The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 39 - Kembali ke Rumah


__ADS_3

"selamat atas keberhasilan mu, Iona!" Kata Izuru dan Rin berdiri di meja makan, bersama Iona dan juga Asura.


"Terima kasih sudah menyambutku lagi di sini." Kata Iona.


"Kau selalu di terima di sini. Rin, bukannya kau juga pergi bersama dengan Iona, apa kau tidak mau berterima kasih juga?" Tanya Izuru kembali duduk di sebelah Asura.


"Aku hanya ikut-ikutan saja." Jawab Rin, lalu mereka semua mulai makan makanan yang sudah ada di meja.


"Aku heran, memangnya apa spesialnya mereka sampai Izuru mati-matian untuk membawa mereka kembali?" Tanya Asura dalam hati.


"ada apa, Asura? Kau tidak makan?" Tanya Izuru.


"Ah, iya!" Jawab Asura mulai makan makanannya.


"Aku tahu kamu masih belum bisa menerimaku, Asura. Aku benar-benar minta maaf untuk sebelumnya." Kata Iona.


"Baguslah kalau kau sadar." Jawab Asura.


"Hey, jangan bicara seperti itu." Kata Izuru.


"Aku membawa sesuatu sebagai permintaan maaf ku." Kata Iona mengeluarkan sebuah kotak kecil dan meletakkannya di depan Asura.


"Tidak butuh." Kata Asura langsung menolak.


"Ayolah, Iona sudah membelikan itu untukmu." Kata Izuru membujuk Asura.


"Bagaimana kau tahu aku membelinya?" Tanya Iona.


"Aku tadi melihatmu masuk ke sebuah toko, tapi aku tidak tahu toko apa itu." Jawab Izuru.


"Baiklah, ini karena Izuru yang memintanya padaku." Kata Asura lalu mengambil kotak kecil itu dan kemudian membukanya. "Kacamata? Kau pikir aku ini nenek-nenek hah...!?" Tanya Asura dengan tatapan sadis.


"Buk...bukan begitu maksudku!" Jawab Iona.


"Coba kau pakai dulu, siapa tahu itu cocok untukmu." Kata Izuru.


"Baiklah." Asura lalu mencoba memakai kacamata yang di berikan Iona. "Bagaimana?" Tanya Asura dengan wajah merona.


"Terlihat bagus!" Kata Iona dan Rin.


"Benarkah? Bagaimana menurutmu, Izuru?" Tanya Asura.


"Lumayan bagus untukmu." Kata Izuru lalu mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Asura wajahnya menjadi lebih merah, lalu ia melepaskan kacamata itu. "Terima kasih, Iona. Aku akan menyimpannya." Kata Asura.


"Dia sangat mudah terpengaruh pujian." Kata Izuru dalam hati.


"Ngomong-ngomong kapan kita mulai mengambil quest lagi?" Tanya Rin sambil makan.


"Jangan bahas pekerjaan sekarang! Kita itu baru sampai dari begadang 3 hari." Jawab Izuru.


"Kalau tidak segera kerja, kita tidak bisa melunasi rumah ini." Kata Rin.


"Ehh!? Rumah ini belum lunas? Bukannya kalian daapt banyak uang dari hasil menjual kristal?" Tanya Izuru terkejut.


"Kristal yang kita dapatkan itu bukan kualitas yang bagus, bahkan itu kualitas yang sangat buruk. Jadi, dari pada tidak ada yang mau membelinya, kita jual dengan harga murah." Jelas Iona.


"Jadi, kalian dapat berapa? Dan berapa harga rumah ini?" Tanya Izuru.


"30 keping emas, dan harga rumah ini 150 keping emas." Jawab Iona.


"Jadi kapan kita harus membayar cicilannya?" Tanya Izuru lagi.


"3 hari lagi kita harus bayar 35 koin emas." Jawab Iona.


"Sekarang kita harus mencari uang 35 koin emas dari mana!?" Tanya Izuru.


"Baiklah, besok kita harus mulai kerja!" Kata Izuru semangat. Beberapa saat kemudian, semua orang sudah menghabiskan makanan di meja, Rin dan Iona tengah mencuci piring di dapur. Sementara itu Izuru sedang berada di atap latihan push up seperti biasanya di malam hari, di temani Asura.


"19...! 20...! Ahh.. hah.. hah.." Izuru selesai melakukan push up sampai 20. Ia lalu berbaring kelelahan di lantai.


