
Pedang bergerak cepat ke arah Migaki, wajahnya dibanjiri oleh keringat. Sudah terlambat untuk bisa menghindari pedang Shun yang semakin dekat.
Tiba-tiba ekspresi Migaki berubah menjadi tersenyum. "Di sini agak panas ya?" Kata Migaki.
"Apa?" Tanya Shun, lalu ia menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat panas di belakangnya. Menoleh kebelakang, itu adalah bola api besar yang sedang menuju ke arahnya dari belakang.
"Kapan dia mengeluarkan bola api itu..!?" Tanya Shun dalam hati.
Migaki lalu menangkis pedang Shun dengan tongkatnya dan mencekiknya. Shun tidak bisa bergerak dan bola api datang menghantam punggungnya.
"Arrgghh....!" Teriak Shun kesakitan.
Migaki melemparkan Shun yang terluka ketanah. Terlihat baju bagian belakang terbakar habis sampai punggungnya melepuh.
"Kau tahu apa bagian yang kurang darimu Semuanya!" Kata Migaki lalu berjalan ke pinggir arena.
Karin berlari melewati Migaki dan mendatangi Shun. "Shun, kau tidak apa? Tenang saja, aku akan segera menyembuhkan mu!" Kata Karin melihat wajah Shun yang sudah lemas.
Karin lalu menggunakan sihir penyembuh kepada Shun. Migaki duduk di pinggir arena sambil mengipasi dirinya dengan tangan dan menarik baju depannya.
"Hah... Panas sekali. Seseorang tolong ambilkan aku minum!"
Karin lalu membawa Shun kepinggir arena tempat Migaki duduk dengan merangkulnya. "Apa masih sakit?" Tanya Karin.
"Tidak, aku hanya haus." Jawab Migaki.
"Aku tidak bertanya padamu! Apa-apaan Kakak ini? Kau seharusnya melatih Shun, bukan malah melukainya seperti ini!" Kata Karin kesal.
"Ini adalah bagian dari latihan, terlihat sekali kalau dia belum pernah terluka sebelumnya. Jadi ini bisa menjadi pengalaman pertama." Jawab Migaki.
"Pengalaman pertama apanya? Shun, apa masih terasa sakit?" Tanya Karin lagi.
"Aku sudah tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa lemas." Jawab Shun.
"Maaf, itu karena aku hanya menggunakan sihir penyembuh tingkat rendah. Jadi aku hanya membantu energi mana di dalam tubuhmu agar mempercepat regenerasi."
"Kenapa kau minta maaf? Seharusnya aku yang berterima kasih." Tanya Shun.
"Itu karena kita jadi tidak bisa melanjutkan latihan hari ini." Jawab Karin.
"Kalau begitu aku lanjutkan dengan teori. Ehem..." Kata Migaki mulai bicara.
"Jadi, Senjata Legendaris itu tidak hanya memberikan kekuatan pada pemakainya, tapi juga memperkuat sihir yang di gunakan. Karena itu kau harus belajar sihir lain agar kemampuanmu bisa berkembang."
"Kalau begitu, aku tetap harus berlatih dari awal?" Tanya Shun.
"Tentu saja! Kau beruntung karena yang di panggil kesini adalah aku. Andai saja yang lain, pasti salah satu tulang mu akan patah. Temui aku lagi di sini saat malam! Kita akan belajar menggunakan sihir."
"Kalau begitu sampai jumpa." Kata Migaki berjalan pergi meninggalkan Karin dan Shun di sana.
__ADS_1
"Dasar Kak Migaki selalu seperti itu dengan orang lain. Padahal dia tidak pernah sepeti itu padaku."
"Tidak mungkin dia kasar dengan adiknya sendiri."
"Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar." Karin mengulurkan tangannya dan membantu Shun berdiri.
"Terima kasih. Semoga saja tenagaku bisa pulih untuk latihan nanti malam."
"Tenang saja, aku akan membangunkan mu!"
Karin tampak tidur pulas di kamarnya, sementara Shun dan Migaki berjalan di tengah lorong yang gelap tengah malam.
Langit malam yang cerah bersama dengan suara angin di tengah kesunyian. Sinar bulan masuk melewati jendela, menerangi sepanjang lorong.
"Anu, kita tidak membangunkan Karin?" Tanya Shun.
"Tidak perlu. Aku tidak mau dia bangun hanya untuk latihan seperti ini."
Mereka berdua kembali ke arena latihan. Migaki merapal sebuah mantra sambil mengangkat tongkatnya.
Perlahan cahaya muncul di tengah ornamen pada tongkat sihirnya. Cahaya itu lalu terbang ke atas dan bersinar lebih terang lagi. Arena latihan itu menjadi sangat terang seperti saat pagi.
"Kita akan mulai dengan sihir elemen air."
