
Berjalan di lorong bawah tanah. Di pojok air menetes dari atas, menciptakan nada lembut yang tidak beraturan. Nathasia membawa anak itu di punggungnya sambil di tutupi dengan jubah. Kekacauan baru terdengar di sekeliling tempat kejadian yang jauh dari area bawah tanah, karena itu Nathasia bisa dengan mudah berjalan melewati pemukiman.
"Masih ada banyak waktu sebelum matahari terbit, lebih baik aku menyelesaikannya sekarang." Ucap Nathasia dalam hati.
Saat sampai di tempat sewaannya, Nathasia menendang pintu dan segera masuk. Setelah mengunci pintu ia menjatuhkan anak yang tidak sadarkan diri itu begitu saja ke lantai.
Pergi ke ruangan lain, terlihat seseorang yang tengah duduk di kursi. Orang itu sama sekali tidak bergerak dan wajahnya tertutup bayangan.
Nathasia berjalan mendekat ke arah orang itu lalu berkata. "Ini tugas pertamamu. Kuharap kau tidak rusak seperti yang lain."
Di saat Nathasia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba mata orang itu terbuka dan bersinar dari balik kegelapan.
...*****...
Pagi telah datang, Izuru dan teman-temannya seperti biasa menuju ke tempat Profesor. Izuru menguap panjang dan tampak lelah.
"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Destra.
"Iya, lagi-lagi mimpi yang sama." Jawab Izuru.
"Benarkah? Apa kau berlari ingin menjatuhkan diri lagi?" Tanya Destra.
"Tentu saja tidak! Aku bangun dengan cukup tenang. Tetapi setiap aku mencoba kembali tidur, mimpi itu terus datang lagi dan lagi! Karena itulah aku terus terbangun berkali-kali."
"Brrr.... Pagi ini sama dinginnya dengan tadi malam." Ucap Iona sambil mengumpulkan nafasnya di telapak tangan.
"Benar! Aku ingin jaket bulu yang lebih tebal!" Keluh Meiro yang memakai beberapa baju sekaligus.
"Hey! Ayo cari tukang jahit!" Ajak Meiro pada Destra.
"Kau gila!? Orang-orang di sini suka menaikkan harga pada Ras lain. Harga biasa saja sudah mahal, apa lagi di sini."
"Kalau begitu berikan jaket mu!"
"Sudahlah, nanti aku belikan minuman hangat di bar." Ucap Destra.
"Bisa-bisanya kau menyamakan jaket bulu dengan minuman hangat." Ucap Meiro terlihat jengkel.
Saat sampai di tangga ke area bawah, mereka dikejutkan oleh sekumpulan orang di sana. Terlihat Prajurit Ras Malaikat mengepung Ras lain di depan pintu masuk.
"Ada apa ini?" Tanya Iona.
__ADS_1
"Mungkin ada bangsawan yang lewat." Jawab Destra.
Di tengah kerumunan itu terdengar perdebatan yang cukup lantang. Mereka tengah membicarakan sesuatu tentang penculikan.
"Cepat kalian serahkan wanita itu!" Seru salah stau Ras Malaikat.
"Apa kalian tidak ingat? Dulu pernah ada kejadian seperti ini juga, kalian menuduh orang-orang di sini menculik salah satu anggota bangsawan kalian. Tapi apa yang terjadi? Kalian mengacaukan tempat kami tanpa mendapat bukti apapun!" Ucap salah satu pria itu.
"Benar! Kami tidak akan membiarkan kalian masuk atau membawa pergi siapapun dari sini...!" Seru Pria yang lain. Semua ras campuran di sana bersama-sama menolak perintah Ras Malaikat.
"Sialan! Kalian seharusnya menuruti perintah Tuan Hideroca! Dialah yang mengijinkan kalian tinggal di sini!" Ucap salah seorang prajurit malaikat.
Dari belakang seseorang dengan penampilan yang lebih gagah menepuk pundaknya. Dia berbalik dan terkejut. "Kapten...!?"
"Sudah, Tuan Hideroca meminta kita kembali." Ucap Kapten para prajurit itu.
"Tapi, kita belum sempat memeriksa apapun."
"Kita akan melakukannya setelah mendapat keterangan yang lebih jelas dari saksi mata."
