The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 14 - Sebuah Bumbu Ajaib


__ADS_3

Air sungai yang tenang, memantulkan cahaya bulan yang indah. Ikan-ikan berenang ke sana ke mari tanpa mengkhawatirkan apapun. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak bersantai di tempat seperti ini. "Hiyaa!!" Sebuah pedang meluncur ke arah beberapa ikan, namun tidak ada satupun yang kena. Izuru yang sedang berada di tengah sungai yang tingginya kurang dari lututnya itu menarik pedangnya kembali, lalu bersiap-siap untuk menangkap ikan lainnya.


"Ayo cepat kami sudah lapar." Kata Iona duduk bersama Rin di depan api unggun di pinggir sungai itu.


"Bisakah kalian berhenti mengeluh dan membantuku!?" Tanya Izuru kesal.


"Lihat dan pelajari." Kata Rin beranjak dan berjalan mendekati Izuru yang sedang gemetar kedinginan di tengah sungai. Rin langsung mengambil pedang Izuru, lalu mengarahkannya ke salah satu ikan. Kemudian melemparnya sampai menusuk tubuh ikan itu dengan sangat cepat.


"Hebat."


"Tentu saja, aku menjadi pemanah bukan tanpa alasan." Kata Rin menyombongkan diri. "Ini, aku akan menangkap beberapa lagi." Kata Rin mencabut ikan itu dari pedang Izuru lalu memberikannya ke Izuru.


Izuru lalu membawa ikan itu ke api unggun, Iona yang duduk di sana melihat Izuru membawa ikan. "Apa itu untukku?" Tanya Iona.


"Enak saja! Ini punyaku." Jawab Izuru.


"Aku dari kemarin belum makan." Keluh Iona dengan wajah menunduk.


"Bodo amat! Sebentar lagi kau juga dapat." Kata Izuru sambil melihat-lihat ke bawah, lalu ia mengambil ranting yang cukup tebal. Kemudian menusuk mulut ikan itu dan membakarnya di atas api unggun. "Hacuhh...! Brrrr.... Dingin sekali di sini, tidak seperti di dalam kota." Kata Izuru terus membalik ikannya.


Beberapa saat kemudian Rin datang dengan dua ikan di tangannya. "Ini." Kata Rin memberikan satu ikan pada Iona. Tapi, saat di terima, tiba-tiba ikan itu bergerak-gerak dari tangan Iona, lalu jatuh ke tanah.


"Aduh, ikannya masih hidup."

__ADS_1


"Tinggal di bunuh saja, begini." Kata Rin lalu ia nangkap kepala ikan itu dan meremasnya sampai hancur. Izuru dan Iona hanya bisa melihat Rin dengan tatap jijik. "Hmm.. ada apa?" Tanya Rin.


Izuru dan Iona langsung mengalihkan padangan mereka. "Tidak apa-apa, aku akan mencuci ikan ini dulu." Kata Iona mengambil ikan itu lalu pergi ke arah sungai.


Izuru yang baru menyadari kalau salah satu sisi ikannya gosong langsung mengangkatnya. Izuru lalu meniup ikannya yang masih panas, lalu mencobanya satu gigitan. "Hambar... Tidak ada rasanya." Kata Izuru dalam hati.


Rin yang memperhatikan Izuru tampak aneh saat memakan ikan bakarnya, lalu bertanya. "Ada apa? Tidak enak ya?" Tanya Rin.


"Iya, ini hambar." Jawab Izuru. Di sisi lain, Iona kembali duduk di dekat merek berdua.


Rin lalu mengambil sesuatu dari tas Selempang nya. "Coba ini! Croot!" Kata Rin menuangkan suatu cairan kental agak padat berwarna Coklat dari sebuah kantong kulit kecil pada ikan Izuru.


"Hey, apa yang kau lakukan!?" Tanya Izuru terkejut dan segera menarik ikannya. Lalu Izuru mencoba mencium cairan kental itu, "baunya aneh dan menyengat, apa ini?" Tanya Izuru curiga.


Izuru menarik kembali ikannya, lalu mencium baunya sekali lagi. Perlahan Izuru membuka mulutnya, lalu menggigit ikan itu perlahan. "Buset....!!! Gila ini enak sekali....!" Teriak Izuru kagum, lalu dengan lahap memakan ikan itu sampai habis.


