The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 99 - Pedang Palsu?


__ADS_3

Setelah berjalan cukup lama, Izuru dan Asura mulai kelelahan lagi. Walaupun cuaca saat itu tidak sepanas tadi. Mereka terus berjalan sampai suasana di hutan itu perlahan mulai berubah menjadi lebih gelap.


"Kenapa rasanya langit jadi agak gelap?" Tanya Asura berhenti dan melihat ke atas diikuti oleh Izuru.


"Mungkin akan turun hujan." Jawab Izuru melanjutkan perjalanan.


Di tengah perjalanan, Izuru dan Asura melihat seseorang yang tidak asing. Seorang anak kecil berlari ke arah mereka.


"Kak Asura!" Teriak Anak itu.


Asura menyadarinya hanya dengan mendengar suara itu. "Meiro?" Kata Asura terkejut.


Meiro lalu berhenti di depan mereka berdua. Asura segera membungkuk di depan Meiro.


"Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Izuru.


"Kamu tidak sendirian kan?" Tanya Asura.


"Aku bersama yang lain di sana!" Jawab Meiro menunjuk ke belakang.


Mereka lalu diantar Meiro ketempat yang lain, dan bertemu dengan Iona, Destra, dan Rin. Iona dan Destra tampak kelelahan di bawah pohon.


"Kalian di sini juga?" Sapa Rin.


"Apa kalian mengikuti kami?" Tanya Izuru.


"Tidak, kami hanya sedang mengantar Meiro mencari tanaman obat."


"Benar! Tapi sampai sekarang masih belum ketemu satu pun." Kata Meiro.


"Ayo kita pulang saja! Pasti nenek-nenek itu berbohong. Kita sudah berjalan sampai ke tengah hutan, tapi tidak menemukan satu pun." Keluh Destra.


"Kalian berjalan kaki sampai sini!? Gila, kita saja di bantu terbang beberapa kilo." Kata Izuru.


"Seharusnya aku menumpang dengan kalian tadi. Aku benar-benar tidak di buat untuk ini, aku ingin kuda!" Keluh Destra.


"Kau ini lemah sekali, kalah dengan anak kecil." Kata Rin.


"Meiro itu bukan manusia, jadi jangan bandingkan aku dengannya!" Kata Destra.


Izuru duduk di dekat Iona dan mengobrol dengannya. "Kau tidak banyak bicara akhir-akhir ini?" Tanya Izuru, tapi Iona tidak menjawab.


"Hey, aku bicara padamu." Izuru menoleh ke arah Iona, lalu menyentuh pundaknya. Ternyata Iona sedang tertidur pulas, karena rambut depannya menutupi mata Izuru jadi tidak tahu kalau ia sedang tidur.


"Ya ampun, dia tidur ternyata."


"Kau dapat pedang baru?" Tanya Rin.


"Oh iya, aku sampai lupa! Ini pedang dari Crgoshiro!" Teriak Izuru sambil mengangkat pedang itu ke atas. "Aduh, berat!" Izuru menurunkannya lagi.


"Hmm... Sepertinya hanya pedang biasa. Bagaimana kau tahu ini adalah milik Crgoshiro?" Kata Destra sambil melihatnya dari dekat.


"Pedang biasa apanya!? Lihatlah ini!"

__ADS_1


"Eh..? Sebentar, aku yakin tadi berwarna emas. Kenapa sekarang jadi warna besi biasa?" Tanya Izuru bingung melihat pedang itu sedikit berubah.


"Aku dari tadi melihatnya berwarna seperti itu." Kata Rin.


"Tidak mungkin. Tapi lihatlah ukiran di sini! Tertulis nama Crgoshiro!" Kata Izuru menunjuk ke salah satu sisi pedang itu.


Rin, Destra, dan Meiro melihatnya dengan dekat, tapi tidak terlihat ukiran apapun.


"Tidak ada apapun di sini." Kata Destra.


"Huh? Pasti di sisi yang lain!" Izuru lalu membalik pedang itu dan melihat sisi yang lain. Tapi, ia tidak melihat ukiran apapun. "Hilang? Bagaimana bisa!?" Tanya Izuru terkejut.


"Apa itu benar-benar benda peninggalan Crgoshiro?" Tanya Destra.


"Tapi, tadi aku juga melihatnya!" Kata Asura.


"Mungkin itu bukan benda yang kalian cari, atau mungkin benda itu memang hanya sebuah pedang biasa." Kata Rin.


"Pedang ini berubah begitu saja! Benar kan Izuru?"


Izuru terlihat sangat kecewa sambil memandangi pedang itu. "Mungkin mereka benar, ini memang hanya pedang biasa." Kata Izuru menerima kenyataan.


"Lalu yang kita lihat tadi itu apa?" Tanya Asura.


"Mungkin tadi hanya halusinasi kita saja, karena kepala kita kepanasan."


"Izuru... Padahal sudah sangat senang tadi, tapi pada akhirnya hanya mendapatkan kekecewaan." Batin Asura.


"Ayo Asura!" Panggil Izuru.


