1


Mulai sekarang author bakal update seperti biasa


Terus ikuti cerita Izuru di novel The Fake Legend ya!


__ADS_2