"Baiklah kapten."
Setelah percakapan itu semua prajurit malaikat di sana pergi dari sana, dan orang-orang yang mengerumuni tempat itu pergi satu per satu. Tersisa para ras lain dan kelompok Izuru di sana.
"Mereka bilang salah satu bangsawan di culik tadi malam, dan dengan mudahnya mereka datang ke sini menuduh tanpa bukti yang jelas! Kejadian ini tidak hanya sekali, tapi sudah dua kali terjadi." Jelas salah satu pria.
"Sebelumnya mereka mencari bukti di area bawah sampai merusak fasilitas umum, dan kali ini mereka ingin membawa semua wanita yang memiliki rambut putih." Sambung pria yang lain.
"Jadi mereka sempat melihat pelaku memiliki rambut putih?" Tanya Iona.
"Tidak masuk akal jika pelakunya adalah wanita di sini. Kebanyakan mereka itu adalah wanita paruh baya, kebanyakan juga tidak bisa menggunakan sihir apalagi bertarung."
"Menggunakan sihir dan rambut putih? Apa mungkin dia?" Ucap Izuru menduga-duga.
"Sebaiknya aku mencari tahu sendirian agar dia tidak curiga." Batin Izuru dalam perjalanan menemui Nathasia.
Izuru mengetuk pintu rumah sewaan Nathasia. Ia mengetuk berkali-kali selama 2 setengah menit barulah Nathasia membukakan pintu.
"Oh kau lagi? Ada apa? Butuh bantuan dengan segel itu lagi?" Tanya Nathasia.
"Tidak bukan itu, aku ke sini untuk bicara sebentar."
__ADS_1
"Baik, masuklah." Ucap Nathasia mempersilahkan Izuru masuk ke dalam rumahnya.
Di sana Izuru terus memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Namun, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Bahkan ruangan itu tidak ada bedanya dari terakhir kali ia di sana.
Sementara di sebuah lorong, anak yang Nathasia culik tengah di bawa ke suatu tempat oleh seseorang. Anak itu terus berusaha berteriak dengan kondisi mulutnya yang terikat dengan kain. Dia membawa anak itu di depan sambil di tutup dengan jubah untuk memastikan agar tidak kabur dan bersuara.
...*****...
"Silahkan duduk." Ucap Nathasia duduk dengan sebuah teko dan sebuah gelas kayu di atas meja.
Izuru ikut duduk di sana. Nathasia lalu menuangkan air ke dalam gelas dan kemudian meminumnya sendiri.
"Ahh... Aku yakin kau tidak haus." Ucap Nathasia setelah menghabiskan airnya.
"Aku memang tidak haus."
"Kalau begitu cepat katakan urusanmu ke sini!"
"Apa kau pergi ke luar tadi malam?" Tanya Izuru.
"Hmm...? Hahaha... Apa kau mencurigai ku sebagai pelaku penculikan?" Tanya Nathasia dengan tertawa singkat.
"Anu, itu..." Jawab Izuru gugup.
"Jangan khawatir, aku tidak marah kok. Tapi saran ku kau jangan terlalu percaya pada para malaikat itu."
"Kenapa kalian tidak bisa saling percaya? Bukankah kalian sudah tinggal lama di sini?" Tanya Izuru.
"Bukannya kami tidak mau percaya pada mereka, tapi mereka sendirilah yang tidak bisa di percaya. Mereka juga terlalu sombong hanya karena bisa berdiri di tempat yang lebih tinggi dari yang lain."
*****
"Hey!" Panggil seseorang di lorong. Boneka Nathasia yang membawa anak itu seketika berhenti berjalan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya orang itu lalu berjalan mendekatinya.
Dia hanya diam di sana tanpa berbalik. Orang itu semakin mendekat padanya. Ekspresi panik mulai terlihat di wajah Nathasia saat bersama Izuru. Orang itu berada di belakang boneka Nathasia dan tengah menyentuh pundaknya.
Nathasia tiba-tiba langsung berdiri karena panik. Hal itu membuat terkejut Izuru di sana.
Izuru melihat ke arah belakang sesaat dan bertanya. "Ada apa kau ini?"
__ADS_1
Bersambung...