"Mengembalikan pedang ini ke tempatnya semula." Izuru lalu berjalan pergi kembali ke arah ia datang, disusul Asura.


Izuru kembali menancapkan pedang itu ke batu dan kemudian memandanginya sesaat bersama dengan Asura.


"Maaf ya."


"Soal apa?" Tanya Asura.


"Maaf karena tanganmu terluka, tapi kita tidak mendapatkan hasil apapun."


"Jangan memikirkan hal itu terus! Aku malah sedikit senang karena kamu takut dengan tanganku yang kasar dan memiliki kuku tajam, tapi sekarang kamu berani menyentuh kedua tanganku."


"Ah itu, ternyata tanganmu tidak seburuk yang aku pikirkan. Setidaknya itu tidak melukaiku hahahaha..." Kata Izuru tertawa kecil.


"Mhahahaha... Aku tidak akan melakukannya lagi kok." Kata Asura ikut tertawa.


Tawa itu membuat Izuru melupakan rasa kecewanya tadi. Karena Izuru juga sudah lama tidak merasakan waktu santai dan tertawa bersama teman-temannya.


Mereka kembali menemui yang lain. Di sana mereka masih berkeliling mencari tanaman obat untuk Meiro.


"Oh kalian tampak senang. Ada yang terjadi?" Tanya Rin.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Izuru dan Asura bersamaan.

__ADS_1


"Sudah kuduga pasti ada yang terjadi. Aku memaklumi kalau Izuru ingin merahasiakannya. Tapi Asura, sebagai sesama perempuan mungkin bisa cerita sedikit?" Kata Rin menaik turunkan alisnya.


"Kapan-kapan aku ceritakan."


"Ehe, aku akan menunggu saat itu."


"Oh ya, kalian sudah menemukan tanaman obat itu?" Tanya Izuru.


"Sejauh ini belum." Jawab Rin.


"Aku menemukannya!" Teriak Destra berlari ke arah mereka sambil menggenggam sesuatu.


"Benarkah!? Berikan padaku cepat!" Kata Meiro tampak tidak sabar.


"Ini dia!" Destra memberikan sebuah bunga berwarna biru.


Meiro tiba-tiba mengambil bunga itu dengan perasaan marah dan langsung melemparnya ke tanah. "Bukankah sudah kubilang warnanya ungu...!?" Teriak Meiro kesal.


"Iya, kau tahu warna ungu itu tercipta dari warna dasar biru dan merah. Jadi warna biru dan ungu itu satu keluarga."


"Itu tidak ada hubungannya bodoh...!" Teriak Meiro sambil melemparkan batu ke arah kepala Destra.


"Ughh.....!" Destra terjatuh lemas dengan sedikit darah menetes dari keningnya.


"Jika kau main-main lagi, akan aku lempar dengan sesuatu yang lebih besar!" Tegur Meiro.


"Jadi rupanya itu bunga berwarna ungu?" Tanya Izuru.


"Benar! Dan kuncup nya hanya mekar sedikit seperti tulip muda. Biasanya tumbuh menempel pada akar-akar pohon." Jelas Meiro.


"Baiklah aku akan ikut mencarinya." Kata Izuru.


Izuru dan Asura bergabung dalam pencarian. Mereka memeriksa satu per satu pohon dengan akar yang tumbuh di permukaan, tapi bantuan mereka tidak mengubah apapun. Tidak ada satu pun tanaman yang mirip seperti yang Meiro katakan.


Mereka kemudian memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan sebuah padang rumput luas di tengah hutan. Di sekitar sana di tumbuhi banyak bunga beraneka warna, suasana di tempat itu juga lebih sejuk dari pada di dalam hutan.


"Banyak sekali bunga di sini. Mungkin tumbuhan yang Meiro cari ada di antara bunga-bunga ini!" Kata Izuru berlari ke tengah.


"Hey! Bukankah aku sudah bilang mereka tumbuh di akar pohon. Huh... Dia tidak mendengarkan ku."


Izuru melihat sekeliling saat berada di tengah. Saat itu juga angin dingin berhembus sedikit kencang dan sinar matahari seakan tersapu oleh angin, menyisakan bayangan dari awan. Izuru lalu mengalihkan pandangannya ke atas dan melihat awan besar hitam.


"Sepertinya akan hujan deras. Eh...? Ada yang aneh dari awan itu." Kata Izuru dalam hati lalu fokus melihat ke arah awan.


Di pinggir gumpalan awan yang besar itu ada sesuatu yang tidak berbentuk seperti awan. Menyadari itu, Izuru segera berlari kembali ke arah yang lain.


"Hey, coba kalian lihat awan di atas kita!" Kata Izuru sambil menunjuk ke atas. Yang lain segera melihat ke atas, kecuali Iona yang melanjutkan tidur bersandar pohon.


"Tunggu? Bukankah itu...?" Tanya Rin dengan wajah terkejut bercampur ragu.


"Tidak mungkin!" Kata Destra juga tampak terkejut sambil menggosok kedua matanya.


"Apa? Apa itu!?" Tanya Izuru tampak kebingungan sendiri.

__ADS_1


"Itu adalah..."


Bersambung...


__ADS_2