The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 71 - Usai Penyerangan


__ADS_3

Pagi itu di rumah, Meiro tengah mencampurkan cairan-cairan yang ada di tasnya dan melakukan hal yang rumit dengan peralatannya.


"bagaimana, Meiro?" Tanya Asura di belakang Meiro.


"Memangnya obat itu kimia?" Tanya Izuru di muncul dari belakang.


"Tentu saja kimia! Kau kira obat-obatan itu dari ilmu apa?" Tanya Meiro.


"Fisika? Mungkin." Jawab Izuru.


"Sudahlah kalian ini tidak ada kerjaan lain? Aku tidak bisa konsentrasi di sini." Kata Meiro.


"Aku khawatir pada Nona Reshieka dan Fiel. Apa kamu bisa membuat obatnya lebih cepat?" Tanya Asura.


"Aku pasti bisa lebih cepat jika kalian tidak menggangguku! Jadi... Keluar dari sini...!" Teriak Meiro mendorong Izuru dan Asura keluar dari sebuah kamar.


"Hah... Akhirnya aku bisa tenang." Kata Meiro berjalan kembali ke mejanya. Di ruangan itu terbaring Nona Reshieka dan Fiel di atas tempat tidur.


"Baiklah, ayo lanjutkan pekerjaanku." Kata Meiro. Tapi, beberapa sesaat setelah duduk di mejanya, seseorang mengetuk pintu.


"Arrgghh mereka itu kenapa kembali lagi!?" Tanya Meiro kesal sambil berjalan ke arah pintu.


Meiro membuka pintunya dan langsung berteriak. "Kalian jangan ganggu aku lagi...!" Teriak Meiro.


"Hah, siapa yang kau maksud?" Tanya Destra.


"Waa...!? Kau membuatku kaget!" Teriak Meiro terkejut karena bukan Izuru dan Asura yang ada dibalik pintu. Destra lalu masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana obatnya?" Tanya Destra berdiri di samping Nona Reshieka yang terbaring tak sadarkan diri.


"Masih butuh beberapa proses agar memperkecil efek samping." Jawab Meiro.


"Apa tidak bahaya jika dibiarkan terlalu lama?" Tanya Destra.


"Aku akan langsung berikan obatnya jika sekiranya mereka tidak bisa bertahan." Jawab Meiro.


"Kalau saran ku lebih baik langsung saja. Efek sampingnya tidak berbahaya kan?" Tanya Destra.


"Memang tidak berbahaya, tapi ya sudahlah." Kata Meiro mengambil botol obat yang sedang di proses.


"Jika mereka protes, aku akan bilang kau yang menyuruhku." Kata Meiro.


"Baiklah, baiklah."


Meiro lalu meminumkan obat itu pada Nona Reshieka dan Fiel. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar dan melihat Asura sedang duduk di kursi samping pintu kamar.


Asura yang melihat mereka berdua keluar langsung bertanya. "Bagaimana? Apa mereka sudah bangun?" Tanya Asura.

__ADS_1


"Mereka masih belum sadar." Jawab Meiro.


"Apa aku boleh melihat mereka?" Tanya Asura.


"Bukannya kau hanya keluar beberapa menit?"


"Silahkan saja." Kata Meiro.


"Terima kasih!" Kata Asura langsung menerobos masuk.


Asura seharian di dalam kamar menunggu Nona Reshieka dan Fiel sadar. Ia terus duduk di tengah-tengah tempat tidur mereka selama berjam-jam.


"Aku sudah menduga suatu saat ini pasti akan terjadi. Bukan hanya kali ini, tapi sebelumnya juga. Aku tidak pernah paham dengan apa yang Nona Reshieka dan Fiel lakukan selama ini."


"Semua kejadian ini membuatku paranoid, aku merasa suatu saat nanti Nona Reshieka bahkan juga Fiel akan meninggalkanku."


Asura lalu menggenggam salah satu tangan Nona Reshieka dan Fiel. Asura mengingat kembali saat ia masih kecil berjalan sambil bergandengan tangan dengan Nona Reshieka dan Fiel kecil. Tapi, seiring mereka berdua dewasa, hubungan mereka tidak seperti dulu lagi. Asura semakin merasa kesepian saat Fiel memutuskan untuk ikut perjalanan dengan Nona Reshieka.


"Aku kesepian. Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi!" Kata Asura meneteskan air mata.


