The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 24 - Sang Pahlawan dan Kehilangan


__ADS_3

"apa!? Tidak mungkin..." Kata Izuru terkejut saat mengintip ke dalam lubang kunci kamar Iona. "Tunggu mereka hanya duduk dan bicara, tidak melakukan apapun yang aneh." Sambung Izuru.


"Ahahaha... Soalnya aku bohong." Kata Rin tertawa di belakang.


"Sialan kau, ini serius!" Kata Izuru sambil menarik bagian atas handuk baju yang sedang di pakai Rin.


"Ayolah, jangan anggap ini terlalu serius. Mereka paling hanya bicara antar teman saja." Kata Rin, lalu Izuru melepaskan pegangannya.


"Tidak bisa, posisiku sebagai ketua party ini terancam!"


"Ehe... Sepertinya kami sangat berharga." Goda Rin.


"Bukan seperti itu, ini namanya bersyukur! Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Itulah yang aku maksud, aku harus terus mengawasi mereka berdua!" Kata Izuru lalu kembali mengintip ke dalam lubang kunci.


"Iya, semoga beruntung." Kata Rin pergi ke kamarnya meninggalkan Izuru di sana.


Sementara di dalam, Iona dan Shun sedang membicarakan sesuatu yang penting. "Pedang ini terus bersinar, aku sampai silau saat membawanya kemari." Kata Shun.


"Silau? Bukannya aku membawanya di belakang?" Tanya Iona.


"Iya, benar juga ya?" Jawab Shun tampak gugup. "Sial, lawakkanmu garing!" Kata Shun dalam hati.


"Kalau saja bukan karena pedang legendaris itu, aku pasti sudah mengusirnya sekarang." Kata Iona dalam hati. "Oh ya, sepertinya pedang ini bercahaya karena lonjakan energi sihir yang besar. Bisa di bilang, saat pedang ini menyala maka itu adalah saat-saat terkuat pedang legendaris ini." Jelas Iona.


"Owhh... Jadi ini bukan karena bermasalah?"


"Nggak bisa ngelawak diem aja lu!" Kata Izuru sambil terus mengintip ke dalam lubang kunci. Rin keluar dari kamarnya sudah memakai baju tidur, lalu memperhatikan Izuru yang masih di depan pintu.


"Hoy... Mengintip itu boleh-boleh saja, tapi setidaknya mandi dulu sana!" Kata Rin menyindir Izuru.


"Shhhh...! Jangan keras-keras, mereka nanti tahu!" Kata Izuru pelan.


"Kau sudah berapa hari tidak mandi?" Tanya Rin.


"Yah, sebenarnya setelah aku belum pernah mandi." Jawab Izuru.

__ADS_1


"Hah... Yang benar saja? Berhenti bercanda dan cepat mandi sana! Bau mu membuat hidungku sakit." Kata Rin lalu pergi kebawah.


Di jalan kota di malam hari yang masih ramai seseorang berlari dengan wajah panik. Ia berlari menuju rumah IRI, ingat? Izuru, Rin, Iona (IRI!)


Ia mengetuk pintu dengan terengah-engah. "Permisi! Tolong buka pintunya!"


Rin lalu datang dan membukakan pintu. Di sana ternyata adalah salah satu anggota party Shun. "Ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" Tanya Rin.


"Di mana tuan Shun!? Ini gawat, aku harus segera menemuinya!" Kata Gadis itu menerobos masuk. "Tuan Shun!" Panggil gadis itu, lalu pergi ke atas dan berpapasan dengan Izuru. "Permisi!" Kata Gadis itu menerobos Izuru yang sedang turun dari tangga.


Izuru hampir saja jatuh. "Siapa itu? Apa di dunia ini tidak ada etika bertamu?" Tanya Izuru.


"Sepertinya ini serius, ayo lihat!" Kata Rin naik ke atas melewati Izuru. Izuru lalu ikut ke atas.


"Ada apa Sayaka?" Tanya Shun sudah berada di luar kamar bersama Iona.


"Gawat, desa di dekat anda mencabut pedang legendaris itu di serang!" Kata Sayaka.


"Apa!? Bagaimana bisa, bukankah ada pelindung di desa itu?" Tanya Shun terkejut.


"Apa, itu artinya ini kesalahanku?" Tanya Shun.


"Itu benar! Satu desa bisa hancur, bahkan semua warga yang tidak bersalah bisa meninggal karena mu!" Kata Izuru menyalahkan Shun.


"Kenapa kau malah jadi ikut-ikutan?" Tanya Rin.


"Itu benar, semuanya kerena aku." Kata Shun menyalahkan dirinya sendiri. "Aku harus menyelamatkan desa itu, ayo Iona!" Kata Shun lalu menggandeng tangan Iona, kemudian berjalan ke arah tangga.


