
"Tutup mulutmu itu....!" Izuru tiba-tiba memukul pipi Gabriel dengan keras.
Gabriel hampir jatuh karena pukulan itu, ia mundur beberapa langkah dari Izuru.
"Izuru!" Tegur Iona.
"Apa masalahku? Kalian tidak akan pernah mengerti...!" Gabriel berlari ke arah Izuru dan membalas pukulannya tadi, ia juga menendang perut Izuru sampai ia terjatuh dan keluar dari ruangan itu.
Izuru terbaring di ruang kerja, pecahan kaca masih bertebaran di lantai. Gabriel menghampiri Izuru yang masih belum sempat berdiri, ia kemudian menarik baju Izuru dan mengangkatnya.
"Kau hanya melihat Naga sebagai temanmu, tapi tidak melihat orang-orang sudah menderita karenanya!" Kata Gabriel lalu melemparkan Izuru ke arah jendela yang pecah melewati meja di sana.
Izuru mendarat dan hampir jatuh keluar Fhsyle. Izuru terlihat panik karena ada di pinggir jurang ratusan meter dalamnya, ia segera menjauh sedikit dari ujung jurang.
Gabriel kembali mendatangi Izuru, tampaknya ia masih belum selesai. Yang lain kemudian datang dan mencoba menghentikan Gabriel, tapi ia kembali mengangkat Izuru dan menghadapkannya pinggir.
"Gabriel, jangan lakukan itu!" Kata Profesor.
Tapi, Gabriel tidak mendengarkan dan terus mengancam akan menjatuhkan Izuru dari jendela. Tanpa berlama-lama lagi, Gabriel langsung melemparkan Izuru keluar jendela.
"Waaaaaaaaaa......!!!" Teriak Izuru.
"Izuru...!" Teriak semua orang berlari ke arah jendela.
Tiba-tiba dari bawah sesuatu datang dan menjerat kaki Gabriel, lalu membuat Gabriel ikut terjatuh. Itu adalah pedang Izuru yang memanjang dan menarik kaki Gabriel saat ia jatuh.
Di sanalah Asura langsung berlari sekuat tenaga melompat dari jendela. Izuru jatuh bersama Gabriel, ia berpegangan kuat pada kaki Gabriel.
Gabriel melepaskan pedang yang melilit kakinya, lalu membuka sayapnya lebar-lebar. Membuatnya jatuh lebih lambat, tapi Izuru terkena tolakan yang besar membuat pegangannya lepas dari kaki Gabriel.
Izuru jatuh dan terus berteriak ketakutan. Asura segera menyusul Izuru, dengan raut wajah panik.
"Izuru....!!!" Teriak Asura mencoba meraih tangan Izuru.
Izuru mendengar teriakan Asura dan segera mengulurkan tangannya. Asura berhasil meraih tangan Izuru, ia menggenggam erat dengan satu tangan dan tangannya yang lain merobek bagian belakang bajunya.
Sayap keluar dan mengepak dengan kuat. Izuru berpegangan erat pada Asura dalam posisi berpelukan. Izuru tampak masih sangat syok dan wajahnya penuh dengan keringat dingin.
Gabriel melihat mereka berdua dari atas, setelah itu ia terbang, tapi tidak kembali ke tempat Profesor. Asura dan Izuru kembali dan masuk ke dalam ruangan dari jendela. Izuru kemudian ditidurkan di lantai.
"Izuru! Kau tidak apa-apa!?" Tanya Iona duduk disampingnya sambil melihat wajah Izuru.
Izuru masih tidak bisa bicara apa-apa dan bernafas terengah-engah. Asura lalu duduk seberang Iona.
"Tolong seseorang ambilkan air putih." Kata Asura.
"Akan aku ambilkan." Kata Lauren pergi ke ruangan lain.
Asura lalu mengelap dahi Izuru dan kemudian memindahkan kepala Izuru ke atas pahanya.
"Tarik nafas panjang. Ayo perlahan saja." Kata Asura.
Izuru mengikuti arahan Asura. Nafas yang teratur membuat Izuru menjadi lebih tenang.
"Tenang... Semua sudah baik-baik saja..." Kata Asura dengan nada suara yang sangat lembut.
"Ini Asura." Lauren memberikan segelas air putih pada Asura. Ia lalu meminumnya sampai habis.
"Aku pikir air itu untuk Izuru." Kata Iona.
"Nanti dia muntah kalau minum. Biarkan saja Izuru menenangkan diri sampai ia bisa berpikir jernih."
