
Di rumah dengan menara kecil di atasnya, tempat Izuru dan lainnya sembunyi untuk beberapa waktu. Semua pintu dan jendela di tutup agar tidak ada orang lain yang tahu.
Mereka semua kemudian saling duduk berhadapan membentuk lingkaran dan mulai membicarakan apa yang akan mereka lakukan sekarang.
"Sudah cukup lama kita di sini. Ayo kita pulang sekarang!" Kata Asura.
"Apa kau sudah gila? Kita sudah sampai sejauh ini dan aku belum melakukan apapun." Jawab Destra.
"Tapi kita baru saja menyekap dua orang lokal! Bagaimana kalau para warga lain tiba-tiba mengepung kita di sini?" Kata Asura khawatir.
"Yang Asura katakan ada benarnya. Kita tidak boleh menganggap remeh Ras Malaikat, mereka sama bahayanya jika menggunakan sihir setara dengan Ras Elf dan Ras Iblis." Sambung Iona.
"Bukankah kau tadi juga memohon-mohon pada Asura untuk naik ke tempat ini?" Kata Destra menyindir Iona.
"Aku tidak berpikir hal ini bisa terjadi! Kau juga yang pertama menakutinya dan membuat kita terlihat buruk!"
"Sejak awal gadis itu memang sudah takut pada kita! Mungkin saja dia takut melihat Asura dalam bentuk naga."
"Kenapa jadi menyalahkan aku?" Tanya Asura terkejut.
"Sudahlah kalian berhenti bertengkar!" Sela Izuru.
"Kau juga yang menyerang laki-laki itu kan?" Kata Destra.
"Tapi, dia terlihat lebih tidak bersahabat dari pada gadis itu! Tunggu, bukankah kau tadi pingsan?" Tanya Izuru.
"Meiro juga sudah memukul kepalaku dengan vas dua kali!" Kata Destra.
"Itu tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" Jawab Meiro.
"Lebih baik kita segera pulang dan membiarkan warga lain yang menemukan dua orang itu." Kata Iona.
"Tapi, bagaimana jika tidak ada yang menemukannya! Dan mereka akan mati kelaparan, kemudian mengira bahwa kita yang sudah membunuhnya. Mereka lalu mencari keberadaan kita dan memutuskan untuk berperang!" Kata Asura paranoid.
"Bagaimana kalau kita bicara lagi pada mereka. Kita akan membuat kesepakatan dengan ancaman, jadi mereka tidak punya pilihan selain menurut." Kata Izuru.
"Tadi saja dia langsung berteriak saat mulutnya di buka, apa bedanya dengan sekarang?" Tanya Iona.
"Kita bukan bicara pada yang perempuan, kita akan bicara pada yang laki-laki."
Semuanya lalu melihat ke arah yang lain, lalu mereka semua mengangguk. "Baiklah, sepertinya itu pantas di coba." Kata Iona.
Di ruangan yang gelap, dengan sebuah meja dan kursi di tengahnya. Laki-laki Ras malaikat itu di bawa dan di dudukkan di kursi, lalu datanglah tiga orang dan menyalakan lentera di atas yang menyilaukan mata laki-laki itu.
Ikatan di mulutnya kemudian di buka. "Bueh...! Apa yang kalian inginkan!" Tanya Laki-laki itu melihat ke atas, terlihat wajah tanpa senyum berdiri di depannya.
__ADS_1
"Aku akan memberimu pertanyaan dan hanya perlu menjawab." Kata Iona.
"Kalau aku menolak?"
"Kau akan tahu nanti. Ehem... Bawah ke sini semua alatnya." Panggil Iona. Beberapa saat kemudian Meiro dan Asura datang dengan membawa berbagai benda.
Benda-benda itu kemudian di letakan satu persatu di atas meja. Diantaranya ada Pedang cambuk milik Izuru, botol racun milik Meiro, belati milik Iona, dan vas dari tanah liat.
"Ada beberapa lagi yang tentu saja tidak akan muat di meja ini. Wanita di sampingmu yang bisa mematahkan lehermu sekali pukul dan gadis kecil yang bisa membunuhmu dengan perlahan juga menyakitkan."
Laki-laki itu melihat ke arah kanan, Asura menatap tajam dengan menunjukkan tangannya yang mengepal. Lalu ia melihat ke arah yang lain, Meiro dengan tersenyum jahat membawa botol-botol kaca berisi cairan yang menyala. Laki-laki itu seketika menelan ludah dan berkeringat dingin.
