
Izuru berlari masuk ke dalam terowongan kiri karena teriakan dari Rin. "Sial, apa yang terjadi?" Tanya Izuru dalam hati sambil terus berlari, dan akhirnya melihat cahaya. "Akhirnya sampai...!" Teriak Izuru, dalam hati.
"Kyaaa...! Singkirkan itu dariku...!" Teriak Rin yang sepertinya sedang berusaha menjauh dari kakinya sendiri, sambil berpegangan pada dinding terowongan.
"Apa yang terjadi!?" Tanya Izuru, mereka berdua langsung menoleh kebelakang.
"Izuru? Tolong aku! Tolong singkirkan benda ini dariku.....!!!!" Teriak Rin. Lalu Izuru melirik ke kaki Rin dan melihat sebuah kelabang yang cukup besar bergerak-gerak di sana.
"Kukira ada apa? Ternyata hanya alarm palsu." Kata Izuru dengan tatapan kekecewaan.
"Jangan hanya diam saja! Cepat lepaskan ini dariku!"
"Kenapa kau tidak menghempaskan kakimu saja? Kelabang itu pasti akan terlempar." Kata Izuru.
"Tidak bisa, kaki-kakinya terasa mencengkram kakiku dengan kuat. Karena itu cepat bantu aku! Iona, tolong aku!" Kata Rin giliran meminta tolong pada Iona.
"Tidak mau, aku takut." Jawab Iona singkat.
"Kenapa wajahmu biasa-biasa saja!?"
"Dibalik wajah polos ku ini, ada sesuatu yang tidak kalian ketahui." Kata Iona sambil menatap dengan tajam. "Iya, contohnya aku takut kelabang."
"Kalau begitu, Izuru! Cepat bantu aku!"
"Tidak bisa."
"Kenapa lagi!?"
"Aku juga takut." Kata Izuru sambil terus mengalihkan pandangannya.
"Hahh...!? Kau ini laki-laki bukan sih!?"
"Memangnya laki-laki tidak boleh takut sesuatu!? Lagipula, dia tampaknya bersahabat." Kata Izuru.
"Matamu..!! Mana ada kelabang yang bersahabat..!?!!? Lihat tampangnya yang menjijikan itu, tidak mungkin ada yang mau bersahabat dengannya!" Kata Rin.
"Bukan bersahabat seperti itu yang ku maksud..!" Kata Izuru kesal. "Kenapa tidak gunakan panahmu saja...." Izuru berhenti bicara setelah melihat sesuatu merayap di dekat kakinya. Izuru segera mengarahkan lentera nya ke bawah dan yang benar saja? Banyak kelabang yang memenuhi tanah dengan berbagai ukuran. "Apa ini...!?!? Uwa..! Pergi, syuh...! Syuh..!!" Izuru terkejut dan segera menghentak-hentakan kakinya. Lalu Izuru tidak sengaja melihat Iona yang tampak tenang tidak didekati oleh satupun kelabang. "Iona, kenapa mereka tidak mendekatimu!?"
__ADS_1
"Soalnya aku memakai sihir anti serangga. Biasanya aku pakai waktu malam, tapi ternyata berguna juga di sini."
Izuru segera berlari dengan mengangkat Iona di samping. "Tidak masalah kehilangan satu anggota, yang penting aku bisa keluar dari tempat ini...!!!"
"Waa... Tunggu aku...!!!" Teriak Rin ikut berlari keluar.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di cabang terowongan itu. "Hah... Hah... Akhirnya kita bisa keluar dari tempat itu... Hah..." Kata Izuru, mereka berdua kehabisan nafas, kecuali Iona yang tetap terlihat tenang tanpa ekspresi.
"Ngomong... apa kau... tadi, waktu berlari? Hah... Hah..." Tanya Rin kehabisan nafas.
"Bukan... Apa... Apa... Hah... Tidak usah... dipikirkan... Hah..."
Setelah beberapa menit di sana, mereka akhirnya bisa memulihkan tenaga. "Ayo kita lanjutkan perjalanan. Jika bukan kiri berarti sebelah kanan." Kata Rin.
"Tadi kenapa kau bilang sebelah kiri?"
"Aki lupa, namanya juga manusia."
"Oh, kukira kau elf." Kata Iona.
"Berarti ada ras selain manusia!? Tunggu sebentar, kenapa aku terkejut? Bukankah aku sudah bertemu Asura yang bahkan adalah seorang ras naga." Kata Izuru tidak jadi terkejut. "Oh ya, ini aku menemukannya di pintu masuk tambang tadi." Kata Izuru memperlihatkan peta tadi.
"Wah ini dia, kenapa ada padamu?" Tanya Rin mengambil peta itu.
"Sudah kubilang aku menemukannya di pintu masuk."
