
"Aku ingin pergi ke hutan dekat pegunungan barat besok!" Kata Izuru.
Semua orang di meja itu seketika berhenti makan dan melihat ke arah Izuru.
"Apa kau bisa bicarakan hal itu nanti saja?" Tanya Destra.
"Benar Izuru, lebih baik kamu makan dulu. Kamu bisa bicara itu saat selesai." Kata Asura datang dan meletakan piring makanan di sana.
"Tapi, ini hal yang penting!" Bantah Izuru.
"Memangnya apanya yang penting dari peninggalan buronan itu?" Tanya Destra.
"Bagaimana kau tahu ini tentang Gorden!?" Tanya Izuru terkejut.
"Tentu saja kami tahu, kau terus membicarakan hal itu beberapa hari yang lalu." Jawab Destra.
"Tentu saja itu hal yang penting! Dia mengatakan hal itu sebelum di hukum, aku yakin itu adalah hal yang sangat penting!" Kata Izuru beberapa kali memukul meja.
"Apapun itu aku tetap ingin makan sekarang." Kata Destra tidak mempedulikan perkataan Izuru dan melanjutkan makan.
Izuru tampak sangat kesal, lalu pergi dari dapur. Kemudian berhenti di taman rumah, ia menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Setelah menenangkan pikirannya, Izuru duduk di bawah teras dan melihat ke arah tanaman-tanaman yang tengah bermandikan cahaya matahari pagi.
"Izuru..." Panggil seseorang dari belakang. Asura muncul dan duduk di samping Izuru.
"Aku sedang ingin sendiri beberapa menit saja." Kata Izuru.
"Aku hanya ingin mengantarkan makanan saja. Kamu masih belum pulih sempurna, jadi tidak boleh terlambat makan." Kata Asura membawa beberapa potong roti.
"Terima kasih. Lain kali kau tidak perlu melakukan ini, bagaimana pun keadaannya aku tetap peduli pada perutku." Kata Izuru menerima roti dari Asura.
Mereka berdua lalu terdiam sambil melihat ke depan. Angin berhembus menggerakkan daun-daun pepohonan besar di sana, hanya suara gesekan lembut dedaunan yang terdengar oleh mereka.
"Kamu dan Crgoshiro, apa kalian memiliki hubungan keluarga?"
"Tidak. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
"Itu karena kamu sepertinya sangat peduli padanya. Terlebih lagi Izuru, kamu tidak pernah bicara soal keluarga ataupun kampung halamanmu."
"Tentang hal itu, sebenarnya sedikit rumit."
"Aku juga sama denganmu. Orang tuaku terbunuh karena perang saudara, aku di rawat oleh Nona Reshieka di rumah ini. Sekarang aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri."
"Bahkan sampai terbawa soal perang saudara? Sekarang aku tahu kenapa kau jadi gadis yang kuat."
Asura tersipu malu mendengar pujian Izuru, wajahnya seketika menjadi memerah dan segera memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Ap... apa benar begitu!?" Tanya Asura gugup.
"Tentu saja! Aku masih ingat bagaimana kamu menghancurkan istana dulu."
"Bukankah itu hal yang buruk?"
"Iya, tapi sangat keren bagiku! Aku tidak bisa melakukan apapun saat itu."
"Aku yakin suatu saat nanti, giliran Izuru lah yang akan menyelamatkan kami semua." Kata Asura memberikan semangat.
"Sepertinya tidak akan sampai sejauh itu, tapi aku akan tetap berusaha!"
Setelah pembicaraan itu, Izuru kembali kedalam ingin mengatakan rencananya untuk mencari benda peninggalan Gorden. Di ruang makan depan, Nona Reshieka sedang sarapan di bantu oleh Fiel. Karena tangannya masih belum sembuh setelah kejadian hari itu.
Izuru kemudian masuk kembali ke dapur. Di sana ternyata yang lain masih belum selesai makan.
"Kenapa kalian makan lama sekali!?" Tanya Izuru terkejut.
"Tentu saja, makan itu harus di nikmati." Jawab Destra.
"Terserah kalian, intinya aku akan pergi ke Hutan dekat Pegunungan Selatan! Eh, maksudku barat! Jika kalian tidak mau ikut, aku akan pergi sendiri." Kata Izuru lalu keluar dari dapur.
