
Detik-detik dalam hidupku terasa melambat. Itulah yang akan orang rasakan, jika mereka di hantam oleh slime sekeras batu dengan kecepatan tinggi. Tadinya aku lapar, tapi sekarang sudah tidak, mungkin itu satu-satunya hal baik dari kejadian ini. "Izuru... Izuru... Izuru!" Aku mendengar suara samar-samar di telingaku. Aku pun membuka mataku perlahan, dan di hadapanku ada wajah Rin sedang menatapku. "Ah, dia bangun!" Kata Rin duduk di dekat Izuru.
"Mana?" Tanya Iona tiba-tiba melihat dari atas. "Bagus kalau begitu." Sambungnya lalu pergi dari hadapan Izuru.
"Ughh... Apa aku pingsan?" Tanya Izuru bangun dan duduk di tanah, sambil melihat Iona yang sedang menembaki beberapa slime dengan cahaya-cahaya aneh.
"Iya, hanya beberapa menit kok." Jawab Rin. Izuru pun langsung memukul kepala Rin. "Aduh! Kau ini kenapa!?" Tanya Rin sambil memegangi kepalanya.
"Kau tadi bilang slime tidak berbahaya!"
"Ya.. aku belum pernah menghadapi slime sebelumnya." Kata Rin tersenyum sambil menyentuh pipinya dengan jari.
"Dasar kau ini, jika tidak tahu jangan sok tahu!" Kata Izuru lalu berdiri, tapi tiba-tiba perutnya mendadak sakit lagi. "Aduh! Perutku masih sakit, tapi aku harus menahannya. Mungkin suatu saat nanti aku harus tetap bertarung walau dalam keadaan yang lebih buruk dari ini." Kata Izuru dalam hati.
"Apa sudah tidak sakit?"
"Sudah tidak! Aku ini kuat, jangan remehkan aku!" Kata Izuru menyombongkan diri. "Sekarang aku harus berlatih bertarung! Hiyaaa...!!!" Teriak Izuru lalu kembali berlari ke arah salah satu slime, kemudian menebas slime kecil itu dari atas. Tapi, tebasan Izuru masih dangkal, lalu ia menarik pedangnya dan menebasnya sekali lagi sampai slime itu terbelah menjadi dua. "Slime ini mudah di bunuh, tapi damage nya besar." Kata Izuru lalu ia melihat sebuah cahaya di tangannya. "Woah, apa ini!?" Tanya Izuru terkejut. Kemudian ia berlari menuju Rin dan Iona.
"Aduh capek, pulang yuk." Kata Iona sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Hayuk!" Jawab Rin duduk di bawah pohon tadi di samping Iona.
"Pulang pulang, selesaikan dulu baru kita pulang! Coba lihat ini!" Kata Izuru datang lalu menunjukkan simbol di tangannya yang bercahaya.
"Kenapa?" Tanya Rin.
"Lihat ini bercahaya setelah aku membunuh satu slime tadi."
"Hmm... Kau hanya naik level." Kata Rin.
"Naik level? Ternyata ada sistem level juga di dunia ini?" Tanya Izuru kagum. "Apa bisa muncul jendela-jendela monitor atau semacamnya."
"Tentu saja, apa kau tidak di beri tahu saat mendaftar di guild?" Tanya Rin.
"Ehe, sebenarnya aku terlalu sibuk melihat dada resepsionis itu saat ia menjelaskan beberapa hal. Ini salah resepsionis itu, karena ia memakai pakaian minim seperti itu!" Kata Izuru dalam hati mengingat kejadian tadi pagi. "Aku lupa, bisa tolong jelaskan?"
__ADS_1
"Level itu adalah poin penanda pengalamanmu melawan monster, jadi semakin banyak kau membunuh semakin besar juga level mu nanti." Jelas Rin.
"Apa level ini bisa membuka sebuah skill gitu?"
"Kalau skill itu harus di pelajari, skill elemen beberapa mudah untuk di pelajari. Tapi untuk skill unik seperti penyembuhan atau teleportasi itu hanya bisa di gunakan oleh kelas penyihir saja." Jelas Rin.
"Owh... Jadi bagaimana cara melihat levelku?" Tanya Izuru.
"Tinggal ayunkan pelan tanganmu ke bawah."
