
"apa kau tidak bisa keluar dari kamar dan menghabiskan waktu di luar bersama teman-temanmu?" Tanya seorang pria di luar pintu kamar yang terbuka.
"Teman? Memangnya ada orang yang mau berteman denganku?." Tanya seseorang yang duduk di belakang komputer.
"Kau masih memikirkan itu sampai sekarang? Izuru, kau tidak perlu terus memikirkan hal itu. Semua kesalahan bisa dimaafkan, lupakan saja semua yang terjadi dulu." Kata Ayah Izuru.
"Lupakan!? Ayah bilang lupakan...!?" Bentak Izuru berdiri dari kursi.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu! Ayah beruntung aku masih mau berangkat ke sekolah. Walau semua orang berbisik di belakangku, aku masih bisa bertahan!"
"AKU BISA MENGAKHIRI HIDUPKU KAPAN PUN AKU MAU....!"
Ayah Izuru pun terkejut dengan apa yang ia dengar. Izuru lalu kembali duduk di depan komputernya.
"Aku juga masih berharap semuanya akan menjadi lebih baik, jadi tolong jangan ganggu aku lagi." Kata Izuru.
Ayah Izuru menghela nafas dan berkata, "Baiklah, jika kau tidak mau sekolah lagi. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau, tapi tolong jangan katakan hal itu lagi." Ayah Izuru langsung pergi dan menutup pintu kamar.
*****
Sejak saat itu, aku tidak pernah melakukan apapun untuk mengubah hidupku. Yang kulakukan hanya menunggu, seakan semuanya akan berubah dengan ajaib.
Tapi sekarang aku sadar, semuanya membutuhkan perjuangan. Karena itulah aku berada di sini, aku akan melakukan semua yang tidak aku lakukan sebelumnya!
"Argghhhh....! Aku masih harus bangkit!" Kata Izuru perlahan kembali berdiri.
"Akan aku akhiri sekarang juga..." Hira kembali menyalakan api di tangannya dan bersiap menyerang Izuru dari jarak yang cukup jauh.
Hira mengeluarkan energi yang sangat besar, seperti api ungu yang menyembur ke arah Izuru. Semua yang dilewati api itu hancur seketika, dan sebentar lagi akan mengarah kepada Izuru.
"Apa ini sudah selesai?" Tanya Izuru sambil terus melihat cahaya terang yang semakin membesar dari bayangan di matanya.
"Izuru...!!!!" Teriak Iona yang tersungkur di tanah melihat Izuru dari kejauhan.
Izuru sudah merasa pasrah di hatinya, ia langsung menjatuhkan diri ke belakang. Tanpa sengaja membuat tanah tempat ia jatuh retak dan membuat Izuru jatuh ke ruangan misterius di bawah tanah.
Serangan Hira melaju melewati permukaan tanah, tapi tidak cukup dalam untuk menyentuh tempat Izuru.
"Tidak....! Izuru...!" Teriak Iona.
Serangan Izuru berakhir dan semua orang tidak melihat sisa apapun di tempat itu. Hanya terlihat sebuah lubang di tengah-tengah jalur serangan.
"Di mana dia?" Tanya Nishiki.
__ADS_1
"Izuru berhasil menghindar?" Tanya Iona dalam hati, juga berharap.
Hira berjalan mendekati lubang itu dan melihat Izuru terbaring jatuh tak sadarkan diri di dalam sebuah lorong di bawah tanah.
"Keberuntungan kecil itu tidak akan membantumu dua kali." Kata Hira lalu ingin bersiap menyerang lagi.
"Tunggu! Aku akan menjawab semua pertanyaan mu." Kata Nona Reshieka menghentikan serangan Hira. Ia perlahan mencoba bangun dengan keadaan tangannya yang patah.
"Hmm... Apa alasan untuk percaya padamu? Mungkin kau peneliti yang tahu akan banyak hal, tapi bukan berarti kau tidak akan berbohong." Kata Hira berbalik ke arah Nona Reshieka.
"Aku tidak akan berbohong, tapi dengan satu syarat. Kau harus mengakhiri serangan mu dan juga mengakhiri kerja sama dengan Zhagi."
"Baiklah, aku akan melakukannya. Nishiki, tarik semua budak mu." Kata Hira menyuruh Nishiki.
"Baiklah." Jawab Nishiki menghilangkan semua undead yang ia keluarkan.
"Sudah dan sekarang jawab pertanyaan ku. Di mana kau menyembunyikan senjata legendaris itu?" Kata Hira mulai memberikan pertanyaan.
"Tidak ada senjata legendaris di kota ini." Jawab Nona Reshieka.
"Berhenti mempermainkan ku."