"Hey! Apa-apaan temanmu itu!? Izuru hampir mati gara-gara dia!" Teriak Iona memarahi Lauren.
"Aku tidak tahu! Dari awal aku mengenalnya dia tidak pernah sampai mencelakai orang seperti ini." Jawab Lauren.
"Aku akan mencarinya dulu!" Lauren lalu berlari keluar dari pintu.
Tepat saat Lauren pergi, Izuru tiba-tiba berdiri dan melihat ke arah semua orang dengan tatapan aneh.
"Izuru ada apa?" Tanya Iona.
"Hey kau tidak apa-apa?" Tanya Destra.
"Izuru..." Kata Asura berdiri.
Izuru perlahan melangkah kebelakang dan langsung berlari pergi keluar dari sana.
"Izuru! Kau mau ke mana?" Tanya Iona.
"Aku tidak mau jatuh lagi!" Teriak Izuru sambil berlari di lorong. Ternyata ia tidak melihat teman-temannya, tapi melihat jendela yang membuat Izuru menjadi takut.
Singkat cerita Izuru pergi bersembunyi di tengah kerumunan orang di bar. Yang lain kemudian datang dan mencarinya di dalam bar.
"Kalian mencarinya?" Tanya salah seorang pelanggan di sana menunjukan Izuru yang tengah duduk di bawah meja bartender. Semua orang memperhatikan Izuru yang terlihat sangat ketakutan.
"Hey ada apa denganmu?" Tanya salah seorang pria.
"Apa itu temanmu?"
__ADS_1
"Iya benar, tadi dia baru saja jatuh dari Fhsyle. Itu mungkin membuatnya trauma." Jelas Destra.
Izuru lalu diberikan tempat duduk dan di traktir minuman oleh beberapa orang. Semuanya mengelilingi meja yang di pakai Izuru dan teman-temannya. Mereka tampak ingin mendengar cerita Izuru tadi.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya salah seorang di sana.
"Kalian tidak akan percaya! Tadi dia berkelahi dengan seorang Malaikat dan gilanya malaikat itu melemparkannya keluar jendela tanpa belas kasihan." Kata Destra menceritakan semuanya.
"Itu benar-benar keterlaluan!" Kata seseorang dengan nada marah.
"Kebencian masyarakat sekarang jadi lebih besar pada kita."
"Benar. Bisa-bisa kita juga akan dilempar dari atas sini." Kata seorang elf.
"Sialan orang itu! Katakan seperti apa dia! Akan aku pecahkan kepalanya seperti kelapa." Kata seorang pria berbadan besar bertanduk banteng sambil mengepalkan tangannya.
"Oh ya ampun, kasihan sekali anak ini." Kata Wanita Siren naik ke permukaan akuarium yang kebetulan tepat di belakang Izuru duduk.
"Tadi sebelum kejadian jatuh tadi. Aku juga hampir terkena lemparan batu besar! Saat itu aku di depan jendela dan tiba-tiba batu besar menghantam, membuat wajahku terkena banyak pecahan kaca." Kata Destra bercerita dengan serius.
"Hmm... Bisa aku lihat dari wajahmu." Kata salah satu pelanggan di sana.
"Semakin lama semakin besar saja kebencian mereka pada kita." Kata seseorang di sana.
"Sudahlah, kita juga hanya menumpang di sini."
"Itu benar, kita tidak bisa melakukan apapun untuk melawan."
"Kalau saja tidak ada wanita dan anak-anak di sini, pasti aku sudah pergi sejak lama.
Mendengar percakapan orang-orang di sana, Lauren jadi merasa bersalah karena dirinya juga Ras Malaikat. Tidak ada yang sadar Lauren adalah Malaikat karena dia selalu menyembunyikan sayapnya di balik jubah.
"Aku akan kembali ketempat Profesor." Kata Lauren lalu keluar dari kerumunan.
Lauren berjalan sambil memandang kebawah. Saat sampai di depan pintu, ia berhenti dan hanya memegang gagang pintu. Setelah itu Lauren mengangkat wajahnya dan kemudian membuka pintu ke ruangan Profesor.
Profesor yang sedang mengumpulkan pecahan kaca di lantai kemudian melihat Lauren masuk.
"Lauren, bagaimana dengan anak itu?" Tanya Profesor.
"Dia baik-baik saja. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa Profesor juga benci dengan kami Ras Malaikat, seperti yang lain?"
