
Iona di atas menara pemanah yang ada di dekat benteng. Ia tengah melihat matahari terbenam dengan rambut pendek ungu yang terurai angin sore. Dari belakang Izuru naik dengan tangga, lalu ia berjalan dan berhenti di samping Iona. Izuru ikut menikmati pemandangan matahari terbenam bersama Iona, Iona menundukkan kepalanya dan berkata. "Besok, aku akan kembali ke rumah."
"Aku tahu, karena itu aku ada di sini. Mungkin saja, ini adalah pertemuan terakhir kita." Jawab Izuru.
"Jika saja aku bisa mengendalikan diriku waktu itu, semuanya tidak akan jadi seperti ini." Kata Iona meneteskan air mata. "Pada akhirnya, aku akan terus terkurung. Aku tidak akan mendapat kebebasan sampai akhir."
"Jika kau tidak diikat di sana, kita semua akan terkena hantu yang Necromancer itu keluarkan. Lalu, semuanya tidak akan selamat." Kata Izuru sambil menatap bulan kedua yang ada di dekat matahari. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya. Karena sejak awal kau tidak pernah bicara tentang dirimu sendiri, mungkin kau mau menceritakannya untuk pertemuan terakhir kita?"
"Aku dipaksa untuk menjadi pendamping, sejak awal aku tidak pernah melihat dunia luar selain di sekitar rumahku. Aku hanya bisa melihat semuanya dari gambar di buku dan lukisan yang di berikan kakekku. Semua orang tidak peduli dengan apa yang kuinginkan, hanya kakek yang mau mendengarkanku. Tapi sejak kakekku meninggal, aku merasa tidak punya susuatu untuk di perjuangkan, jadi aku mengikuti semua yang di perintahkan. Sampai aku menemukan hal yang ingin kuperjuangkan, masa-masa indah kita bertiga, aku ingin memperjuangkannya."
"Jadi, hanya kebebasan yang kau inginkan? Aku mengerti sekarang." Kata Izuru.
Iona lalu berbalik dan berjalan ke tangga turun. "Aku ingin istirahat untuk besok." Kata Iona lalu turun dari menara.
"Kurasa ini memang tidak bisa di ubah lagi. Aku juga tidak yakin bisa mempertahankan party ku hanya dengan bersama Rin." Kata Izuru tetap memandang ke arah matahari terbenam.
...*****...
Pagi hari sebelum matahari bersinar, panglima, Iona, dan Shun sudah bersiap untuk naik ke kereta kuda. "Ayo kita segera berangkat!" Kata Panglima, lalu Iona dan Shun masuk kedalam kereta kuda. Mereka duduk bersebrangan, Iona hanya diam dengan ekspresi sedih.
"Maaf, aku tidak bisa berbuat apapun." Kata Shun.
"Kau memang tidak perlu melakukan apapun, ini memang salahku." Kata Iona tanpa menatap ke arah Shun.
Panglima juga akan masuk ke dalam kereta kuda, tapi dari belakang seseorang memanggil. "Panglima!" Panggil Izuru berjalan mendekat bersama dengan Rin.
"Kalian? Ada apa kalian ke sini?" Tanya Panglima.
"Begini, apa kami boleh ikut mengantarkan Iona? Kami temannya sebelum ia bertemu dengan Shun, kau tahu?" Kata Izuru.
Shun mendengar suara mereka dari dalam, lalu Shun berdiri di pintu. "Ada apa kalian ke sini?" Tanya Shun.
"Kami ingin mengantarkan Iona juga, kurasa dia ingin bersama teman-temannya untuk saat-saat terakhir." Jawab Izuru.
Shun terdiam sesaat. "....Baiklah, panglima biarkan mereka masuk." Kata Shun setuju. Izuru, Rin, panglima masuk ke dalam kereta kuda. Izuru dan Rin duduk masing-masing di sebelah Iona, dan Panglima duduk bersebelahan dengan Shun. Kemudian mereka memulai perjalanan di saat subuh, semuanya tidak saling bicara di sana. Rin melirik Iona yang tengah menundukkan kepala.
__ADS_1
"Rin, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Iona tanpa menatap Rin.
"Aku tidak tahu, mungkin ini akhirnya." Jawab Rin.
"Aku juga akan mencari anggota baru untuk party ku! Ngomong-ngomong rumah itu boleh untuk ku kan?" Tanya Izuru.
"Tentu saja tidak, aku mau menjualnya." Jawab Rin.
"Tidak adil! Karena aku yang membuat kelabang raksasa itu membenturkan diri ke gua kristal, jadi aku juga berhak dapat jatah." Kata Izuru berdebat dengan Rin. Senyum mulai terlihat di wajah Iona dan perlahan juga perlahan mengangkat wajahnya.
"Aku ingin terus seperti ini, seandainya saja perjalanan ini berlangsung selamanya." Batin Iona kembali memasang wajah sedih.
Rin lalu sedikit mendekat pada Iona. "Jangan sedih, suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi." Kata Rin menggenggam tangan Iona.
"Aku juga berharap bisa bertemu kembali dengan kalian. Tapi, aku pasti tidak akan di beri hukuman yang ringan." Kata Iona.
"Hukuman?" Tanya Izuru.
