
"prasasti itu sudah berhasil terbaca, dan isi dari tulisan itu adalah ramalan. Ramalan tentang seseorang yang akan menjadi pemilik kekuatan pedang legendaris, Kita harus segera melatih calon pendampingnya." Kata seorang wanita dengan pakaian seperti bangsawan berdiri di belakang Kakek Iona.
"Jadi, siapa calonnya?" Tanya Kakek Iona sedang berdiri menggunakan tongkat di depan jendela. Ia melihat keluar, sebuah badai besar sedang terjadi di luar.
"Bukankah itu sudah jelas? Siapa yang dapat giliran untuk generasi ini."
"Aku menolak."
"Apa maksud anda bilang begitu!? Apa anda ingat dengan peran keluarga ini? Jika anda lupa, aku akan mengingatkannya." Kata Wanita itu terkejut.
"Mungkin aku sudah tua, tapi aku masih ingat betul... Namun, selama bertahun-tahun aku bersama cucuku itu, aku paham betul apa yang dia inginkan. Iona tidak menginginkan hal ini, dia ingin kebebasan. Seumur hidupnya dia tidak pernah diizinkan keluar dari rumah ini."
"Bukankah nanti cucumu itu bisa keluar ke manapun dia mau saat mendampingi orang yang ditakdirkan?" Tanya wanita itu.
"Mungkin dia bisa keluar, tapi dengan belenggu yang mengikat lehernya. Sama saja dengan seorang budak."
"Apa cucumu lebih berharga, di bandingkan dengan keselamatan negeri ini?" Tanya wanita itu.
"Aku tidak peduli dengan negeri ini!" Bentak Kakek Iona. "Aku tidak akan pernah menghancurkan masa depan cucuku sendiri!"
"Kau egois. Kau mempertaruhkan nyawa banyak orang demi masa depan satu orang." Kata Wanita itu.
Setelah itu kakek Iona berjalan masuk ke perpustakaan dan langsung di sadari oleh Iona yang tengah membaca tumpukan buku di lantai. Kakek Iona duduk di kursi yang ada di perpustakaan itu lalu memanggil Iona. "Iona, ke marilah duduk dekat kakek."
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Iona datang ke hadapan kakeknya.
"Ambillah ini." Kakeknya memberikan Iona sebuah buku.
"Buku apa ini?" Tanya Iona lalu membukanya, di dalamnya hanya ada tulisan-tulisan yang tidak Iona mengerti.
"Itu adalah buku sihir, suatu saat nanti kamu akan tahu bagaimana menggunakannya." Jawab Kakek Iona.
"Terima kasih, tapi kenapa kakek memberikan ini padaku?" Tanya Iona.
"Aku merasa sudah tidak bisa menemanimu terlalu lama." Jawab Kakek Iona.
Iona seketika terkejut dengan jawaban kakeknya itu. "Kenapa kakek bilang begitu?" Tanya Iona dengan ekspresi ketakutan.
"Kamu tahu kan, kalau kakek ini sudah tua."
"Maaf, kakek tidak bisa membawamu melihat pemandangan yang ada di buku." Kata Kakek Iona.
"Aku tidak mau pemandangan, aku mau kakek tetap bersamaku!" Kata Iona memeluk kakeknya.
Pada akhirnya semua yang kakek Iona katakan menjadi kenyataan. Beberapa hari kemudian kakeknya meninggalkan seluruh keluarganya untuk selamanya, Iona mengurung diri di kamar selama beberapa hari. Ia adalah orang yang paling merasa kehilangan kakeknya di rumah itu. Setelah itu Iona berubah menjadi pendiam, ia merasa tidak memiliki lagi tujuan hidup. Ia juga tidak peduli dengan apapun, termasuk mejadi seorang pendamping untuk yang terpilih. Kemudian dia di latih selama 10 tahun lamanya, sampai sekarang dia melakukan semua yang keluarganya perintahkan.
Iona pergi ke kota tempat di mana ramalan itu mengatakan, bahwa sang pendaping akan bertemu dengan orang terpilih di kota itu. Sejak awal ia tidak pernah sekalipun menunjukkan ekspresi. Tapi, perlahan ia membuka hatinya saat bersama dengan Izuru dan Rin, semua menjadi terasa seperti dulu lagi. Namun, ia tidak bisa melupakan tugas yang telah diberikan.
__ADS_1
...*****...
Kereta kuda berhenti mendadak di tengah hutan membuat Iona terbangun dari tidurnya. "Uhh..? Ada apa!?" Tanya Iona melihat ke sekeliling dalam kereta kuda, tidak ada siapapun di sana. Iona lalu turun dan mendapati semua orang berkumpul di depan kereta kuda. "Shun, ada apa?" Tanya Iona menghampiri Shun.
