
"makhluk apa dia ini?" Tanya Iona dalam hati tersungkur di tengah gang dengan luka yang semakin membesar. Iona lalu mengangkat tubuhnya sedikit dengan satu tangan dan tangan yang lain di rentangkat ke samping. "Kau tidak akan bisa menghindar di tempat sempit seperti ini, Shralut Lancer!" Kata Iona, lalu tombak es muncul di tangannya dan langsung di luncurkan ke arah makhluk di depannya.
"Percuma saja." Kata makhluk itu tiba-tiba menjadi kabut tebal saat tombak es Iona meluncur ke arahnya. Tombak itu menembus tubuh makhluk itu dan mengenai dinding rumah warga seketika membeku.
"Apa!?" Kata Iona terkejut.
Makhluk itu bergerak dengan cepat ke arah Iona dan menatapnya tepat di depan wajah Iona. "Akan kubawa kalian satu per satu." Kata Makhluk itu mengarahkan tangannya ke wajah Iona.
"Kyyaaaa....!!" Teriakkan Iona hanya terdengar setengah detik dan semuanya langsung manjadi sunyi.
*****
"Halo! Pak tua...?" Panggil Izuru di depan pintu rumah pria tua tadi.
"Hey kau tidak sopan!" Kata Karin di belakang Izuru.
"Kenapa? Aku tidak tahu siapa nama pak tua itu." Kata Izuru.
"Ayo kita tunggu di dalam saja." Kata Shun lalu masuk melewati Izuru. Kemudian mereka berempat masuk ke dalam rumah itu dan menunggu pak tua itu pulang bersama Iona.
"Aku haus, ada yang bawa minum?" Tanya Izuru.
"Ambil saja di dapur." Jawab Rin.
"Di sini kan dapurnya?" Tanya Izuru di dekat jalur ke ruangan lain. Tanpa menunggu jawaban Izuru langsung masuk ke ruangan itu, ternyata benar dapur. Tapi di sana tampak kumuh dan ada beberapa makanan yang sudah bau juga berjamur di meja. "Apa pak tua itu tidak tahu cara membuang sampah?" Tanya Izuru sambil menutup hidung dan mulutnya. Izuru lalu mendekat ke meja makan dan menuangkan air dalam teko ke dalam gelas. Saat Izuru hendak meminumnya, ia tiba-tiba berhenti dan melihat ke air dalam gelas. "Kenapa baunya aneh?" Tanya Izuru, lalu membuka tutup teko itu. Ternyata di dalamnya juga sudah berjamur.
"Mereka lama sekali, apa aku cari saja?" Tanya Shun.
"Tidak usah Tuan Shun." Kata Karin.
"Guys, aku menemukan sesuatu yang aneh." Kata Izuru keluar dari dapur.
"Ada apa?" Tanya Rin.
"Lihat ini." Kata Izuru mendekat dan memperlihatkan isi teko itu pada semua.
"Kelihatannya sudah lama tidak di gunakan." Kata Shun.
"Bukan hanya kelihatan, ini memang sudah lama sekali tidak digunakan. Dan rumah ini seperti sudah lama sekali tidak di tinggali." Kata Izuru.
"Tapi pak tua bilang ia tinggal di sini." Kata Rin.
__ADS_1
"Mungkin dia sedih karena istrinya meninggal." Kata Karin kembali duduk.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Shun.
"Biasanya orang tua memang seperti itu kan? Istrinya meninggal, tidak punya anak, dan saudara. Kemudian dia jadi depresri dan tidak bisa merawat dirinya sendiri. Atau jangan-jangan pak tua itu mengira kak Iona adalah istrinya dan kakak sedang menghadapi kakek-kakek *****."
"Pikiranmu itu ngawur sekali." Kata Izuru. Dari luar terdengar suara keramaian, Rin lalu mencoba melihat keluar jendela.
Rin melihat beberapa orang berkumpul di depan salah satu rumah warga di seberang rumah ini. "Hey, ada kerumunan di sana." Kata Rin.
"Apa itu Iona!?" Tanya Shun lalu berlari keluar diikuti yang lain. "Permisi, maaf, permisi." Kata Shun masuk ke dalam kerumunan dan ternyata warga mengelilingi pak tua yang tergeletak lemas. "Bapak ini!? Apa yang terjadi!?" Tanay Shun duduk di dekat pak tua itu.