Bersambung..."Tutup mulutmu itu....!" Izuru tiba-tiba memukul pipi Gabriel dengan keras.
Gabriel hampir jatuh karena pukulan itu, ia mundur beberapa langkah dari Izuru.
"Izuru!" Tegur Iona.
"Apa masalahku? Kalian tidak akan pernah mengerti...!" Gabriel berlari ke arah Izuru dan membalas pukulannya tadi, ia juga menendang perut Izuru sampai ia terjatuh dan keluar dari ruangan itu.
Izuru terbaring di ruang kerja, pecahan kaca masih bertebaran di lantai. Gabriel menghampiri Izuru yang masih belum sempat berdiri, ia kemudian menarik baju Izuru dan mengangkatnya.
"Kau hanya melihat Naga sebagai temanmu, tapi tidak melihat orang-orang sudah menderita karenanya!" Kata Gabriel lalu melemparkan Izuru ke arah jendela yang pecah melewati meja di sana.
Izuru mendarat dan hampir jatuh keluar Fhsyle. Izuru terlihat panik karena ada di pinggir jurang ratusan meter dalamnya, ia segera menjauh sedikit dari ujung jurang.
Gabriel kembali mendatangi Izuru, tampaknya ia masih belum selesai. Yang lain kemudian datang dan mencoba menghentikan Gabriel, tapi ia kembali mengangkat Izuru dan menghadapkannya pinggir.
"Gabriel, jangan lakukan itu!" Kata Profesor.
Tapi, Gabriel tidak mendengarkan dan terus mengancam akan menjatuhkan Izuru dari jendela. Tanpa berlama-lama lagi, Gabriel langsung melemparkan Izuru keluar jendela.
"Waaaaaaaaaa......!!!" Teriak Izuru.
"Izuru...!" Teriak semua orang berlari ke arah jendela.
Tiba-tiba dari bawah sesuatu datang dan menjerat kaki Gabriel, lalu membuat Gabriel ikut terjatuh. Itu adalah pedang Izuru yang memanjang dan menarik kaki Gabriel saat ia jatuh.
Di sanalah Asura langsung berlari sekuat tenaga melompat dari jendela. Izuru jatuh bersama Gabriel, ia berpegangan kuat pada kaki Gabriel.
Gabriel melepaskan pedang yang melilit kakinya, lalu membuka sayapnya lebar-lebar. Membuatnya jatuh lebih lambat, tapi Izuru terkena tolakan yang besar membuat pegangannya lepas dari kaki Gabriel.
Izuru jatuh dan terus berteriak ketakutan. Asura segera menyusul Izuru, dengan raut wajah panik.
"Izuru....!!!" Teriak Asura mencoba meraih tangan Izuru.
Izuru mendengar teriakan Asura dan segera mengulurkan tangannya. Asura berhasil meraih tangan Izuru, ia menggenggam erat dengan satu tangan dan tangannya yang lain merobek bagian belakang bajunya.
Sayap keluar dan mengepak dengan kuat. Izuru berpegangan erat pada Asura dalam posisi berpelukan. Izuru tampak masih sangat syok dan wajahnya penuh dengan keringat dingin.
Gabriel melihat mereka berdua dari atas, setelah itu ia terbang, tapi tidak kembali ke tempat Profesor. Asura dan Izuru kembali dan masuk ke dalam ruangan dari jendela. Izuru kemudian ditidurkan di lantai.
"Izuru! Kau tidak apa-apa!?" Tanya Iona duduk disampingnya sambil melihat wajah Izuru.
Izuru masih tidak bisa bicara apa-apa dan bernafas terengah-engah. Asura lalu duduk seberang Iona.
"Tolong seseorang ambilkan air putih." Kata Asura.
__ADS_1
"Akan aku ambilkan." Kata Lauren pergi ke ruangan lain.
Asura lalu mengelap dahi Izuru dan kemudian memindahkan kepala Izuru ke atas pahanya.
"Tarik nafas panjang. Ayo perlahan saja." Kata Asura.
Izuru mengikuti arahan Asura. Nafas yang teratur membuat Izuru menjadi lebih tenang.
"Tenang... Semua sudah baik-baik saja..." Kata Asura dengan nada suara yang sangat lembut.
"Ini Asura." Lauren memberikan segelas air putih pada Asura. Ia lalu meminumnya sampai habis.
"Aku pikir air itu untuk Izuru." Kata Iona.
"Nanti dia muntah kalau minum. Biarkan saja Izuru menenangkan diri sampai ia bisa berpikir jernih."
