The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 98 - Pedang di atas Batu


__ADS_3

Izuru dan Asura tampak sedang berada di depan rumah tua yang terletak di tengah hutan. Izuru mengintip melalui jendela depan dan yang ia lihat hanyalah rumah kosong dengan berbagai furnitur tua.


"Sepertinya tidak ada yang tinggal di sini. Kita masuk saja?" Tanya Izuru.


"Tidak ada yang tinggal, bukan berarti tidak ada yang punya, 'kan? Bisa saja pemiliknya punya rumah lain di sekitar sini." Jawab Asura.


"Yang kulihat tadi hanya ada satu desa kecil di kaki gunung, dan itu sudah sangat jauh dari sini."


Izuru lalu berjalan menuju pintu depan dan mencoba membuka pintu, tapi tidak mau terbuka. Izuru kemudian menggunakan kedua tangannya dan tetap tidak bisa.


"Sepertinya di kunci."


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah itu yang mengagetkan Izuru juga Asura. Dengan cepat Izuru berpindah kebelakang Asura.


"Sepertinya bukan di sini, ayo kita cari di tempat lain saja." Kata Izuru gemetaran.


Izuru dan Asura lalu pergi dari rumah itu dan berjalan mengikuti jalur yang sudah ada. Mereka tampak menghela nafas lega secara bersamaan setelah meninggalkan rumah tua itu, Asura takut membuat pemilik rumah itu marah dan Izuru takut dengan hantu.


Singkatnya mereka terus menyusuri jalur panjang itu dan sedikit kelelahan. Cuaca cerah itu membuat hawa menjadi lebih panas, apa lagi di dalam hutan yang lembab.


"Hah... Panas sekali..." Keluh Izuru mengusap keningnya.


Asura sampai mengikat rambutnya dan membuka sedikit kancing bajunya. "Ini mungkin memang sudah waktunya musim panas." Kata Asura mengipasi diri dengan tangan.


"Apa kau bisa mengeluarkan sihir air atau es?"


"Aku tidak bisa menggunakan 2 elemen itu."


"Sayang sekali, kita sangat membutuhkan itu sekarang."


Izuru melihat ke arah belahan dada Asura, dengan dukungan hawa panas yang menyiksa kepala, Izuru berpikir satu lah yang sangat liar.


"Susu naga." Kata Izuru.


"Hah?" Asura merasa bingung dan agak ragu dengan apa yang ia dengar.


"Sial, apa yang sudah kukatakan bodoh!?" Kata Izuru dalam hati.


"Ah tidak ada apa-apa! Aku tidak bilang su...! Bueh....!" Izuru segera menampar dirinya sendiri saat hampir keceplosan. "Maksudku kau pasti salah dengar, karena cuaca panas ini memang sedikit membuat pikiran kita kacau. Aku saja sedikit pusing sekarang." Jelas Izuru menutup-nutupi perkataannya tadi.


"Benar juga, lebih baik kita istirahat kalau Izuru merasa pusing."


"Ayo kita duduk di batu yang ada pedangnya itu!" Kata Izuru menunjuk ke sebuah batu dengan pedang yang menancap di atasnya.


".... Eh...?"

__ADS_1


"BATU YANG ADA PEDANGNYA....!!?!??" Teriak Izuru terkejut bukan main.


Izuru seketika melupakan tentang pusingnya dan langsung berlari menuju batu itu. Ia dengan cepat memutari dan melihat semua sisi dari batu itu. Pedang yang berada di atasnya berwarna seperti emas dengan sebuah tulisan terukir di salah satu sisi.


"Ini tertulis apa?" Tanya Izuru menyentuh ukiran itu.


Asura melihat dengan dekat dan langsung menyadari sesuatu. "Tertulis Crgoshiro! Ini benda yang kita cari!" Kata Asura.


"Sudah kuduga kita akan menemukannya!"


Izuru lalu berdiri di atas batu itu dan menggosok kedua tangannya. "Aku sudah siap untuk ini. Ayo kita mulai!" Izuru perlahan menggenggam gagang pedang itu dan kemudian menariknya sekuat tenaga.


"Eh... Kok? Arrgghh....!" Izuru mengerang sambil menarik pedang itu sekuat tenaga.


"Ayo Izuru...! Ayo Izuru...! Semangat...! Semangat...!" Sorak Asura memberikan semangat.


"Arrgghhh....! Hah...! Hah... Tidak bisa." Izuru berhenti mencoba dan turun dari batu itu.