"Ehh!? Apa-apaan kau membawa orang seenaknya!?" Tanya Izuru mengehentikan mereka.


"Kau tidak mengerti! Hanya Iona yang bisa menghentikan kekuatan pedang ini jika lepas kendali." Jelas Shun.


"Tapi kau tidak bisa membawanya! Sebagai ketua party nya aku tidak mengijinkannya!" Kata Izuru keras kepala.


"Aku tidak masalah, jika ini demi semua orang di desa." Kata Iona.

__ADS_1


"Biarkan dia urus masalahnya sendiri! Itu kesalahannya, kita tidak ada hubungannya dengan itu!"


"Party kita berakhir sampai di sini." Kata Iona menundukkan wajahnya, sampai semua orang di sana terkejut dengan perkataan Iona. Dan di penglihatan Izuru terdapat sebuah tulisan, "Iona keluar dari party"


"Apa? Kau bercanda kan? Kau lebih memilih dia, aku orang yang bisa kau percaya, tapi kenapa kau memilih orang asing..!?" Tanya Izuru marah.


"Keegoisan mu itu sudah di luar batas, Izuru!" Teriak Iona. Seketika Izuru terdiam. "Maafkan aku Izuru, ini memang tugasku. Ini sebabnya aku datang ke kota ini, awalnya kukira kau adalah orang yang ditakdirkan itu, kerena ramalan itu mengatakan bahwa orang yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan pedang legendaris itu akan berada di kota. Tapi ternyata aku salah." Jelas Iona kembali mengangkat wajahnya dan memberitahu tujuan sebenarnya datang ke kota ini.


"Lalu kenapa...? Kenapa kau tidak keluar dari party ku sejak awal!?" Tanya Izuru.


"Karena bersama kalian, aku merasakan kenyamanan. Karena itulah aku bertahan di party, maafkan aku." Kata Iona sambil tersenyum ke arah Izuru.


Izuru hanya hanya terdiam. Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. "Jadi, kau akan meninggalkan kami?" Tanya Izuru sambil menundukkan wajahnya.


"Maaf Izuru. Aku juga akan pergi." Kata Rin. Izuru menoleh ke arah Rin dengan tatapan tidak percaya. "Aku tidak bisa melupakan impianku untuk menjadi seorang pahlawan. Aku akan pergi jika itu artinya impianku bisa jadi kenyataan." Kata Rin. Di penglihatan Izuru muncul lagi sebuah tulisan, "Rin keluar dari Party. Anda tidak lagi dalam party."


"Apa, kalian akan meninggalkan aku sendiri?" Tanya Izuru.


"Ayo kita pergi." Kata Rin, lalu mereka pergi meninggalkan Izuru di sana. Mereka berlari keluar dari rumah.


"Jadi, kalian lebih memilih orang itu?" Izuru berlari keluar ke arah Shun sambil mengeluarkan pedang pendeknya. "Jika begitu! Aku akan mengambil pedang itu, aku akan menjadi orang yang ditakdirkan..!" Teriak Izuru dan bersiap menyerang Shun. Mereka semua berbalik melihat ke arah Izuru yang tengah berlari.


"Izuru berhenti!" Kata Iona.


"Tidak akan pernah! Akulah yang seharusnya menjadi seorang legenda..! Hiyaaaaaa...!" Izuru menyerang Shun. Tapi dengan cepat Shun menarik pedangnya dan menebas pedang Izuru. Izuru terpental kebelakang dan jatuh di tahan, pedangnya patah menjadi dua dan jatuh tepat di depannya.


"Tolong, aku tidak mau menyakitimu!" Kata Shun.


Lalu Izuru mengingat saat Rin dan Iona memberikan pedang itu padanya. Izuru menggertakkan giginya dan melihat ke arah pedangnya yang sudah rusak itu. "Aku tidak butuh pedang yang utuh untuk mengalahkan mu...!" Teriak Izuru bangun lagi lalu berlari dengan pedangnya yang sudah terpotong setengah.


"Kumohon dengarkan aku!" Kata Shun lalu menendang perut Izuru sampai Izuru tersungkur kesakitan di tanah. "Aku harus menyelamatkan semua orang! Ayo kita pergi!" Kata Shun lalu pergi meninggalkan Izuru di sana.


Izuru masih kesakitan di sana, tidak ada siapapun yang menolongnya. Orang-orang yang melihat kejadian itu juga tidak menolong Izuru. "Kenapa? Kupikir Reinkarnasi akan mengubah hidupku. Tapi ini bahkan lebih buruk dari yang sebelumnya. Kenapa?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2