The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 37 - Para Pasukan Kegelapan


__ADS_3

"Sinar pemusnah kehidupan, Armagedon Blast..!" Teriak Nishiki, cahaya menembak dari lingkaran sihir itu ke arah Iona dan semua orang di sana.


Seakan waktu melambat, Iona dengan raut wajah panik melihat cahaya besar yang menembak ke arah mereka. "Kakek, apa aku bisa?"


"Tentu saja." Jawab kakek Iona, tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil menepuk pundaknya.


"Kakek...? Semua orang bergantung padaku." Kata Iona dalam hati sambil memejamkan matanya. Seketika sekelilingnya berubah menjadi dataran kosong, buku sihirnya terangkat dan membuka halaman terakhir lalu Iona berkata. "Wahai para pejuang dalam jurang keputusasaan, korban dari pengkhianatan, korban dari kekejaman dunia, korban dari keegoisan manusia, aku meminta semangat perjuangan kalian yang berada dalam kegelapan jurang Abyss." Iona mengucapkan mantra, lalu muncul partikel-partikel berwarna merah di sekeliling tubuhnya. Seketika semuanya menjadi normal kembali dan cahaya yang di tembakan sudah sangat dekat. "Bangkitlah Tentara Kutukan Abyss. Heishi of Abyss...!!!!" Teriak Iona dengan lantang. kemudian di belakang Iona muncul banyak sekali lingkaran sihir yang menumpuk sampai sangat tinggi, lalu keluar para tentara dengan zirah berwarna hitam pekat lengkap dengan pedang dan perisai, mereka semua menjatuhkan diri kebawah.


"Gwwwaaahhh....!" Mereka berlari dengan Raungan keras yang terdengar sampai seluruh wilayah itu. Mereka semua berlari kearah tembakan cahaya itu dan menangkisnya dengan perisai mereka bersama-sama.


"Apa!? Aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Tapi, jika hanya untuk pelindung, aku tinggal menaikan penggunaan mana ku." Tanya Nishiki dalam hati. "Ternyata hanya tameng hidup, kau sudah menyianyiakan ekspresi terkejutku. Penggunaan Mana 70%!" Kata Nishiki dan serangannya menjadi lebih kuat, membuat para tentara kegelapan yang menangkis serangan itu perlahan mulai hancur satu per satu.


"Ayo keluar lebih banyak! Hiiyyyaaaaaa.....!!!" Teriak Iona dan para tentara kegelapan muncul lebih banyak dari lingkaran sihir di belakang Iona. Mereka semua menggantikan yang hancur lalu para pengganti juga akan hancur dan digantikan oleh yang lain secara terus menerus sampai perlahan cahaya itu semakin mendekat pada Iona. "Uggghhh....! Tubuhku... Aku terlalu banyak menggunakan mana..." Kata Iona mengeluarkan darah dari mulutnya. "Aku harus terus bertahan sampai serangannya habis.


"Cih, masih belum cukup? Penggunaan mana 80%!" Kata Nishiki meningkatkan kekuatan serangannya, Iona sudah tampak kelelahan.


"Hah... Hah..." Iona perlahan membungkuk dan lalu berlutut.


"Iona, semangat...! Kami percaya padamu...!" Teriak Izuru lalu di ikuti oleh yang lain.


"Ya, semangat!"


"Kau satu-satunya harapan kami!"


"Aku senang kalian menyemangati ku. Tapi, mana ku tidak akan bertambah dengan itu!" Kata Iona dalam hati.


"Penggunaan mana 90%!" Kata Nishiki memperkuat lagi serangannya.

__ADS_1


"Uggghhh...!" Iona memuntahkan darah yang cukup banyak, dan dari telinga, hidung, juga dari mata. "Aku mohon kakek, tolong berikan aku kekuatan...!" Teriak Iona menangis darah. Tiba-tiba sesuatu keluar dari dalam bajunya, itu adalah sebuah kalung batu hitam bundar.


...*****...


"Uggh... Aku tidak paham tulisan ini." Kata Iona kecil mencoba membaca buku di meja kamarnya. Lalu ia membawanya ke atas kasur dan membacanya sambil berbaring, kemudian saat membuka salah satu halaman sesuatu jatuh di wajahnya. "Sakit! Apa ini?" Tanya Iona kecil. "Batu? Bagaimana ini bisa tersangkut di dalam buku?" Tanya Iona kecil penasaran. "Mungkin ini termasuk Hadiah dari kakek!" Kata Iona mengangkat batu itu ke atas. Lali Iona turun dari tempat tidur dan mengambil sesuatu dari dalam rak. "Sudah jadi! Kalau begini aku bisa menyimpannya dengan baik." Kata Iona mengikat batu itu menjadi sebuah kalung, lalu memakainya. "Aku akan menunjukkannya pada kakek!" Kata Iona berlari keluar dari kamar dan menuju kamar kakeknya melewati lorong. Tapi, saat sampai di sana, terlihat banyak orang berada di depan pintu. "Kenapa di sini ramai sekali, ada apa?" Tanya Iona pada salah satu pelayan di sana.


