
"dan begitulah, sampai sekarang masih menjadi misteri terciptanya para ras di dunia ini." Asura menutup buku yang selesai ia baca. "Apa ada pertanyaan?" Tanya Asura melihat ke pangkuannya, Izuru tertidur pulas di pangkuan Asura. Asura tersenyum dan mengelus kepala Izuru lagi.
"Emm..." Izuru terbangun sambil mengusap matanya.
"Ah maaf aku membangunkan mu."
Izuru bangun dari tidur di pangkuan Asura, lalu melihat sekeliling. "Emm... Ini sudah sore ya!?" Tanya Izuru lalu ia segera berdiri di tempat dan berlari pergi. "Dah Asura, Terima kasih untuk hari ini!" Teriak Izuru pergi. Asura hanya melihatnya pergi tanpa berkata apapun.
Izuru kesenangan sambil berjalan pulang. Setelah beberapa menit Izuru sampai di depan rumah yang jendelanya sudah bercahaya dari dalam, ia kemudian masuk tanpa pikir panjang. "Aku pulang!" Kata Izuru masuk sambil membuka pintu depan, tapi... Braaakkk! Pintunya tidak mau terbuka, jadi wajah Izuru terbentur ke pintu karena terburu-buru masuk walaupun pintu tidak bisa terbuka. "Adududuh! Hidungku."
Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan muncul Iona dari balik pintu. "Kenapa kau ini, tidak usah mengamuk begitu. Nanti rusak bagaimana?" Kata Iona sambil mengelus pintu itu.
"Apa kau tidak bisa khawatir padaku?" Tanya Izuru sambil memegangi hidungnya.
Iona menggelengkan kepala. Izuru masuk ke dalam bersama Iona. "Bagaimana jalan-jalanmu dengan Asura?" Tanya Iona masuk ke ruang makan bersama Izuru.
"Baik, kurasa." Jawab Izuru duduk di meja makan sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan. Dari dapur datang Rin sambil membawa makanan, sepertinya itu daging kelinci lagi.
"Oh, kau sudah pulang? Bagaimana tanganmu?" Tanya Rin meletakan makanannya di meja.
"Sudah lebih baik sekarang." Jawab Izuru sambil mengambil satu potongan daging kelinci di piring.
"Bagus, kita bisa mulai mengambil quest lagi besok." Kata Rin memakan daging kelincinya.
"Tapi aku tidak punya senjata, pedangku rusak setelah melawan kelabang itu."
__ADS_1
"Benar juga, zirah mu juga sudah setengah hancur saar itu. Tapi tenang saja, besok kita akan beli yang lebih bagus."
Setelah selesai makan, Izuru berniat melihat-lihat seluruh isi rumah mereka. Setelah melihat-lihat, lantai satu ternyata hanya berisi satu kamar tidur, dapur, ruang makan, ruang tamu, toilet, dan kamar mandi yang cukup besar. Sementara di lantai dua, ada dua kamar tidur dan sebuah balkon kecil yang menghadap ke belakang rumah. Lalu lantai tiga adalah yang paling atas, di sana adalah atap datar yang terdapat beberapa tanaman hias. Izuru berjalan mendekat ke pagar yang membatasi pinggir atap, ia melihat ke arah matahari terbenam yang mempesona. "Indah sekali. Tapi, di sini dingin. Lebih baik aku turun." Kata Izuru turun kembali ke lantai satu.
Saat ingin turun ke lantai dua, Izuru bertemu Iona yang keluar dari kamar bertepatan dengan Izuru yang masih ada di tangga lantai tiga. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Iona sambil menutup pintu kamarnya.
"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja." Jawab Izuru. Setelah itu Iona turun ke lantai satu meninggalkan Izuru di sana. Tanpa sengaja Izuru melihat pintu kamar Iona belum tertutup sepenuhnya, dengan rasa penasaran Izuru mendekati kamar Iona. Ia melihat ke kanan, ke kiri, lalu melihat ke bawah tangga lantai satu, tidak ada siapapun di sana. Saat itu juga Izuru membuka lebih lebar pintu kamar Iona dan mulai mengintip ke dalam.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Iona tiba-tiba muncul di belakang Izuru.