Migaki lalu mengangkat satu tangannya ke depan dan kemudian memunculkan air di depan tangannya. "Ciptakan wujud elemen dari energi mana di tubuhmu dan lepaskan." Air di tangannya kemudian jatuh ke tahan.
"Kelihatannya mudah sekali." Kata Shun.
"Iya, baik." Shun lalu mengangkat tangan kanannya ke depan dan tangan kirinya memegang pergelangan tangan yang lain.
"..." Dia hanya diam seperti itu.
"Kenapa kau diam saja!?" Tanya Migaki.
"Anu, bagaimana cara melakukannya ya?" Shun balik bertanya.
"Astaga anak ini." Kata Migaki menepuk jidat. Ia lalu memasukan tangannya ke saku dan melemparkan secarik kertas ke arah Shun.
"Gunakan mantra itu."
Shun membacanya sekilas, lalu mulai membacanya. "Wahai de..."
"Baca dalam hati saja." Ujar Migaki memotong perkataan Shun.
Shun lalu membaca mantra itu dalam hati, dan tiba-tiba merasakan sesuatu dari tangan kanannya. Seperti ada sesuatu yang mengalir dari tubuhnya menuju ke ujung jari-jarinya dan udara dingin nan lembut terasa menyentuh setiap permukaan kulit. Udara itu berkumpul di depan tangan Shun, dan berubah menjadi bola air.
"Uwah...!" Shun tampak terkejut dengan yang ia lakukan.
"Bagus, kau sudah bisa melakukan sihir elemen dasar. Sekarang ayo lepaskan."
__ADS_1
"Lepas bagaimana?"
"Lepaskan saja! Lepaskan segel mantra itu!"
"Bagaimana cara melakukannya?" Tanya Shun, sementara bola air depan tangannya menjadi lebih besar.
"Hey, cepat batalkan! Atau Mana mu akan habis!"
Shun tampaknya tidak bisa membatalkan sihirnya, bahkan sekarang bola air itu sudah hampir sebesar tubuh mereka. Migaki mendekat dan menggenggam pergelangan tangan Shun untuk membantunya.
"Rasakan mantra yang kau sebutkan itu dalam pikiranmu." Kata Migaki memandu Shun.
"Aku sudah membayangkannya! Lalu apa?" Tanya Shun menutup matanya.
"Konsentrasi dan hancurkan! Bayangkan kau menghancurkan mantra itu!" Seru Migaki.
Shun lalu berkonsentrasi pada mantra di dalam pikirannya, dan membayangkan menghancurkannya seperti yang Migaki suruh. Shun membuka matanya dan...
"Hancurlah!" Teriak Shun.
Seketika bola air itu meledak dan menghempaskan mereka ke arah yang berlawanan.
"Aduh, apa yang terjadi?" Tanya Shun bangun dan melihat sekelilingnya sudah basah seperti setelah hujan deras. Seluruh tubuh dan pakaian Shun juga basah kuyup karena ledakan tadi.
"Dasar bodoh!" Teriak Migaki duduk di tanah setelah terlempar tadi. "Kau seharusnya membatalkannya! Bukan malah meledakan nya!" Sambungnya.
Migaki melihat pakaiannya yang basah kuyup, ia lalu memeras jubah dan roknya.
"Lihat apa yang sudah kau lakukan! Aku jadi basah kuyup begini! di tengah malam!" Kata Migaki berdiri.
"Maaf, aku tidak tahu itu bisa terjadi." Kata Shun.
"Sudahlah, kita akhiri saja latihan hari ini. Aku bisa sakit karena kedinginan." Migaki berjalan pergi diikuti oleh Shun.
Perlahan cahaya yang menerangi arena latihan itu meredup dan akhirnya mati sesaat setelah mereka pergi dari sana.
Migaki masuk kedalam kamar Karin. Terlihat adik kecilnya itu masih tertidur pulas. Migaki tersenyum melihatnya, ia segera melepas seluruh baju basahnya, kemudian ikut tidur sambil memeluk Karin.
...*****...
Di sebuah kota saat tengah malam, ada satu jendela kamar yang masih bersinar. Di dalam kamar itu ada Izuru yang tengah melihat sebuah peta daerah sekitar.
"Jadi di sini? Di sinilah benda yang Gorden percayakan padaku." Kata Izuru menandai suatu tempat di peta itu dengan pena bulu.
"Aku akan mencarinya, sebelum orang lain menemukannya."
Bersambung...
Tidak terasa kita sudah ada di akhir Tahun 2021. Terima kasih sudah mendukung Novel ini sampai di penghujung tahun, walaupun belum genap 1 tahun.
__ADS_1
semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi dan juga tentunya semoga Novel ini bisa lebih di kenal orang banyak. Tentunya hal itu tidak bisa terwujud tanpa kalian 600+ orang yang favorit novel ini, Author harap kalian bisa lebih aktif di kolom komentar dan tidak pernah lupa meninggalkan like.
Salam dari Author, sampai jumpa satu tahun lagi. bye!