"Hmm... Biar kulihat." Asura mendekat melihat bagaimana pedang itu menancap dan memeriksa sekuat apa pedang itu menancap.


"Sepertinya ini memang terjepit sangat kuat." Kata Asura.


"Lalu bagaimana kita mengeluarkannya? Bagaimana kalau kita hancurkan batunya saja?" Tanya Izuru.


"Aku menyerah! Ini memang tidak bisa di cabut." Jawab Izuru.


"Baiklah akan aku lakukan."


Asura lalu berdiri di depan batu itu, ia kemudian mengumpulkan kekuatan di kedua tangannya dan memukul batu itu dengan sangat keras.


"Bagaimana?" Tanya Izuru.


"Aduh!"


"Kau terluka!?" Tanya Izuru mendekat dan langsung melihat tangan Asura. Bagian tangan yang digunakan untuk memukul menjadi lembab berwarna ungu dan sedikit berdarah.


Izuru terlihat sangat terkejut dan merasa bersalah karena menyuruh Asura sampai terluka. "Maaf, seharusnya aku tidak menyuruhmu melakukan itu apa lagi tanpa perlengkapan." Kata Izuru memegang kedua tangan Asura yang terluka.


"Bagaimana pun juga, Asura tetap seorang gadis. Bisa-bisanya aku menyuruhnya seperti itu." Kata Izuru dalam hati.


"Ayo kita pulang." Kata Izuru.


"Huh? Lalu bagaimana dengan pedang ini?" Tanya Asura.


"Kita akan kembali lagi dan mengambilnya dengan alat."

__ADS_1


Giliran Asura sekarang yang menggenggam tangan Izuru. Izuru yang ingin pergi menoleh kembali ke arah Asura. "Jangan menyerah Izuru, aku yakin kali ini pasti bisa!" Kata Asura kembali memberi semangat pada Izuru.


"Terima kasih, tapi tetap saja itu tidak akan mengubah apapun."


"Coba sekali lagi, aku yakin kamu pasti bisa."


"Baiklah, hanya sekali saja."


Izuru kembali naik ke atas batu itu dan menggenggam gagang pedang. Menarik nafas panjang, Izuru lalu menariknya seperti sebelumnya. Tapi bedanya, kali ini pedang itu bergerak.


"Pedangnya!? Sepertinya aku bisa mencabutnya!" Kata Izuru menjadi semangat lagi.


Izuru sekuat tenaga menarik pedang itu perlahan semakin naik dan akhirnya berhasil di cabut.


"Aku berhasil..! Aku berhasil Asura...!" Teriak Izuru sangat senang.


"Selamat! Aku yakin kamu pasti bisa!" Sanjung Asura.


"Terima kasih Asura, untung saja kamu membujukku untuk mencoba lagi. Aku berhutang satu hal lagi padamu." Kata Izuru turun dari batu itu dengan membawa pedang emas itu.


"Sebenarnya aku sudah membuat bagian dalam batunya retak, jadi Izuru bisa menariknya dengan mudah. Aku lebih baik tidak memberitahunya sekarang, ini agar Izuru lebih percaya diri." Kata Asura dalam hati.


"Jadi apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu?" Tanya Asura.


"Hmm... Mungkin akan aku gunakan kalau masih kuat."


"Apa itu tidak terlalu berat?"


"Tidak kok, lihat!" Izuru menggerakkan pedang itu ke atas dan ke bawah. "Eh? Kenapa rasanya lebih berat dari sebelumnya? Mungkin tanganku lelah setelah menariknya tadi."


"Kita pulang sekarang?"


"Ya, aku tidak sabar menunjukkannya pada yang lain." Izuru lalu melanjutkan berjalan di jalan yang ada.


"Tidak mau terbang saja?" Tanya Asura.


"Kau masih terluka, 'kan? Bagaimana jika lukamu menjadi lebih besar saat kau berubah?"


"Secara teknis bentuk naga ku itu sebuah tubuh baru, jadi tidak akan terpengaruh oleh luka di tubuh sebelumnya. Tapi, kalau Izuru ingin berjalan saja tidak apa-apa." Kata Asura lalu berlari kecil menyusul Izuru yang sudah sedikit di depan.


"Kita nikmati saja perjalanan ini." Kata Izuru tersenyum.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak di tengah hutan. Cuaca panas di sana juga sedikit berkurang karena sebuah awan besar muncul tepat di atas mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2