
Izuru tampaknya sedang melihat-lihat papan quest, mencari quest yang bisa mereka selesaikan. Tapi tampaknya ia tidak menemukan satupun. "Hah... Tidak ada setara dengan level kita." Kata Izuru.
"Apa kalian menemukan yang bagus?" Tanya Rin pada Izuru dan Iona di sampingnya.
"Tidak ada yang bagus." Jawab Izuru.
"Aku punya yang bagus." Jawab Iona, lalu Izuru dan Rin melihat Iona sambil melipat tangan dan menyipitkan mata. "Ada apa?" Tanya Iona.
"Sekarang kita harus apa?" Tanya Izuru.
"Entahlah, apa kita libur saja dulu?" Kata Rin bersandar di dinding guild.
"Hmm... Hal yang mudah dilakukan, tapi punya hasil yang besar. Bagaimana kalau menambang? Kita bisa buka jasa pengumpul bijih besi!" Kata Izuru mendapatkan ide brilian.
"Ide bagus! Kita bisa mempromosikan jasa kita ke pandai besi. Aku juga tahu tempat yang bagus untuk itu." Kata Rin.
"Aku memang jenius! Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" Kata Izuru kemudian mereka bertiga keluar dari guild dengan gaya. Mereka mendatangi salah satu tempat pandai besi terbesar di kota ini.
"Hmm... Jadi kalian benar-benar ingin buka jasa menambang?" Tanya seorang pria botak berotot di sebuah tempat pandai besi.
"Iya, kami sedang menganggur. Jika anda berminat, bisa tolong buat daftar bahannya dan ciri-cirinya. Biaya sesuai harga jual bendanya." Jawab Rina lalu menyebutkan syarat-syaratnya.
"Yah, mencari orang yang mau menambang itu agak sulit dan pedagang bijih besi hanya datang dua kali setahun. Baiklah, aku terima jasa kalian!" Kata Pria padai besi itu memikirkan tawaran mereka, dan langsung menyetujuinya. "Biar aku tulis daftarnya dulu." Sambung pria itu.
Mereka bertiga sudah mulai berjalan keluar dari gerbang kota, Izuru yang tampak membawa tas yang cukup besar dan Rin tengah membaca daftar dari pandai besi tadi. "Hmm... Permintaan orang tadi cukup banyak, aku tidak yakin Izuru bisa membawa semuanya pulang." Kata Rin sambil melirik ke arah Izuru.
"Jadi kau tidak berniat membantuku?"
__ADS_1
"Tanya orang di sebelah mu itu, dia tidak pernah melakukan apapun." Kata Rin menunjuk ke arah Iona, mereka berdua pun melirik Iona.
Iona yang sedang melihat kupu-kupu kecil di tangannya itu menyadari sindiran Rin. "Hmm... Siapa, aku?" Tanya Iona sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya siapa lagi?" Tanya Rin.
"Kau juga di sebelah Izuru kan?"
"Maksudku sebelah kiri!" Kata Rin kesal.
"Kalian berdua itu tidak melakukan apapun, akulah yang memiliki ide super jenius ini! Jadi 80 persen aku yang bekerja, sementara itu kalian hanya melakukan... Entahlah." Kata Izuru.
"Mungkin maksudmu itu 80 persen mengeluh?"
Mereka berhenti berdebat saat masuk ke dalam hutan, lalu melewati jembatan tua di atas sungai saat keluar dari hutan. Suasana tenang dan sepi, tidak seperti di kota, di sini hanya mereka orang yang ada sejauh mata memandang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala, keringat menetes dari dagu Izuru, dia juga sudah tidak bisa berjalan tegak. "Hey, kapan kita sampai?" Tanya Izuru kelelahan.
"Kau juga bilang begitu tadi! Bisa kita istirahat dulu?" Tanya Izuru yang berjalan di belakang Rin dan Iona.
"Berhenti mengeluh, aku sudah lelah mendengarnya." Kata Rin.
"Aku akan berhenti mengeluh jika kita juga berhenti berjalan sekarang!" Teriak Izuru kesal.
"Itu dia gua nya!" Kata Rin melihat sebuah gua di dekat tebing besar. Lalu mereka mempercepat langkahnya ke sana, kecuali Izuru yang tetap berjalan dalam kecepatan tetap.
"Hey tunggu aku!" Teriak Izuru, Rin dan Iona sampai di depan gua itu, mereka memandangi ke dalam gua sesaat. Lalu datang Izuru yang kelelahan dan langsung menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Ayo kita masuk!" Kata Rin.
