
Pagi yang tenang di rumah baru Izuru, Rin, dan Iona. Karena terlalu panjang jadi kita singkat jadi "IRI"! Izuru, Rin, Iona! Nama yang bagus bukan? Yah intinya pagi itu Iona pergi ke kamar Izuru. "Hoy, bangun!" Teriak Iona sambil menggoyang-goyangkan Izuru yang terbaring menghadap kanan di kasur.
"Pergilah, aku masih ngantuk!" Kata Izuru tanpa bergerak sedikitpun.
"Dasar pemalas, kalau begitu aku akan suruh Rin membangunkan mu." Kata Iona memegang gagang pintu hendak membuka pintu. "Kau tidak tahu kan? Apa yang Rin lakukan pada kelinci tangkapannya di dapur? Mungkin dia akan melakukan hal yang sama padamu." Kata Iona menakut-nakuti Izuru.
Izuru langsung membuka matanya lebar, lalu bangun. "Aku sudah bangun!"
"Cepat keluar." Kata Iona keluar dari kamar di susul Izuru. Lalu mereka berdua duduk di meja makan yang ada di depan pintu kamar Izuru, beberapa saat kemudian Rin datang dari dapur membawa piring berisi beberapa makanan. Mereka bertiga kemudian makan bersama, Iona tampaknya ingin mengatakan sesuatu. "Tanganmu sudah bisa di gerakkan?" Tanya Iona.
"Hmm? Iya, sudah lebih baik sekarang."
"Kalau begitu bisa keluar rumah kan?" Tanya Iona.
"Apa kita ingin mengambil quest lagi?" Tanya Izuru.
"Tidak, Asura ingin mengajakmu jalan-jalan." Jawab Iona lalu memakan makanannya.
"Hah....!!!?? Tidak tidak tidak! Aku tidak mau!"
"Kau bilang sudah lebih baik kan? Tabib yang memeriksa mu kemarin juga bilang kalau kau harus mulai menggerakkan kakimu itu. Untuk jaga-jaga aku meminta Asura mengawasi mu."
"Aku sebenarnya masih sakit, mungkin masih harus berbaring beberapa hari lagi." Kata Izuru membuat alasan.
"Begitu ya...?" Tiba-tiba Iona melempar garpu ke arah Izuru.
Izuru terkejut dan segera menangkapnya dengan kedua tangan. "Hampir saja, apa-apaan kau ini?" Tanya Izuru berdiri dari kursi melihat Iona menatapnya dengan wajah datar. "Aduh, tanganku!"
"Sekarang aku tahu tanganmu tidak apa-apa, kakimu juga tampaknya sangat sigap. Jadi, sudah di putuskan." Kata Iona.
"Tunggu sebentar! Kau tidak mengerti, Rin tolong aku!"
"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan dan aku tidak mau tahu." Kata Rin sambil memakan makanannya.
Seseorang mengetuk pintu depan. "Itu dia sudah datang." Kata Iona beranjak dari kursi hendak membukakan pintu. Tapi langkahnya terhenti karena Izuru menarik tangannya.
__ADS_1
"Tunggu, jangan lakukan itu padaku!" Kata Izuru memohon.
"Sebenci itu kah kau pada Asura?" Tanya Iona.
"Aku bukannya benci, tapi ada sedikit masalah."
"Jadi kau sudah punya yang lain?"
"Bukan seperti itu maksudku!"
"Kau gugup saat bersama wanita?"
"Bukan itu juga!"
"Kalau begitu katakan yang jelas." Kata Iona.
"Aku sulit mengatakannya, intinya... Eh?" Izuru berhenti bicara dan melihat Iona sudah pergi membukakan pintu. "Waaaa....!!!??" Teriak Izuru histeris.
"Masuklah, Izuru..!" Panggil Iona.
"Mau ke mana kau?" Tanya Iona di belakang Izuru. Lalu Iona pergi ke ruang tamu dengan menyeret Izuru menemui Asura yang sedang duduk. "Ini dia orangnya. Ingat ya Izuru, aku tidak akan membukakan pintu untukmu sebelum sore, jadi nikmati perjalanan kalian!" Kata Iona mengancam Izuru dengan tersenyum.