"Aku sudah gagal menjalankan tugas, dan mempermalukan nama keluargaku." Jawab Iona.
"Kita sudah sampai." Kata Panglima. Kereta kuda mereka berhenti di depan sebuah gerbang yang cukup besar, dan di jarak yang cukup jauh terlihat sebuah rumah besar.
"Cepat sekali?" Kata Izuru. Lalu mereka semua turun dari kereta, dan ini adalah perpisahan mereka. "Apa kami boleh ikut ke sana?" Tanya Izuru.
"Tidak bisa, hanya aku dan Tuan Shun yang boleh ikut." Jawab Panglima.
"Keluargaku itu sangat tertutup, hanya beberapa orang dan hanya yang berkepentingan yang bisa masuk." Jelas Iona.
"Jadi, ini akhirnya?" Tanya Rin.
"Walau hanya sebentar, tapi sangat menyenangkan bersama kalian." Kata Iona lalu ia berjalan ke arah gerbang.
"Tenang saja, aku akan berusaha meyakinkan mereka agar memaafkan Iona." Kata Shun.
"Ya, ini pertama kalinya aku meminta tolong padamu." Kata Izuru. Lalu panglima dan Shun mengikuti Iona. Saat mereka sampai di depan gerbang yang tertutup rapat, seorang pria tua dengan seragam pelayan berlari dari rumah dan membukakan gerbang.
__ADS_1
Izuru dan Rin hanya bisa melihat Iona pergi dari luar. Iona juga melihat kebelakang dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah tidak ada yang bisa kita lakukan. Ayo kita pulang." Kata Rin berjalan kebelakang, lalu diikuti Izuru. Mereka berdua berjalan di padang rumput saat langit sudah mulai cerah, tapi matahari masih belum bersinar.
...*****...
Iona dan yang lain sampai di ruang tamu. Lalu seorang wanita yang tengah duduk di kursi besar berwarna merah beranjak, dan berjalan mendekat ke arah mereka. "Selamat datang Tuan Shun. Saya sudah dengar semuanya, saya minta maaf karena tragedi itu." Kata Wanita itu. "Mari duduk." Sambung wanita itu, lalu mereka duduk di meja panjang seperti meja makan.
"Terima kasih, tapi anda lihat kan? Aku tidak terluka, bahkan Iona telah menyelamatkan seluruh pasukan di desa." Kata Shun.
"Aku tidak bisa membiarkan itu, walaupun Iona sudah menyelamatkan desa. Dari dulu dia memang tidak pernah bisa melakukan apapun, dan sekarang kau mempermalukan keluarga ini. Ibu sangat kecewa padamu." Kata Ibu Iona menyindir dan mengatainya. Iona hanya bisa menunduk tanpa bicara sepatah kata pun. "Hukuman yang pantas untukmu adalah hukuman mati."
Shun terkejut dengan perkataan Ibu Iona. "Hukuman mati!? Itu terlalu berlebihan, Iona itu putrimu!" Kata Shun tidak terima.
"Tenang Tuan Shun, karena Iona telah menyelamatkan desa. Hukuman akan di ringankan, yaitu tidak akan di anggap lagi dalam keluarga ini, aku tidak mau memiliki seorang putri yang memalukan seperti ini. Kau sudah bukan lagi putriku." Kata Ibu Iona. "Sekarang kau pergi kekamar mu, ibu harap kau menyesali semua perbuatanmu." Sambung Ibu Iona. Iona hanya diam di sana. "Iona! Cepat lakukan apa yang Ibu suruh!" Teriak Ibu Iona membentak sambil memukul meja.
"Kenapa...? Bukankah aku bukan lagi anakmu?"
"Apa?" Tanya Ibu Iona heran mendengar jawaban Iona.
"Itu artinya, aku sudah bebas dari belenggu ini! Aku memang sudah tidak peduli sejak awal, tapi sekarang aku bebas secara resmi! Tidak ada lagi yang membatasi ku...!" Kata Iona tersenyum lalu ia beranjak dari kursi dan berlari ke arah pintu keluar.
"Iona! Hentikan dia!" Teriak Ibu Iona. Lalu beberapa pelayan datang dan menghalangi pintu masuk.
"Elemen angin!" Kata Iona mengeluarkan lingkaran sihir dari tangannya dan menghempaskan semua pelayan yang menghalangi pintu.
"Sekarang aku bebas! Izuru! Rin! Tunggu aku!" Teriak Iona terlihat sangat senang sambil berlari keluar dari gerbang. "Cerita ini belum berakhir!" Batin Iona terus berlari sampai melihat Izuru dan Rin tengah berjalan di sana. "Izuru...! Rin...!" Panggil Iona.
"Iona!?" Tanya Izuru mendengar panggilan Iona.
"Itu suaranya!?" Kata Rin terkejut dan mereka melihat kebelakang. "Iona??"
"Izuru...!!! Rin...!!!" Teriak Iona sudah dekat dengan mereka dan kemudian Iona melompat dan memeluk mereka berdua sampai jatuh di rumput. "Aku bebas sekarang...!" Kata Iona dengan senyum lebar dan air mata kecil di matanya. Izuru dan Rin di peluk Iona tepat di saat matahari mulai menyinari negeri.
"Cerita ini belum berakhir!"
__ADS_1
Bersambung...