*****


"Hah... Hah... Ke mana? Ke mana aku harus pergi?" Tanya Gorden terus berjalan di dalam hutan yang lebat.


Di dalam hutan itu sedikit gelap karena pepohonan yang menghalangi sinar matahari. Gorden di sana terus berjalan tanpa arah, tanpa tujuan.


"Bagaimana jika aku pergi ke Kerajaan Claric? Aku belum pernah ke sana, jadi pasti tidak ada orang yang akan tahu identitas ku. Tapi, aku bahkan tidak tahu di mana ini."


Gorden terus berjalan dengan perasaan putus asa. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan atau ke arah mana ia harus pergi. Tapi, sesaat setelah pikiran negatif itu terlintas, ia melihat ujung dari hutan yang bersinar terang.


"Apa itu? Itu jalan keluar!" Kata Gorden langsung berlari ke arah luar hutan.


Gorden keluar dari hutan, ia berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Di sana adalah sebuah padang rumput luas, tempat yang tampak tidak asing.


"Ini... Jangan bilang kalau..."


Dalam ingatan Gorden, sebuah kejadian yang sangat keji terjadi di tempat itu. Ratusan orang tewas di tangan satu orang, yaitu di tangannya sendiri. Tanah seakan menjadi berwarna merah seluruhnya dengan banyak mayat dan potongan tubuh di atasnya.


"Kenapa? Kenapa aku malah ke tempat ini!? Aku harus pergi!" Kata Gorden ingin kembali masuk ke dalam hutan. Tapi, langkahnya itu terhenti saat melihat sesuatu.


"Apa itu? Hutannya terbelah?" Tanya Gorden terkejut melihat bekas serangan pada Nona Reshieka.


Gorden segera mendekat untuk melihat lebih jelas. Di sana ia juga melihat kereta kuda yang sudah rusak dan setengah terbakar.


Gorden lalu teringat dengan pertanyaan Nona Reshieka waktu itu. "Aku ingin bertanya padamu soal ruang bawah tanah di lokasi GoldWar."


"Jangan-jangan Zhagi menyerang Reshieka!?"

__ADS_1


"Tidak... Jika Zhagi membunuh seseorang, itu pasti karena aku!"


"Apa? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus terus lari? Apa aku harus menyerah pada Zhagi, agar dia tidak membunuh siapapun lagi?"


"Tidak! Dia pasti akan membunuhku."


"Atau... Aku yang harus membunuhnya? Tapi, suatu saat nanti, pasti akan ada orang sepertinya yang ingin membalas dendam."


"Lalu apa yang harus aku lakukan!?"


*****


Izuru membuka pintu perlahan dan mengintip dari celah, Asura masih tetap menunggu mereka berdua bangun. Izuru lantas kembali menutup pintunya.


"Dia pasti sangat sedih, lebih baik tidak diganggu." Kata Izuru berjalan menjauh dari pintu.


"Hey kau!" Panggil Destra tiba-tiba ada di samping Izuru.


"Waaa....!?!? Dari mana kau datang...!?" Tanya Izuru terkejut.


"Itu tidak penting. Jadi, apa kau siap menjadi kuli?"


"Apa maksudmu?"


"Tentu saja maksudku adalah atap rumah ini! Kita harus segera menyelesaikannya sebelum hujan turun."


"Bukannya kau adalah ahlinya, jadi kau bisa mengerjakannya sendiri kan?"


"Aku ini arsitek, bukan kuli."


"Aku itu petualang dan bukan kuli juga tahu?"


"Petualang macam apa yang hanya bermalas-malasan di rumah seharian?" Tanya Destra.


"Huff... Baiklah aku ikut." Kata Izuru pasrah.


"Bagus! Ayo kita pergi ke TKP!" Kata Destra memimpin jalan di ikuti Izuru.


"Hey, Destra. Yang mendesain rumah ini kan?" Tanya Izuru.


"Itu benar!"


"Apa kau tahu untuk apa rumah sebesar ini?" Tanya Izuru.


"Terserah yang punya rumah kan?"


"Maksudku kenapa tidak di buat bertingkat saja? Kenapa di buat sangat luas, bukannya itu malah semakin memakan biaya tanah?"

__ADS_1


"Jika aku beritahu yang sebenarnya, dia pasti akan langsung mengacak-acak rumah ini." Kata Destra dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2