The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 62 - Hari Hujan di Rumah


__ADS_3

Hujan turun membasahi jalanan kota yang sepi, tapi beberapa tempat umum masih terdengar keramaian di dalam.


Sebuah tas jatuh di atas lantai keramik. "Hah... Ini sudah semuanya?" Tanya Izuru tampak lelah sambil membawa tas kecil, bajunya juga terlihat sedikit basah.


Iona dan Rin juga bersama Izuru, dan di belakang mereka ada sebuah pintu besar dengan percikan air dari luar.


"Sepertinya sudah." Jawab Iona.


"Apa barangmu hanya segitu?" Tanya Rin.


"Iya, aku belum sempat beli baju lain." Jawab Izuru.


Asura lalu datang dari depan dengan seragam pelayannya. "Kalian sudah datang? Ayo masuk." Kata Asura.


Lalu mereka masuk ke ruang tamu bersama dengan barang bawaannya. Di sana sudah ada Nona Reshieka yang tengah duduk di kursi sambil membaca sebuah buku, dan secangkir teh di meja.


"Di luar sedang hujan deras seperti ini, kukira kalian akan datang besok." Kata Nona Reshieka lalu menutup buku yang tengah ia baca.


"Sebenarnya semua barang-barang kami sudah ada di luar saat kami datang, jadi terpaksa pindah sekarang. Dan sekali lagi terima kasih sudah membolehkan tinggal di sini." Kata Izuru berdiri di depan meja Nona Reshieka bersama Rin dan Iona.


"Tidak masalah, rumah ini terlalu besar untuk tiga orang." Jawab Nona Reshieka meminum secangkir teh panasnya. Setelah beberapa teguk, ia lalu meletakan cangkir itu ke atas meja. "Asura, antara kan mereka ke kamar." Kata Nona Reshieka.


"Baik! Ayo ikuti aku." Kata Asura lalu pergi ke sebuah lorong, diikuti oleh yang lain.


Mereka lalu berjalan di lorong yang cukup panjang. Rin dan Iona tampak kagum dengan rumah besar itu, karena mereka belum pernah kemari sebelumnya.


"Rumah ini besar sekali." Kata Rin sambil berjalan di lorong.


"Sebenarnya Nona Reshieka itu siapa? Apa dia orang penting?" Tanya Iona.


"Kalau di pikir lagi, sepertinya dia sangat kaya. Aku juga penasaran apa pekerjaannya?" Tanya Izuru.


"Apa kau tahu sesuatu, Asura?" Tanya Iona.


"Hmm... Setahuku Nona Reshieka itu suka berpergian ke suatu tempat, lalu pulang dengan membawa banyak barang, seperti buku, catatan tua, dan juga prasasti kuno." Jawab Asura.


"Jadi dia peneliti?" Tanya Izuru.


"Baiklah kita sudah sampai." Kata Asura berhenti di depan pintu di sebuah lorong. Lorong itu memiliki banyak pintu yang terlihat sama.


"Kalian bisa pilih sendiri, mana yang kalian mau?" Kata Asura.

__ADS_1


"Aku pilih yang sini saja." Kata Izuru menunjuk kamar terdekat.


"Iona, kita sekamar saja ya?" Kata Rin.


"Kita sekamar? Bagaimana ya...?" Jawab Iona tidak yakin.


"Kalau mau berdua ada kamar dengan dua kasur, ayo aku tunjukan." Kata Asura. Lalu mereka pergi menuju salah satu pintu di lorong itu.


Izuru lalu masuk sendiri ke kamarnya. "Jadi ini kamar yang waktu itu aku bersihkan? Ini jauh lebih bagus dari pada rumah sewaan itu!" Kata Izuru lalu berbaring di tempat tidur.


"Ahh... Nyaman sekali, rasanya aku mau tidur. Apalagi dengan suara hujan seperti ini semakin membuatku mengantuk." Kata Izuru.


"Izuru, ayo kita makan." Kata Asura membuka pintu kamar Izuru.


Mereka lalu pergi ke ruang makan. Saat kembali melewati ruang tamu, mereka melihat Nona Reshieka yang menggunakan jas hujan kulit dan beberapa barang bawaan lengkap.


"Nona Reshieka mau ke mana?" Tanya Asura.


"Aku akan pergi ke suatu tempat bersama Fiel. Karena kau sudah pergi beberapa hari meninggalkan tugasmu, sekarang sampai besok kerjakan tugas Fiel." Jawab Nona Reshieka.