"Tidak, itu sungguhan. Memang tidak ada senjata legendaris di kota ini. Jika memang ada sebelumnya, pasti sudah tidak ada lagi disini." Kata Nona Reshieka.
"Itu berbanding terbalik dengan apa yang Zhagi katakan. Dia mengatakan pernah melihat seseorang membawa senjata legendaris di kota ini."
*****
Di dalam hutan, Gorden masih berjalan ke tempat Zhagi menunggu. Lokasi GoldWar tidak jauh lagi, hanya tinggal beberapa langkah dan semuanya akan terbongkar.
Cahaya terang bersinar setelah Gorden mencapai ujung hutan, dan di sana terlihat Zhagi yang menunggu seakan-akan tahu bahwa Gorden sedang menuju kemari.
"Akhirnya kau datang sendiri kehadapan ku, Crgoshiro..." Kata Zhagi berbalik kearah Gorden.
"Aku ingin minta maaf pada kalian berdua, sebelum aku menyerahkan diriku pada kerajaan Hyron."
Tiba-tiba sebuah kapak terlempar kearah Gorden, dengan cepat ia menghindar sampai terjatuh.
"Kalian berdua? Apa maksud perkataan mu itu?" Tanya Zhagi perlahan berjalan mendekat.
"Aku hanya ingin bicara langsung pada kau dan juga Aira." Jawab Gorden.
"Apa kau tidak ingin? Kau sendiri yang telah membunuhnya....!"
__ADS_1
Kata-kata itu bagaikan pedang yang menusuk ke hati Gorden. Perasaan tidak percaya, rasa bersalah, dan kesedihan bercampur menjadi satu.
Gorden bangun dengan keadaan lemas dan gemetaran. "Jadi, selama ini...? Aira... Adalah salah satu pasukan yang aku bantai?" Tanya Gorden dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi kau baru menyadarinya? Aku mengejar mu sampai sekarang bukan karena pengkhianatan yang kau lakukan, tapi ini untuk membalaskan dendam Aira!" Kata Zhagi terus berjalan mendekat, sampai akhirnya ia berada di depan Gorden dan langsung memukul pipinya sampai kembali jatuh.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan itu? Semuanya sangat sempurna sampai kau membunuhnya! Dia percaya padamu, tapi APA YANG KAU LAKUKAN....?!"
Setelah mendengar kata-kata Zhagi, Gorden mengingat kembali masa lalu...
*****
Di pagi yang cerah di kerajaan Hyron, seorang gadis dengan zirah berlari menyusuri jalanan kota. Ia tampak terburu-buru ke suatu tempat.
"Hah... Hah... Apa aku masih sempat?"
Di depan terlihat dua orang yang tengah membawa barang dagangan bersama di tengah jalan. Gadis itu tidak berniat berhenti dan langsung menerobos kearah mereka sampai barang-barang yang mereka bawa jatuh berceceran.
"Hey...! Kembali kau anak nakal...!" Teriak salah satu orang itu.
Gadis itu menoleh kebelakang sambil terus berlari. "Maaf...!" Teriaknya tanpa berhenti berlari.
Setelah beberapa saat, ia sampai di depan gerbang kerajaan yang terbuka. Gadis itu kelelahan, ia berhenti di sana dan bernafas terengah-engah. Dari dalam seseorang keluar dan menghampiri gadis itu.
"Aira, kau ke mana saja?" Tanya seorang remaja laki-laki.
"Maaf, Zhagi. Aku bangun kesiangan." Jawab Aira.
"Sudah kuduga seharusnya aku membangunkan mu tadi. Ayo pelatihan akan segera dimulai!" Kata Zhagi menarik tangan Aira dan berlari masuk bersama.
Di halaman kerajaan, banyak orang dari berbagai usia, jenis kelamin, dan beberapa ras berbeda datang untuk mengikuti pelatihan menjadi pasukan keamanan Kerajaan Hyron.
Semua orang berbaris dengan rapi. Setelah pidato dari Kepala Pasukan Keamanan, semua anggota di bagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan usia.
"Baiklah, untuk anggota berumur 16 sampai 19 tahun akan dipimpin oleh Crgoshiro." Kata petugas.
"Crgoshiro!? Dia prajurit muda yang memenangkan banyak penghargaan itu!?" Tanya salah satu anggota.
"Dia benar-benar akan melatih kita?"
"Kyaaa...! Aku tidak sabar ingin berkenalan dengannya!" Kata salah satu anggota wanita.
Dari sebuah lorong seseorang dengan baju zirah berwarna emas berjalan keluar dan muncul di hadapan semua anggota pelatihan muda.
__ADS_1
"Halo semuanya, aku Crgoshiro akan menjadi pelatih kalian semua."
Bersambung...