The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 110 - Segel Kekuatan part 2


__ADS_3

"Jadi, apa aku akan mendapat kekuatan dari Crgoshiro?" Tanya Izuru terlihat sangat senang.


"Itu tergantung. Apa kau bisa melepas segelnya atau tidak." Jawab Destra.


"Apa kau tidak tahu caranya?" Tanya Izuru.


"Aku memang tahu caranya, tapi ada sangat banyak metode untuk melepas segel dan itu tergantung dari jenis segelnya. Aku tidak tahu jenis segel macam apa ini. Hanya kau sendiri yang bisa mengetahuinya."


"Lalu, bagaimana cara mengetahuinya?" Tanya Izuru.


"Biasanya itu diajarkan sebuah akademi sihir tingkat menengah." Jawab Destra.


"Masa aku harus ke sekolah sihir hanya untuk mencari tahu jenis segel ini?" Tanya Izuru heran.


"Yah itu terserah mu saja. Yang pasti kau tidak akan mengerti jika aku jelaskan sekarang." Ucap Destra.


"Tidak bisa kah kau yang mengajariku?" Tanya Izuru.


"Aku bukan tipe orang yang bisa mengajari orang lain."


"Kalau Profesor?" Tanya Izuru menoleh ke arah Profesor.


"Sayangnya aku itu belajar di tipe Artefak sihir dan bukan sihir makhluk hidup." Jawab Profesor.


"Huh... Lalu aku harus bagaimana? Ini sama saja tidak berguna."


Izuru lalu memakai kembali bajunya dan setelah itu teringat dengan Orang bertudung misterius yang mereka temui di Bar.


"Itu dia!" Ucap Izuru, semua orang seketika menoleh ke arahnya.


Izuru akhirnya pergi lebih dalam untuk menemui orang itu. Tapi, hanya di temani oleh Asura seorang. Karena dari perkataan orang itu tadi, dia hanya mengundang Izuru dan Asura waktu itu.


Melewati lorong panjang dan berujung pada sebuah tangga turun memutar. Mereka turun dan perlahan terdengar suara aliran air. Semakin dalam suara itu semakin terdengar jelas.


Sampai di lantai dua suasana terasa sedikit lebih panas dari pada di permukaan. Tetapi, penerangan di sana lebih baik dari pada di lantai satu. Banyak jendela berjajar di lorong dan lentera terasa bersinar lebih terang di sana.


Kembali berjalan di lorong, hanya terdengar suara aliran air yang entah dari mana asalnya. Izuru berjalan sambil melihat keluar setiap jendela yang ia lewati. Cahaya matahari terbenam terlihat cukup jelas dan dari sana terlihat Pegunungan Barat, walau hanya samar-samar.


"Rasanya di sini lebih hangat ya?" Ucap Asura memulai percakapan.


"Iya, telingaku juga terasa sedikit lega." Jawab Izuru. Karena berada di tempat yang sangat tinggi, oksigen menjadi lebih sedikit dan membuat telinga terasa berdengung.

__ADS_1


Mereka terus berjalan sampai suara aliran air yang sebelumnya tergantikan oleh suara keramaian. Keluar dari lorong panjang itu, mereka melihat sebuah pemandangan yang benar-benar tidak mereka duga sebelumnya.


Sebuah tempat yang cukup luas dengan beberapa anak kecil yang berlarian ke sana ke mari, dan beberapa wanita sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Di sudut terlihat banyak rumah sewaan yang saling menempel satu sama lain layaknya rumah susun.


"Jadi ini penginapan yang di maksud?" Tanya Izuru terlihat sedikit kagum.


"Ternyata ada lebih banyak ras lain yang tinggal di sini dari yang kubayangkan." Ucap Asura.


"Mereka tampak bahagia di sini. Seperti teror Ras Malaikat hanya sampai di lantai satu."


"Orang-orang di Bar benar-benar melindungi mereka yang ada di sini."


"Apa mereka tidak punya tempat tinggal selain di sini?" Tanya Izuru.


"Mungkin mereka yang tinggal di sini memiliki masalah di tempat mereka sebelumnya. Biasanya karena salah satu kerabat melakukan kejahatan yang serius membuat semua yang bersangkutan jadi incaran." Jawab Asura.


"Itu pasti mengerikan. Semoga saja keadaan di sini bisa semakin membaik."


Izuru berjalan beberapa langkah ke depan dan menghadap ke depan rumah-rumah di sana. Izuru lalu berkata, "Waktunya mencari orang itu!"


