The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 95 - Pertemuan Dua Pahlawan Legendaris


__ADS_3

Dari luar seseorang dengan sebuah tongkat di punggungnya berjalan ke sebuah pintu besar dan kemudian membukanya dengan kedua tangan.


"Aku kembali..!" Teriaknya yang ternyata adalah seorang gadis berambut perak.


Karin datang dan melihat dari depan pintu ruangan lain. "Kakak sudah datang!" Kata Karin senang dan langsung berlari menghampiri gadis di depan pintu masuk. Mereka lalu saling berpelukan singkat.


"Ah Karin, Kakak sangat merindukanmu. Kau terlihat lebih dewasa dari terakhir kali aku datang." Kata Migaki sambil mengelus kepala Karin.


Karin lalu melepaskan pelukannya. "Apa maksudmu? Kita baru saja bertemu dua bulan lalu." Jawab Karin.


"Benarkah? Tapi rasanya sudah lama sekali."


Shun datang bersama dengan Ibunya Karin. Sebelumnya Karin sudah meminta izin mengundang kakaknya untuk mengajari Shun cara menggunakan Senjata Legendarisnya.


"Kau sudah sampai Migaki. Maaf kau harus meninggalkan pekerjaanmu beberapa hari ke depan."


"Tidak apa, lagi pula aku senang bisa bertemu dengan adik-adikku yang lucu ini." Jawab Migaki sambil mencubit pipi Karin.


"Anu, perkenalkan aku..." Kata Shun ingin memperkenalkan diri.


"Ayo, antar kakak ke kamarmu!" Kata Migaki memotong ucapan Shun.


"Kenapa ke kamarku?" Tanya Karin.


"Kakak ingin tidur di bersamamu kali ini."


"Wah, itu ide yang bagus! Kalau begitu ayo!" Kata Karin lalu pergi bersama Kakak perempuannya, meninggalkan Shun yang belum sempat mengatakan apa-apa.


"Aku bahkan belum memperkenalkan diri." Kata Shun.


...*****...


Karin dan Migaki berjalan di lorong tanpa berbincang-bincang seperti sebelumnya. Migaki juga tampak seperti ingin membicarakan hal serius pada Karin.


"Di mana Iona?" Tanya Migaki.


"Kak Iona... tidak lagi tinggal di sini." Jawab Karin dengan nada rendah.


"Begitu... Aku sudah dengar kabar itu. Aku juga sama sepertinya, memberontak dan pergi dari rumah. Tapi aku sadar, cepat atau lambat seseorang yang tidak tahu apa-apa akan memikul tanggung jawab atas kewajiban yang aku tinggalkan. Karena itulah aku kembali."


Tanpa sadar mereka sudah sampai di kamar dan segera masuk. Migaki meletakan tasnya di lantai. Karin duduk di kasurnya. Mereka berdua terdiam, masih terasa kesedihan atas kepergian Iona. Meskipun Iona hanya pergi dari rumah, rasa kehilangan dan kesepian tetap akan terasa.


"Saat aku bertemu dengan Kak Iona, aku terus mengejeknya dan mengolok-oloknya. Kupikir itu akan membuatnya kesal dan mengambil tugasnya kembali.

__ADS_1


Tapi, Kak Iona tetap saja tidak mengubah keputusannya. Ia malah lebih sering tersenyum lebih banyak bersama teman-temannya, dari pada seumur hidup di rumah ini."


"Aku takut, Kak Iona membenciku karena apa yang kukatakan. Atau mungkin dia sudah membenciku dari dulu?" Tanya Karin tampak sedih. Karin duduk di atas tempat tidur sambil mendekap kedua kakinya.


Migaki duduk, lalu menarik dan menyenderkan kepala Karin di pundaknya. "Aku yakin, suatu saat nanti Iona akan kembali. Sama seperti saat aku kembali untuknya." Kata Migaki menghibur Karin.


Di tengah ketenangan, terdengar suara ketukan pintu yang dilanjutkan dengan suara seseorang. "Karin, maaf mengganggu. Bisa kau keluar sebentar?" Kata Ibunya dari luar.


Mereka berdua lalu keluar dan menghadap Ibu mereka yang sedang bersama dengan Shun.


"Karin, jangan lupa tujuan kita memanggil Migaki ke sini." Kata Ibunya menegur Karin.


"Tidak apa, kita bisa mulai latihan besok." Kata Shun.


"Tidak bisa, Tuan Shun. Orangnya sudah ada di sini, jadi lebih cepat lebih baik." Jawab Ibu Karin.


"Sudahlah, anggap saja aku sedang istirahat dari perjalanan." Kata Migaki.


