The Fake Legend

The Fake Legend
Chapter 32 - Perasaan Iona pada Shun


__ADS_3

Semua orang berada di dalam menara desa sedang melihat Iona di periksa oleh gadis dengan Class Priest/orang suci, yah itu yang google translate katakan. Saat sudah selesai, gadis Priest itu melepas sentuhan tangannya dari dada Iona. "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Shun.


"Luka bakar temanmu bisa dengan mudah di sembuhkan. Tapi, kita hanya bisa menunggu efek kutukan dalam api itu hilang dengan sendirinya." Jawab Priest itu.


"Efek kutukan? Apa itu berbahaya?" Tanya Shun.


"Efek ini tidak terlalu berbahaya, ini hanya mengakibatkan mudah lelah, mana cepat habis, emosi tidak terkontrol, dan beberapa hal lain. Untung saja efeknya tidak terlalu parah, kalau beberapa detik saja dia menerima semburan api Necromancer itu, pasti efek kutukannya akan jauh lebih parah dari saat ini." Jelas Priest itu.


"Jadi, begitu? Syukurlah."


"Baik aku akan memeriksa gadis yang satunya." Kata Priest itu lalu pergi keluar dari menara.


"Kau lihat apa yang terjadi karena perbuatan mu?" Tanya Shun pada Izuru.


Izuru yang ada di belakang hanya bisa terdiam. "Aku tidak tahu ini akan terjadi." Jawab Izuru.


"Jika kau tidak tahu, lebih baik kau memikirkan akibatnya sebelum bertindak."


"Maaf..."


"Sudahlah, lebih baik kau pergi dari sini." Kata Shun lalu duduk di sebelah tempat tidur Iona. Izuru lalu berjalan keluar dari menara dengan kakinya yang masih terluka.


"Aku... Sudah lebih kuat, tapi ini malah membuat semuanya jadi lebih buruk." Kata Izuru dalam hati. "Aku akan menemui Rin." Kata Izuru berjalan masuk ke sebuah rumah dan di sana sudah ada gadis Priest itu yang selesai mengobati Rin.


"Izuru?" Kata Rin tengah duduk di tempat tidur melihat Izuru masuk ke kamar.


"Rin, kau sudah sadar?" Tanya Izuru mendekat ke tempat tidur.


"Iya, baru saja." Jawab Rin.


"Apa kaki anda juga mau sekalian saya obati?" Tanya Priest itu.


"Oh iya, tolong ya." Jawab Izuru lalu duduk di tempat tidur dan meluruskan kaki kanannya. Kemudian gadis Priest itu mulai mengobati kaki Izuru dengan sihir penyembuh.

__ADS_1


"Oh ya, aku sudah mendengar keadaan Iona." Kata Rin.


"Iya, Iona terluka kerena aku."


"Bukan sepenuhnya salahmu. Si Shun itu juga, dia tidak melakukan tugasnya dengan baik. Bukankah dia itu orang yang terpilih? Seharusnya dia bisa menghadapi Necromancer itu sendirian." Kata Rin.


"Aku rasa Necromancer itu, bukan sembarang Necromancer." Kata Izuru.


"Jika seperti itu, kenapa dia menyuruh para prajurit pergi? Dia terlalu meremehkan musuh, coba pikir apa yang akan terjadi jika kita tidak ada di sana? Pasti pedangnya sudah diambil." Kata Rin.


"Hahaha... Iya benar juga ya? Jika Iona sudah bangun, aku akan minta maaf padanya." Kata Izuru tertawa kecil.


"Sudah selesai." Kata Priest itu berdiri.


"Oh ya, terima kasih." Kata Izuru, lalu Priest itu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.


Sementara itu di menara, Iona perlahan membuka matanya. "Iona? Kau sudah bangun?" Tanya Shun di dekat tempat tidur.


"Apa yang terjadi?" Tanya Iona duduk.


"Maaf, aku harus ke toilet." Kata Iona bergegas turun dari tempat tidur.


"Apa kau sudah bisa berjalan? Jika belum akan kuantar." Tanya Shun menggandeng tangan Iona.