"Pertanyaan pertama, siapa namamu?"
"Na... Nama ku Gabriel..."
"Mungkin itu sudah cukup, sekarang kami akan membuat kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan apa?"
"Kami tidak akan menyakitimu atau siapapun, dengan syarat kau harus menyembunyikan identitas Ras kami."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
Iona segera mengambil belatinya dari atas meja, Izuru ikut mengambil pedangnya, dan Destra mengambil botol juga vas bunga. Meiro dan Asura juga tampak sudah siap melakukan penyiksaan.
"BAIKLAH-BAIKLAH! AKU AKAN MELAKUKANNYA!" Teriak Gabriel ketakutan.
"Baguslah kalau begitu. Cepat lepaskan dia!"
Ruangan itu kemudian menjadi terang dan tidak seperti sebelumnya. Tali yang mengikat Gabriel di lepaskan dan dia masih tidak percaya dengan yang terjadi.
"Maaf kalau kami berlebihan." Kata Iona.
"Iya, aku yakin kau tidak akan setuju jika tidak diancam seperti tadi." Kata Izuru.
"Sekarang jelaskan pada temanmu itu. Kalau dia sampai macam-macam, ingat apa yang akan terjadi." Kata Destra.
Gabriel kemudian masuk ke dalam ruangan tempat penyekapan gadis itu. Mata gadis itu terbuka lebar seperti sedang senang karena temannya sudah berhasil bebas. Gabriel kemudian membuka ikatan di mulut gadis itu.
"Gabriel! Kamu sudah mengusir orang-orang itu!?" Tanya Lauren.
"Ada sedikit hal yang tidak terduga terjadi." Kata Gabriel kemudian menjelaskan apa yang terjadi dan tentang kesepakatan mereka.
"Apa? Maksudmu kita harus menyembunyikan mereka di kota?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, mereka terdengar seperti buronan.
"Bagaimana kalau mereka merencanakan sesuatu yang buruk?" Tanya Lauren.
"Kita akan cari tahu itu nanti. Untuk sekarang kita harus menurut dan mencari tahu apa yang mereka inginkan di sini." Jawab Gabriel.
Gabriel dan Lauren keluar dari ruangan itu. Izuru dan yang lainnya sudah menunggu mereka dari tadi di depan pintu.
"Bagaimana dengan temanmu?" Tanya Iona.
"Kami akan melakukan yang terbaik dan sesuai dengan kesepakatan, kalian tidak akan menyakiti siapapun termasuk semua orang yang ada di kota ini." Kata Gabriel.
"Iya, janji adalah janji."
"Apa kalian tahu tempat untuk mendapatkan peralatan melukis?" Tanya Destra antusias.
"Aku tahu seseorang yang menjual peralatan melukis." Jawab Gabriel.
"Yosh! Ayo antar aku ke sana!"
"Semua orang akan tahu kalau kita manusia. Bagaimana cara agar kita bisa menyatu dengan semua malaikat di luar?" Tanya Izuru.
"Jadi, kalian datang ke sini menyekap kami berdua, lalu mengancam bersepakat hanya untuk jalan-jalan?" Tanya Gabriel.
"Tentu saja, memangnya apa lagi yang bisa di cari di sini?" Tanya Iona.
"LALU KENAPA KALIAN HARUS MELAKUKAN SEMUA ITU...!!??? HANYA TINGGAL KATAKAN SAJA APA MAU KALIAN ITU MUDAH...!!!" Teriak Lauren sangat marah di depan wajah mereka semua.
"HAH... HAH..." Lauren mencoba bernafas setelah meluapkan emosinya itu.
"Kami pikir datang diam-diam di sini akan dianggap sebagai penyusup." Jawab Iona.
"Tidak ada yang berpikir begitu! Kami ini bukan Ras Anti dunia luar!"
"Maaf, kami jadi serba salah." Kata Asura.
"Huft... Sudahlah, tidak apa kalau kalian hanya ingin berkunjung. Sebenarnya ada beberapa Ras lain yang tinggal di sini, tapi sangat sedikit." Kata Lauren.
"Benarkah? Mungkin kalian bisa mengantarkan kami menemuinya!" Kata Destra.
"Yah, dia orangnya cukup sibuk sih. Tapi, mungkin itu pengecualian untuk kalian. Ayo akan kuantar kalian!"
Mereka akhirnya menyelesaikan kesalahpahaman itu dan memulai perjalanan menjelajahi Fhsyle.
Bersambung....
__ADS_1