"Sudah kuduga pasti kau akan menyukainya." Kata Rin hendak menuangkan cairan itu pada ikan miliknya, tapi Iona langsung mengambilnya dan menuangkannya sendiri dengan menggambar lambang bintang di ikannya.


Setelah membakarnya beberapa saat, Iona langsung memakannya. "Hebat, ini enak sekali! Sebenarnya apa ini?" Tanya Iona.


"Itu resep rahasia milik ku! Jadi tidak boleh ada yang tahu, ibuku saja tidak tahu." Jawab Rin.


"Pintar masak tapi durhaka." Kata Izuru sambil menggigiti sisa-sisa daging yang ada di tulang.

__ADS_1


"itu bukan durhaka! Dia tidak tanya, jadi aku tidak memberitahunya!" Kata Rin kesal.


"Iya iya, sudahlah aku mau tidur." Kata Izuru membuang ranting bekas ikan kebelakang, lalu ia melepas pelindung bisa di bahu kirinya dan kemudian berbaring di rumput. "Huff... Aku masih terbayang-bayang kenyamanan saat tidur di kasur asli." Kata Izuru dalam hati sambil menatap bulan dengan gemerlap bintang di sekitarnya, terlihat juga sebuah bulatan besar berwarna hijau pada langit utara. Bintang jatuh pun nampaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk di temukan di sini, tanpa sadar itu perlahan membuat Izuru tertidur dengan pulas. Betapa beruntungnya bisa melihat keindahan langit seperti ini, sementara itu dunia yang sekarang sudah mulai sulit untuk melihat keindahan gemerlap langit malam.


...*****...


Langit cerah tanpa awan, bintang-bintang masih terlihat dengan jelas. Sang surya juga sudah mulai mengintip dari cakrawala, yang perlahan menerangi negeri ini. Suasana yang sejuk berpadu dengan langit biru. Hewan-hewan keluar dari hutan dan mulai berlarian di padang rumput yang hijau, suasana ini tidak kalah indah dengan gemerlap dan ketenangan malam. Izuru yang mulai terbangun karena tetesan embun dai dedaunan pohon yang jatuh tepat di wajahnya. "Emm.... Hoaahh..." Izuru bangun lalu meregangkan kedua lengannya. Izuru melihat Rin dan Iona sedang memakai kembali peralatan mereka, "kalian sudah bangun duluan? Ehem! Tenggorokanku kering." Kata Izuru lalu berjalan ke sungai.


"Kami berniat membangunkan mu setelah kami selesai mandi, tapi kau sudah bangun duluan." Jawab Iona sambil menguraikan dan mengeringkan rambutnya dengan sihir angin.


Izuru terlambat bereaksi karena sedang minum di sungai. "Glup, ahh... Apa, kalian mandi di sini!?" Rin dan Iona mengangguk. "Di tempat terbuka!? Telanjang!?" Rin dan Iona mengangguk lagi tanpa merasa berdosa. Izuru jatuh membungkukkan badan, bertekuk lutut dan menumpu badannya dengan kedua tangan di tanah, tanda penyesalan. "Kenapa aku tidak bangun dari tadi?" Kata Izuru menyesal dalam hati.


Seseorang memegang pundak Izuru dan berkata. "Tenang nak, suatu saat nanti akan ada kesempatan kedua." Kata Iona. "Sebelum saat itu tiba... Ayo bangun...!!kita harus mengambil quest sampai kita kaya! Lalu kau bisa memiliki banyak wanita tidak punya harga diri di luar sana!" Sambung Iona memberi Izuru semangat.


"Baik! Saat kesempatan itu tiba, aku tidak akan menyianyiakan nya lagi seperti sekarang..!"


"Itu bagus, sekarang ayo nguli!" Kata Iona.


"Baiklah ayo...!!! Eh... Apa tadi kau bilang?" Tanya Izuru menyadari sebuah kata aneh di kalimat Iona tadi.


Akankah MC kita berhasil memperkaya diri? Atau dia hanya akan frustrasi karena memiliki anggota party seperti mereka? Kita lihat bersama cerita ini mendatang!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2