Akhirnya Izuru dan Asura berjalan di kota berdua, Izuru yang tangannya masih di balut kain. Mereka tampaknya tidak bicara satu sama lain, mereka juga sedikit menjaga jarak saat berjalan. "Ahh... Ini canggung sekali! Aku tidak punya apapun untuk di bahas sekarang." Kata Asura dalam hati. Lalu ia melihat ke arah Izuru yang memalingkan pandangannya ke samping, kemudian Asura mengumpulkan tekad untuk memulai pembicaraan. "Jadi, kita mau ke mana?" Tanya Asura.
"Iona bilang aku hanya harus berjalan-jalan sedikit, aku juga belum tahu semua tempat di kota ini." Jawab Izuru.
"Aku tahu beberapa tempat yang bagus, mau mampir sebentar?" Tanya Asura.
"Ya, terserah saja."
"Kalau begitu ayo lewat sini!" Kata Asura menunjukan jalan sambil mencoba menggandeng tangan Izuru.
Izuru tampaknya sadar dan mencoba menghindar dari tangan Asura. "Tanganku masih belum sembuh dan sekarang akan sakit lagi!?" Izuru menghindari tangan Asura, tapi Asura mencoba menggandengnya lagi dengan cepat. "Tidak, ini sudah berakhir! Eh?" Izuru terkejut, ternyata Asura memegangnya dengan lembut dan rasanya kukunya juga sudah tidak setajam dulu. "Ini tidak menyakitiku seperti waktu itu, apa dia melakukan semua ini demi aku? Tidak, itu tidak mungkin." Kata Izuru dalam hati, masih tidak menyadarinya sama sekali. Dasar tidak peka! Semua cowok itu sama, btw author juga cowok hehe...
"Ini dia, kita sudah sampai!" Kata Asura sampai di sebuah air mancur besar di tengah taman yang ramai di kelilingi banyak orang. "Bagaimana?"
__ADS_1
"Ini, bagus. Tapi sedikit ramai."
"Iya, taman ini memang ramai saat pagi hari." Kata Asura. Lalu Izuru melihat air mancur itu lebih dekat dan kemudian melihat ke kolam di bawah air mancur itu, terdapat banyak sekali koin-koin kecil di dalamnya.
"Kenapa banyak uang di sana?" Tanya Izuru sambil menunjuk ke bawah. Asura lalu ikut melihat ke bawah.
"Oh itu? Biasanya orang-orang akan melemparkan uang dan membuat permohonan, seperti sumur permohonan." Jelas Asura.
"Apa permohonannya benar-benar bisa jadi nyata?" Tanya Izuru.
"Entahlah, tapi menyenangkan melakukan permohonan, walaupun kita tidak tahu apa itu akan jadi kenyataan atau tidak."
"Begitu?"
"Apa Izuru juga mau coba?" Tanya Asura sambil menjulurkan tangannya yang membawa sebuah koin perunggu.
"Tidak usah, lagi pula itu hanya membuang-buang uangmu saja." Jawab Izuru menolak sambil mengayunkan kedua tangannya di depan dada.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin membuat permohonan, jadi sekalian saja." Kata Asura sambil tersenyum. Izuru terpaksa menerima, Asura juga mengambil satu keping lagi untuknya. "Lempar uangnya lalu katakan permintaan dalam hati. Siap, satu dua tiga!" Kata Asura, lalu mereka berdua melempar uang itu ke dalam kolam bersamaan.
"Semoga aku bisa menjadi seorang pahlawan di dunia ini." Kata Izuru dalam hati sebagai permintaannya.
"Semoga permintaan apapun yang Izuru minta agar menjadi kenyataan." Kata Asura dalam hati sebagai permintaannya. "Eh, lihat itu!" Kata Asura berbalik sambil menunjuk ke suatu arah.
"Apa, kios makanan?" Tanya Izuru. Akhirnya beberapa menit kemudian, Izuru duduk di kursi sekitar air mancur itu dengan membawa kue dengan krim putih tebal. Asura yang di sampingnya juga sedang memakan kue yang sama. Izuru menggigit kuenya, "enak sekali." Kata Izuru terkejut lalu menggigitnya lagi.
"Syukurlah kalau kamu suka. Ngomong-ngomong setelah ini, kita akan ke suatu tempat."
"Suatu tempat, ke mana?"
"Mana saja, yang penting sedikit jauh dari orang-orang."
"Apa? Maksudnya tempat sepi? Kenapa Asura ingin ke tempat sepi bersamaku?" Tanya Izuru dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1