"Tidak apa, aku bisa sendiri." Jawab Iona lalu segera berjalan ke toilet dengan berpegangan pada tembok. Saat Iona sudah masuk ke dalam toilet, nafasnya tiba-tiba menjadi terengah-engah dan raut wajahnya menjadi panik. Lalu ia mengambil air dari ember dan membasuh wajahnya dengan kedua tangan. "Hah... Hah... Kenapa ini? Jantungku berdebar dengan kencang?" Tanya Iona sambil menatap dirinya sendiri ke cermin. Setelah beberapa menit, Iona keluar dari toilet, ia mendekati Shun dan berkata. "Shun, apa kita bisa bicara berdua saja?" Tanya Iona.


"Oh tentu saja, apa kalian bisa keluar dulu?" Tanya Shun menoleh ke arah teman-temannya.


"Siap Tuan Shun, nikmati waktu kalian!" Kata salah satu dari mereka, lalu semuanya keluar dari sana.


"Ada apa Iona?" tanya Shun. Iona lalu bersandar ke dada Shun. "Ada apa? Kenapa kamu?"


"Terima kasih sudah menyelamatkanku. Sekarang aku sudah bisa percaya padamu, jadi aku akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya." Kata Iona mengaitkan tangannya ke leher Shun.

__ADS_1


"Aku juga ingin mengatakan yamg sebenarnya." Kata Shun. Lalu mereka berciuman dengan mesrah selama beberapa detik, kemudian mereka selesai dengan itu. "Iona, aku senang perasaanmu sama denganku."


"Aku juga senang." Kata Iona lalu mendorong Shun sampai jatuh ke tempat tidur.


"Apa? Tubuhku, tidak bisa bergerak?" Kata Shun dalam hati, lalu ia mencoba bersuara, tapi tidak bisa. "Apa ini? Kenapa aku juga tidak bisa bicara." Tanya Shun.


"Tadi itu benar-benar menjijikkan." Kata Iona lalu meludah ke bawah. "Sekarang waktunya. Karena kau aku kehilangan kakekku, karena kau aku kehilangan masa-masa bahagiaku, karena kau aku kehilangan dua temanku, karena kau aku kehilangan kebebasanku." Kata Iona berjalan mendekati Shun sambil membawa sebuah pisau. "Aku sudah menahannya selama 10 tahun, aku menunggu untuk saat ini." Kata Iona naik ke atas tempat tidur dan mengangkat pisaunya dengan dua tangan. "Kembalikan... Kebebasanku...!" Teriak Iona mengayunkan pisaunya ke arah Shun.


"Iona!" Teriak Izuru datang dari pintu depan lalu berlari dan menahan tangan Iona.


"Lepaskan! Aku harus membunuhnya!" Kata Iona memberontak. Lalu Izuru menarik Iona turun dari tempat tidur.


"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Tanya Izuru.


"Izuru, ayo kita bunuh Shun! Setelah itu kau bisa mengambil pedangnya, kau bisa jadi lebih kuat dengan pedang itu!" Kata Iona masih di tahan oleh Izuru.


"Tapi aku bukan yang terpilih."


"Kau tidak perlu menjadi yang terpilih. Apa kau ingat? Necromancer itu berniat mengambil pedang Shun, karena dia tahu kalau pedang itu bisa di gunakan sembarang orang." Jelas Iona.


"Walau begitu, aku tidak bisa melakukannya!" Kata Izuru menolak.


"Bukan hanya itu masalahnya, aku tidak mau seumur hidup harus mengikutinya! Keluargaku memaksaku untuk menjadi budaknya, jika kau tidak mau membantuku, akan aku lakukan sendiri!" Kata Iona lalu memberontak.


"Hentikan!" Kata Izuru menahan Iona. Setelah, beberapa menit, Izuru mengikat Iona di kursi.


"Lepaskan aku! Izuru, aku berusaha mengembalikan keadaan seperti sebelumnya! Di mana aku bisa berjuang dan tertawa bersamamu dan Rin!" Teriak Iona mencoba lepas dari ikatannya.


"Shun, kau tidak apa-apa? Apa ini sihir pelumpuh?" Kata Izuru memeriksa keadaan Shun yang terbaring lemas di tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan!? Cepat bunuh..!"


"Iona, aku yakin pasti ada jalan keluar selain ini. Aku akan membantumu mencari jawabannya!" Kata Izuru berjalan mendekat pada Iona. "Aku juga yakin, kalau aku bisa menjadi lebih kuat tanpa pedang legendaris. Apa kau juga percaya padaku?" Tanya Izuru tersenyum di depan Iona.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2