"Waaaa...!!?! Sejak kapan kau di situ!?" Tanya Izuru terkejut.
"Saat aku melihat gerak-gerik aneh mu seperti pencuri, aku langsung naik dan mengawasi mu dari belakang." Jelas Iona. "Sekarang kutanya, apa yang kau ingin lakukan dengan mengintip isi kamarku?" Tanya Iona sambil menunjukkan jari ke hadapan Izuru.
"Hmm...?" Iona menyipitkan matanya dan menatap tajam mata Izuru dari dekat. "Awas saja sampai aku melihatmu masuk ke kamarku. Akan aku pastikan kau bernasib sama seperti hewan yang pernah masuk ke dapur kita." Ancam Iona. Izuru menelan ludah dan keluar keringat dingin di wajahnya.
"Baik, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagus kalau begitu." Kata Iona turun ke lantai satu lagi diikuti
"Huft... Aku selamat. Apa yang Iona sembunyikan sampai-sampai aku di ancam seperti itu? Ini masih menjadi misteri." Pikir Izuru yang sedang melakukan peregangan di lantai kamarnya. "Aku harus berlatih selagi ada waktu. Jika berhasil, mungkin aku bisa memakai pedang panjang dan besar. Pasti akan keren!" Izuru lalu berlatih dengan melakukan push up dan sit up sendirian. Ia sudah berusaha keras, tapi masih belum ada kemajuan angka. Pada akhirnya Izuru tertidur karena kelelahan.
Matahari terbit memulai pagi yang indah ini, cahaya mulai masuk ke kamar dan menyinari wajah Izuru yang terbaring di tempat tidur. "Emmm...." Izuru bangun sambil mengusap matanya. Setelah beberapa menit duduk diam di atas kasur, akhirnya Izuru keluar dari kamar. Ia berjalan lemas menuju toilet. Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Rin yang memakai handuk baju dan rambut panjangnya yang di ikat bundar.
"Pagi." Sapa Rin terus berjalan berlawanan dengan Izuru.
__ADS_1
"Yo..." Jawab Izuru lemas. Setelah sampai ia langsung masuk dan buang air kecil. "Hoaamm... Setelah dua hari berbaring seharian di tempat tidur membuatku merasa malas bangun pagi." Kata Izuru.
Izuru lalu keluar dan duduk di meja makan menunggu makanan datang dari dapur. Dari belakang datang Rin dengan pakaian lengkap. "Aku tidak memasak hari ini." Kata Rin, Izuru menoleh ke arah Rin dengan wajah yang masih mengantuk.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga berjalan di kota menuju toko perlengkapan. "Hoaam..." Izuru menguap lagi.
"Kau tidak habis-habisnya menguap." Kata Iona.
"Hanya libur beberapa hari, kau langsung kena dampak malasnya." Kata Rin.
Saat mereka melewati pasar Iona melihat Asura yang sedang berbelanja dengan memakai seragam pelayannya. "Itu Asura, aku akan menemuinya." Kata Iona lalu berlari ke arah Asura.
"Sejak kapan Iona dekat dengannya?" Tanya Izuru.
"Saat kita sampai membawamu pulang, gadis itu terus datang ke rumah. Mungkin mereka bicara saat itu." Jawab Rin.
Iona yang masih berlari ke arah Asura di tengah keramaian itu, tiba-tiba menabrak laki-laki dengan jubah hitam yang membawa pedang hitam besar di punggungnya. "Aduh, maaf!" Kata Iona lalu melihat ke atas, orang itu memberikan uluran tangan, Iona langsung menerima bantuan orang itu dan kemudian berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya orang itu.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku." Kata Iona berterima kasih.
"Iona kau ceroboh sekali." Kata Izuru mendatangi mereka. Izuru melihat ke arah orang itu. "Jubah hitam, pedang besar, tatapan dingin dan wajah yang jarang tersenyum!? Tidak mungkin, aku bertemu MC cerita isekai pasaran di sini!?" Kata Izuru terkejut dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1