The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 111 - Kepergian Sementara


__ADS_3

Nathasia membuka matanya dan melihat cahaya keluar dari segel di punggung Izuru. Tampaknya ia sudah hampir bisa melepas segel itu.


Dia tersenyum dan berkata dalam hati. "Ini dia! Ternyata segelnya tidak terlalu kuat."


Ia kembali berkonsentrasi penuh dalam melepas segel itu. Dengan cepat cahaya bersinar lebih terang dan kemudian mengeluarkan gelombang besar yang membuat Nathasia terlempar dari punggung Izuru.


Nathasia terlempar ke arah meja sampai membuat meja itu terbalik dan barang-barang di atasnya berjatuhan.


Izuru yang melihat itu segera bangun dan menolong Nathasia di sana. "Apa kau tidak apa-apa!?" Tanya Izuru sambil mengulurkan tangan.


"Ternyata hanya kau sendiri yang bisa melepas segel itu." Ucap Nathasia bangun tanpa bantuan Izuru.


"Jadi kau sudah tahu cara melepasnya?" Tanya Izuru.


"Itu hanya segel sederhana, tapi ada sistem pengamannya. Caranya sama saja seperti membatalkan rapalan sihir, hanya saja fokus pada segel itu." Jawab Nathasia sambil membersihkan bajunya dari debu.


"Aku ingat cara merapal, tapi aku tidak ingat cara menghentikannya." Ucap Izuru berpikir sambil melipat tangannya.


"Lakukan saja sendiri. Sekarang pergilah! Aku ingin tidur." Ucap Nathasia pergi ke arah ruangan lain.


Izuru hanya dia di sana. Ia lalu memakai baju dan pelindung tubuhnya kembali, setelah itu pergi dari rumah Nathasia.


...*****...


Di dalam ruangan yang gelap, Nathasia membaca sebuah surat dari seseorang. Ia lalu menghela nafas dan mengusap dahinya saat selesai membaca.


"Ini pencarian terpanjang yang pernah kulakukan. Tetapi, setidaknya aku sudah dapat artefaknya."


"Tinggal dua lagi targetku, Pemimpin tempat ini dan putranya. Jika mereka berdua bukan orang yang terpilih, akan aku bawa bongkahan batu artefak."


"Aku benar-benar sudah tidak tahan berada di sini. Apalagi ada banyak sekali pembual bersayap di sini." Ucap Nathasia bicara sendiri.


"Oh... Jadi kekuatan anak itu berasal dari buronan Kerajaan Hyron? Ini info yang bagus. Terus ambil informasi darinya."


...*****...


Izuru berjalan di lorong-lorong panjang dengan beberapa orang yang berlalu-lalang. Tepat di belakang Izuru ada seseorang yang berjalan searah dengannya. Seseorang memakai jubah yang sudah memiliki banyak lubang, ia juga terlihat berjalan dengan lemas. Wajah orang itu tidak terlihat sama sekali, hanya terlihat mata yang melotot dengan 6 buah pupil dalam satu mata kiri, dan mata normal di kanan.


"Seperti membatalkan rapalan sihir. Fokus pada segel itu." Ucap Izuru berhenti dan memejamkan matanya sesaat.


Beberapa saat kemudian keringat mulai menetes dari dagu Izuru, dan konsentrasinya hilang seketika. "Argh! Aku tidak bisa melakukannya di sini. Aku butuh udara segar!" Ucap Izuru melanjutkan berjalan.

__ADS_1


Izuru terus berjalan tanpa sadar sedang diikuti. Sampai akhirnya dia lewat di depan pintu masuk Bar. Orang yang mengikuti Izuru berhenti tepat di depan Bar. Ia terus memperhatikan Izuru yang semakin berjalan menjauh ke depan. Orang itu menutup kedua matanya dan masuk ke dalam Bar.


Izuru mendorong pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Profesor. Ia hanya melihat ada Lauren di sana sedang membawa beberapa barang.


"Di mana yang lain?" Tanya Izuru.


"Mereka kembali ke rumahku." Jawab Lauren.


Dari pintu lain muncul Gabriel yang langsung berhenti saat melihat Izuru di sana. Mereka saling menatap satu sama lain tanpa bicara sepatah kata pun.


Hanya berselang beberapa detik Gabriel lalu berjalan mendekat pada Lauren. "Biar aku saja yang membawanya ke sana." Ucap Gabriel mengambil barang-barang yang Lauren bawa.