__ADS_1
"Aku mau di sini sebentar." Kata Izuru sambil tengkurap dengan wajah mengarah ke tanah.
"Ya sudah, kau istirahat saja dulu. Nanti kau menyusul." Kata Rin menarik tas yang di pakai Izuru, lalu ia berusaha mengangkatnya. Tapi, terlalu berat. kemudian ia menoleh ke arah Iona dan berkata. "Jangan diam saja, cepat bantu aku!" Kata Rin, Iona segera membantu mengangkat tas itu di sisi lain. Lalu mereka masuk ke dalam gua itu dengan membawa tas bersama-sama, cahaya mulai memudar saat di dalam gua, jadi Rin berhenti dan kemudian mengambil lentera dari tas itu. "Nyalakan lentera ini." Kata Rin menyerahkan lentera nya pada Iona. Iona lalu mengeluarkan percikan api dari jarinya, tapi tidak langsung menyala, sampai beberapa kali percobaan. Rin lanjut berjalan membawa tas itu sendiri, lalu di ikuti Iona saat ia sudah berhasil menyalakan lentera nya. "Arggh...! Tas ini berat sekali." Keluh Rin lalu mengambil satu beliung dan sebuah gulungan tali, apa itu beliung? Bisa di cari di gugel. kemudian melanjutkan berjalan dan meninggalkan tas itu di dinding gua.
Iona yang mengikuti Rin menoleh ke arah tas itu. "Hey, tasnya masih di sana." Tanya Iona sambil menunjuk ke belakang.
"Tidak usah, biar nanti Izuru saja yang membawanya." Jawab Rin terus berjalan di ikuti oleh Iona. Mereka terus berjalan sampai di sebuah dua cabang terowongan.
"Kita lewat mana?"
"Hmm... Seingatku lewat kiri, atau kanan? Kanan, Iya benar! Ah maksudku kiri, iya kiri. Ah bukan! Aduh yang mana?" Kata Rin bimbang.
"Cepatlah, atau kita bisa di sini seharian." Kata Iona dengan wajah datar.
"Aku tahu! Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di.... Cup!" Jari Rin menunjuk ke terowongan sebelah kiri. "Ha! Lewat sini!" Kata Rin lalu berjalan masuk ke dalam terowongan kiri, di ikuti Iona yang membawa lentera.
Izuru yang masih berbaring di tanah, kemudian bangun. Izuru yang masih setengah sadar melihat sekeliling. "Jadi mereka benar-benar masuk tanpa aku?" Kata Izuru sambil membersihkan wajahnya dari tanah. "Bagaimana jika guanya bercabang? Hah... Merepotkan." Kata Izuru berdiri, tapi di tanah ada sebuah kertas kecil berwarna kuning dan sedikit usang. "Apa ini?" Tanya Izuru mengambil kertas itu dan membuka kertas itu. "Ini? Peta tambang ini. Apa mereka menjatuhkannya?" Tanya Izuru terkejut. "Mungkin ini memang sengaja di tinggalkan untukku agar tidak tersesat. Lebih baik aku susul mereka." Kata Izuru melipat lagi peta itu, lalu masuk ke dalam tambang.
Saat masuk cukup dalam, cahaya mulai surut. Tapi kemudian Izuru menemukan tas mereka yang tersandar di dinding. "Tas ini, kenapa mereka meninggalkannya di sini?" Tanya Izuru mengambil lentera minyak dari dalam tas, lalu menggendong tas itu. "Bagaimana aku menyalakannya? Di zaman ini sudah ada korek api belum, ya?" Izuru melihat sebuah batu berukuran sedang di depannya, lali seketika mendapat ide. "Baiklah, ayo menyala!" Kata Izuru, lalu memukul batu itu ke arah beliung dari tas dan seketika percikan api keluar dan membakar sumbu lentera itu. "Bagus!"
Izuru lalu melanjutkan perjalanan ke dalam tambang, saat sampai di cabang ia langsung membuka peta tadi. Peta itu menunjukan bahwa tambang logam masuk lewat kanan.
"Kyaaa....!" Teriak Rin dari terowongan kiri.
"Apa yang terjadi!?" Tanya Izuru lalu ia berlari masuk ke dalam terowongan kiri. Saat ia berlari masuk ada sebuah tanda yang jatuh di tanah bertuliskan, Bahaya!!!
Bersambung...
__ADS_1