"Baguslah, kita tidak akan tersesat dengan ini." Kata Rin, kemudian mereka masuk ke dalam terowongan kanan. Mereka terus berjalan semakin dalam ke dalam tambang, awalnya terowongan tambang itu tampak rapi dengan kayu menyangga di setiap sisi. Tapi semakin ke dalam, mulai terlihat penampakan gua yang asli. Stalagtit juga banyak bergantungan di langit-langit gua itu, mereka juga melewati beberapa sungai dangkal bawah tanah. Intinya itu perjalanan yang sangat menarik, bagi orang yang tidak mengidap Claustrophobia. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sangat luas, di sana juga banyak terlihat bekas-bekas galian di dinding-dinding gua. "Menurut peta kita bisa dapat semua bahannya di sini." Kata Rin lalu membuka catatan bahan yang harus di cari.
"Seperti apa batunya?" Tanya Izuru sambil berjalan ke tengah bersama yang lain.
"Seperti itu." Kata Rin sambil melihat ke atas di ikuti oleh yang lain, sebuah batu berwarna perak sedikit hijau menempel di langit-langit gua yang sangat tinggi.
"Bagaimana cara kita mengambilnya?" Tanya Izuru.
"Aku tahu bagaimana." Kata Iona.
"Ow aku paham! Izuru ambil ini." Kata Rin lalu memberikan beliung pada Izuru. Masih ingat beliung itu apa hayoo?
__ADS_1
"Eh, kenapa ini?" Tanya Izuru tampak bingung.
"Baiklah, kau siap?" Tanya Rin.
"Bersiap untuk apa?" Tanya Izuru. Iona mengeluarkan buku mantra nya dan segera membaca mantra dalam hati sambil menutup mata.
"Tiga dua satu, ayo ke atas!" Tiba-tiba bergetar dan duaarrr...!!! Tanahnya di pijak Izuru seketika menjulang ke atas dengan sangat cepat.
"Huaaa......!!!!!!" Teriak Izuru sambil terus berpegangan pada ujung batu. Sampai akhirnya berhenti dan membuat Izuru terpental ke atas sampai membentur langit-langit, kemudian ia jatuh lagi ke batu yang menjulang tadi. Izuru yang tampak bingung hanya bisa melihat mereka berdua dari atas sana. "Apa ini!? cepat turunkan aku...!!" Teriak Izuru terdengar bergema dari bawah.
"Kau akan turun setelah mengambil batu itu...!" Teriak Rin dari bawah.
Izuru berdiri sambil menggenggam beliung di tangannya bersiap untuk menambang. "Baiklah, semoga saja aku tidak jatuh. Entah apa yang akan terjadi jika aku mati lagi." Izuru mengangkat beliung nya dan langsung memukul bijih logam itu, tapi saat di pukul bukannya bijih itu terlepas, malah badan Izuru yang gemetar terkena rambatan getaran dari beliung itu.
"Ingat, jangan pukul bijih nya! Tapi pukul batu di sekelilingnya!" Teriak Rin dari bawah.
"Kenapa tidak bilang dari tadi..!?"
"Bagaimana?" Tanya Iona duduk di bawah bersama Rin.
"Sepertinya dia bisa." Jawab Rin.
"Baguslah, kita tidak perlu melakukan apapun." Kata Iona.
"Hey, aku dengan itu..!!!" Teriak Izuru dari atas. "Dasar mereka itu,ada maunya tapi tidak mau berusaha." Kata Izuru sambil terus mengikis batu yang mencengkram bijih logam itu. Sampai akhirnya berhasil tercongkel keluar. "Aku berhasil! Ini tangkap!" Kata Izuru melempar bijih itu ke arah Rin dan Iona, Rin dengan santai menangkap bijih itu dan melihatnya sesaat.
"Bagus, ayo ambil lagi!"
"Baiklah..!" Kata Izuru semangat. Izuru lalu menambang semuanya sampai habis tak bersisa. Tapi mereka tidak dapat terlalu banyak. "Sekarang, cepat turunkan aku!"
"Baiklah, pegangan." Kata Iona lalu mengucapkan mantra lagi, dan batu yang menjulang itu turun kembali ke asalnya dengan cepat. Saat sudah hampir dekat kepermukaan, Izuru segera melompat turun dari batu itu. "Bagaimana? Apa sudah semuanya?" Tanya Izuru menghampiri Rin dan Iona.
"Tidak terlalu banyak, tapi kurasa cukup. Sekarang tinggal yang lainnya." Kata Rin membuka catatan itu lagi. Tapi, di saat mereka sedang tenang, tiba-tiba sebuah getaran kecil terasa di kaki-kaki mereka. "Apa ini?"
"Perasaanku tidak enak." Kata Izuru melihat sekeliling.
Bersambung...
__ADS_1