"Izuru berkembang sangat cepat. Aku ingat hari itu kamu hanya bisa melakukan 8 kali push up." Kata Asura duduk di bangku dekat pot-pot tanaman.


"Iya, baguslah aku berkembang cepat." Kata Izuru melihat ke atas langit malam dengan penuh bintang. "Sekarang aku percaya, kalau aku akan bisa menggapai bintang di langit." Kata Izuru mengangkat tangannya seakan tengah menyentuh salah satu bintang di atas.


"Ahahahaha... Kalau itu sepertinya mustahil." Kata Asura tertawa kecil.


...*****...


"Terima kasih Tuan Shun sudah bersedia untuk menghadiri jamuan kami." Kata Ibu Iona duduk di meja makan bersama dengan Shun dalam jarak yang cukup jauh.


"Aku senang bisa di undang. Tapi, aku harus pergi sekarang, karena Raja Hyron juga mengundangku ke istananya." Kata Shun berdiri.


"Tunggu sebentar tuan Shun, karena ada seseorang yang ingin saya kenalkan pada anda." Kata Ibu Iona, lalu pelayan di belakangnya pergi masuk ke sebuah pintu. Dan beberapa saat kemudian seseorang muncul dari pintu itu.


Seorang gadis dengan rambut ungu panjang datang ke hadapan Shun. Ia lalu mengangkat sedikit rok pendeknya, lalu berkata. "Perkenalkan namaku Karin Zergaken, aku akan menjadi pendamping sang pahlawan menggantikan kakak... Bukan, maksudku Iona. Jadi mohon kerjasama nya." Kata Karin.

__ADS_1


"Dia akan menggantikan Iona? Apa dia juga di paksa sama seperti Iona?" Tanya Shun dalam hati.


"Mulai sekarang Karin akan mendampingi perjalanan anda memperkuat diri. Karin, tolong lakukan yang terbaik." Kata Ibu Iona.


"Iya, Ibu." Jawab Karin memberikan hormat juga pada Ibunya.


Setelah itu mereka pergi ke kerajaan Hyron dengan menggunakan kereta kuda yang sama, bersama dengan Panglima yang kali ini duduk di depan dekat kusir. "Hey hey Tuan Shun! Bagaimana rasanya mencabut pedang legendaris itu?" Tanya Karin duduk di sebelah Shun.


"Rasanya? Yah, awalnya seperti ada yang mengalir kedalam tubuhku dan sedikit merinding." Jawab Shun.


"Apa aku boleh tanya lagi?" Tanya Karin.


"Iya, silahkan." Jawab Shun. "Dia tidak seperti Iona yang pendiam. Apa perasaannya tentang menjadi pendampingku juga berberbeda?" Tanya Shun dalam hati.


"Hmm... Apa lagi ya? Saat di rumah, aku selalu terpikir pertanyaan. Tapi, kenapa aku malah bingung saat bertemu langsung ya? Ahahahaha." Kata Karin tertawa kecil.


"Karin, aku mau bertanya sesuatu." Kata Shun.


"Hmm... Ada apa?"


"Apa kau juga di paksa untuk menjadi pendampingku? Jika memang begitu, kau tidak perlu melakukannya." Kata Shun.


"Tuan Shun, jangan samakan aku dengan kakakku. Aku bukan orang naif seperti kakakku. Karena aku mengerti betul tanggung jawab keluargaku adalah demi seluruh negeri, tidak ada yang lebih penting dari pada kebaikan semua orang di negeri ini." Kata Karin.


"Begitu? Maaf sudah salah paham." Kata Shun.


"Tenang saja Tuan Shun, akan kutunjukan pada kakak kesempatan besar yang ia lewatkan." Kata Karin tersenyum pada Shun.


"Oh ya, ngomong-ngomong Iona dulu itu seperti apa?" Tanya Shun.


"Kakak dulu? Ya dulu seperti anak kecil pada umumnya." Jawab Karin.


"Bukan itu, maksudku sifatnya. Apa dari dulu dia selalu muram?" Tanya Shun.


"Kalau itu, Kakak dulu itu kerjanya hanya duduk di perpustakaan bersama dengan kakek-kakek sekarat." Jawab Karin.


"Kakek-kakek sekarat?"


"Iya, kakekku dan Kakak. Tapi, setelah kakek meninggal, kakak jadi muram dan jarang bicara. Dia selalu saja menangis di kamar, aku sendiri sampai heran." Kata Karin.


"Dia, sangat berbeda dengan Iona. Apa mungkin nanti aku pertemukan saja mereka berdua?" Tanya Shun dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2