Iona, Rin, Asura, Destra, dan Meiro. Mereka hanya diam melihat Izuru pergi, tapi kemudian Asura ikut keluar dari dapur. Izuru tampak sedang memasukan beberapa barang di tas selempang, yaitu peta dan sebuah kompas yang ia ambil dari ruang kerja Nona Reshieka.
Asura lalu datang dari belakang dan langsung di sadari oleh Izuru. "Ah, kebetulan sekali kau ada di sini."
"Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Asura.
"Aku pinjam uangmu boleh?" Tanya Izuru.
"Umm... Aku hanya punya kembalian dari belanja tadi pagi." Jawab Asura mengambil uang dari baju dalamnya.
"15 koin perak, apa itu cukup?" Tanya Asura sambil memberikan uang itu pada Izuru.
"Sepertinya cukup, terima kasih ya. Akan aku ganti kapan-kapan." Kata Izuru memasukan uang itu ke dalam tas.
"Anu, apa aku boleh ikut? Kalau kamu mengijinkannya, uang itu tidak perlu dikembalikan."
"Apa kau tidak masalah bolos lagi?"
"Kalau aku izin mungkin boleh."
"Baiklah, tapi cepatlah." Kata Izuru mengijinkan. Ia lalu segera memakai tasnya dan mempersiapkan pedang dan perlengkapan lainnya.
Setelah itu, dengan berbagai alasan Asura berhasil mendapatkan izin dari Nona Reshieka. Sekarang mereka berangkat dengan menyewa gerobak kuda dan turun di depan hutan kaki Pegunungan Barat.
__ADS_1
...*****...
Wahai para Ras agung di langit yang bersinar bagaikan mentari dan terbang tinggi bagaikan elang. Mereka adalah salah satu ras yang terkuat diantara ras yang lain. Tinggal di tempat suci yang tidak bisa di temukan oleh sembarang orang.
...Dimulailah perjalanan baru Izuru, dalam Arc Spear and Angel....
...*****...
Di sebuah tempat yang tinggi, terlihat seorang gadis berambut pirang bersayap yang berdiri di ujung bangunan. Dia menghembuskan nafas, lalu angin kencang menguraikan rambutnya. Kedua sayap putih dan berkilau diregangkan olehnya, beberapa bulu lalu terlepas dan diterbangkan oleh angin.
...*****...
Sementara itu di dalam hutan, Izuru bersama dengan Asura sedang berjalan mengikuti kompas. Asura tampak kesulitan dengan berbagai dahan pohon yang tumbuh tak beraturan di sana.
"Seharusnya aku tidak memakai baju santai ku di sini. Semoga saja dahan-dahan tajam ini tidak merusak bajuku." Kata Asura dalam hati.
"Izuru! Apa kita tidak pergi terlalu jauh?" Tanya Asura.
"Belum, kita masih jauh dari tujuan." Jawab Izuru.
"Sebenarnya aku ingin menikmati perjalanan santai dengan Izuru, tapi aku tidak tahan kalau seperti ini terus."
Tiba-tiba terdengar suara pepohonan jatuh dan hancur. Izuru terkejut dan saat ia melihat kebelakang Asura dalam wujud naga langsung menangkap Izuru kemudian membawanya terbang di atas hutan.
"Uwaaaa....! Asura...! Kenapa tiba-tiba sekali!?" Teriak Izuru tergantung di kaki Asura.
"Maaf, aku tiba-tiba berubah." Kata Asura, ia lalu melemparkan Izuru ke atas punggungnya.
"Uwaaa.....! Aduh...!" Teriak Izuru membentur punggung naga Asura.
"Di mana tempatnya?" Tanya Asura.
Izuru berusaha membuka petanya yang terus bergerak terkena terjangan angin, sementara tangannya terus gemetar karena takut jatuh.
"Mungkin beberapa kilometer lagi! Terus terbang lurus saja!" Kata Izuru tidak jadi membuka peta.
"Baiklah, pegangan yang erat!" Asura melaju lebih cepat.
Mereka terbang dengan cepat di atas dataran hijau. Sungai, bukit, dan lapangan kosong, itu yang Izuru lihat di dalam hutan itu. Terlihat juga pemukiman warga di kaki gunung.
"Mungkin kita sudah dekat. Turun di sini saja!" Kata Izuru. Ia lalu melihat sebuah rumah tua di tengah hutan, kebetulan sekali Asura sedang menuju ke sana untuk mendarat karena tidak ada dataran kosong lain di sekitar sana.
"Apakah peninggalan Gorden ada di rumah tua itu?" Tanya Izuru dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1