"Biar kucoba!" Izuru lalu mengayunkan tangan kanannya dari atas ke bawah, tapi tidak terjadi apapun, mungkin Izuru terlalu cepat. "Mana? Tidak terjadi apapun." Tanya Izuru, tapi di sisi lain Iona mencobanya dan langsung bisa.
"Bisa." Kata Iona sedikit kagum.
"Benarkah!? Mana, aku tidak bisa melihatnya?" Tanya Izuru mendekat pada Iona.
"Tidak ada yang bisa melihat status orang lain." Kata Rin.
"Kenapa aku tidak bisa? Ayo keluarlah!" Kata Izuru lalu mengayunkan tangannya berkali-kali dengan cepat.
"Pelan-pelan saja." Kata Rin.
"Aku level 4." Kata Iona melihat levelnya di ujung atas kiri monitor.
"Level 4? Kalau kau, Rin?"
"Aku level 7."
"Hah! Lihat saja, aku pasti akan melampaui level kalian berdua!" Kata Izuru.
"Sebenarnya level itu tidak terlalu penting, itu hanya penanda saja. Tapi, beberapa orang bisa memiliki skill khusus pada level tertentu dan itu juga hanya orang-orang terpilih saja." Jelas Rin.
Setelah beberapa pembicaraan, Izuru melihat ke atas dan mengetahui bahwa hari sudah menjelang sore. "Ayo cepat kita selesaikan quest ini." Kata Izuru, lalu mereka dengan giat membunuh semua slime, sampai Iona kehabisan mana dan Rin kehabisan panah. Mereka berdua lalu hanya duduk di bawah pohon sambil melihat Izuru melakukan semuanya sendiri. Saat malam tiba, mereka kembali ke guild untuk mengambil bayaran.
"Ini bayaran kalian, 2 keping perak." Kata Resepsionis itu lalu Izuru menerima uang itu dan pergi ke arah Rin dan Iona yang sedang menunggunya di luar.
__ADS_1
"Apa dua perak bisa untuk kita semua makan?" Tanya Izuru setelah sampai di hadapan mereka berdua.
"2 perak? Tentu saja kurang." Jawab Iona.
"Lalu kita akan makan apa?" Tanya Rin.
"Kenapa tanya aku? Kalian pulang saja sana!" Kata Izuru marah.
"Tidak bisa, aku baru saja datang dari negeri yang jauh untuk bekerja di sini. Aku belum punya tempat tinggal." Kata Iona.
"Aku juga tidak ada uang untuk menyewa penginapan." Kata Rin.
"Memangnya itu urusanku!?" Tanya Izuru.
"Tentu saja, Resepsionis itu bilang kalau semua anggota party harus saling menjaga dalam kondisi apapun. Kau bisa terkena hukum jika menelantarkan kami." Jelas Iona.
"Kalau begitu aku akan keluarkan kalian dari party!"
"Tidak bisa, untuk mengeluarkan anggota harus menggunakan persetujuan beberapa anggota party, tidak bisa hanya dengan persetujuan pribadi, walaupun kau itu ketuanya." Jelas Rin semakin mendesak Izuru.
"Kalau begitu aku keluar saja dari party ini!"
"Ketua party tidak boleh keluar dari party, kecuali hanya tersisa satu anggota." Kata Iona.
"Argh..!! Kalian pasti sudah merencanakan ini saat aku di dalam kan?" Tanya Izuru kesal. "Jika aku tidak bisa lepas dari mereka, lebih baik aku menyimpan uangku agar tidak terpakai." Kata Izuru dalam hati, lalu ia berjalan pergi.
"Kau mau ke mana?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Ikut saja." Kata Izuru terus berjalan, lalu di ikuti Rin dan Iona. Mereka terus berjalan sampai keluar dari gerbang dan menuju ke arah hutan. "Hey, kita sebenarnya mau ke mana?" Tanya Rin.
"Setahuku ada sungai di sekitar sini. Waktu aku masih ada di atas tebing, aku melihat sungai di tengah-tengah hutan. Semoga saja aku bisa menemukannya." Kata Izuru dalam hati. Mereka melewati pepohonan sampai terlihat sebuah dataran luas tanpa pepohonan. Mereka segera pergi ke sana dan melihat sebuah sungai yang cukup deras di tengah hutan. "Ketemu!"
"Apa? Ini hanya sungai." Tanya Iona.
"Malam ini kita bermalam di sini!" Kata Izuru lantang.
__ADS_1
"Eh...? Yang benar saja!!!???" Teriak Rin dan Iona.
Bersambung...