
"mereka meninggalkanku. Itu karena aku bukan seorang pahlawan, karena aku lemah, karena aku tidak bisa apa-apa!" Kata Izuru dalam hati masih tersungkur di tempat yang sama. "Dia mengambil semuanya, semua yang ku punya! Teman-temanku yang mendampingiku selama ini, walaupun hanya sebentar. Tapi aku tidak bisa merelakan mereka begitu saja."
Izuru lalu bangun dengan memegangi perutnya dan menutupi matanya dengan pergelangan tangan. "Semuanya... Hiks... Semuanya telah pergi, aku sendirian sekarang. Hiks..." Kata Izuru menangis sambil menutupi matanya.
Izuru lalu berjalan di jalanan kota dengan membawa pedangnya yang sudah terpotong itu. Semua orang juga sedikit menjauh dari Izuru, mereka semua melihat dan berbisik satu sama lain. "Itu orangnya kan?" Bisik salah satu warga. "Iya, itu orang yang mencoba melawan Tuan Shun." Bisik balik.
Izuru terus berjalan tanpa mempedulikan mereka, meskipun Izuru mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Izuru lalu sampai di air mancur, ia memandangi ke bawah kolam. Izuru juga melihat koin yang pernah ia lemparkan bersama Asura. "Kenapa, kenapa kau tidak mengabulkan keinginanku!" Teriak Izuru lalu melemparkan pedangnya ke dalam kolam. Lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Izuru?" Seseorang memanggil Izuru dari belakang. Itu ternyata Asura yang memanggil Izuru dengan terengah-engah dengan masih memakai seragam pelayannya. Izuru menoleh ke arah Asura, ia lalu berjalan pelan ke arahnya.
"Asura..." Kata Izuru berlari dan memeluk Asura lalu menangis di pelukannya. "Orang itu! Hiks... Orang itu mengambil semuanya! Hiks..." Kata Izuru sambil menangis.
"Aku sudah dengar semuanya, mereka melakukannya demi orang banyak. Jadi berhentilah menangis." Kata Asura menenangkan Izuru.
"Tapi mereka! Mereka lebih memilih Shun, kerena dia adalah yang terpilih. Sementara aku? Aku hanya sampah."
"Jangan berkata seperti itu. Aku yakin, suatu saat nanti kamu juga bisa menjadi sepertinya." Kata Asura mencoba menghibur Izuru.
"Apa aku bisa? Aku hanya manusia biasa, aku bahkan tidak pernah berkembang."
"Jika kamu berusaha dengan keras. Pasti kerja kerasmu akan terbayar." Kata Asura, lalu mengangkat wajah Izuru yang masih basah dengan air mata dari dekapannya dan menyentuh pipi Izuru. "Aku akan selalu mendukungmu." Kata Asura dengan tersenyum pada Izuru.
Izuru terus menatap mata Asura, lalu ia menghapus air matanya dan memegang tangan Asura. "Terima kasih, Asura. Maafkan aku yang selalu mengabaikan mu." Kata Izuru lalu menggenggam tangan Asura. "Aku akan berusaha." Kata Izuru lalu ia pergi meninggalkan Asura.
"Berjuanglah, Izuru. Aku juga tidak percaya mereka mengkhianatimu sampai seperti ini. Mereka membuatmu terluka parah, lalu mereka membuatmu menangis. Aku tidak akan membiarkan mereka begitu saja." Kata Asura geram sambil menggigiti kukunya, nafasnya mulai mengeluarkan asap dan percikan api.
__ADS_1
Sementara itu Izuru pergi ke guild, lalu ia melihat ke papan quest, kertas-kertas quest yang menempel berdempetan di papan. "Aku tidak peduli apa quest nya, selama itu bisa membuatku menjadi lebih kuat!" Kata Izuru dalam hati lalu mengambil banyak kertas sekaligus. Kemudian ia pergi keluar dan masuk ke dalam hutan. Ia melihat kertas Quest pertama, "monster serigala hitam di hutan."
Tiba-tiba serigala yang quest itu maksud muncul dalam jumlah banyak di sekeliling Izuru. Izuru melihat serigala itu mengepungnya, lalu para serigala hitam itu mulai maju menyerang Izuru. Satu dari mereka maju dengan sangat cepat dan langsung di tendang oleh Izuru. Serigala yang lain juga datang dari samping, Izuru segera menangkapnya dan melemparkannya ke arah serigala yang datang dari belakang. Tapi dari samping ada serigala yang tidak Izuru sadari menggigit tangan Izuru sampai darah bercucuran keluar dari tangan Izuru.
