
"elemen racun...!" Pedang Izuru mengeluarkan asap ungu dan menebas ke arah belakang. Dramist langsung menangkisnya ke atas sampai pedang Izuru terlempar.
Dramist kemudian langsung menyerang Izuru dengan menendangnya dari arah samping. Izuru langsung reflek menangkis serangan itu dengan kedua tangannya, tapi Izuru tetap terpental cukup jauh.
"Huh...? Ternyata kau tangguh juga ya?" Tanya Dramist berjalan mendekat, namun tiba-tiba sesuatu melesat ke arahnya dan menusuk lengan Dramist. "Arrrgghh...! Apa!?"
"Aku tepat waktu." Kata Rin berada di depan pintu masuk.
"Sialan kau!" Kata Dramist berubah menjadi kabut dan langsung melesat ke arah Rin.
Rin terus menembakinya dengan panahnya, tapi semuanya menembus Dramist. Saat Dramist sudah sangat dekat, tiba-tiba Rin berlari ke samping dan di belakang tempat Rin berdiri tadi ada Iona dengan lingkaran sihir besar di depannya. "Elemen angin!" Teriak Iona, dan angin yang sangat kencang berhembus keluar dari lingkaran sihir itu.
Dramist langsung terdorong oleh angin itu sampai keluar melewati lubang besar di dinding. "Kau bawa Karin!" Kata Iona, lalu mereka berlari ke arah berlawanan.
Rin mencoba melepaskan Karin dari dinding, tapi tampaknya ia terikat oleh sesuatu. "Kenapa ini?" Tanya Rin terus mencoba menarik Karin.
"Yang terpenting aku sudah mendapatkan pedang ini." Kata Shiori lalu menggerakkan beberapa jarinya, dan tiba-tiba Karin terlepas dari dinding.
"Ayo berdiri!" Kata Rin merangkul Karin.
"Pedang itu! Kita harus mengambilnya!" Kata Karin.
"Nanti saja kita pikirkan itu!" Jawab Rin, lalu mereka semua berlari pergi dari ruang tahta, meninggalkan pedang legendaris itu bersama dengan Shiori.
*****
"Yang mulia! Kita keluar sekarang juga." Kata Izuru masuk ke dalam kamar bersama yang lain.
"Tapi bagaimana dengan mereka berdua? Apa mereka masih bisa berlari?" Tanya Iona.
"Rin, kau bantu Shun. Iona dan yang mulia tolong bantu Karin. Dan aku akan menggendong tuan putri." Kata Izuru.
"Baiklah, aku akan berusaha!" Kata Ratu.
Mereka kemudian berlari keluar dari kamar. Di depan mereka sudah ada banyak prajurit yang berlari ke arah mereka. "Gawat!" Kata Izuru.
__ADS_1
"Semuanya lewat sini!" Kata Ratu lalu berlari ke lorong kiri sambil merangkul Karin bersama Iona.
Mereka terus berlari sampai terkepung oleh prajurit. Ratu lalu berlari ke arah lain di ikuti yang lain, dan pada akhirnya mereka tetap terkepung oleh prajurit. "Sial, kita terkepung!" Kata Izuru.
"Menyerahkan! Dan serahkan yang mulia!" Kata salah satu prajurit.
"Kalian semua sudah di cuci otak! Kerajaan ini sudah di ambil alih!" Kata Ratu mencoba menjelaskan semuanya.
"Apa yang kau bicara yang mulia? Semuanya baik-baik saja sebelum para penyusup ini masuk!" Kata salah satu prajurit.
"Tidak ada gunanya bicara dengan mereka. Iona! Kau tahu kan harus melakukan apa?" Tanya Izuru.
"Tentu saja! Wahai para pejuang dalam jurang keputusasaan, aku meminta semangat perjuangan kalian yang berada dalam kegelapan jurang Abyss. Heishi of Abyss...!" Teriak Iona dan para prajurit kegelapan muncul dari lingkaran sihir. Lalu para prajurit kegelapan bersiap di depan dengan tameng mereka, kemudian mereka berlari menangkis dan membersihkan jalan dari kepungan prajurit kerajaan.Cara itu berhasil membawa mereka sampai ke depan gerbang keluar yang sudah hampir tertutup. "Ayo cepat keluar!" Kata Rin.
"Tunggu!" Teriak Izuru dari belakang berlari pelan sambil menggendong putri.
