The Fake Legend

The Fake Legend
Arc 2 - Chapter 42 - Penyelidikan Kerajaan Claric


__ADS_3

Pada pagi hari sebelum matahari terbit, sebuah kereta kuda melaju melewati Padang rumput yang luas. "Terima kasih kalian mau membantu kami." Kata Shun duduk di samping Karin.


"Asal ada bayaran aku tidak masalah." Kata Izuru duduk di seberang Shun bersama Rin.


"Jadi bagaimana keadaan di sana?" Tanya Rin.


"Kami masih belum tahu, yang pasti ekonomi di sana perlahan mulai kacau dan raja masih belum menampakkan diri." Jawab Shun.


"Lalu siapa yang meminta bantuan padamu?" Tanya Rin.


"Perwakilan para warga yang meminta aku untuk menyelidiki." Jawab Shun.


"Ngomong-ngomong apa masih lama sampai?kita sudah berangkat dari subuh." Tanya Izuru.


"Sebentar lagi pasti sampai." Jawab Karin.


"Huff... Dingin sekali!" Kata Iona yang duduk di dekat kusir sambil mengumpulkan nafasnya dengan tangan.


"Lebih baik duduk di dalam saja." Kata kusir kereta kuda itu.


"Aku tidak mau semenit pun duduk di sana. Jadi berapa lama lagi sampainya?" Tanya Iona.


"Mungkin 15 menit lagi sampai. Lihat itu, tembok pembatasnya sudah terlihat." Kata kusir menunjuk ke samping, hutan dan di belakangnya ada sebuah tembok besar.


"Besar sekali." Iona lalu melihat ke samping ada sebuah hutan yang cukup besar. Kemudian Iona ada seseorang melambai-lambai di dekat hutan, seperti sedang memanggil mereka. "Ada orang di hutan!" Kata Iona menunjuk ke arah orang itu.


"Apa kalian mau mendatanginya?" Tanya kusir.


"Datangi saja, sepertinya dia punya urusan dengan kita." Kata Iona lalu kereta kudanya berbelok ke arah hutan dan berhenti di depan orang itu.


"Hey kenapa kita berhenti di sini?" Tanya Shun keluar dari pintu, dan seketika melihat orang yang memanggil mereka itu. "Anda yang minta bantuan itu kan?" Tanya Shun mengenal Pria yang memanggil mereka.


"Benar Tuan Shun, untunglah saya tidak salah orang." Jawab pria tua itu.


"Ada apa kau di sini?" Tanya Shun turun dari kereta dan diikuti yang lain.


"Anda tidak bisa masuk lewat gerbang." Kata pria tua itu.


"Kenapa begitu?"


"Karena para penjaga kerajaan menjaga gerbang dengan ketat, jadi tidak ada orang luar yang bisa masuk. Karena itu kita harus ambil jalan lain." Kata pria tua itu.


"Sampai di jaga seperti itu? Ini pasti sudah sangat serius." Kata Karin.

__ADS_1


"Kalau begitu bapak kembali saja ke kota." Kata Shun meminta kusir kereta kudanya untuk pulang.


"Baik tuan Shun." Kata kusir itu lalu pergi dengan kereta kudanya.


"Ayo lewat sini tuan Shun." Kata pria tua itu lalu masuk ke dalam hutan diikuti yang lain. "Semuanya juga harus menutup wajah masing-masing agar tidak ada yang tahu kalau ada orang luar." Sambung pria itu.


"Untung saja aku bawa pakaian ini." Kata Izuru sambil memakai tudung.


"Bagaimana ini? Aku hanya bawa zirah ini." Tanya Shun.


"Zirah itu mencolok sekali, apalagi pedang hitam di punggungmu itu." Kata Rin.


"Tenang saja nanti akan kuberikan jubah saat sampai." Kata Pria itu. Mereka terus berjalan mengikuti pria tua tadi dan akhirnya sampai di depan dinding kerajaan. "Ayo lewat sini." Kata pria itu lalu membuka sebuah kayu yang di tutupi tanah, dan di bawahnya terdapat sebuah lubang. "Ayo masuk." Kata pria itu lalu masuk ke dalam.


"Apa tidak ada jalan lain?" Tanya Karin.


"Sudah ayo ikut saja." Kata Shun lalu masuk, kemudian Izuru, Iona, lalu Rin.