Izuru dan Asura lalu mendekat ke rumah susun bertingkat itu. Mereka melihat ada banyak orang di sana dan sebagian besar adalah perempuan.


"Dari mana kita memulai?" Tanya Asura.


Izuru mendekat ke pintu paling ujung dan kemudian mengetuk pintu itu. Di dalam ada seseorang yang tampak sedang menjahit sesuatu di samping sebuah meja, dan di depannya terdapat kursi untuk menaruh benda yang sedang ia jahit.


Mendengar suara ketukan pintunya, ia menoleh dan langsung meninggalkan pekerjaannya. Orang itu memiliki rambut putih panjang yang tampak tidak terawat.


Dia membuka pintu, lalu bertanya dengan nada suara lelah. "Ada apa...?" Ucapnya sambil mengangkat rambut yang menutupi setengah wajahnya ke belakang.


"Perempuan? Sepertinya bukan dia." Bisik Asura.


"Umm... Maaf, sepertinya kami salah orang." Ucap Izuru.


"Oh, kalian tidak salah orang kok."


"Ehh...?" Izuru dan Asura terlihat terkejut.


"Sudah kuduga kalian akan mencari ku." Ucap Wanita itu tersenyum.


"Jadi anda ini orang yang tadi di Bar?" Tanya Asura.

__ADS_1


"Benar sekali. Apa kau mulai tertarik dengan kekuatan yang kudapat dari mimpi?" Tanya balik wanita itu pada Izuru.


"Sebenarnya bukan itu, tapi apa anda juga awalnya mendapatkan dari sebuah segel?"


Wanita itu terdiam sesaat, lalu menjawab dengan senyuman. "Benar, sebelumnya aku mendapat sebuah segel juga."


"Kalau begitu anda pasti tahu cara melepas segelnya kan?" Tanya Izuru.


"Tentu saja, tapi sebelum itu silahkan masuk." Jawab Wanita itu lalu mempersilahkan Izuru dan Asura masuk ke dalam.


Di dalam tidak memiliki penerangan apapun dan hari sudah semakin gelap. Wanita itu mengambil sebuah lentera yang masih belum menyala dan meletakan nya di atas meja.


"Ayo silahkan duduk di sini." Ucap Wanita itu ikut duduk di salah satu kursi.


Izuru dan Asura masuk ke dalam. Saat mendekati meja, tiba-tiba lentera di sana menyala dengan sendirian. Itu sedikit membuat mereka terkejut, tapi kemudian tidak dihiraukan.


"Sebelumnya perkenalkan namaku Nathasia. Kau bisa menunjukan segel itu padaku?" Ucap Nathasia.


"Segel itu ada di punggungku." Jawab Izuru.


Nathasia langsung berdiri lalu berjalan mendekat. Izuru segera melepas ikatan pelindung dadanya dan membuka bajunya. Nathasia sudah bisa melihat segel itu, ia menyeringai dan terlihat sangat tertarik dengan segel itu.


"Sepertinya aku bisa memberitahumu cara melepas segel itu."


"Benarkah!?" Ucap Izuru dengan semangat.


"Tetapi, mungkin butuh sedikit waktu untuk mengidentifikasi jenis segelnya. Apa kau tidak keberatan menunggu?"


"Tentu saja tidak!"


Keesokan harinya Nathasia tampak sedang berada di atas punggung Izuru. Ia menutup matanya dan tangannya menyentuh segel di punggung Izuru. Terdengar suara nafas berat Izuru bersamaan dengan wajahnya yang penuh dengan keringat menetes.


"Hah...hah... Apa boleh kita istirahat dulu? Hah...." Tanya Izuru.


"Tinggal sedikit lagi, aku hampir menemukannya. Lanjutkan itu dan berhenti bicara." Jawab Nathasia tetap menutup matanya.


Izuru lalu meneruskan push up nya dengan Nathasia duduk di atas punggungnya. Izuru dengan wajah yang memerah berusaha keras untuk melanjutkan push up nya. Hanya mampu sekali dan Izuru menjatuhkan diri dengan keras apalagi ada seseorang di atasnya.


"Hah....hah... Aku.... Sudah tidak.... Kuat lagi... Hah....hah..." Ucap Izuru terbata-bata.


Nathasia tetap fokus dengan segel itu. Sampai tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari gambar segel, hal itu membuat Nathasia langsung membuka matanya dengan terkejut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2