
Suasana sunyi dengan angin malam yang terus berhembus menggerakkan dedaunan dan lentera-lentera yang tergantung untuk menerangi malam.
Walaupun malam itu terasa dingin, tapi wajah Izuru terus berkeringat dan terlihat pucat. Dalam tidurnya, Izuru dibayangi oleh penglihatan mengerikan.
Terlihat ribuan tubuh pasukan yang sudah mati berserakan di tanah. Lalu muncul tangan seseorang yang diangkat ke atas, kemudian muncul cahaya terang yang menyerupai tombak dalam jumlah yang banyak.
Tombak-tombak itu lalu menghujani daratan yang penuh dengan prajurit berzirah lengkap. Menusuk satu per satu tubuh mereka, menembus lapisan besi pelindung. Darah keluar dari semua celah yang ada, membasahi tanah kering di tempat itu.
"Apa yang terjadi..? Kenapa aku ada di sini...?" Tanya Izuru berada di tengah-tengah kejadian itu. Melihat segalanya dengan perasaan bingung dan takut yang bercampur aduk.
Ia kemudian melihat seorang ksatria gagah dengan zirah emas di kepung oleh ratusan prajurit. Ksatria itu mengeluarkan pedangnya dan memotong semua prajurit yang mengepungnya dengan sekali tebasan.
Tangan, kaki, dan kepala manusia berserakan di tanah. Salah seorang yang hidup dan kakinya terpotong mencoba untuk lari, dengan menyeret tubuh bagian bawahnya dan menggunakan kedua tangan untuk bergerak.
Tapi, Ksatria itu tampak tidak memiliki rasa iba. Dengan cepat ia memunculkan tombak emas bersinar di udara dan langsung melesat ke arah prajurit itu. Tombak itu menusuk kepalanya dari belakang sampai menembus ke depan, seketika membunuhnya.
Lalu di tengah semua itu, seorang gadis berambut panjang datang menghampiri Ksatria itu melewati tumpukan mayat prajurit. Saat sudah cukup dekat, gadis itu berlari sambil bersiap dengan pedangnya ksatria itu.
Suara tebasan terdengar di tengah keheningan. Pedang terlempar dan kepala gadis itu jatuh ke bawah.
...*****...
Destra tiba-tiba terbangun karena mendengar suara aneh di dekatnya. Ia lalu melihat ke bangku di seberangnya, Izuru sudah tidak ada di sana. Pintu depan juga terbuka lebar.
Dari ruangan lain Asura datang dan bertanya. "Suara apa tadi? Di mana Izuru?" Tanya Asura terkejut melihat bangku tempat Izuru tidur kosong.
Di luar Izuru berjalan cepat dengan nafas berat yang tidak beraturan, juga ekspresi wajah yang terlihat takut, panik, terkejut, dan bingung. Tubuhnya terlihat lemas, bahkan ia sesekali hampir terjatuh.
Izuru terus berjalan tanpa arah di tengah tempat kosong bagian pinggir Fhsyle. Izuru tiba-tiba saja terjatuh sambil bertekuk lutut dan tangannya yang menyangga ke bawah. Ia terus bernafas berat dan kemudian muntah.
Asura dan Destra berlari keluar mencari Izuru. Mereka lalu melihat Izuru di tengah lapangan kosong.
"Itu dia!" Kata Destra menunjuk ke depan dan langsung berlari ke sana.
"Di mana!? Hey tunggu aku!" Kata Asura mengikuti Destra.
Izuru yang selesai memuntahkan banyak hal kemudian kembali bangun dan terus berjalan maju. Sampai tiba-tiba Destra menarik baju Izuru sampai dia jatuh kebelakang. Ternyata Izuru hampir saja jatuh dari pinggir Fhsyle.
"Hey ada apa dengan mu?" Tanya Destra menyeret Izuru menjauh dari pinggir.
__ADS_1
Asura lalu datang dan bicara di depan Izuru. "Izuru apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Kau berkeringat banyak sekali!" Kata Asura.
Tapi dalam penglihatan Izuru, Destra dan Asura terlihat seperti prajurit tanpa kepala yang ia lihat dalam mimpi. Hal itu seketika membuat Izuru ketakutan melihat mereka berdua.
"Lepaskan...! Pergi dari ku!" Teriak Izuru memberontak.
"Ada apa denganmu!?" Tanya Destra menahan Izuru tetap di tempat.
"Izuru, ini kami! Sadarlah!" Kata Asura.