"Nyonya muda, lebih baik anda tidak masuk ke dalam dulu." Jawab Pelayan itu.


"Ada apa? Aku mau bertemu kakek!" Kata Iona menerobos masuk ke dalam kamar. Lalu di sana, Iona melihat kakeknya terbaring di tempat tidur yang di kelilingi banyak orang. "Kakek!? Kakek kenapa!?" Tanya Iona berlari ke tempat tidur.


"Iona, kakek sudah... Meninggal." Jawab salah satu orang di sana. Seketika raut wajah Iona berubah menjadi terkejut sekaligus tidak percaya.


"Tidak, tidak mungkin! Kakek bangun...! Hiks... Kakek...!" Teriak Iona menangis menggoyang-goyangkan tubuh kaku kakeknya, tapi itu adalah kenyataan pahit yang harus Iona terima.


...*****...


"Penggunaan mana 90%!" Teriak Nishiki memperkuat serangannya. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh pada pasukan kegelapan Iona, Nishiki mulai kewalahan dan terus menambah kekuatan serangannya. "94%! 96%! 99%! 100%...!" Tiba-tiba sebuah benang di dalam tubuhnya terputus dan serangan yang ia tembakkan perlahan mulai menghilang, juga lingkaran sihir pecah menjadi berkeping-keping, kemudian menghilang. Matahari juga mulai kembali menyinari seluruh negeri. "Aku sudah mencapai batas ku." Kata Nishiki terlihat pucat. Lalu ia membalikan badan ke belakang.


"Aku berhasil." Kata Iona lalu bertekuk lutut karena kelelahan, para pasukan kegelapan juga mulai menghilang satu per satu.


"Aku menyerah. Aku akui kegagalanku saat ini. kira-kira hukuman apa yang menungguku di sana?" Tanya Nishiki lalu berjalan masuk ke dalam hutan.


"Kita berhasil...!" Sorak para prajurit yang masih tidak bisa bergerak karena kehabisan mana. Semuanya bersorak dengan lantang, akhirnya semua selesai. Semuanya berhasil mempertahankan desa itu dari serangan para monster.


...*****...


"Bersulang..!" Kata semua orang di meja sambil saling membenturkan gelas mereka. "Ini adalah imbalan kerja keras kita, semuanya ayo makan sepuasnya!" Kata salah satu prajurit sambil mengangkat gelas kayu.

__ADS_1


Izuru dan Rin juga ada di sana sedang memakan makanan mereka. "Di mana Iona?" Tanya Rin.


"Iona, dia sedang menemui panglima. Iona tidak dimaafkan walaupun dia sudah menyelamatkan semua orang." Jawab Izuru.


"Mungkin kita bisa bicara pada Panglima, agar Iona dimaafkan." Kata Rin.


"Iya, aku akan menemuinya sekarang." Kata Izuru berdiri dari kursi dan berjalan keluar ruangan. Cahaya matahari berwarna jingga menerangi dari ufuk barat, Izuru menarik nafas panjang dan mulai berjalan. "Semua sudah selesai, tapi ini tidak menjamin kami bertiga bisa berkumpul lagi seperti dulu." Kata Izuru dalam hati sambil berjalan menuju menara, di depan pintu sudah ada panglima. Izuru langsung saja menghadap panglima di sana.


"Hmm... Ada apa?" Tanya panglima.


"Aku mencari Iona." Tanya Izuru.


"Maksudmu sang pendamping pahlawan? Dia baru saja pergi." Jawab Panglima.


"Apa itu artinya Iona sudah dimaafkan?" Tanya Izuru.


"Tidak, kami tidak bisa memaafkannya begitu saja. Dia harus bertanggung jawab atas tindakannya, sekarang aku memberikan waktu bebas sampai besok pagi." Jawab Panglima.


"Tapi, bukankah Iona sudah menyelamatkan semuanya!? Bukankah dia pantas mendapatkan pengampunan?" Tanya Izuru.


"Maaf nak, aku tidak bisa berbuat banyak soal itu. Karena prajurit ku sudah memberitahu berita ini pada keluarganya, dan besok aku akan mengantarkannya pulang." Jawab Panglima.


"Pulang...? Selamanya?" Tanya Izuru dalam hati. "Apakah ini adalah akhir dari kebersamaan kami bertiga?"


Bersambung...


jangan lupa like ya! author telat up karena tugas yang tak terbatas dan melampauinya

__ADS_1


__ADS_2