"Izuru, ayo cepat!" Teriak Iona.
"Ayo kita keluar dulu, mereka pasti sampai tepat waktu!" Kata Rin lalu menarik semuanya untuk keluar dari kerajaan itu.
"Tunggu tuan putri!" Kata Izuru sambil menyeret bajunya. Gerbangnya lalu menutup sepenuhnya ke bawah, mereka hanya bisa berkomunikasi lewat jeruji-jeruji besi di gerbang.
"Apa yang kau lakukan Izuru!?" Tanya Rin.
"Ini tidak akan berhasil! Aku dan putri akan mencari jalan keluar lain." Jawab Izuru.
"Ibu..." Kata Putri sambil menggenggam tangan Ratu dari lubang jeruji.
"Tenang saja sayang, semuanya akan baik-baik saja. Tuan Izuru, tolong jaga putriku. Hanya dia satu-satunya yang kupunya sekarang!" Kata Ratu memohon pada Izuru.
"Tenang saja yang mulia, aku pasti menjaganya dengan baik! Kalau begitu ayo tuan putri!" Kata Izuru menggandeng tuan putri pergi. Mereka melewati lorong tadi, langsung belok ke lorong lain saat melihat prajurit.
"Kakak, aku sudah lelah." Kata Putri bergerak melambat dengan tangan yang masih di tarik oleh Izuru. Lalu tangan putri terlepaskan dari genggaman Izuru dan putri jatuh tersungkur di lantai.
"Tuan putri!? Ayo tinggal sedikit lagi kita sampai!" Kata Izuru membantu tuan putri bangun.
__ADS_1
"Sampai ke mana? Kita hanya berputar-putar saja. Pada akhirnya aku hanya akan berada di penjara lagi." Kata Putri menangis.
"Aku janji kita akan keluar dari tempat ini. Karena itu ayo berjuang sedikit lagi!" Kata Izuru memberikan semangat. Tuan putri lalu mengangguk dan berusaha berlari lagi bersama Izuru. Mereka pergi tak tentu arah dan akhirnya sampai di taman kerajaan, yang di tengahnya ada sebuah batu dengan tulisan-tulisan sihir.
"Kita terjebak, tidak ada jalan keluar! Aku tidak akan bertemu dengan ibu lagi!" Kata Tuan putri panik.
"Jangan panik! Kita pasti menemukan jalan keluar!" Kata Izuru menenangkan tuan putri, tapi tidak berhasil. "Namamu putri siapa?" Tanya Izuru.
"Huh...? Namaku, Putri Clara." Jawab Putri Clara.
"Clara? Nama yang bagus! Nah Putri Clara, tenang saja. Jika kita tertangkap, pasti teman-temanku akan kembali untuk menyelamatkan kita. Dan juga kamu sudah tidak sendirian, kakak Izuru ada di sini bersamamu!" Kata Izuru menenangkan Putri Clara.
"Kakak akan terus bersamaku jika kita tertangkap?" Tanya Putri Clara.
"Tentu saja!" Kata Izuru.
Tiba-tiba dari lorong muncul banyak prajurit kerajaan yang mengepung mereka dari depan.
"Gawat!" Kata Izuru
"Menyerahkan kau penyusup!" Kata salah satu prajurit.
"Bagaimana ini?" Tanya Putri Clara ketakutan.
"Tetap di belakangku!" Kata Izuru maju dan menarik pedangnya keluar.
"Kau ingin menghadapi semua prajuri kerajaan sendirian? Kau pasti bercanda!" Kata salah satu prajurit.
"Aku tahu itu gila, tapi hanya itu yang bisa kulakukan! Hiyaaa...!" Izuru berteriak dan berlari ke arah para prajurit itu. Izuru melawan banyak prajurit sekaligus, tentu saja hanya bertahan sebentar sampai akhirnya Izuru kewalahan.
Putri hanya melihat dari belakang dengan wajah ketakutan melihat Izuru tertebas beberapa kali oleh para prajurit. "Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau dia berakhir seperti ayah, aku tidak mau....!" Kata Putri Clara dalam hati.
Tiba-tiba batu di tengah taman mengeluarkan cahaya yang sangat terang sampai menyilaukan semua orang di sana. Dan saat cahaya itu meredup, sebuah busur besar berwarna biru dan emas muncul di tangan Putri Clara.
"Itu? Senjata legendaris!?" Tanya Izuru terkejut.
__ADS_1
Bersambung...