"Aku menemukannya tergeletak di gang. Sepertinya dia di serang." Kata salah satu warga di sana.
"Di serang? Apa anda melihat gadis yang bersama bapak ini?" Tanya Shun.
"Iya! Aku melihat seseorang berbadan besar membawa gadis ke arah istana."
"Istana!? Tapi, kenapa?" Tanya Izuru.
"Aku juga tidak tahu."
"Ayo temui raja! Kita harus bicara soal Iona." Kata Shun lalu berjalan pergi bersama yang lain. Mereka lalu sampai di seberang gerbang kerajaan, tapi di sana sudah ada banyak warga yang berkumpul seperti tadi. "Astaga ada apa lagi ini?" Tanya Shun.
"Mata-mata?" Tanya Izuru, dan dua prajurit yang membawa seseorang muncul di balkon istana.
"Ini dia mata-matanya! Eksekusi juga akan segera di laksanakan!" Kata prajurit menunjukan orang yang terikat tangan dan mulutnya.
"Iona!?" Kata Izuru terkejut.
"Apa apaan dia itu, Iona bukan mata-mata! Aku harus bicara pada raja!" Kata Shun berjalan ke arah gerbang.
"Jangan!" Kata Izuru menarik pundak Shun.
"Apa kau ini? Lepaskan!" Kata Shun memberontak.
"Kalian ayo bawa orang ini kembali!" Kata Izuru menarik Shun di bantu yang lain.
"Tenanglah Tuan Shun!" Kata Karin ikut menarik.
"Apa apaan kalian!? Kita harus mengambil Iona!" Kata Shun, lalu mulutnya di tutup oleh Karin. "Emm...mm..!"
__ADS_1
"Maaf Tuan Shun, tapi anda harus diam!" Kata Karin. Lalu mereka membawa Shun kembali ke rumah pak tua.
"Fuah...! Apa-apaan kalian ini!?" Tanya Shun di lepaskan mulutnya.
"Kau ini bodoh atau apa?" Tanya Rin. "Kalau kau kita ke sana, mereka pasti juga akan mengira kita juga mata-mata." Sambung Rin.
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Tentu saja kita harus menyusup dan keluar tanpa membuat masalah." Kata Izuru.
"Tapi kita tidak punya informasi tentang keamanan istana." Kata Rin.
"Aku bisa membantu kalian!" Kata seseorang di belakang mareka.
"Waaaaa...! Siapa kau!?" Tanya Izuru.
"Aku orang yang tadi menemukan bapak itu."
"Oh kau, kenapa kau di sini?" Tanya Izuru.
"Aku baru saja meletakan bapak tadi di kamarnya."
"Jadi bagaimana keadaannya?" Tanya Shun.
"Dia sudah meninggal. Tadi kalian bilang mau menyusup ke dalam istana kan?" Tanya orang itu.
"Jadi kau dengar semuanya!? Kau tidak akan memberitahu siapapun kan?" Tanya Izuru.
"Tidak, justru aku akan membantu kalian!" Kata orang itu.
"Bagaimana caramu membantu kami?" Tanya Izuru melipat tangannya.
"Aku tahu jalan masuk rahasia ke dalam istana."
"Kedengarannya bagus. Tapi kenapa kau ingin membantu kami?" Tanya Izuru.
"Sudahlah, bukankah bagus kalau dia membantu kita?" Kata Shun bangun dari tempat duduk. "Kami sangat berterima kasih kalau kau ingin membantu." Sambung Shun.
"Sama-sama, akan kuantar kalian nanti malam." Kata orang itu.
...*****...
__ADS_1
"Uhhkk..!" Iona dilemparkan ke dalam jeruji besi dengan keadaan terikat. Lalu seseorang ikut masuk ke dalam sel dan melepas ikatan tangan Iona. "Apa aku akan di lepaskan?" Tanya Iona dalam hati. Orang itu lalu memasangkan rantai di kedua tangan dan leher Iona. Kemudian orang itu pergi keluar dari ruangan itu. Iona tidak bisa berbuat apa-apa di sana dengan kedua tangan yang terborgol, ia melihat ke seberang penjara lain berisi seorang anak kecil. "Kenapa mereka memperbolehkan monster itu masuk ke dalam istana!?" Tanya Iona dalam hati mengingat saat ia di bawa oleh monster yang menyerangnya di gang dan semua prajurit membolehkannya masuk ke dalam istana. "Ini sudah sangat aneh!"
Bersambung...