"Ya. Tolong ya!" Ucap Lauren. Gabriel langsung kembali ke tempat ia muncul setelah mendapat barang-barang itu.


"Kalian sedang melakukan apa?" Tanya Izuru lagi.


"Kami sedang membantu pekerjaan Profesor."


"Oh, yang memperbaiki artefak yang menerbangkan tempat ini?"


"Tepatnya meneliti untuk menciptakan lagi yang baru. Profesor berencana menyelesaikannya secepat mungkin. Karena, kau tahu kan? Keadaan di sini bisa saja semakin memburuk."


"Jadi maksudnya, Profesor akan pergi setelah pekerjaannya selesai?" Tanya Izuru.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga pekerjaanmu lancar!" Ucap Izuru lalu pergi.


...*****...


"Hey, hey! Berhenti! Jangan ikuti dia keluar!" Ucap Nathasia bicara sendiri di tempat yang sama.


Di tempat lain, orang misterius tadi langsung berhenti mengikuti Izuru yang naik ke kota permukaan.


"Dasar bodoh! Berbahaya jika kau keluar! Aku punya hak yang lebih penting untuk kau kerjakan nanti malam, sekarang kembalilah ke sini!"


Suara Nathasia seperti tiba-tiba muncul di kepala orang itu. Ia juga tampak tidak bereaksi dan langsung melakukan perintah Nathasia untuk kembali kepadanya.


...*****...


Izuru masuk ke dalam rumah dengan badan yang penuh dengan keringat. "Aku kembali." Ucap Izuru.


Iona lalu datang dan bertanya. "Bagaimana dengan segel itu? Apa sudah di lepas?"

__ADS_1


"Masih belum bisa." Jawab Izuru sedikit lemas. Ia lalu berjalan melewati Iona, kemudian duduk di bangku dan mengipasi dirinya dengan kertas di atas meja.


"Lalu untuk apa kau seharian di sana?" Tanya Iona.


"Umm... Olahraga? Tapi, dia bilang kalau hanya aku yang bisa melepas segelnya."


"Bagaimana caranya?" Tanya Iona.


"Seperti membatalkan rapalan katanya."


"Hmm... Ternyata semudah itu. Kau coba saja sekarang!"


"Aku terus mencobanya saat perjalanan ke sini. Tetapi, tidak terjadi apa-apa."


"Terus saja mencoba."


"Ah tidak mau! Aku ingin tidur!" Bantah Izuru langsung berbaring di bangku itu.


"Ah dasar! Katanya ingin menjadi lebih kuat, tetapi kerjanya hanya bermalas-malasan."


Asura muncul dari ruangan lain dan berdiri di hadapan Iona. "Semuanya, aku sudah memutuskan." Ucap Asura.


"Memutuskan apa?" Tanya Iona. Destra dan Meiro langsung muncul dari pintu ruangan lain, Izuru juga langsung bangun mendengar Asura.


"Aku ingin pulang."


"Hah!? Lalu bagaimana cara kita pulang nanti?" Tanya Meiro terkejut.


"Tenang saja, aku akan kembali kalau pekerjaanku sudah selesai. Pasti Nona Reshieka sedang cemas karena aku tidak pulang-pulang." Jawab Asura.


"Lagipula, suasana bisa semakin memburuk kalau aku terus di sini. Mungkin aku hanya ke sini untuk mampir sebentar dan menjemput kalian saja." Sambung Asura.


"Rasanya ini tidak akan sama tanpamu. Tetapi, tidak apa kalau memang itu keputusanmu." Ucap Iona.


"Maaf ya kalau kau jadi terpaksa mengikuti kami, padahal kau sendiri tidak nyaman berada di sini." Ucap Izuru.


"Tidak kok, aku senang selama bersama kalian." Ucap Asura sambil tersenyum manis.


Mereka semua lalu keluar untuk mengantar Asura yang akan pulang. "Jaga diri kalian ya. Dan Izuru, jangan sampai terjatuh lagi ya. Aku mohon." Ucap Asura tampak serius saat kalimat terakhir.


"Iya tentu saja! Kami akan menjaga satu sama lain. Doakan kami ya!" Jawab Izuru.

__ADS_1


"Itu pasti." Asura lalu mengeluarkan sayapnya tanpa berubah menjadi naga. Semuanya melambai dan Asura segera terbang pergi bersama dengan langit yang tampak mendung. Setelah Asura terbang menjauh, rintik hujan berjatuhan dan yang lain segera masuk ke dalam ruangan.


Bersambung...


__ADS_2