Dari atas menara, Iona dan Lauren mendengar keributan itu. Mereka melihat dari jendela dan Iona langsung menyadari keadaan.
"Ada sesuatu yang gawat, ayo kita ke sana!" Kata Iona lalu pergi keluar. Setelah menuruni tangga memutar ia segera berlari ke arah mereka.
Izuru akhirnya berhasil lepas dan berlari, Destra jatuh karena terdorong oleh Izuru. Asura tampak ingin mengejar tapi, ia tiba-tiba berhenti.
"Ke arah mana Izuru lari!?" Tanya Asura.
"Dia tepat di depanmu!" Jawab Destra.
Setelah mendengar jawaban itu Asura segera berlari ke arah depan mengejar Izuru. Dan dari depan ada Iona yang juga berlari mendekat. Izuru juga melihat Iona sama persis dengan Asura dan Destra. Saat sudah cukup dekat, Izuru menghindari Iona dan kemudian berlari melewatinya.
Izuru berlari dan melewati bayangan seseorang dan tiba-tiba saja ia jatuh tak sadarkan diri. Orang itu adalah Lauren yang kemudian mengecek keadaan Izuru di sana. Semuanya lalu datang menghampiri mereka.
"Izuru! Kau tidak apa-apa?" Tanya Asura melepaskan tangan Iona dan langsung duduk melihat Izuru.
"Lauren, apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Iona.
"Aku menggunakan mantra tidur padanya."
"Hebat, kau bisa melakukan itu juga!"
"Tapi, hanya beberapa menit saja." Sambung Lauren.
"Jadi kita harus cepat membawanya ke dalam!" Kata Destra.
Mereka kemudian membawa Izuru ke dalam rumah bersama-sama. Izuru di tidurkan kembali di tempatnya dan pintu depan di kunci.
"Apa kita perlu mengikatnya juga? Mungkin dia akan lari lagi." Tanya Destra.
__ADS_1
"Kita bisa pakai obat penenang milik Meiro! Pasti dia membawa satu!" Kata Asura, kemudian datang ke tempat Meiro yang masih tertidur pulas.
Asura membuka tas obat-obatan milik Meiro dan melihat botolnya satu per satu. Tidak ada tulisan apapun, hanya botol kaca polos. Hal itu membuat Asura kebingungan.
"Destra, kau tahu yang mana obat penenang?" Tanya Asura.
"Mana kutahu? Aku tidak pernah menyentuh barang-barang miliknya. Bangunkan saja anak itu, mudah kan?" Jawab Destra.
"Meiro... Meiro... Ayo bangun! Kita butuh bantuan mu!" Kata Asura sambil menggoyang-goyangkan badan Meiro. Tapi tidak kunjung bangun.
"Bagaimana bisa bangun kalau kau lembut begitu. Lihat ini!"
Destra mengangkat tubuh Meiro sampai terlihat berdiri tegak. Lalu, dilepaskan begitu saja. Meiro yang masih tertidur langsung jatuh membentur lantai dengan keras.
"Aduh...! Kepalaku!" Teriak Meiro langsung terbangun. Ia menggosok-gosok dahinya yang merah, dengan wajah yang masih terlihat sangat mengantuk.
"Apa kau gila!?" Tanya Asura.
"Tenang saja. Aku dengan necromancer itu punya tulang yang kuat. Mereka bahkan tulang mereka masih utuh walau sudah terkubur ribuan tahun." Jawab Destra.
"Meiro, kita butuh bantuan mu!"
"Ha...?" Tanya Meiro dengan lemas.
"Yang mana obat penenang milikmu?" Tanya Asura meletakan tas obat-obatan di depan Meiro.
"Obat penenang...? Untuk apa? Rusa?" Tanya Meiro.
"Bukan! Untuk manusia!"
"Hoaamm....!" Meiro menguap, tangannya sambil mencari-cari di dalam tas.
"Ini...." Meiro memberikan sebuah botol pada Asura.
"Terima kasih ya! Silahkan tidur lagi!" Kata Asura segera beranjak pergi. Meiro juga langsung menjatuhkan diri ke bantal dan lanjut tidur.
Setelah diberikan obat penenang, Izuru kembali terlihat tidur dengan tenang di tempat semula.
"Ini benar-benar hari yang berat untukmu ya?" Kata Asura sambil memandangi wajah Izuru dan mengelus rambutnya.
__ADS_1
Bersambung...