"Kau di sini bukan untuk liburan." Tegur Ibu Karin.


"Iya, akan kulakukan! Dasar cerewet." Kata Migaki lalu pergi, diikuti oleh Shun dan Karin.


...*****...


"Baiklah, sampai mana pengetahuan mu dalam memakai senjata legendaris milikmu?" Tanya Migaki.


"Umm... Pedang yang kuat? Dan juga cepat. Oh ya, juga bisa menebaskan energi sihir. Aku menyebutnya Hybrid Blast." Jawab Shun.


"Jadi baru pengetahuan dasar. Katakan siapa namamu, jadi aku bisa lebih mudah memanggilmu."


"Perkenalkan, namaku Shun." Kata Shun mengulurkan tangannya.


Migaki melihat tangan Shun dengan tatapan dingin. "Singkirkan tanganmu itu."


"Maaf."


"Kau tahu namaku bukan?" Tanya Migaki.


"Migaki kalau tidak salah." Jawab Shun ragu-ragu.


"Zergaken Migaki. Kalau begitu, sampai di mana tadi? Ah ya, kau baru tahu dasarnya saja dan bahkan itu belum lengkap."


"Sekarang, kau bisa menggunakan tipe sihir apa saja?" Tanya Migaki.

__ADS_1


"Umm... Ah itu... Tidak ada?"


"HAH...!!? Tidak ada katamu...?" Bentak Migaki lalu menatap mata Shun dengan sangat dekat. Shun menelan ludah dan perlahan mundur.


"Apa-apaan dirimu itu? Bagaimana kau bisa terpilih tanpa memiliki kemampuan spesial? Bahkan kemampuan sihir biasa saja kau tidak punya!" Tanya Migaki keheranan.


"Itu karena... Anu."


"Apa aku harus mengatakan kalau aku bukan dari dunia ini?" Tanya Shun dalam hati.


"Aku bahkan mendengar banyak hal dari Asterion tentang dirimu. Pedangmu sempat di ambil oleh orang asing, dan anehnya dia bisa bertarung dengan ras naga sampai menghancurkan istana. Seharusnya orang yang terpilih jauh lebih bisa menggunakan senjata miliknya dari siapapun di dunia! Kau tahu itu?" Kata Migaki terus mencaci maki Shun.


"Kakak! Itu sebabnya kakak di panggil kesini! Karena Shun belum tahu apa-apa dan butuh di ajari. Bukan untuk di rendahkan seperti ini!" Kata Karin membela Shun.


"Hadeh, sekarang aku tahu kenapa Iona kabur." Kata Migaki berbalik sambil menepuk dahinya.


"Kakak! Sudah hentikan!" Teriak Karin kesal.


Migaki lalu mengambil tongkatnya yang tertancap di tanah dan berjalan menjauh beberapa meter dari Shun dan Karin.


"Sekarang, tunjukan apa yang kau bisa!" Kata Migaki menggunakan jubahnya, bersiap untuk bertarung.


"Shun, maaf tentang kakak ku. Dia memang seperti itu." Kata Karin.


"Tidak apa, yang dia katakan benar. Sekarang, akan aku kerahkan semua kemampuanku." Kata Shun mengeluarkan Pedang Legendaris nya dan berhadapan dengan Migaki.


Shun melakukan kuda-kuda sederhana dan di saat itu juga Migaki menembakinya dengan sihir. Shun terkejut dan langsung menghindar.


"Lawan tidak akan menunggumu siap, ingat itu!" Kata Migaki lalu menembakan serangan yang sama lagi.


Shun mengumpulkan energi di pedangnya. "Hybrid Blast!" Teriaknya menebas ke arah tembakan Migaki.


Kedua serangan itu meledak di tengah-tengah mereka. Shun lalu kembali menebaskan beberapa energi sihir. Migaki tampak tenang melihat serangan Shun yang semakin mendekat dan tertangkis sebelum mendekati dirinya. Terlihatlah sebuah sihir pelindung di sekelilingnya.


"Lemah, bahkan aku hanya menggunakan pelindung tingkat rendah." Kata Migaki.


"Aku tahu! Kelemahan penyihir pasti adalah serangan fisik jarak dekat. Kalau begitu, aku harus maju!" Kata Shun.


Shun berlari secepat mungkin ke arah Migaki. Migaki terus menembaki Shun dengan serangan yang sama, tapi semuanya berhasil di hindari.


Shun sekarang berada tepat di depan Migaki dan bersiap untuk menyerang.


"Terima ini...!" Teriak Shun menebas ke arah Migaki.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2