"Jangan menghalangiku....!" Teriak Izuru membanting serigala itu, lalu menginjak kepalanya sampai hancur. Izuru terus menyerang semua serigala itu sampai hanya tersisa sedikit yang kabur. Lalu di penglihatan Izuru sebuah tulisan muncul, Level 10. "Hah... hah... Aku berhasil, tanpa senjata. Tapi tanganku masih terasa sakit." Izuru lalu melihat tangannya yang tadi tergigit. Ia terkejut karena melihat urat-urat berwarna ungu muncul dari bekas gigitan serigala tadi. "Ugghh...! Racun? Tidak, aku tidak boleh seperti dulu lagi. Aku harus bertahan! Aku haru...!? Hueekkk..!" Izuru tiba-tiba muntah dan dalam muntahannya itu ada cairan berwarna merah. "Tidak, racun ini tidak akan bisa mengalahkan ku!" Teriak Izuru.
Dan di sisi lain, Asura sedang berjalan pulang kerena ia bergegas mencari Izuru setelah tahu kabar kalau Izuru mencoba menyerang Shun. Tapi saat sampai di depan kediaman Nona Reshieka, Iona ada di sana menunggu seseorang. Asura menghentikan langkahnya karena terkejut dan mengingat semua yang terjadi pada Izuru kerena Iona. "Mau apa dia ke sini?" Tanya Asura dalam hati, lalu ia melanjutkan langkahnya.
Iona melihat Asura menuju ke arahnya. "Asura! Aku mencari mu dari tadi. Apa kau bisa membantuku melihat keadaan Izuru di rumah?" Kata Iona berlari mendatangi Asura.
"Bisa-bisanya kau meminta hal itu padaku." Jawab Asura sambil menunduk.
"Apa maksudmu..? Akkhhh..!?" Tiba-tiba Asura mencekik Iona dan mengangkatnya dengan cepat.
"Apa mau mu? Bahkan setelah semua yang kau lakukan pada Izuru, kau masih ingin tahu keadaannya?" Tanya Asura dengan tatapan tajam.
"Cepat jawab pertanyaan ku!" Teriak Asura.
"Aku ter...paksa melakukannya! Akkhh...! Aku di besarkan untuk ini, untuk mendamping... Orang yang terpilih!" Jawab Iona sambil menggenggam tangan Asura yang mencekiknya.
"Hanya seperti itu? Aku bahkan punya alasan yang lebih baik untuk melakukan ini!" Asura lalu mengangkat tangannya yang lain dan membuka jari-jarinya sampai kuku-kuku tajamnya terlihat. "Kupikir kau adalah temanku dan Izuru. Ternyata aku salah telah mempercayaimu!" Asura mengarahkan tangannya untuk menyerang Iona yang masih dalam cekikan nya.
Iona tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menatap ketakutan ke arah tangan Asura. Tapi, seseorang menghentikan Asura yang hampir menyentuh Iona. "Apa yang kau lakukan, Asura?" Tanya Fiel datang dan menahan tangan Asura.
"Fiel?" Kata Asura terkejut melihat Fiel.
__ADS_1
"Lepaskan dia." Kata Fiel.
"Cih!" Asura lalu menjatuhkan Iona dan segera masuk ke dalam rumah.
"Uhuk! Uhuk!" Iona batuk terduduk di tanah sambil memegangi lehernya.
"Aku tidak pernah melihat Asura semarah itu sebelumnya." Kata Fiel melihat ke arah Iona. Iona hanya terdiam.
Beberapa saat kemudian, Iona kembali ke mansion besar tempat kelompok Shun berkumpul. "Iona, dari mana saja kau?" Tanya Shun yang ada di depan pintu.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar." Jawab Iona terus berjalan masuk tanpa menghiraukan Shun di sana.
"Oh ya, kita akan berangkat besok malam." Kata Shun ikut masuk ke dalam.
"Aku mengerti." Jawab Iona lalu naik ke atas.
"Hah...! Hah...! Aku tidak akan mengobati luka ini! Biarkan racun ini jadi bagian dari diriku!" Kata Izuru sambil berjalan di kota dengan sedikit membungkuk. Orang-orang melihat ke arah Izuru karena keadaannya yang penuh luka, darah, dan pakaiannya yang sudah sobek.
Izuru lalu masuk ke guild dan meletakan kertas Quest yang sudah ia selesaikan di meja resepsionis. "Semuanya sudah selesai!" Kata Izuru.
"Apa anda tidak apa-apa? Seseorang bisa tolong antar tuan ini ke klinik?" Kata Resepsionis itu memanggil seseorang untuk membantu Izuru.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Berikan saja uangku!"
"Baiklah ini bayaran untuk semuanya." Kata Resepsionis itu memberikan sekantung uang pada Izuru. Lalu Izuru pergi dengan membawa uang itu.
__ADS_1
Bersambung...