"Baik! Akan ku usahakan!" Jawab Asura.


"Fiel! Ayo cepat!" Kata Nona Reshieka sambil berjalan ke lorong pintu keluar, lalu di susul Fiel.


"Sepertinya Nona Reshieka sangat sibuk akhir-akhir ini." Jawab Asura.


Nona Reshieka keluar dari pintu depan, lalu berjalan menuju kereta kuda di susul oleh Fiel yang duduk di depan.


"Ayo cepat kita jalan!" Kata Nona Reshieka dari jendela yang terhubung ke kusir.


"Baik, Nona Reshieka." Jawab Fiel, lalu mereka mulai berjalan keluar dari teras.


Mereka mulai berjalan di tengah hujan lebat, rumah-rumah sudah mulai sepi. Beberapa tempat umum seperti restoran dan juga toko sudah mematikan pelita mereka. Nona Reshieka yang tengah melihat keluar jendela, lalu mengambil sebuah buku dari tasnya. Ia lalu membuka buku itu dan di dalam buku itu terlihat berkat cayaha dari lampu minyak yang menerangi dalam kereta kuda, gambar-gambar sebuah tempat dengan tulisan-tulisan kecil menghiasi halaman itu.


"Fiel, kita berhenti sebentar di bar dekat gerbang keluar." Kata Nona Reshieka.


"Baik, Nona!" Jawab Fiel.


Mereka terus berjalan di tengah hujan deras. Di tempat lain, Gorden tengah berdiri di depan barnya sambil mengeluarkan tangannya agar terbasahi oleh air hujan. Beberapa menit kemudian datang kereta kuda Nona Reshieka, yang lalu berhenti di depan Gorden. Nona Reshieka keluar dari kereta dan menghadap Gorden.


"Aku yakin kau akan datang ke sini. Ada apa?" Tanya Gorden.

__ADS_1


"Aku menemukan sesuatu yang menarik di tempat bekas Gold War." Jawab Nona Reshieka.


"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Gorden.


"Kau tidak perlu menutupinya lagi, aku sudah mencari tahu banyak soal dirimu. Hanya informasi tentang latar belakangmu yang aku sembunyikan, tapi kau tidak bisa terus menutupi ini. Semua orang pada akhirnya akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya."


"Berhenti bicara, cepat katakan apa yang kau mau!"


"Aku menemukan ruangan aneh di bawah tanah bekas Gold War, apa kau tahu sesuatu?" Tanya Nona Reshieka.


"Aku tidak tahu, mungkin itu hanya dungeon biasa." Jawab Gorden.


"Kupastikan itu bukan sebuah Dungeons, karena dari informasi yang kudapat, itu hanyalah sebuah ruangan kubus kecil tanpa jalan masuk. Baiklah kalau kau tidak tahu." Kata Nona Reshieka lalu kembali masuk ke dalam kereta kuda.


Mereka lalu pergi dari hadapan Gorden yang masih berdiri di sana. Hujan masih belum berhenti, malahan seperti semakin deras. Izuru, Rin, dan Iona tengah duduk santai di dekat perapian.


"Hah... Ternyata perapian lebih enak dari pada mesin penghangat." Kata Izuru.


"Mesin apa?" Tanya Iona.


"Bukan apa-apa."


Asura berjalan sambil membawa bakul berisi baju-baju kotor. Lalu ia tidak sengaja tersandung kakinya sendiri dan kemudian jatuh ke depan.


"Kyaaahh... Aduh!" Asura jatuh dan saat membuka matanya baju-baju sudah berserakan di lantai.


"Ya ampun!" Kata Asura terkejut dan segera mengumpulkan baju-baju itu.


Izuru, Rin, dan Iona hanya melihat dari dekat perapian. Rin lalu menyentuh punggung Izuru.


"Hmm... Ada apa?" Tanya Izuru menoleh ke arah Rin.


"Kau tidak membantunya?" Tanya Rin.


"Tidak usah, sepertinya itu bukan masalah besar." Jawab Izuru tampak tidak peduli.


Rin lalu menendang punggung Izuru dengan keras. "Aduh..! Sakit, apa yang kau lakukan!?" Tanya Izuru.


"Cepat bantu!" Kata Rin berbisik.


"Iya, baiklah." Kata Izuru beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Asura.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2