"Sepertinya kita salah memilih rute perjalanan." Jawab Shun melihat ke depan ada banyak monster yang menghadang. "Kita harus membersihkan jalan ini!" Teriak Shun lalu semua orang maju menyerang satu persatu monster-monster yang menghadang. Iona berada di belakang bersama Rin dan beberapa orang, mereka menyerang dari belakang menggunakan senjata jarak jauh dan sihir. Iona juga membantu, tapi serangannya tidak terlalu berpengaruh.
"Uwah, apa ini? Sebuah kekacauan di tengah perjalanan?" Tanya Izuru melihat dari belakang kereta kuda kedua. Lalu ia duduk menghadap ke belakang dan berkata, "lebih baik aku menunggu mereka semua terpojok baru aku membantu. Lagipula aku belum tidur dari kemarin, hah... Selamat malam." Kata Izuru lalu menutup matanya dengan posisi duduk.
Terdengar suara raungan dari depan Izuru. Izuru lalu membuka matanya dan melihat seekor serigala hitam besar yang berjalan perlahan mendekati Izuru. "Apa!?" Izuru terkejut melihat serigala-serigala itu. "Sial, mereka juga lebih besar dari yang pernah ku lawan sebelumnya." Kata Izuru bersiap mencabut pedangnya. Lalu ia melihat sesaat ke bagian depan yang sedang di jaga oleh yang lain, mereka yang di depan hanya menghadapi monster-monster kecil, sementara di belakang monster besar menyergap Izuru, sungguh tidak beruntung. "Apa-apaan ini? Aku tidak tahu kalau monster bisa mengatur strategi. Apa mungkin hanya kebetulan? Tidak, tidak mungkin kerena mereka jenis monster yang berbeda." Kata Izuru dalam hati. "Sepertinya tidak ada pilihan lain ya?" Kata Izuru menarik pedangnya, lalu ia berlari ke arah salah satu serigala itu. Serigala itu juga berlari ke arah Izuru, saat hampir dekat Izuru melompat naik ke serigala itu dan menusuk lehernya sampai terbuka lebar. Saat ada serigala lain berlari ke arahnya, Izuru segera turun dan menendang mayat serigala yang ia bunuh tadi ke arah serigala yang berlari ke arahnya sampai terbentur ke tanah.
Kembali ke arah depan, di mana Shun dan kawan-kawannya tengah menghadapi para goblin yang menyerang. Goblin itu ada yang tipe penyerang jarak dekat, juga ada penyerang jarak jauh. Shun membunuh satu persatu goblin itu dengan sekali tebasan. Panah di lepaskan ke arah Shun, dan langsung menangkisnya dengan pedang miliknya. "Masih berapa banyak mereka?" Tanya Shun.
"Entahlah sepertinya masih banyak." Jawab salah satu pria dengan pedang besar.
"Kita tidak bisa sampai tepat waktu kalau begini!" Kata Shun, ia lalu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk sampai di desa tepat waktu. "Kita terobos saja!" Kata Shun.
"Apa kau yakin? Jika mereka berhasil menghancurkan kereta kudanya, kita tidak akan punya transportasi."
"Tapi hanya itu satu-satunya pilihan." Jawab Shun. Lalu mereka semua masuk ke kereta kuda dan menerobos semua goblin yang ada di tengah hutan. Beberapa orang berada di depan untuk menembaki monster yang menghalangi jalan.
Izuru masih menghadapi serigala terakhir. "Hah... Hah... Sial, ini melelahkan!" Kata Izuru lalu berlari ke arah serigala itu, tapi serigala itu langsung melompat dan menggigit bahu Izuru. "Arrgghh..! Gigitannya menembus zirah ku!" Kata Izuru, lalu ia langsung menusuk leher serigala itu sampai mati. "Aww... Ini sakit sekali." Izuru menghadap belakang dan melihat kereta kuda yang sebelumnya ia menaiki sudah berjalan maju sampai agak jauh.
"Eh...? Huuwwwaaa...! Mereka meninggalkanku..!" Teriak Izuru lalu berusaha mengejarnya, tapi ia terlalu lelah setelah bertarung. "Hah... Hah... Tunggu...! Hah..." Izuru lalu menendang batu dan mengeluh. "Sialan! Sekarang bagaimana aku bisa mengejar mereka? Kalau pulang, ini sudah terlalu jauh." Kata Izuru lalu melihat ke belakang beberapa mayat Serigala tergeletak di sana.
__ADS_1
"Itu dia! Untung saja aku jenius!" Kata Izuru mendapat sebuah ide.
Bersambung...