"Kenapa aku malah memakai baju baruku?" Tanya Karin lalu masuk ke dalam lubang di tanah. Mereka terus merangkak di dalam tanah, sampai akhirnya melihat cahaya kuning.


"Di mana ini?" Tanya Shun keluar dari lubang.


"Hah..! Pengap sekali!" Kata Iona keluar dari lubang setelah Shun.


"Terima kasih." Kata Shun lalu memakai jubahnya.


"Hah...! Akhirnya keluar juga!" Kata Karin keluar dari lubang lalu membersihkan bajunya dari tanah.


"Selanjutnya kita ke mana?" Tanya Izuru.


"Kalian harus menemui yang mulia raja dan menyampaikan pesan kalau seluruh kota sudah benar-benar kacau." Jawab pria tua itu.


"Kalau begitu kita akan menyusup ke kerajaan saat malam hari, untuk sekarang kita harus berkeliling dan membuat strategi." Kata Karin.


"Ide bagus! Aku ini ahlinya berbaur!" Kata Izuru.


...*****...


Setelah itu mereka semua berpencar ke seluruh kota untuk mencari informasi. "Bukannya aku pendamping Tuan Shun? Tapi kenapa aku malah bersama denganmu!?" Tanya Karin berteriak di dekat Izuru. Mereka berjalan di kota yang cukup ramai.


"Karena ini lebih efektif, aku akan berbaur dan bicara dengan warga. Lalu kau bisa langsung mendapat informasi dariku dan segera membuat strategi." Jawab Izuru terus berjalan sampai di depan sebuah bar. "Bagus ini tempat pertama yang akan kudatangi!" Kata Izuru berlari masuk ke dalam bar.


"Hey, jangan seenaknya!" Teriak Karin, tapi tidak dihiraukan. "Tunggu aku!" Kata Karin ikut masuk ke dalam bar. Izuru berjalan ke arah meja yang di duduki dua orang petualang. "Hey di sana ada yang kosong!" Kata Karin sambil menunjuk ke arah meja kosong di pojok.

__ADS_1


"Yo! Boleh aku bergabung?" Tanya Izuru lalu duduk di salah satu kursi kosong. Dua orang itu hanya menatap Izuru dengan tatapan mengerikan.


Karin hanya bisa melihat dari kejauhan. "Gawat! lebih baik aku tidak terlibat, bisa-bisa aku ikut di pukuli nanti." Kata Karin dalam hati.


"Pergilah nak, ini bukan tempat untuk anak kecil sepertimu." Kata salah satu pria di sana.


"Sayang sekali, aku belum sarapan dari pagi...!" Jawab Izuru dengan lantang, sampai semua orang di sana bisa mendengarnya.


"Dasar bodoh, cepat pergi dari sana!" Kata Karin dalam hati.


Dua orang itu menatap Izuru semakin tajam dan perlahan melihat Izuru lebih dekat, sampai tepat di depan wajah Izuru. "Jawaban yang bagus. Pelayan, ada yang ingin pesan!" Kata pria itu lalu kembali duduk santai.


"Hebat, dia benar-benar bisa berbaur." Kata Karin dalam hati.


"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, apa kau orang luar?" Tanya pria yang lain.


"Iya, aku orang luar dari kota sebelah." Jawab Izuru.


"Bodoh!! Jangan beritahu orang soal itu...!" Teriak Karin dalam hati masih berdiri di sana.


"Permisi anda mau pesan apa?" Tanya pelayan wanita menghampiri meja mereka, lalu memberikan daftar menu.


"Hmm...? Hey aku butuh saran." Kata Izuru membuka daftar menu itu di atas meja.


"Lebih baik kau beli roti bakar saja."


"Ikan goreng juga enak, tapi harganya sedikit lebih mahal." Kata pria yang lain.


"Yang ini juga enak!"


"Ok, aku pesan ini, ini, dan ini. Dua porsi." Kata Izuru sambil menunjuk ke daftar menu. Pelayan itu mencatat semuanya lalu ia pergi.


"Dua porsi? Kau baik sekali, baru bertemu sudah mau mentraktir kita."


"Tidak, ini untuk temanku." Jawab Izuru.


"Oh, kau tidak sendirian?"


"Tidak dia di sana. Oi, Karin! Ayo ke mari!" Panggil Izuru.


"Kurasa aku akan dapat banyak informasi." Kata Karin dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2