"Hey! Apa-apaan temanmu itu!? Izuru hampir mati gara-gara dia!" Teriak Iona memarahi Lauren.
"Aku tidak tahu! Dari awal aku mengenalnya dia tidak pernah sampai mencelakai orang seperti ini." Jawab Lauren.
"Aku akan mencarinya dulu!" Lauren lalu berlari keluar dari pintu.
Tepat saat Lauren pergi, Izuru tiba-tiba berdiri dan melihat ke arah semua orang dengan tatapan aneh.
"Izuru ada apa?" Tanya Iona.
"Hey kau tidak apa-apa?" Tanya Destra.
"Izuru..." Kata Asura berdiri.
Izuru perlahan melangkah kebelakang dan langsung berlari pergi keluar dari sana.
"Izuru! Kau mau ke mana?" Tanya Iona.
"Aku tidak mau jatuh lagi!" Teriak Izuru sambil berlari di lorong. Ternyata ia tidak melihat teman-temannya, tapi melihat jendela yang membuat Izuru menjadi takut.
Singkat cerita Izuru pergi bersembunyi di tengah kerumunan orang di bar. Yang lain kemudian datang dan mencarinya di dalam bar.
"Kalian mencarinya?" Tanya salah seorang pelanggan di sana menunjukan Izuru yang tengah duduk di bawah meja bartender. Semua orang memperhatikan Izuru yang terlihat sangat ketakutan.
"Hey ada apa denganmu?" Tanya salah seorang pria.
"Apa itu temanmu?"
"Iya benar, tadi dia baru saja jatuh dari Fhsyle. Itu mungkin membuatnya trauma." Jelas Destra.
Izuru lalu diberikan tempat duduk dan di traktir minuman oleh beberapa orang. Semuanya mengelilingi meja yang di pakai Izuru dan teman-temannya. Mereka tampak ingin mendengar cerita Izuru tadi.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya salah seorang di sana.
"Kalian tidak akan percaya! Tadi dia berkelahi dengan seorang Malaikat dan gilanya malaikat itu melemparkannya keluar jendela tanpa belas kasihan." Kata Destra menceritakan semuanya.
"Itu benar-benar keterlaluan!" Kata seseorang dengan nada marah.
"Kebencian masyarakat sekarang jadi lebih besar pada kita."
"Benar. Bisa-bisa kita juga akan dilempar dari atas sini." Kata seorang elf.
"Sialan orang itu! Katakan seperti apa dia! Akan aku pecahkan kepalanya seperti kelapa." Kata seorang pria berbadan besar bertanduk banteng sambil mengepalkan tangannya.
"Oh ya ampun, kasihan sekali anak ini." Kata Wanita Siren naik ke permukaan akuarium yang kebetulan tepat di belakang Izuru duduk.
"Tadi sebelum kejadian jatuh tadi. Aku juga hampir terkena lemparan batu besar! Saat itu aku di depan jendela dan tiba-tiba batu besar menghantam, membuat wajahku terkena banyak pecahan kaca." Kata Destra bercerita dengan serius.
"Hmm... Bisa aku lihat dari wajahmu." Kata salah satu pelanggan di sana.
"Semakin lama semakin besar saja kebencian mereka pada kita." Kata seseorang di sana.
"Sudahlah, kita juga hanya menumpang di sini."
"Itu benar, kita tidak bisa melakukan apapun untuk melawan."
"Kalau saja tidak ada wanita dan anak-anak di sini, pasti aku sudah pergi sejak lama.
Mendengar percakapan orang-orang di sana, Lauren jadi merasa bersalah karena dirinya juga Ras Malaikat. Tidak ada yang sadar Lauren adalah Malaikat karena dia selalu menyembunyikan sayapnya di balik jubah.
"Aku akan kembali ketempat Profesor." Kata Lauren lalu keluar dari kerumunan.
Lauren berjalan sambil memandang kebawah. Saat sampai di depan pintu, ia berhenti dan hanya memegang gagang pintu. Setelah itu Lauren mengangkat wajahnya dan kemudian membuka pintu ke ruangan Profesor.
Profesor yang sedang mengumpulkan pecahan kaca di lantai kemudian melihat Lauren masuk.
"Lauren, bagaimana dengan anak itu?" Tanya Profesor.
"Dia baik-baik saja. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa Profesor juga benci dengan kami Ras Malaikat, seperti yang lain?"
Bersambung...
__ADS_1