
"akhirnya kita bertemu, kakak." Kata Karin berdiri di dekat kereta kuda yang di tuju Iona.
"Kau..?" Iona tampaknya sangat terkejut dengan kemunculan adiknya itu.
"Ada apa? Sepertinya kau terkejut sekali melihatku." Tanya Karin.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Iona.
"Kamu belum dapat kabar, kalau tuan Shun memiliki pendamping baru?"
"Jadi, kau pendamping barunya?" Tanya Iona.
"Benar, aku adalah satu-satunya yang mampu, Ibu melakukan kesalahan besar dengan menjadikanmu sebagai pendamping pahlawan." Kata Karin.
"Lagipula aku memang tidak mau menjadi budak pahlawan manapun di dunia ini." Kata Iona berjalan mendekat, lalu ia melewati Karin dan menuju ke kereta kuda di belakangnya.
"Bodoh, kau tidak tahu kehormatan besar yang sudah kau lewatkan." Kata Karin berbalik badan.
"Aku tidak butuh kehormatan bodoh itu." Kata Iona mulai membasuh badan kereta dengan kain basah dari ember, perlahan Iona bergerak ke kanan sambil terus mencuci kereta kuda itu.
Karin lalu berjalan mendekat, kemudian ia meletakan kakinya ke badan kereta yang sudah Iona cuci. "Kudengar juga kau menyelamatkan semua orang di desa. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan itu, karena dari dulu kau itu tidak bisa apa-apa kan?" Kata Karin semakin memojokkan Iona.
"Bisakah kau jangan menggangguku bekerja?" Tanya Iona menahan emosinya.
"Ohh? Kasihan sekali kau sekarang menjadi miskin dan harus bekerja seperti ini. Biar kubantu ya!" Kata Karin lalu ia menendang tanah berlumpur dan membuat Iona dan kereta kudanya berlumuran lumpur. "Ngomong-ngomong itu kereta kuda kami, jadi tolong yang bersih ya!" Kata Karin lalu pergi dari sana.
Iona yang tampak sangat marah menggertakkan giginya, tapi ia masih bisa menahan emosinya dan melanjutkan pekerjaannya.
...*****...
Matahari mulai tenggelam. Iona tengah menghadap pemilik jasa pencucian itu untuk mengambil bayarannya. "Ini bayaran mu. Kerjamu bagus juga, akan kuberikan bonus jika kau bekerja tetap di sini." Kata bos jasa pencucian itu sambil memberikan sekantung uang.
"Terima kasih banyak, tapi aku hanya bisa bekerja sampingan di sini." Jawab Iona mengambil uangnya.
"Ini memang sedang masa-masa sulit untuk petualang ya? Baiklah kau boleh pergi."
Iona lalu pergi keluar dari kantor jasa pencucian itu, ia lalu kembali ke rumah. "Aku pulang." Kata Iona masuk ke dalam rumah, di meja makan sudah ada Izuru dan Rin tengah menghitung uang yang mereka dapatkan.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Izuru.
"Lumayan, aku bekerja mencuci kereta kuda." Jawab Iona duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Berapa bayarannya?" Tanya Rin.
"Ini! Aku belum menghitungnya." Kata Iona melemparkan kantung uangnya pada Rin.
__ADS_1
Rin langsung menangkapnya dan mengeluarkan semua uang yang ada di kantung ke atas meja. "Hmm...? 3 keping emas dan 20 keping perak." Kata Rin setelah menghitung semua uang yang di dapat Iona.
"Kalian dapat berapa?" Tanya Iona.
"Aku 4 keping emas." Jawab Rin.
"Aku 8 keping emas." Jawab Izuru.
"15 keping emas!?" Tanya Iona terkejut.
"Iya, dia dapat bonus dari Asura." Kata Rin.
"Eheheh... Ya kurasa dia paham dengan kondisi kita." Kata Izuru sambil menggaruk kepala.
"Tapi ini belum cukup untuk melunasi semuanya. Kita baru dapat 15 keping emas." Kata Rin.
"Jadi kita harus bekerja seperti tadi lagi? Hah.... Ini lebih melelahkan dan membosankan!" Kata Izuru bersandar lemas di kursi.
"Mau bagaimana lagi?" Tanya Rin.
Tiba-tiba dari pintu depan terdengar suara ketukan pintu. "Siapa itu?" Tanya Izuru lalu beranjak dari kursi.
"Selamat malam kalian!" Kata Karin tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Iya benar, senang bisa bertemu lagi dengan anda." Kata Karin bersikap sopan.
"Wah kalian benar-benar mirip." Kata Rin melihat Karin dan Iona.
"Kenapa kau di sini!? Lebih baik kau pergi sekarang!" Kata Iona.
"Aduh aduh, jangan begitu kak. Aku ke sini karena aku butuh bantuan kalian." Kata Karin.
"Bantuan?" Tanya Izuru.
"Tuan Shun di berikan tugas untuk menyelidiki krisis yang ada di kerajaan Claric." Jelas Karin.
"Krisis seperti apa yang kau maksud?" Tanya Rin.
"Banyak konspirasi yang terjadi di saja, contohnya kabar kalau raja kerajaan Claric sudah meninggal karena raja yang biasanya memeriksa rakyatnya seminggu sekali, sudah tidak lagi melakukannya sampai beberapa bulan lalu. Sistem pemerintahannya juga menjadi agak berbeda sekarang. Jadi, bagaimana, Apa kalian bersedia membantu tuan Shun?" Tanya Karin.
"Tidak! Kami tidak mau berhubungan dengan Shun dan kau lagi!" Jawab Iona.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak memaksa. Tapi, kalian tengah menghadapi krisis juga kan? Bayarannya tidak sedikit loh. Yah aku pergi dulu, selamat memikirkan masalah kalian!" Kata Karin lalu pergi dari sana.
"Hey, apa kau ada masalah dengan adikmu?" Tanya Rin.
__ADS_1
"Iya, kenapa sepertinya kau sangat membencinya?" Tanya Izuru.
"Dia itu sama saja dengan ibuku, jadi aku membencinya! Sudah, aku tidak mau membahasnya lagi!" Jawab Iona lalu pergi ke atas.
Izuru saat ini tengah memikirkan cara cepat untuk mendapatkan uang, dan di pikirannya hanya ada satu cara, yaitu menerima tawaran Karin. Izuru lalu melihat pintu depan yang belum tertutup, saat ingin menutup pintu. "Jadi bagaimana? Apa kau akan terima tawaranku?" Tanya Karin bersandar dinding di luar rumah.
"Berapa bayarannya?" Tanya Izuru tetap berada di dalam sambil memegang gagang pintu.
"Pertama aku akan berikan 10 keping emas untukmu dan yang selanjutnya tergantung seberapa membantunya kau di sana." Jawab Karin.
"Hmm... Itu penawaran yang bagus." Kata Izuru.
"Jadi bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Karin.
"Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu. Ada apa dengan hubunganmu dan Iona?" Tanya Izuru keluar menghadap Karin.
"Yah seperti biasa, hubungan kakak adik pada umumnya." Jawab Karin.
"Jadi kau tidak mau memberitahu ku? Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu." Tanya Izuru.
"Namaku Karin Zergaken." Jawab Karin.
"Oh kalau namaku..."
"Tidak perlu, aku sudah tahu dari tuan Shun. Kuanggap kau setuju, sampai jumpa." Kata Karin lalu pergi dari depan rumah Izuru.
...*****...
"Kira-kira krisis apa yang terjadi di sana?" Tanya Shun duduk di depan rumahnya. Lalu ia melihat Karin datang dan menuju ke arahnya. "Bagaimana?" Tanya Shun.
"Bagus, aku juga bertemu kakak."
"Benarkah!? Seperti apa reaksinya?"
"Dia marah seperti biasa." Jawab Karin.
"Bukannya sudah kubilang untuk bertemu Izuru saja?"
"Kebetulan sekali mereka sedang berkumpul tadi." Jawab Karin.
"Aduh, ini memang salahku menyuruhmu ke sana. Apa mereka setuju untuk membantu kita?" Tanya Shun.
"Izuru setuju, tapi aku tidak tahu dengan kakak dan yang satu lagi. Kita tunggu saja besok."
Bersambung...
__ADS_1